Sabtu, 02 Agustus 2014

Surat Politik (1)



Begitu mudah kata dusta bertebaran
Begitu gampang kebobohongan dilontarkan
Apakah semua demi rakyat ?
Perlukah kepicikan itu kalian tampakkan di hadapan kami ?
Demi setumpuk tahta di depan kalian

Egoisme pribadi dan golongan membutakan semua
Naluri kekuasaan mengahancurkan sendi-sendi moralitas
Sekali lagi, kalian adalah pilihan kami
Adab dan tata perilaku  kalian tetap kami perhatikan
Pemimpin sebagai panutan
Hargai kami sebagai pemegang kedaulatan

Surabaya, 4 Juli 2014

Penulis : AF (Mahasiswa Airlangga Smester tua)

Surat Politik



ku ingin semua tau
semua rasakan
kami bukanlah objek permainan
kami bukanlah alat pemuas hasrat

Sedari dulu kalian bermain politik temporal
iba disaat ingin sesuatu, merasa kasihan diwaktu ada maunya
politik bukan dalam artian pengabdian
visualisasi citra kalian sungguh mengagumkan
hingga kami tiada mengerti arti dari sebuah kebenaran

para ulama mulai berafiliasi
Mahasiswa pun sibuk dgn dunianya sendiri
media kehilangan netralitasnya

lantas siapa yang akan kami ikuti ?
siapa yang akan kami percayai ?
entahlah, hanya satu yang kami minta,
jujurlah, apapun keadaannya

4 Juli 2014 pukul 0:30

by :  Mahasiswa Airlangga Semester Tua

Kamis, 14 Maret 2013 (Spesial Karl Marx 1)



      Alhamdulilah, hari ini Allah masih memberikan kesempatan untukku untuk melakukan aktivitas sehari-hariku yaitu kuliah, hari ini aku akan melanjutkan analisisku terhadap pemikiran Karl Marx. Karl Marx merupakan seorang tokoh yang konsisten dalam memperjuangkan hak-hak buruh dan menghilangkan penindasan ataupun penghisapan antar manusia yang terepresentasi  melalu sistem kapitalisme. Menurut Karl Marx pertentangan antara buruh dan kaum kapitalis akan terjadi secara kontinu kecuali dihentikan oleh suatu gerakan buruh yang revolusioner untuk melawan dan menggantikan sistem itu dengan sistem sosialis atau sistem yang berkeadilan sosial. Menurut Karl Marx kepemilikan pribadi atas alat-alat maupun faktor-faktor produksi harus dihilangkan dan diganti dengan sistem kepemilikan bersama,artinya setiap individu dalam sebuah negara dibatasi kepemilikannya akan suatu faktor produksi karena dalam sistem ini kepentingan bersama atau kepentingan kelompok masyarakat lebih penting daripada kepentingan pribadi. Dalam sistem ini pemerintah ikut campur dalam menyesuaikan kebutuhan individu dengan kebutuhan masyarakat, dan dalam hal ini pemerintah menguasai perusahaan-perusahaan yang vital bagi masyarakat, agar masyarakat dapat dipenuhi dengan adil dan merata. Dalam pandangan Karl Marx perjuangan kelas adalah motor perkembangan masyarakat, sedangkan perkembangan itu sendiri belaku menurut hukum dialektik historika. Menurut dialektik tiap-tiap yang ada (position) ada lawannya (opposition), dan pertentangan itu menimbulkan keadaan baru sebagai kelanjutannya (komposition).
Berfikir secara dialektik sendiri mengandung arti bahwa orang tidak melihat kenyataan yang lahir itu sebagai suatu pengertian yang tetap dan tertentu, melainkan bersedia menangkap perubahan dan gerakan senantiasa itu dalam fikirannya.

   Karl Marx sendiri mengahsilkan sebuah karya yang fenomenal sepanjang sejarah manusia yaitu Das Kapital yang jilid pertamanya terbit pada tahun 1867. Karl Marx juga merumuskan sebuah konsep dalam rumusan teori Historis-Materialisme yang intinya yaitu “Dalam menghasilkan keperluan hidupnya manusia mengadakan antara mereka perhubungan yang tertentu, lepas dari kemauannya sendiri yaitu perhubungan produksi, yang sesuai dengan suatu tingkat kemajuan tenaga produksi yang nyata (materiil).

   Jadi menurut aku pribadi inti dari pemikiran Karl Marx yaitu dia menginginkan sebuah sistem dimana peran individu dalam menguasai dan memiliki alat produksi ditiadakan dan negaralah yang mengatur semua dan memiliki semua faktor-faktor produksi tersebut dan membagikan kepada masyarakat secara merata, jadi tujuan dari sistem ini yaitu terciptanya suatu masyarakat yang dimana di dalam masyarakat tersebut terbangun keadilan sosial lebih spesifiknya keadilan dalam hal ekonomi, namun menurut analisisku pemikiran Karl Marx sendiri memiliki beberapa kelemahan, salah satunya yaitu sitem ini mengilangkan hak-hak milik setiap manusia akan suatu faktor produksi dan lebih mengutamakan kepentingan kelompok daripada individu, artinya pribadi setiap orang dalam sistem ini harus patuh dan tunduk terhadap segala peraturan yang dibuat oleh pemerintah. Solusi yamg terbaik menurutku yaitu terciptanya suatu sistem kehidupan bermasyarakat yang dimana ada keselarasan dan keseimbangan antara kepentingan pribadi dan kepentingan bersama ataupun tujuan individu dan tujuan kelompok, karena bagaimanapun juga kelompok masyarakat tercipta dari sekumpulan individu yang artinya mustahil ada sebuah kelompok masyarakat tanpa adanya individu, cukup sekian pembahasanku mengenai teori dan konsep yang digagas oleh Karl Marx, dilain waktu aku berniat untuk mengurai dan menganalisis pemikiran dari Karl Marx secara terperinci.

   Tadi aku diajari pak Deni dan beliau sedikit memberi motivasi bagi kami semua, dia memberikan sebuah konsep matematika yang berhubungan dengan agama yang inti dari konsep tersebut isinya yaitu segala kenikmatan yang ada di dunia ini jika dibandingakan dengan kenikmatan yang ada di akhirat yaitu tidak ada apa-apanya (x dibagi dengan bilangan tak terhingga hasilnya adalah 0). Aku pibadi yakin dengan konsep matematis tersebut karena menurutku semua yang ada di dunia ini bersifat temporal artinya terikat oleh waktu dan bersifat limeted artinya terbatas dan kebahagiaan di dunia ini menurutku bersifat semu dan sementara karena yang abadi adalah kebahagiaan di akhirat nanti. Menurutku jika konsep tersebut benar-benar dihayatin secara mendalam maka akn membawa dampak positif bagi individu yang mengahayatinnya dengan kata lain individu tersebut akan sadar bahwasanya kehidupan di dunia ini tiadalah kekal dan dia akan mempersipakan diri untuk menuju kehidupan yang abadi di akhirat kelak dengan cara mempersiapkan bekal yang akan di bawa di hari akhir nanti sehingga individu tersebut akan lebih memprioritaskan waktunya untuk beribadah dan beramal sholeh, selain itu individu tersebut akan lebih mawas diri dalam melakukan sebuah tindakan dan melontarkan sebuah ucapan dikarenakan apa yang dia lakukan di dunia ini akan dimintai pertanggunng jawaban di hari akhir nanti.

Tentang Tan Malaka dan Hasan al-Bashri

Alhamdulilah, aku bersyukur kepada Allah SWT yang telah memberikanku kesempatan untuk menjalani aktivitasku lagi. Hari ini aku seharusnya kuliah ekonomi Internasional 2 dimana Pak Darto menjadi pengajar mata kuliah tersebut. Namun pagi tadi kuliah ditiadakan dan diganti hari lain. Berhubung pagi itu aku  tidak ada jadwal, aku memutuskan untuk pergi ke perpustakaan bersama temenku Feri. Namun, sebelum aku pergi ke perpustakaan, aku bareng Feri Sholat Dhuha di Masjid Nuruzzaman. Setelah sholat, kami makan di kantin FIB, kemudian lanjut ke perpustakaan. Di perpustakaan, aku membaca dua buah buku yang menurutku menarik. Buku yang pertama yaitu mengenai profil Tan Malaka dan perjalanan politiknya selama hidup. Di dalam buku tersebut diceritakan mengenai kisah hidup dan perjuangan Tan Malaka dari segi asal-usul dia dilahirkan sampai akhir hayat dan perjuangan dia. Tan Malaka lahir di Sumatera Barat tepatnya pada tahun 1897. Dia merupakan salah satu tokoh Indonesia yang berketurunan Minangkabau. Di dalam buku tersebut diceritakan mengenai perjalanan perjuangan Tan Malaka ketika memperjuangkan kemerdekaan Tanah Air-nya. Dia merupakan salah satu tokoh yang revolusioner. Tan Malaka juga pernah mengenyam pendidikan di Belanda dan dia  juga menguasai 8 bahasa. Tan juga salah satu tokoh politik yang selalu berada dalam pengembaraan. Tak heran jika ada pendapat yang mengatakan bahwasanya Tan Malaka adalah pejuang yang kesepian. Alasannya dia adalah salah satu tokoh pejuang kemerdekaan Indonesia yang selalu berpindah-pindah tempat bahkan pergi dari suatu negara ke negara lain. Dan hal itu dia lakukan tiada lain untuk pengabdiannya dia terhadap bangsa dan negaranya karena pada waktu itu dia lagi diburu oleh pihak-pihak yang tidak menginginkan keberadaanya. Jadi tidak heran jika Tan Malaka selama pengembaraannya di berbagai negara menggunakan banyak nama samaran. Tan Malaka merupakan sosok anak bangsa yang mempunyai intelektualitas di atas rata-rata orang pada umumnya. Jadi tidak heran jika pada waktu itu dia menulis dan menerbitkan berbagai macam karya salah satu karyanya yang terkenal yaitu berjudul MADILOG (Materialisme, Dialektika, Logika). Di dalam buku Madilog terdapat 2 unsur pokok yang masuk dalam analisnya yang pertama mengenai Kontradiksi pemikiran Hegel dan Marx-Engels dan yang kedua mengenai dialektika berfikir tesis, antitesis, dan sintesis dari Hegel. Tesis sendiri mempunyai arti persoalan yang ada, antitesis merupakan tanggapan kritis dari persoalan tersebut, dan sintesis merupakan kondisi baru yang tercapai setelah sintesis mengkoreksi antitesis. Jadi menurut Hegel sejarah manusia untuk mencapai kebenaran harus terlebih dahulu melewati kesalahan dan masa-masa buruk.

Tan Malaka juga salah satu tokoh yang mengkordinir massa pada saat rapat raksasa di lapangan ikada di Jakarta pada tanggal 19 September 1945, rapat tersebut dihadiri oleh ribuan mass pada waktu itu dan pada saat itu Presiden Soekarno memberikan pidato singkat memperingati 1 bulan proklamasi kemerdekaan Indonesia. Saat itu Bung Karno hanya menyampaikan beberapa kalimat yang intinya mengenai Proklamasi Indonesia yang harus dipertahankan, Presiden juga menyuruh rakyat mempercayai pemerintah yang akan tetap dan terus mempertahankan proklamasi Indonesia. Setelah itu beliau menyuruh massa membubarkan diri, dan semua massa pada waktu itu sangat patuh terhadap perintah Bung Karno. Hal itu disebabkan Bung Karno sangat dicintai rakyat Indonesia pada waktu itu ditambah beliau mempunyai kharisma yang kuat.

Kembali lagi ke peran Tan Malaka,di sini Tan Malaka mempunyai kontribusi yang sangat besar dalam memobilisasi massa meskipun beliau agak sedikit kecewa dengan pidato yang disampaikan oleh Bung Karno pada waktu itu, mungkin disebabkan pandangan politik keduanya memanglah berbeda pada waktu itu meskipun kedua-duanya mempunyai tujuan sama dan mulia yaitu membebaskan bangsa ini dari segala macam bentuk penjajahan yang pada waktu itu berupa kolonialisme dan imperialisme. Tan Malaka adalah sesosok tokoh yang teguh dan konsisten dengan pendiriannya dan beliau merupakan satu-satunya tokoh Indonesia yang berjuang untuk bangsanya yang telah melintasi berbagi macam tempat dan negara lebih spesifiknya Tan Malaka selama hidupnya  melakukan pengembaraan di luar negri selama kurang lebih 20 tahun dan jika diukur  panjang perjalananya setara dengan dua kali keliling dunia.Tan Malaka juga mempelopori berdirinya  sebuah organisasi yang bernama PERSATUAN PERJUANGAN, organisasi tersebut berdiri tepatnya pada awal tahun 1946 di Purwokerto dan diikuti oleh 141 orpol, laskar dan parpol, tujuan organisasi tersebut yaitu menciptakan persatuan diantara organisasi-organisasi yang ada untuk mencapai kemerdekaan penuh untu Indonesia. Ada beberapa pertimbangan Tan Malaka mendirikan organisasi tersebut diantaranya yaitu :
  1. Mengingat pertentangan antara kemauan dan tindakan kepala negara dengan kemauan dan tindakan rakyat/pemuda dimana-mana
  2. Mengingat pertentangan dan permusuhan partai-partai (Islam kontra sosialis di Pekalongan dan lain sebagainya)
  3. Mengingat sikap dan tindakan Inggris yang mengakui Kedaulatan Belanda atas Bangsa Indonesia yang telah memproklamirkan kemerdekaannya, dsb.
Persatuan Perjuangan juga melakukan kongres pertamanya di Solo pada 15-16 Januari 1945 dan mengeluarkan pernyataan Politik yang disebut Minimum Program yang berisi antara lain :
1. Pemerintah rakyat ( kemauan pemerintah harus sesuai dengan kemauan rakyat)
2. Berunding dengan tujuan pengakuan kemerdekaan 100 %
3. Tentara rakyat (kemauan tentara harus sesuai dengan kemauan rakyat)
4. Menyelenggarakan tawanan Eropa
5. Melucuti senjata Jepang
6.Menyita hak dan milik musuh
7.Menyita perusahaan, pertanian dan perkebunan dari musuh

Organisasi tersebut juga kontradiktif dengan kabinet Sjahrir pada waktu itu yang arah politiknya cenderung berdiplomasi dengan pihak musuh yang sangat berlawanan dengan gerak organisasi tersebut yang cenderung tidak kenal kompromi dengan pihak penjajah pada waktu itu. Selain pencetus berdirinya persatuan perjuangan Tan Malaka juga salah satu tokoh yang mendirikan Partai MURBA (Musyawarah Rakyat Banyak) pada tanggal 7 November 1948. Murba juga melakukan GERPOLEK (Gerakan Politik Ekonomi)

Menurut sejarah Tan Malaka sendiri wafat di tangan bangsa yang selama ini dia perjuangkan kemerdekaan dalam keadaan yang kesepian dan terasingkan tepatnya pada tanggal 21 februari 1949. Meskipun beliau wafat dalam keadaan kesepian, bangsa ini tidak akan pernah bisa menghiraukan apalagi melupakan jasa-jasa beliau, beliau merupakan salah satu pahlawan Indonesia yang tulus mengabdi untuk bangsanya sendiri meskipun pandangan politiknya sering ditentang bahkan oleh kawan-kawannya sendiri, namun beliau tetap konsisten untuk berjuang demi tanah airnya. ”Tan Malaka, Aku Aufal Fresky medoakanmu agar jasa-jasamu selama kau hidup diberi ganjaran setimpal oleh Allah SWT, dan semoga dosa-dosamu diampuni oleh Allah SWT, amin.”

Sekian dulu cerita megenai Tan Malaka, kapan-kapan aku akan mengupasnya lebih lengkap lagi. Setelah aku baca buku di perpustakaan aku sholat di Nurza, lalu melanjutkan kuliah Teori Ekonomi Mikro 1 dengan Pak Herman sebagai pengajarnya. Tadi Pak Suherman menjelaskan tentang faktor produksi,faktor produksi ada 4 macam yaitu: 1. SDA  2. SDM 3. Modal 4. Skill

Pak Herman juga menjelaskan tentang fungsi Coub Douglas dan aku lumayan bisa menangkap dan memahami penjelasan beliau. Beliau tadi juga menjelaskan mengenai hukum bunga dalam Islam, yaitu haram. Pak Herman merupakan salah satu dosen favoritku, alasannya adalah karena pemaparan dan penjelasan materi yang beliau terangkan bisa mudah dipahami, maklum jika aku lumayan tertarik akan pelajaran mikro ketika pak Herman yang memberikan materi meskipun pada hakikatnya semua dosen sama menurutku hanya metode penyampaian materinya saja berbeda serta karakter masing-masing dosen yang juga mempunyai perbedaan.

Tadi, pak Herman juga bercerita mengenai sesosok pemuda yang bernama Hasan al Bashri, pemuda tersebut berasal dari Bashra. Konon pemuda tersebut berpamitan kepada gurunya untuk mencari pekerjaan di Baghdad dan sang guru pun mengijinkannya, di tengah perjalanan tepatnya di sebuah hutan turunlah hujan lebat, sontak Hasan al Bashri mencari tempat berteduh agar tidak terkena guyuran hujan tersebut dan tak jauh dari keberadaan Hasan al Basri terdapat rumah kosong tanpa penghuni, lalu ia menghampiri rumah tersebut untuk berteduh dan di dalam rumah tersebut dia mendapati seekor burung gelatik kecil yang kedinginan dan keliatannya butuh makan, sayap burung tersebut cacat sehingga dia tidak bisa terbang. Namun ketika itu pula datanglah seekor burung besar yang memberi burung gelatik tersebut gandum untuk di makan, melihat kejadian tersebut hasan merenung dan berfikir, dan diapun mendapatkan sebuah pengertian dari peristiwa tersebut bahwasanya Allah SWT akan menjamin rezeki setiap makhluknya termasuk burung tersebut. Melihat kejadian tersebut Hasan mulai introspeksi diri dan akhirnya dia memutuskan untuk kembali lagi menemui gurunya. Setelah dia kembali, dia berjumpa dengan gurunya dan sang guru pun bertanya mengapa dia kembali lagi. Mendengar pertanyaan yang dilontarkan sang guru,Hasan menceritakan kejadian yang dia alami di hutan tersebut dan dia berkata bahwasanya dia sebagai manusia malu terhadap dirinya sendiri  yang  tengah melakukan perjalanan ke Baghdad untuk mencari pekerjaan dan menurut Hasan hal itu membuktikan sekan-akan ia tidak mempercayai rezeki yang Tuhan bagikan kepada setiap makhluknya,dia juga mengatakan dia malu dengan burung gelatik tersebut. Sang Guru pun menjawab dengan bijak,  ”mengapa engkau tidak menjadi burung yang besar tadi yang memberi burung gelatik tersebut makan, mengapa engkau hanya berfikir untuk menjadi seperti burung gelatik yang kecil tersebut."

Menurut Pak Herman hikmah yang dapat kita ambil dari kisah tersebut yaitu sebagai manusia hendaknya kita menjadi manusia yang mempunyai karakter seperti burung besar tadi, artinya Pak Herman menyarankan kita semua agar menjadi pengusaha, karena menurut Pak Herman dengan menjadi pengusaha, selain kita bisa menghidupi diri kita sendiri kita juga bisa menghidupi orang lain dikarenakan orang-orang tersebut kita beri kesempatan untuk bekerja kepada kita sehingga secara tidak langsung hidup kita membawa manfaat terhadap orang lain. Jadi intinya cerita Pak Herman, mencari pekerjaan yang tidak  hanya bisa memenuhi kebutuhan perut kita sendiri namun bekerja dan memperkerjakan orang lain, jadi hidup kita berguna bagi orang lain.

Rabu, 20 Maret 2013

Mahasiswi Hijabers, Sosialita dan Jeans Ketat ( gagasan dan refleksi Untuk mahasiswi Islam di Indonesia)


    Mengutip perkataan voltaire, seorang tokoh Perancis yang mengatakan bahwa dalam hal uang semua manusia mempunyai agama yang sama. Arti dari pernyataan voltaire adalah bahwa dalam dalam  hal materi semua manusia mempunyai pandangan yang sama. Saya sebagai mahasiswa airlanga kurang sepakat dengan pernyataan tersebut karena voltaire menganggap adalah makhluk yang tidak mempunyai pandangan etis terhadap suatu hal. Jika voltaire berkata demikian maka ijinkan saya untuk berkata dalam hal fashion hampir semua mahasiswi mempunyai mindset yang sama. Kawan-kawan boleh membantah pernytaan saya, karena memang saya belum melakukan penelitian terhadap mindset para mahasiswi, saya hanya berasumsi berdasarakan fakta empiris dan logika rasional selama saya kuliah di Airlangga. Saya sendiri yakin bahwa pendapat saya tidak 100 % benar karena relalita yang ada banyak sekali karakteristik dan ciri khas yang dimiliki oleh masing-masing mahasiswi.
   Setiap mahasiswi mempnyai keunikannnya sendiri-sendiri, entah itu dari segi prinsip, karakter, sudut pandang, cara berbicara dan yang terkahir adalah cara berpakaian. Saya tidak akan membahas itu semua apalagi membicarakan tentang asmaranya para mahasiswi kampus, bagi saya itu hal yang kurang perlu, karena tidak akan membawa dampak yang signifikan bagi pengembangan karakter dari mahasiswi itu sendiri. Sorotan saya kali  ini mengenai fenemena mahasiswi muslim dengan hijab dan jeans ketatnya disertai lingkungan sosila yang mengelilinginya.
    Pernah saya lakukan suatu test kepada salah satu mahasiswi dengan pertanyaan kenapa dia enggan memakai jilbab, jawabannya adalah karena dia merasa hatinya dulu harus dihijabi lalu baru dia akan berpenampilan sebagai seorang muslimah yang taat. Saya bukan orang picik yang selalu menyalahkan setiap orang yang tidak memakai jilbab sebab bagaimanapun juga itu adalah wilayah privasi mereka yang mana telah melekat suatu prisnip terentu yang mereka ikuti.  Di sisi lain saya mempunyai kesadaran bahwa Islam adalah agama yang sempurna yang tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya lebih dari itu mengajarkan tentang banyak hal salah satu diantaranya adalah meenganai tata cara seorang muslimah dalam berperilaku dan berpenampilan. Mahasiswi muslim Indonsia bukan hanya reprensentasi segolongan manusia indonesia dengan intelektual yang mumpuni lebih dari itu mereka harus membuktikan kepada masyarakat banyak bahwa mereka adalah sekumpulan orang-orang yang mempunyai ahlak yang baik.
    Sebagai seorang mahasiswa semester tua, saya sedikit tau tentang mahasiswi di kampus.  maksud sedikit tau adalah tentang dinamika kehidupan kampus yang saya rasa stagnasinya begitu akut. Saya tidak peduli dengan sistem yang menjadikan kita sebagai produk indsutrial pendidikan, namun bagaimanapun juga menyalahkan sistem itu bukan solusi terbaik.  Kewajiban kita hanya menjadi yang tebaik dengan begitu ada kalanya suatu saat kita bisa merubah itu semua.
  Mahasiswi bukanlah objek pasif dari peradaban, mereka adalah subyek aktif dari lahirnya suatu peradaban. Perlu diketahui segala tingkah laku mahasiswi itu disebabkan oleh dua faktor yang pertama adalah faktor internal yaitu faktor-faktor yang berasal dari dalam dirinya sendiri seperti nilai-nilai yang dia anut, motivasi, pengetahuan, ideologi dan semcamnya dan yang kedua adalah faktor eksternal yaitu hal-hal yang berasal dari luar diri sang mahasiswi itu tadi.
  Saya memilih mahasiswi hijabers, sosialita dan jeans ketat sebagai judul dari tulisan ini karena realitas sosial yang ada mengindikasikan bahwa mahasiswi kita saat ini telah mengalami  candu  terhadap sosialita yang terpampang di media saat ini. Memang kita sekarang telah memasuki era postmodern yaitu era dimana dunia ibarat sebuah desa, jarak dan waktu bukan menjadi masalah bagi manusia untuk melakukan suatu komunikasi, namun perubahan era bukan menjadi suatu pembenaran atas prinsip yang tergadaikan.
   Gencarnya arus informasi, telekomunikasi dan transportasi menjadi variabel penting derasnya perubahan sosial yang terjadi saat ini, termasuk kehidupn mahasiswi kita saat ini. Saya bukan orang munafik yang menyalahkan para hijabers dengan celana jeans ketat tadi, karena pada dasarnya meciptakan mahasiswi yang homogen adalah suatu hal yang teramat sulit karena heterogenitas manusia adalah suatu niscata yang patut untuk dimaklumi. Seorang lelaki normal saya meyukai akan suatu keindahan, namun keindahan seperti apa yang patut untuk saya sukai, itu adalah pertanyaan mengenai batasan seorang pria dalam memandang lawan jenismya. Untuk saat ini saya bukanlah seorang malaikat yang bisa menolak segala godaan, namun saya masih dalam proses untuk membentuk suatu watak yang luhur dibalik gemerlap kehidupan para hijabers jeans ketat tadi.
   Sebagai perwakilan kaum adam saya mengatakan bahwa hijab bukan sekedar tools atau media untuk menutupi aurat, dibalik itu adalah suatu pembeda antara umat Islam dengan umat yang lainnya. Islam adalah cara untuk hidup, Islam adalah agama pembebasan namun di balik itu semua Islam mempunyai patokan tertentu yang wajib untuk dilakukan oleh pemeluknya. Saya bukanlah orang konservatif yang memandang kaum yang tidak berjilbab adalah golongan tak beradab, saya bukan juga seorang liberalis yang menganjurkan kebebasan dalam beragama termasuk dalam berhijab, bagaimanapun juga saya yakin bahwa anjuran Islam dalam berhijab adalah suatu ajaran terbaik bagi pemeuknya.
    Di media massa, entah itu di TV, Tabloid, majalah ataupun semacamnya hijab sudah menjadi suatu komoditas yang perkembangannya cukup pesat ditambah mahasiswi kita saat ini adalah orang-orang yang selalu update akan informasi terkini. Media tidak hanya berhasil membujuk kawula muda terutama mahasiswi menjadikan hijab bukan sebagai kebutuhan namun telah bergeser menjadi sebuah keinginan.
   Saya mengamati  hijab bukan hanya sekedar penutup aurat, melainkan suatu simbol atau lambang dari status sosial seseorang dan saya benar-benar merasakan hal tersebut, ini bukan hanya suatu fenomena sosial melainkan suatu pergeseran budaya, memang Tuhan suka terhadap suatu keindahan namun apakah keindahan dijadikan alasan menjadikan hijab sebagai suatu komoditas sosial yang membedakan mahasiswi satu dengan mahasiswi lainnya. Itu hak masing-masiing individu saya tidak berhak ikut campur, namun s hanya ingin memberikan suatu pandangan bahwa sesunggunhanya hijab saat ini telah mengalami reduksi dari  fungsi awalnya sebagai penutup aurat.
   Berbagai macam corak, bentuk serta merek dari hijab banyak beredar di pasaran, saya pribadi suka terhadap mahasiswi stylish dengan celana jeans ketat, namun di sisi lain terkadang saya berfikir apakah cara berpakaian mereka sudah sesuai dengan tuntutan agama, bukankah agama melarang perempuan untuk menampakkan auratnya, jeans adalah celana ketat yang terkadang bisa menampakkan lekuk tubuh sang mahasiswi tersebut. Pemikiran saya terpecah, di sisi lain saya menikmati akan realitas kehidupan mahasiswi kampus namun di sisi lain saya merenungkan suatu patokan nilai yang mereka anut apakah mereka benar-benar menagmbil esesnsi dari ajaran islam itu sendiri. Memang Islam tidak melarang umatnya untuk mengenakan celana jeans, Islam hanya memberikan arahan serta batasan tertentu bagaimana seharusnya seorang muslim berpenampilan, jangan sampai penampilan seorang mahasiswi melebihi batas. Saya tidak bisa menjelaskan lebih lanjut mengenai batasannya karena jujur mengenai agama saya masih kurang.
   Mahasisiwi hijabers adalah sekelompok mahasiswi yang mempunyai minat yang sama dalam hal berhijab dan selalu melek akan informasi mengenai produk hijab yang terbaru. Mereka tidak hanya menjadikan berhijab sebagai tuntutan agama lebih dari itu terkadang sebagai suatu simbol pembeda status sosial. Secara tidak langsung mereka menjadi korban dari kapitalisme global yang menjadikan budaya konsumtif sebagai kebiasaan sehari harinya. Lingkungan sosial mereka biasaya berbeda dengan mahasiswi lainnya, tempat tongkrongan serta hangoutnya juga terspesifikasi menjadi sebuah kelas.
   Kritik saya sebenarnya bukan terletak pada gemerlap hijab yang mereka kenakan atau kelas sosial yang mereka bentuk, melainkan lebih pada budaya konsumtif yang tidak mencerminkan watak sebagai seorang intelektual yang menjadi panutan orang. Hak untuk mengkonsumsi sebuah komoditas adalah adalah hak setiap orang namun ketika konsumsi dilakukan bukan karena kebutuhan, implikasinya adalah akan membentuk suatu kebiasaan yang lama kelamaan akan membentuk suatu budaya konsumtif di kalangan intelektual tadi.
   Sangat disanyangkan jika setiap hari mereka mengeluarkan duit hanya untuk update hijab terbaru, alangakah baiknya jika digunakan untuk membeli buku. Suatu realitas  sosial mahasiswi hijabers yang saya rasakan lagi adalah masalah kepekaan sosial dan rendahnya minat berorganisasi dikalangan mereka. Saya tidak mengatkan mereka adalah sekumpulan mahkluk hedon seperti yang dikatakan filsuf Yunani benama Aristippus tentang hedonisme yang berarti suatu paham yang mengaggap kenikmatan adalah suatu tujuan utama dari kehidupan manusia. Mungkin lebih halusnya saya katakan mereka adalah kumpulan mahasiswi yang masih berproses membentuk jati dirinya yang independen yang berwatak humanis sosialis.
   Hijab bermerek dan jeans ketat sudah menjadi lifestyle mahasiswi kita saat ini, terlepas dari mana latar belakang mahasiswi tersebut berasal. Saya rasa tidak ada salahnya mereka mengeksplorasi dan beraktualisasi melalui penampilan mereka selama ada suatu pengahayatan mendalam serta pengamalan secara konsisten tehadap agamanya.
    Salah satu konsep Islam yang mungkin bisa dijadikan solusi serta patokan dalam berpenampilan yaitu mengenai larangan Islam terhadap perilaku Israf (berlebih lebihan) dalam segala perilakunya di dunia, artinya Islam melarang umatnya dalam berperilaku baik dalam makan, minum, maupun berpenampilan termasuk berhijab secara berlebih lebihan atau melebihi batas tertentu karena pada dasarnya suatu peilaku yang berlebihan adalah tidak baik bisa juga menimbulkan  kecemburuan sosial di tengah masyarakat. Selanjutnya adalah setiap generasi muslimah saat ini termasuk mahasiswi hijabers tadi alangkah baiknya mengamalkan ajaran Islam lainnya yaitu sifat Qanaah yaitu merasa cukup atas segala pemberian Allah dan mensyukuri segala nikmat yang ada.
  Tulisan ini adalah suatu refleksi bagi mahasiswi muslimah se Indonesia semoga dengan ini, bisa meenjadi pribadi yang lebih sholehah serta menjadi umat yang mengamalkan ajaran Islam secara Esensial atau secara substansial bukan mengamlakan ajaran Islam secara simbolis. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu mau mengubahnya sendiri, sesungguhnya mahasiswi tidak akan pernah bisa memahami agama Islam secara substansial dan komperhensif kecuali dia mau benar-benar belajar dari sekarang. Semoga mahasiswi muslimah tanah air menjadi tauladan bagi generasi-genarasi di bawahnya.
   Kesimpulannya setiap generasi pasti mempunyai realitas sosial tersendiri yang membedakan generasi sekarang dan sebelumnya, yan membuat kita unggul adalah ketika generasi perempuan saat ini mampu membaca konteks sosial yang ada dan tetap nerpegang teguh pada nilai-nilai luhur serta kearifan budaya yang ada. Teruslah berkarya para mahasiswi hijabers, revolusimu belumlah usai, bagaimanapun juga kalian adalah bagian dari bangsa, kobarkan dan nyalakan semangat juang kalian.

 (Note : tetap pakek jeans ketat ya..karena bagaimanapun juga kalian pernak pernik kampus yang harus dijaga kelestariannya..hahahaha)
aku memeluk pena dalam gemerlap dunia tanpa kepuasan (AF)

Surabaya, 26 Mei 2014

Catatan Tentang Syukur ( Refleksi Kehidupan )




  Ada kalanya semua orang berfikir tentang apa yang harus dia lakukan di masa yang akan datang. Merenungi akan kejadian sehari-hari, tentang dunia, kehidupan, esensi hidup dan akhir dari semua ini. Sepertinya saya ingin mengajak anda semua untuk pergi ke suatu rimba filsafat, yaitu rimba dimana tidak ada batasan bagi kita untuk bertanya dan berfikir kritis. Berfikir merupakan aktivitas yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya karena dengan berfikir manusia mampu untuk menjadikan hidupnya lebih dinamis lagi. Pada dasarnya setiap kehidupan manusia selalu mengalami perubahan dan kemajuan, dengan begitu terciptalah kebudayaan. Sebagai makhluk yang rasional alangkah baiknya manusia selalu mempertimbangkan segala macam perbuatan yang hendak dilakukannya, apaka perbuatan tersebut membawa dampak positif atau sebaliknya membawa manusia ke lembah kehinaan.
   Dunia selalu berputar, waktu terus mengalir, manusia selalu sibuk dengan segala macam aktivitasnya. Ada kalanya manusia mengalami kebimbangan dalam batinnya, hal itu terjadi manakala seorang manusia belum meneemukan suatu hakikat dari keberadaannya di dunia. Menerut pandangan agama Tuhan menciptakan manusia ke dunia ini untuk mengabdi dan menyembah kepadaNya. Konsekuensinya adalah bahwa segala macam aktivitas kehidupan manusia di dunia ini ditujukan hanya untuk mengabdikan diri kepadaNya. Jika kita telusuri lebih lanjut sesungguhnya manusia adalah makhluk yang lemah dan yang membuatnya kuat aalah atas kehendak Tuhan, buktinya detak jantung, aliran darah ke paru-paru, kemampuan mata untuk melihat dan kemampuan mata untuk mendengar adalah semua karena kehendak Allah SWT. Sesungguhnya manusia yang mempunyai sifat angkuh dan sombonng adalah manusia yang benar-benar lupa akan jati dirinya. Sebagai makhluk yang lemah dan serba terbatas sudah sepatutnya manusia selalu sadar bahwa keberadaan dirinya di dunia atas kehendak Allah SWT dan seharusnya dia mensyukuri segala nikmatNya.
   Upaya untuk bersyukur bukan hanya mengucap alhamdulilah, lebih dari itu adalah suatu cara  bersikap seorang muslim baik berupa perkataan maupun perbuatan yang dilandasi kesadaran dan keimanan untuk lebih meningkatkan takwa kepada Allah. Jadi  bersyukur bisa dilakukan dengan cara kita mendekatkan diri kepada Allah dan selalu menebar kebaikan di muka bumi ini. Sesungguhnya nikmat yang telah Allah berikan kepada manusia sangat banyak, bahkan karena banyaknya manusia tak sanggup untuk menghiungnya. Salah satu contoh kecilnya adalah keberadaan Udara (oksigen) di dunia yang mana manusia tak dipungut biaya sepeserpun ketika menghirupnya, Tuhan menciptakan untuk pernafasan makhluk di dunia ini terutama manusia, bayangkan dalam 5 menit saja kita tidak menghirup udara, maka yang akan terjadi pernafasan kita akan teranggu. Contoh yang lainnya adalah keberadaan matahari yang selalu menyinari bumi dan membantu manusia dalam melakukan segala macam aktivitasnya, Tuhan menciptakan matahari yang selalu setia tanpa memngut biaya dalam menyinari dunia, beda dengan PLN yang selalu menagih pembayaran setiap bulan. Matahari juga membantu tumbuh-tumbuhan dalam proses fotosintesi dan proses untuk mmelakukan pertumbuhan. Selanjutnya adalah keberadaan air yang manfaatnya sangat banyak bagi kehidupan manusia, salah satu fungsi air adalah membantu proses pencernaan kita setelah makan, dan tubuh manusia membutuhkan air bagi keberlangsungan aktivitas ogan dalam tubuhnya. Selain itu air mempunyai peranan sebagai media yang berfungsi memantu proses pertumbuhan tanaman, air juga merupakan alat yang digunakan sebagai sarana trasnportasi seperti laut dan danau, selain itu air bisa digunakan sebagai media yang membantu pekerjaan dan segala aktivitas kehidupan manusia seperti dalam aktivitas mencuci pakaian atau mobil, air juga bisa berfungsi sebagai media pembangkit listrik dan masih banyak lagi fungsi dan peranan dari air yang tidak bisa saya uraikan semuanya di sini.
   Selain yang disebutkan di atas masih banyak nikmat Tuhan yang tak sanggup untuk kita hitung. Mengabdi dengan penuh ketulusan adalah salah satu cara manusia untuk mensyukuri segal nikmatnya, maksud dari mengabdi dengan tulus adalah manusia mengabdi dan melakukan segala perintahnya murni hanya mengaharap ridhanya bukan mengharap suatu hal yang lainnya. Bersyukur bisa dilakukan dengan sering melakukan ibadah sunnah dan bersedekah kepada kaum kepada orang yang tidak mampu. Selain itu bersyuku bisa dikaukan dengan mengamalkan dan menyebarkan ilmu yang kita miliki sebagai bentuk rasa terimaksih kita kepada Tuhan yang telah menganugrahkan kepada kita akal yang cerdas, karena sesungguhnya ilmu akan bermnfaat ketika diamalakan oleh sang pemiliknya, dan ilmu yang tidak diamalakan ibarat pohon yang tdak berbuah.
   Itulah salah sedikit catatan tentang kehidupan manusia era sekarang yang sejauh yang  mulai melupakan hakikat keberadaan dirinya sehingga dia lupa untuk bersyukur kepada penciptanya, semoga dengan selalu intropeksi diri dan bersukur maka kita bisa menjadi hambanya yang selalu sadar akan hakikat diri kita sehingga dengan begitu bisa meningkatkankan iman dan takwa kita kepada Allah SWT, dengan bersyukur manusia bisa menghindarkan dirinya untuk tidak terjebak akan kefanaan hidup di dunia sehingga lalali dalam menjalankan perintahnya.
   Jadi sepanjang perjalanan hidup manusia mulai dari buaian sang bunda hingga kembali ke liang lahat tidak pernah terlepas dari kasih sayang Tuhan, jadi manusia dianjurkan untuk selalu ingat kepada penciptanya.
   Semoga tulisan ini bisa menggugah jiwa kawan-kawan untuk menjadi muslim yang taat dan selalu mensyukuri nikmatnya.


“Semoga Bermanfaat”

Surabaya, 27 Mei 2014


Menanti Sang Presiden


20 Mei 2014 pukul 9:05
                                         
      Beberapa hari ini media tanah air memberitakan tentang perkembangan terbaru dari politik tanah air, terutama tentang siapa dan dari partai apa kandidat calon presiden dan wakil presiden yang akan bertarung pada pilpres 2014 ini. Banyak hal yang bisa kita saksikan de TV maupun di media cetak tentang tokoh dan elit politik tanah air yang gencar melakukan silaturahmi antar pimpinan parpol. Memang secara mendala kita tidak bisa mengetahui konten di balik silaturahmi tersebut, apakah ada suatu motif politik atau tidak, hanya mereka yang terlibat yang tau. Beberapa bulan ke depan segenap penjuru tanah air dari Sabang sampe Merauke, akan menyaksikan sekaligus ikut serta dalam pesta demokrasi lima tahunan yang biasa kita jalani. Banyak harapan dari masyarakat terhadap proses transisi kepemimpinan di Indonesia, salah satu diantaranya adalah terciptanya keamanan dan kenyamanan bagi setiap penduduk yang tingggal di Indonesia, penegakan hukum yang tidak pandang bulu,  ppertumbuhan ekonomi yang semakani meningkat dibarengi dengan distribusi kesejahteraan yang semkin merata dan lain sebagainya. setiap rakyat pasti mempunyai pandangan dan pilihannya tersendiri terhadap para calon pemimpinnya kelak, namun dibalik perbedaan pandangan tersebut seluruh rakyat Indonesia diharapkan berlaku bijak agar tidak tercipta disintegrasi sosial di tengah masyarakat, jangan sampai gara-gara perbedaan pandangan politik bisa membawa kericuhan karena hal itu merugika kita semua.
Untuk sementara ini yang yang resmi dicalonkan oleh partianya menjadi  Presiden adalah Joko Widodo  partai PDI-P selanjutnya adalah Aburizal Bakrie dari Golkar dan yang terkahir adalah Prabowo dari Gerindra. Masing-masing partai yang mengusungkan calon Presidennya belum memenuhi kriteria Presidential threshold, jadi untuk bisa diresmikan oleh KPU sebagai calon Presiden harus berkoalisi dengan parpol lainnya.
      Koalisi  adalah satu bentuk  cara kerjasama partai politik untuk memenuhi ambang batas presidential threshold, dan nantinya diharapkan juga partai yang berkoalisi bisa bisa bergotong royong untuk membangun pemerintahan yang kuat. Partai politik yang melakukan koalisi biasanya dilandasi oleh kesamaan ideologi serta pandangan politik. Artinya partai poltik yang melakukan kerjasama harus dilandasi kesamaan visi dan misi untuk membangun pemerintahan yang kuat, jika hal itu tidak terjadi maka dimungkinkan di tengah jalan akan ada perpecahan dari masing-masing pihak dan otomatis rakyat akan menerima dampak negatif dari perpecahan tersebut karena program kerjanya masti akan mengalami penundaan atau sulit untuk diselesaikan karena masing-masing pihak mempunyai pandangan yang tidak searah.
    Proses transisi kepemimpinan tanah air diharapkan benar-benar melahirkan sesosok pemimpin yang ideal bagi bangsa ini, artinya pemimpin yang tidak hanya mempunyai pengaruh dari segi kecerdasannya saja namun memiliki daya tarik dari karakter baik serta kematangan emosi yang dimiliki sang pemimpin tersebut.  Artinya Pemilihan Presiden tahun ini jangan hanya dijadikan rutinitas tahunan saja atau hanya pesta demokrasi namun tanpa esensi, dibalik itu semua pilpres tahun ini haruslah benar-benar menjadi ajang untuk mencari dan menemukan Putera-Putera terbaik bangsa.
   Presiden bukanlah sekedar jabatan yang prestise, lebih dari itu merupakan amanah besar yang diemban oleh pemangkunya. Amanah itu bukanlah datang dari sekumpulan orang-orang yang memilihnya saja namun segenap komponen bangsa dan negara, karena ketika ada orang yang terpilih menjadi Presiden maka dia bukanlah menjadi milik para pemilihnya saja atau milik dari partai politik yang mengusungnya, melainkan milik seluruh rakyat Indonsia.
   Jika ada yang bertanya kepada saya seperti apakah Presiden yang ideal untuk bangsa ini sekarang. Saya akan jawab dengan dasar pemahaman politik serta tentang kepemimpinan yang saya dapatkan dari beberapa literatur yang pernah saya baca dan fenomena sosial yang pernah saya lihat. Pertama seoarang Presiden adalah Pemimpin rakyat danseorang Pemimpin adalah Pelayan, jadi Presiden adalah Pelayan rakyat. Intinya ketika rakyat mengamanahkan jabatan Presiden kepada seseorang maka dia harus ikhlas waktunya selama 24 jam dalam satu tahun untuk melayani berbagai kebutuhan, keperluan dan kepentingan rakyat banyak. Selanjutnya yang kedua kritirea Ideal dari Sang Presiden  haruslah mempunyai pandangan jauh kedepan, artinya seorang Presiden haruslah Pemimpin yang Visioner, dia mempunyai visi yang jauh melampui waktu dimana dia berada sekarang, maksudnya seorang Presiden tidak hanya berfikir dalam jangka pendek namun jauh dalam jangka panjang. Untuk lebih jelasnya Sang Presiden dalam mengambil sebuah kebijakan harus memperhatikan kepentingan serta kebutuhan generasi-generasi bangsa yang akan datang, pakah kebijakannnya tersebut hanya membawa manfaat bagi genarasi sekarang namun membawa petaka bagi generasi selanjutnya, oleh karena itu haruslah seimbang antara keduanya. Unsur ideal yang ketiga adalah bijaksana dan tegas, artinya seorang Presiden diwajibkan untuk menegakkan keadilan sesuai dengan hukum yang berlaku, dan jika hukum yang berlaku tidak sesuai dengan hati nurani dan kehendak rakyat maka sang Presiden bertanggung jawab untuk merubahnya, karena pada dasarnya setiap hukum yang berlaku mempunyai nilai-nila kebaikan yang terkandung di dalamnya seperti nilai keadilan, jika unsur keadilan sudah tidak lagi menjiwai hukum-hukum tersebut maka sang presiden berhak untuk melakukan perubahan melalui mekanisme yang berlaku, selain itu dalam menerapkan kebijakannya Presiden harus tegas dan jangan ragu-ragu apalagi plin plan, alasannya karena rakyat butuh pemimpin yang berwibawa dan kharismatik sehingga bisa membuat rakyat nyaman dipimpin oleh Presisden tersebut.
    Itulah salah satu dari poin-poin ideal yang wajib dimiliki oleh Presiden, dan masih banyak lagi hal-hal ideal yang patut melekat ke dalam jiwa dan kepribadian sang presiden misalnya Kejujuran, Religiusitas, Rendah Hati dan sebagainya.
    Kelembutan moral Sang Presiden Harus dibarengi dengan Intelektualitasnya yang mumpuni, karena bagaimanapun juga rakyat berharap dipimpin oleh Presiden yang tidak hanya cakap dalam berbicara namun cerdas dalam bertingkah dan tangkas dalam memutuskan persoalan.
    Rakyat selalu menanti pemimpinnya, siapapun yang tepilih kita semua harus mendukungnya karena bagaimanapun juga dialah sang pemimpin kita, dialah orang yang dipilh oleh rakyat, dialah output dari proses demokrasi, kita harus mendukung Sang Prseiden tersebut selama lima tahun ke depan selama tindakan sang Presiden tidak mencedarai kedaulatan rakyat Indonesia.

Presiden bukanlah Sebuah Kekuasaan, melainkan amanah Besar (AF)

Gelora Ksatria Nusantara (Gagasan Untuk Memperingati Kebangkitan Nasional)



    Segala puji bagi Allah, telah memberikan saya kesempatan untuk menulisakan suatu gagasan untuk negri yang sangat saya cintai ini. Gagasan ini saya tuliskan untuk memperingati hari kebangkitan Nasional pada 20 Mei 2014 kemaren.
   Perlu kita bahwa sejarah selalu memberikan warna tersendiri bagi perkembangan zaman setelahnya, karena pada dasarnya kehidupan kita saat ini tidak pernah terlepasa dari kehidupan di masa lampau. Sebelum meredeka bangsa ini mengalami beberapa fase dalam memperjuangkan kemeredekaanya dimana fase tersebut dibarengi dengan perkembangan ideologi dan pergerakan organisasi nasional. Fase-fase tersebut dibagai menjadi tiga tahapn yaitu : a. Masa awal pergerakan nasioanal, masa radikal dan masa moderat.
   Saya akan membahas satu persatu fase tersebut, yang pertama adalah fase awal pergerakan nasional. Fase tersebut diwalai dengan berdirinya serta berkembangnya beberapa organisasi di tanah air. Organisasi yang pertama adalah Budi Utomo yang didirikan pada tanggal 20 Mei 1908 dengan dr. Wahidin Sudirohusudo sebagai pendirinya. Tanggal berdirinya organisasi tersebut diperingati sebagai hari kebangkitan nasional, alasannya karena organisasi tersebut dianggap sebagai pencetus dan pelopor dari  bangkitnya semangat rakyat indonseia untuk merebut kemerdekaan. Budi Utomo bergerak di bidang pendidikan dan budaya dan ketua Pertama dari organisasi tersebut bernama Sutomo.
    Selain itu pada tahun 1911 berdiri sebuah organisasi bernama Sarikat Dagang Islam dengan R.M Tirtoadisuryo sebagai pendirinya dan Haji Samanhudi sebagai ketuanya.Seiring berjalannya waktu organisasi tersebut beganti nama menjadi Sarikat Islam pada tahun 1911. Adapun tujuan dari Sarikat Islam anatara lain : a. Menjalankan usaha dagang pribumi b.membantu anggota yang mengalami kesulitan berusaha c.memajukan pengajaran dan semua usaha yang dapat meningkatkan derajat bangsa d.Memperbaiki pendapat yang keliru dalam praktik  agama Islam e. Hidup menurut perintah agama.
    Seiring berjalannya waktu, pada tanggal  25 desember 1912 tepatnya di kota Bandung berdiri sebuah organisai bernama Indische Partij yang dipimpin oleh tiga serangkai, yaitu Dowes Dekker (Danudirdja Setiabudhi), dr. Cipto Mangunkusumo dan Suwardi Suryaningrat ( Ki Hajar Dewantara).  Adapun tujuan dari Indische partij adalah 1. untuk menumbuhkan dan meningkatkan jiwa persatuan semua golongan dan untuk memajukan tanah air yang dilandasi jiwa nasioanal, 2. Mempersiapakan kehidupan rakyat yang merdeka.
   Itulah organisasi yang muncul pada fase awal pergerakan nasioanal dan yang kedua adalah fase radikal dimana pada fase tersebut juga memeunculkan organisasi—oragnisasi nasioanal seperti Perhimpunan Indonesia, Partai Komunis Indonseia dan Partai Nasional Indonsia. Saya tidak bisa membahas organisasi itu satu persatu karena akan memungkinkan pembahasan kali ini akan melebar, cukup pada  masa awal pergerakan nasional saja kita tau agak mendetail. Fase yang selanjutnya adalah fase moderat yang mempunyai arti masa dimana partai-partai politik mengubah Strategi perjuangannya secara lunak dan mau bekerjasama dengan pemerintah Belanda. Adapun sebab-sebab terjadainya perubahan taktik perjuangan tesebut adalah  karena krisis ekonomi dunia ( malaise) sengat mempengaruhi keadaan ekonomi pemerintah Belanda meupun pergerakan nasional dan tindakan pemerintahan Belanda yang semakin keras dan menekan partai-partai politik. Organisasi yng mucul pada fase tersebut diantaranya Partai Indonesia Raya (Parindra), Gabungan Politik Indonsia.
    Selain organisasi yang disebutkan di atas, pada masa pergerakan nasional banyak muncul organisasi berbasis keagamaan seperti Nahdatul Ulama, Muhammadiyah, Pergerakan Tarbiyah Islamiyah (Perti), Majelis Islam Ala Indonesia (MIAI) dan sebagainya. Ada juga organisasi pemuda seperti Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonosia (PPPI), Pemuda Indonesia, Anshor NU, Pemuda Muhamadiyah dan semacamnya.
    Untuk memperingati hari kebangkitan nasional sebagai pemuda Indonesia alangkah lebih bijaknya kita merefleksikan sekaligus melakukan perenungan secara mendalam akan perjuangan-perjuangan pendahulu kita yang rela berkorban waktu, harta dan jiwa mereka untuk mendidikasikan hidupnya demi masyarkat dan bangsanya.
     Perlu untuk dipahami bahwa generasi sebelum kita bukan hanya pandai atau mempunyai intelektualitas yang tinggi namun mereka juga seorang organisatoris yang andal. Selaain cerdas dalam bidang akademik angkatan sebelum kita mempunyai kepekaan serta kepedulian sosial yang begitu tinggi, jadi tidak heran jika tujuan pokok dari organisasi yang mereka ikuti adalah untuk kesejahteraan dan kemajuan masyarakat waktu itu,
    Hari kebangkitan nasioanal menjadi momentum bagi genarasi sekarang untuk menauladani karakter ksatria dari para pejuang-pejuang kemerdekaan bangsa ini. Kita harus mengakui dengan tulus pengorbanan besar mereka. Sejarah akan selalu mencatat jejak kebaikan dan pengabdian setiap umat manusia. Hidup di era postmodern menjadi tantangan bagi genarasi sekarang, tantangan untuk selalu merefleksikan sejarah bangsanya di tengah gencarnya benturan peradaban antar bangsa.
   Saya berharap genarasi muda saat ini menghayati sekaligus mengambil manfaat dari perjuangan di masa pergerakan nasional tadi, banyak hal positif yang bisa kita ambil diantaranya semangat untuk berorganiasi, rasa nasionalisme, semangat patriotisme, ikhlas berkoraban demi masyarakat, kepekaan soaial, memiliki rasa persatuan, menujunjung tinggi nilai kebenaran dan semacamnya.
    Kita buktikan kepada dunia bahwa generasi sekarang bukanlah generasi yang arogan yang mencoba untuk melupakan sejarah bangsanya, sebaliknya kita tunjukkan kepada dunia bahwa generasi sekarang adalah generasi yang selalu mengghayati perjuangan pendahulunya sekaligus generasi yang selalu sadar akan sejarah bangsanya. Generasi muda harus  bangkit, jangan menjadi generasi yang cengeng dan selalu menyerah dengan keadaan. Tunjukkan bahwa kita mampu mengahadapi tantangan dunia ke depannya, buktikan bahwa kita bukan hanya generasi bermodalkan otak yang cemerlang melainkan suatu genarasi yang bermodalkan keluhuran akhlak. Wahai pemuda Indonesia bangunlah jiwanya ,bangunlah raganya, mari kita bergandengan tangan, ayo kita bersatu padu, kita buat seluruh penjuru dunia menoleh ke Indonsia karena Generasi muda Indonesia akan berjaya. Saya yakin dengan penuh kesadaran bahwa kebangkitan nasional yang diiringi dengan rasa patriotisme setiap generasi bangsa maka akan melahrikan pemuda Indonseia yang menjadi panutan seluruh kompenen bangsa, saya namakan pemuda tersebut sebagai Ksatria Nusantara.
    Saya beharap Ksatria Nusantara itu terlahir pasca peringatan hari kebangkitan nasional ini, sesungguhnya ksatria adalah manusia mempunyai kepribadian yang luhur serta rasa cinta tanah air, dengan begitu sang ksatria bisa membawa perubahan bagi bangsa ini. Sang Ksatria adalah pemuda Indonsia yang mempunya jiwa yang berkobar-kobar untuk mengabdikan hidupnya bagi masyarakat banyak, dia selalu setia kepada kebaikan. Sang Ksatria juga selalu menurutu hati nuraninya, karena sesungguhnya hati nurani akan mengantarkan manusia kepada kebajikan, dan setiap kebajikan pasti diterima oleh masyarakat secara universal.
Untuk mengakhiri tulisan ini, maka saya berharap momentum kebangkitan nasional kemaren menjadi ajang intropeksi dan evaluasi diri, sehingga dengan begitu muncul gelora ksatria Nusantara dalam memperjuangakan kebaikan.

"Semoga Bermanfaat" 
Surabaya, 22  Mei 2014

Setitik Cahaya Harapan ( Sebuah Catatan Mahasiswa Anti Mainstream)


 

   Sekali lagi saya mengucapkan alhamdulilah ( segala puji bagi Allah) yang telah memberikan kesempatan untuk menuliskan sedikit ide dan gagasan yang ada dalam akal fikiran, tepatnya tentang organisasi yang sangat saya cintai ini yaitu HmI. Sudah setahun lebih saya berada dan berproses di dalam organisasi ini, suka cita telah saya rasakan dan beberapa amanah telah saya lalui. Untuk kali ini saya mengucapkan terimaksih kepada kawan-kawan semua yang telah memberikan kepercayaan kepada saya untuk mengeman amanah sebagai kepala bidang P3A di HmI komisariat ekonomi.
   Untuk kali ini kita akan mengadakan Rapat kerja, semoga selama satu tahun kepengurusan kedepan diberikan kemudahan oleh Allah SWT dalam mengemban amanah organisasi ini. Di dalam tubuh organisasi ini terdapat banyak pengurus serta anggota dengan berbagai macam karakteristik dan dari berbagai angkatan terutama yang 2011, saya tau persis karakteristik masing-masing individu dalam organisasi ini meskipun pengetahuan saya tentang mereka tidak mungkin 100 % benar.Oleh karena perbedaan itu saya bisa memerikan sedikit penilaian tentang organisasi ini, dan salah satu penilaian saya yaitu bahwa setiap individu yang ada dalam organisasi ini sangat unik dan bahkan mungkin karena terlalu uniknya saya sulit menebak jalan fikiran mereka masing-masing. Ada  kader yang semenjak awal aktif di HmI dan sampai sekarang militansinya masih terjaga, ada yang awalnya aktif di pertengahan jalan keaktifannya berkurang, ada yang jarang ke komisariat karena kesibukannya di BEM/BLM, ada yang aktif namun pas lagi kajian tidur dengan sejuta mimpinya, itulah komisariat kita, banyak hal yang ada dan patut kita syukuri dan perbaiki lagi keadaannya. Organisasi  ini janganlah bersifat statis seperti batu yang tak bergerak kemana mana,  namun harus dinamis seperti air yang mengalir dan terus bergerak serta membawa banyak manfaat bagi sekitarnya.
   Saya bukanlah Sukarno dengan kekuatan oarsinya bisa mempengaruhi rakyat banyak, saya bukan juga seperti Tan Malaka atau Sjahrir dengan intelektualitasnya bisa membawa perubahan bagi bangsa ini, dan saya juga bukanlah Lafran Pane yang dengan kecerdasannya bisa menjadi pioner berdirinya organisasi ini. Saya hanyalah salah satu Putera bangsa dengan sejuta impian yaitu ingin menggabungkan ide dan gagasan dari para tokoh-tokoh bangsa untuk di terapkan dalam konteks kehidupan sosial saat ini, dan yang pastinya ide yang baik dan luhur. Memang terkadang idealitas yang kita miliki selalu berbenturan bahakan berlawanan dengan realitas yang terjadi, itulah hidup, pasti ada tantangan dan hambatan di dalamnya, karena Socrates pun berujar “ hidup yang tidak teruji ialah hidup yang tak pantas untuk dijalani “, maka wajar jika ada ujian dalam memperjuangkan idealisme yang ada dalam jiwa kita, karena jika boleh berkaca pada para pemimpin kita dahulu kala maka banyak hikmah yang bisa kita ambil salah satunya tekad serta kekomsistenan mereka dalam memperjuangkan cita-cita dan idealisme mereka bahkan penjara dan ancaman pembunuhan pun tidak menciutkan kobaran semangat mereka.
  Tan Malaka juga berkata bahwa idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimilki oleh seorang mahasiswa. Jadi dengan begitu mahasiswa terutama kader HmI harus mempunyai nilai-nilai  ideal /luhur yang menjadi pegangan dalam menjalankan aktivitasnya. Salah satu sumber nilai yang bisa dijadikan patokan bagi kader HmI sebagai umat muslim  yaitu Al-Quran dan Hadis, selain itu  juga menjadikan Pancasila sebagai pegagannya sebagai warga negara Indonesia. Selanjutnya para kader diharapan memegang kuat-kuat prinsip dan nilai tersebut.
   Untuk semua kader saya ucapkan selamat anda telah menemukan jalan yang benar dalam berorganisasi, jalan ini adalah HmI. Pernah terlontar oleh salah satu senior saya yang bernama kanda Hafis, dia berujar bahwa organisasi ini ibarat kuda dimana kita bisa menungganginya dengan baik manakala kita sering memakai kuda tersebut. Artinya adalah HmI hanya sebuah alat yang tidak akan memberikan apa-apa kepada kawan-kawan jika kalian semua bersifat pasif. Perlu keaktiafan kawan-kawan semua dalam menjalani roda organisasi ini. Memang kehidupan terkadang tidak seperti yang kita mau, karena kita hanyalah manusia yang mampu berkehendak namun Tuhanlah yang kan menentukan segalanya, oleh karena itu jika dalam perjalanan ada suatu duri yang mengganjal saya harap kawan-kawan tidak putus asa dan selalu tegar menghadapi itu semua.
    Waktu silih berganti, zaman pun kian kian menemukan jalannya untuk berubah. Sementara ini para kader dihadapakan oleh berbagai macam tantangan nasional maupun global yang ada di depan mata. Era lama telah berlalu, era baru kini siap menyambut yaitu era dimana dunia seperti ada di genggaman kita dimana batas wilayah, jarak dan waktu bukan lagi menjadi permasalahan dalam berinteraksi. Untuk kedepannya kita juga akan mengahadapi MEA ( Masyarkat Ekonomi Asean) atau sebelumnya kita kenal sebagai AFTA ( Asean Free Trade Area) yaitu suatu keatuan kerjasama di bidang ekonomi yang diprakarasi oleh negar-negara Asean dimana jarak antar negara bukan menjadi masalah dalam melakukan aktivitas ekonomi. Konsekuebsi logisnya adalah setiap kader harus mempersiapkan segala persiapan dalam menyambut tantangan internasional tersebut ditambah sekarang kita memasuki era meritokrasi yaitu suatu era dimana siapa yang mempunyai kemampuan, skill, kecerdasan dan keahlian maka dialah yang akan digunakan  di dalam segala bidang terutama bidang yang digeluti oleh orang tersebut. Salah satu persiapannya adalah setiap kader wajib hukumnya meningkatkan segala kemampuannya di bidang akademik ( khususnya bidang ekonomi) terutama penguasaan akan teori dan segala hal yang berhubungan dengan ekonomi seperti statistika, matematika ataupun ekonometrika dalam menunjang kemampuan atau kualitas dirinya dalam menghadapi era tersebut. Hal lainnya yang patut diperhatikan adalah penguasaan dan pemahaman kader terhadap bahasa asing terutama bahas inggris sebagai media komunikasi Internasional karena bahasa Inggris sangat penting dalam meningkatkan interaksi kita dengan orang-orang asing. Selain itu masih banyak hal lagi yang patut diperhatikan dalam menyikapi tantatangan di atas seperti penguatan moralitas dan keimanan kita karena bagaimanapun juga ketika interaksi golabal telah menemukan jalannya maka mau tidak mau pasti ada pertukaran budaya dan gaya hidup antar manusia dan dengan begitu diharapkan setiap kader tidak kehilangan jati drinya sebagai muslim  Nusantara.
   Sebelum mengakhiri tulisan ini alangkah baiknya saya mengutip kata Mutiara Bung Karno yaitu “ Kita belum hidup di dalam sinar bulan purnama, kita masih hidup di masa pancaroba, tetaplah bersemangat elang rajawali “. Perkataan beliau mengandung makna bahwa kita masih harus melakukan proses dalam mencapai cita-cita dan hal itu perlu tekad dan semangat yang kuat. Akhirnya saya berkata dengan suara lantang bahwa dari sekian banyak tantangan masih ada setitik cahaya yang akan menerangi langkah-langkah kita, cahaya tersebut adalah tekad dan kemauan dari diri kita.  
  
               Surabaya, 15 Mei 2014

Mencetak Generasi EO atau Pemimpin Ideologis ? ( Suatu Gagasan untuk BEM UA)


  Alhamdulilah saya mendapatkan sedikit gagasan dari diskusi kultural dengan kawan-kawan di warkop (ramones), salah satu gagasannya adalah mengenai pembentukan struktur ideal dari badan eksekutif kampus dan bagaimana seharusnya BEM universitas bekerja. Saya bukanlah mahasiswa perfect dengan segala gagasan ideal yang patut untuk ditiru, saya juga bukan mahasiswa perfect dengan IPK 4,1  yang patut untuk ditauladani. Saya hanyalah bagian dari mahasiswa yang ingin ikut menyumbangkan sedikit gagasan untuk Badan Eksekutif Mahasiswa Airlangga.
   Dari tahun ke tahun UA tidak pernah sepi dari acara-acara besar entah itu dalam skala Internasional ataupun nasional. Pengadaan acara tersebut tidak pernah terlepas dengan siapa yang mempunyai wewenang untuk menyelenggarakannya, dan kebetulan dalam ranah universitas yang mempunyai wewenang adalam bagian eksekutif mahasiswa. Banyak program kerja yang menjadi rencana dari kepengurusan BEM, sebelum disepekati program kerja tersebut harus melalui tahapan yang namanya rapat kerja selama satu kepengurusan. Rapat kerja merupakan agenda dari BEM yang harus diselenggarakan sebelum mereka mengeksekusi segalam jenis kegiatan selama satu kepengurusan. Masing-masing bidang akan mempresentasikan programnya dalam satu tahun ke depan. Setiap bidang mempunyai patokan anggaran dana yang akan digunakan untuk menyelenggarakan programnya tersebut. Sejauh yang saya tahu sumber pendanaan BEM berasal dari rektorat, sponsor maupun pendanaan melalui usaha internal BEM seperti berjualan pernak-pernik maupun komoditas lainnya.
    Acara yang biasa diadakan oleh anak BEM biasaya menyangkut banyak hal seperti pelatihan, seminar, pengabdian masyarakat, turnamen olahraga, festival band, lomba karya ilmiah dan masih banyak lagi. Perlu diketahui bahwasanya acara-acara tersebut memerlukan biaya yang tidak sedikit apalagi seminar skala nasional dengan pemateri tokoh nasional. Dana yang dikeluarkan BEM tidak tanggung-tanggung biasanya selama satu kepengurusan ratusan juta bisa dikeluarkan untuk memenuhi hajat program yang mereka rencanakan.
   Di sini yang saya bicarakan bukanlah masalah anggaran dana ataupun cara memperoleh dana dari anak2 BEM, melainkan bagaimana idealnya para pengurus BEM menjadi sosok mahasiswa yang mempunyai krakater semacam Prabu Airlangga dari Jawa ataupun Raja Iskandar Muda dari Aceh, yaitu karakter kepemimpinan yang kuat. Sejauh yang saya tau kebanyakan sepak terjang dari mereka sebatas bagaimana suatu program kerja terlaksana dengan baik, padahal lebih dari itu ada hal urgent yang patut untuk diketahui. Hal tersebut adalah landasan serta urgensi dari program tersebut terhadap peningkatan jiwa kepekaan sosial dan intelektualitas mahasiswa itu sendiri. Saya rasa jika BEM hanya mengadakan acara Seminar selama satu kepengurusan itu tidak jauh beda dengan OSIS SMA yang bisa juga mengadain acara tersebut. Lantas  yang membedakan kedua organisasi tersebut adalah cara berfikir dan cara memandang esensi serta urgensi dari program yang mereka rencanakan. Sudahkah program tersebut benar-benar diteliti dengan baik ??? Hanya anak-anak BEM dan Tuhan yang tahu.
    Pengurus BEM bukanlah sekumpulan anak-anak kurang kerjaan dengan orientasi mencari jaringan semata, lebih dari itu adalah orang-orang terpilih yang mempunyai amanah besar untuk meningkatkan intelektualitas dan jiwa kepemimpinan mahasiswa Airlanga. Mereka terpilih melalui mekanisme tertentu, jadi sangat tidak patut jika ada pengurus yang semena mena akan jabatannya.
    BEM bukan hanya wadah bagi mahasiswa untuk menjadi penyelenggara kegiatan semata, lebih dari itu merupakan tempat penggemblengan karakter serta jiwa kepemimpinan mahasiswa. Pemimpin tidak pernah terlahir hanya dengan bisa mengadakan acara seminar ataupun pelatihan semata, pemimpin terlahir dari suatu pembenahan intelektualitas secara kontinu serta pengemblengan karakter secara terus menerus oleh pemangku jabatan tertinggi di BEM yatu Ketua BEM dan Wakil Ketua BEM UA. Pada dasarnya semua pengurus BEM mempunyai tanggung jawab sendiri-sendiri namun porsi paling besar tertuju pada pucuk pimpinannya. Konsekuensi dari pernyataan saya tadi adalah bahwasanya BEM Universitas harus mempunyai   gagsan ideologis yang akan disusung selama satu kepengurusan. Gagasan Ideologis berbeda dengan visi, karena saya yakin masalah visi mereka pasti paham.
    Gagasan Ideologis di sini mempunyai arti bahwa BEM setidaknya mempunyai arah dan konsep organisasi yang dilandasi oleh kultur mahasiswa UA saat ini, jadi mereka tidak hanya bisa menjalankan program kerja dari kepengurusan sebelumnya ataupun program kerja mereka yang baru, lebih dari itu mereka mengerti sedalam-dalamnya tentang seluk beluk keadaan mahasiswa UA sehingga dengan begitu bisa mengkonsep atau merancang pembentukan watak ideologis serta kultur akademis yang mumpuni. Berbeda dengan visi yang bersifat Top Down,  gagasan ideologis lebih mencerminkan realitas yang sedang terjadi di UA, jadi lebih bersifat Bottom Up.
    Dari realitas mahasiswa UA bisa ditarik sebuah wacana mengenai budaya yang sedang terjadi di UA, oleh karena itu di sini diharapakan peran BEM lebih menggelora lagi untuk menciptakan tatanan serta kultur yang lebih baik lagi bagi mahaiswa.
   Masalah struktur kepengurusan BEM saya yakin sudah ditata dengan baik, namun yang saya sayangkan adalah mengenai informasi siapa saja yang menjadi menteri ataupun pengurus di dalamnya, apaka saya harus berkunjung ke websitenya BEM UA terlebih dahulu untuk sekedar tau ? saya kira hal itu setiap mahasiswa bisa melakukannya, namun kenapa yang terpampang hanya foto dari ketua BEM dan wakilnya, kabinetnya SBY saja ada fotonya masa mentri-mentri  UA kalah eksis , apakah pencetakan foto begitu mahal hingga para mentri tidak bisa ikut nampang seperti Ketua BEMnya tadi. Saya kira alangkah lebih baiknya jika struktur kepengurusan BEM UA di informasikan kepada kawan-kawan mahasiswa lainnya beserta fotonya, mungkin dengan cara dicetak lalu disebar di setiap fakultas di UA. Dengan begitu setiap mahasiswa tahu siapa yang menjadi mentri beserta pengurus lainnya. Dengan begitu ketika ada saran dan kritik untuk BEM UA mereka tahu kepada siapa mereka akan menghadap.
    Saya mempunyai pandangan bahwasanya pengurus BEM UA juga mempunyai tanggung jawab untuk menyebarluaskan ide-ide progresif revolusioner kepada para mahasiswa, karena kenyataannya untuk saat ini kampus seakan-akan menjadi industri pencetak tenaga kerja, padahal lebih dari itu kampus mempunyai tanggung jawab untuk membangun peradaban bangsa melalui penataan karakter dan moral mahasiwa. Jika berbicara masalah moral saya geli mendengarnya, karena kampus dengan Slogan “Unggul dengan moralitas” tidak terwadahi dalam kurikulumnya dimana pelajaran agama dan Pkn hanya mempunyai porsi yang begitu sedikit, padahal penggemblengan moral atau pengukuhan karakter orang tidak cukup hanya dengan penataan kurikulum yang baik apalagi hanya dengan program ESQ yang hanya menjadi ajang perebutan sertifikat  ber SKP.
    Hari telah bergati, zaman telah berubah namun aroma kampus masih seperti sediakala, termasuk BEM UA yang geloranya mulai surut. Saya harap para pengurus tidak tersinggung, bukankah saya bagian dari rakyat UA, jadi saya berhak menyampaikan keluh kesah untuk UA yang begitu saya cintai ini. Ini bukanlah kritikan destruktif melainkan suatu wacana konstruktif yang diharapkan akan menimbulkan benih-benih spirit para pengurus BEM untuk bekerja.
   Kampus dan BEM  mempunyai kaitan yang sangat erat dimana kepentingan mahaiswa menjadi  tujuannya. Jadi Kampus semacam negara kecil dimana kedaulatan tertinggi tetap ada di tangan mahasiswa, bahkan para pengurus BEM saat ini bisa dilengserkan jika seluruh mahasiswa airlangga menuntut untuk diganti pengurus karena tidak sesuai dengan konstitusi mahasiswa misalnya (AD/ART), namun saya harap tidak seperti itu, karena saya yakin kita bukanlah sekumpulan orang-orang barbar yang haus kekuasaan,  lebih dari itu kita adalah kumpulan orang-orang beradab yang akan menyelesaikan masalah dengan musyawarah dan mufakat.
Para pengurus BEM diharapkan mempunyai karakter kepemimpinan yang kuat serta kemampuan dalam mengatur waktu denga baik, artinya setiap pengurus dituntut benar-benar menjadi organisatoris handal, karena bagaimanapun juga mereka mewakili puluhan ribu mahasiswa Airlangga.
   Pernah saya dengar keluhan dari seoranga kawan bahwa pengurus BEM hanya bisa mengadakan acara tanpa memiliki pandangan komperhensif akan kondisi serta realitas kampusnya, atau dengan kata lain pengurus hanya bisa menjadi EO (Event Organizer). Jika dihubungkan dengan masalah idealisme, maka sudah sepatutnya kita sebagai mahasiswa terutama para pengurus BEM tersadar bahwa idealisme merupakan hal yang wajib untuk dimiliki karena Tan Malaka berujar bahwa “ idealisme adalah kemewahan terkahir yang dimiliki oleh mahasiswa”. Saya tidak pernah menyalahkan pengurus BEM yang mengadakan program kerjanya seperti seminar, namun saya hanya ingin memberikan gambaran bahwa setiap acara harus ada gol yang dituju, percuma jika setiap acara tidak memiliki kobaran idealisme yang menyala-nyala dalam setiap pergerakan para pengurus. Maksud dari kobaran idelisme yaitu mereka tidak hanya menargetkan acara  seminar dengan jumlah peserta tertentu namun ada gol jangka panjang yang harus menjdi tolak ukurnya. Saya yakin mereka pasti tau masalah gol jangka panjang tadi, namun sekedar tau itu tidak cukup. Gol jangka panjang tadi bisa berupa pembentukan manusia indonesia yang lebih berbudaya, pembentukan manusia nusantara bermoral, penataan jiwa nasionalisme, penyadaran akan rasa persatuan dan lain sebagainya. Jadi dengan adanya gol jangka panjang tersebut saya yakin setiap pengurus lebih bersemangat lagi untuk melaksanakan acara tersebut karena mereka mempunya landasan filosofis yang kuat dalam pengadaan acaranya.
     Selanjutnya masalah pemimpin ideologis, banyak orang yang mengaggap ketika dirinya telah menjabat dan berhasil mendapatkan posisi struktural di kampus, mereka merasa telah menjadi pemimpin. Perlu kita ingat bahwa setiap manusia adalah pemimpin bagi dirinya sendiri, namun ketika kita diberi amanat untuk duduk di posisi struktural kampus maka tanggung jawanya tidak hanya kepada tuhan namun kepada seluruh mahasiswa di kampus. Setiap pengurus alangkah lebih sempurnya ketika dia menjadi pemimpin ideologis, artinya dia tidak hanya sebatas pelaksana dari seluruh program kerja namun juga menjadi seorang konseptor ulung dalam menagatur oraganisasinya terutama dalam hal menata kampusnya. Pemimpin ideologis adalah orang yang mempunyai idealisme dalam sepak terjangnya serta memiliki keluhuran budi pekerti dan yang terakhir adalah kepekaan sosial yang tinggi beserta intelektualitas yang mumpuni. Jadi dengan begiru mereka tidak hanya sebatas menjadi EO namun menjadi tauladan bagi seluruh mahaiswa Airlangga, hal tersebut senada dengan pernyataan Aristoteles dalam bukunya politik yang mengungkapkan, untuk membuat para individu menjadi baik dan bijak adalah dengan membentuk sifat dasar, kebiasaan dan akal. Otomatis pernyataan Aristoteles tersebut seirama dengan hal-hal yang wajib dimiliki oleh para calon pemimpin ideologis tadi.
    Jadi harapan saya adalah para pengurus BEM tidak hanya sebatas menjadi EO dalam kepengurusannya selama satu tahun kedepan, lebih dari itu menjadi pemimpin ideologis yang berjiwa Ksatria.   Saya yakin para pengurus BEM bukan orang yang cengeng serta mudah tersinggung atas segala kritikan yang diterimanya, sehingga pada akhirnya akan tercipta pemimpin yang bermental baja serta mempunyai kobaran semangat yang terus menyala.  Harapan saya yang terakhir adalah pengurus BEM tidak hanya bisa menjadikan dirinya sendiri sebagai pemimpin namun mampu mencetak mahaiswa lainnya sebagai leader of change. 

Surabaya 22 Mei 2014
 

Menggelorakan Aktivisme Kampus (Gagasan Untuk BEM Fakultas dan UKF )

Waktu telah berganti, zaman telah berubah. Era kita bukan lagi reformasi apalagi era revolusi. Namun sebagai generasi bangsa, banyak hikmah yang bisa dipetik dari kejadian bersejerah tersebut. Penurunan Sukarno dan Suharto adalah hasil sebuah dialektika politik pemuda tanah air waktu itu. Kekuatan pemuda sangat besar, karena pada masa mudalah gelora semangat mencapai titik tertinggi, pada masa mudalah idealisme suci terbentuk. Di balik itu semua ada beberapa kejanggalan ketika masa pasaca reformasi membentuk watak dan karakter pemuda tanah air terutama Mahasiswa. Memang sekarang Suharto telah tiada, namun beliau menigalkan beberapa jejak yang begitu nyata, terutama dalam aktivisme kampus. Sejarah telah membuktikan bahwa hegemoni kekeuasaan waktu orba telah mempersempit ruang-ruang mahasiswa untuk beraktualisasi bahkan dalam melakukan diskusi intelektual juga mengalami penjagaan oleh oknum pada masa itu. Berbagai macam regulasi di keluakan untuk menghambat serta mempersempit ruang gerak mahasiswa pada waktu itu, tujuannya adalah agar mahasiswa tidak ikut campur serta tidak banyak bicara mengenai politik nasional, sehingga dengan begitu mereka hanya disibukkan oleh kegiatan akademis belaka. Kenyataannya mahasiswa pada waktu itu memberonta, mereka mempunyai kesadaran akan fungsi dan peranannya sebagai penyambung lidah rakyat Indonsia, hingga meledaklah peristiwa Reformasi 98  yang megakibatkan Suharto mundur. Kejadian tersebut merupakan rentetaan sejarah yang terjadi sebelumnya dan merupakan hasi dunia aktivisme kampus yang begitu menggelora Seiring berjalannya waktu, dunia kampus telah mengalami banyak perubahan, hal tersebut adalah suatu kewajaran tersendiri karena pada dasarnya segala sesuatu pasti berubah, namun yang menjadi pertanyaan adalah apakah dunia kampus berubah ke arah lebih baik atau malah sebaliknya, hanya kita yang bisa menyadarinya Selama saya kuliah banyak hal yang saya rasakan kejanggalannya, entah itu karena sifat saya yang sok kritis atau jiwa saya yang memberontak, yang jelas niat saya hanya satu yaitu menjadikan kampus sebagai ajang pergulatan intelektual sekaligus wahana aktivisme bagi mahasiswa. Di kampus, terutama di fakultas ekonomi ada beberapa organisasi internal seperti BEM fakutas dan UKF ( Unit Kegiatan Fakultas). Salah satu kejanggalan yang saya rasakan adalah  mulai surutnya dunia aktivisme kampus, maksudnya adalah kurang adanya tempat yang disediakan oleh organisasi internal kampus entah itu BEM Fakultas maupun UKF yang bisa mengasah ketajaman intelektual dan daya kritis mahasiswa. Salah seorang teman dengan nama samaran Rika, mengatakan BEM Fakultas sudah mengadakan kegiatan diskusi rutin, lantas kawan-kawan pasti bertanya bukankah itu sudah aktivisme kampus yang mulai tertata. Saya tegaskan sekali lagi aktivisme mahasiswa yang ideal itu ada tiga hal yaitu membaca, menulis dan diskusi. Memang jikalau BEM fakultas mengklaim bahwa telah menyemarkaan dunia aktivisme kampus, saya acungi dua jempol, namun pertanyaan saya adalah mengapa mahasiswa FEB banyak yang kurang mendapatkan informasi akan adanya kegiatan tersebut dan apakah kegiata tersebut sudah disosialisasikan secara massif, hanya pengurus BEM fakultas yang tau.      Bagaimanapun juga realitas sejarah era orba mempunyai dampak terhadap kehidupan mahasiwa sekarang. Pernyataan mahasiswa “back to campus” mempunyai dampak kegiatan mahasiswa hanya difokuskan pada kegaiatan akademik semata, padahal kegiatan organisasi juga merupakan wahana pertarungan pemikiran bagi para mahasiswa serta alat untuk menempa mental dan kepribadian mahasiswa. Saya bukanlah mahasiswa yang sok kritis dengan suara lantang serta merta mengkritik BEM Fakultas, hal ini merupakan sebuah keniscayaan serta wacana yang memang haruslah diangkat ke permukaan. Beberapa hari yang lalu saya mengritisi BEM Universitas, sekarang sebagai warga FEB sudah selayaknya saya mempunyai kesempatan untuk memberikan wacana yang membangun fakultas yang begitu saya cintai ini. Sebagai waga FEB, salah satu harapan saya adalah mulai tumbuhnya iklim diskusi yang bisa menimbulkan semnagat membaca dan menulis di kalangan mahasiswa Fakultas ekonomi. Satu hal yang perlu saya sampaikan, terkadang mahasiswa menulis hanya untuk event tertentu bahkan hanya dengan tujuan untuk memenangkan suatu kompetisi, memang hal itu baik, namun ada satu tujuan yang mungkin terlewatkan oleh kawan-kawan yaitu aktivitas kita dalam menulis sudah selayakanya ditujukan untuk memberikan pencerdasan bagi generasi bangsa dalam rangka pengabadian kita sebagai golongan intelektual dengan tidak perlu memperhatikan adanya suatu kompetisi atau tidak. Kita patu mencontoh Sukarno dkk yang menulis bukan hanya untuk dipuji ataupun menerima penghargaan Internasioanal, mereka menulis sebagai wujud pengabdia kepada bangsa dan untuk melawan imprialisme, sungguh luhur niat mereka.Saya pribadi sudah bosen mengkritik BEM Fakultas sebagai EO, karana pada dasarnya itulah pekerjaan mereka. Sekarang saya ingin mengangkat sisi lain dari Bem Fakultas dan UKF dalam menghidupkan kembali ruh dan jiwa aktivis-aktivis kampus. Perlu ditekankan yang namanya aktivis tidak serta merta erat dengan demonstrasi, lebih dari itu yang namanya aktivis adalah kumpulan orang-orang yang mempunyai idealisme dan visi yang luhur serta aktif dalam melakukan pergulatan intelektual serta pergerakan sosial.  Fakultas ekonomi dengan jumlah mahasiswa terbanyak di Airlangga sudah semestinya tidak hanya melahirkan para manusia akademis saja, lebih dari itu melahirkan manusia aktivis dengan kemampuan akademis yang mumpuni, karena pada dasarnya kampus bukan pencetak pencari kerja, melainkan pencetak pemimpin bangsa dan untuk mencetak pemimpin bangsa tidak cukup hanya bergulat dengan dunia akademis saja melainkan harus aktif di berbagai organisasi kampus. Melemahnya aktivisme kampus, saya rasa berkaitan dengan kurang berminatnya mahasiswa untuk mengikuti organiasi eksternal kampus seperti HmI, GMNI, PMII dan lain semacamnya. Saya rasa ada semacam penyebaran isu yang menyatakan ormek (organisasi mahasiwa eksterna) itu tidak baik. Padahal ruh dan jiwa aktivis di bentuk dan ditata ketika kita ikut organisasi tersebut, ini bukan berarti himbauan atau usaha mempengaruhi kawan-kawan untuk ikut, namun sekedar wacana bahwa dengan mengikuti organisasi eksternal wawasan serta pandangann kita mengenai dunia lebih terbuka lebar, disitulah kita diajarkan arti tentang kepedulian, kepemimpinan, nasionalisme, religiusme, dan semacamnya yang mana jarang kita dapatkan itu semua di fakutas. Mungkin sebagian kawan-kawan beranggapan ormek itu pasti berbau kepentingan dan politik, saya jelasakan sekali lagi yang namanya kepentingan dan politik pasti melekat dalam kehidupan manusia, seharusnya yang perlu dipertanyakan adalah apakah kepentingan itu baik atau tidak, apakah proses politik tadi baik atau tidak, semuanya kawan-kawan yang menentukan, yang jelas mengikuti organisasi eksternal bukaknlah hal yang tabu di kalanga mahasiswa, bahkan Sukarno dan Hatta juga seorang aktivis yang bergelut dengan dunia organisasi. Jadi selain seorang intelektual mereka juga seorang aktivis dan organisatoris, kita harus mencontoh beliau-beliau. Sekali lagi wacana ini diharapkan membangkitakan semangat mahasiwa untuk berorganisasi dan kembali aktif dalam melakukan kegiatan membaca, menulis dan berdiskusi. Gencarnya mahasiswa yang gemar membaca dan suka bergulat dengan dunia pemikiran akan membentuk pribadi yang cerdas, dan dengan kecintaan mahasiswa dalam menuliskan suatu gagasan bisa mengasah akal dan memperhalus budi para mahasiswa dan yang terakhir dengan seringnya berdiskusi maka ruh aktivisme kampus kembali terbangun dan pada akhirnya akan membentuk aktivis intelektual. Pertanyaan besarnya adalah bagaimana BEM fakultas dan UKF bekerjasama dalam menghidupkan aktivisme kampus yang mulai meredup. Salah satu kuncinya adalah mereka bekerjasama dengan ormek dalam meningkatkan aktivisme kampus, kerjasama di sini bukanlah transasksi politik atau saling tukar jabatan, melainkan kerjasama dalam mengadakan suatu agenda yang bersifat rutin dengan sasaran seluruh mahasiswa Fakultas ekonomi. Agenda-agendanya adalah bisa berupa refleksi sejarah bangsa, pelatihan membaca cepat, diskusi kebangsaan, Penanaman ideologi bangsa, Pembangunan jiwa nasionalisme dan semacamnya. Saya kira ini cukup sulit direalisasikan, namun mungkin untuk dilakukan, jika masing-masing pihak mempunyai kesadaran yang sama dalami menggelorakan kembali aktivisme kampus. Ingat aktivis bukanlah kumpulan para pecundang, mereka adalah kumpulan mahasiswa yang berani melawan arus, atau dengan kata lain mahasiswa anti mainstream. Semoga dengan adanya kegiatan membaca, menulis dan berdiskusi oleh BEM Fakultas dan UKF bisa menimbulkan gairah baru bagi kalangan mahasiswa fakultas ekonomi, sehingga diharapkan aktivisme kampus kembali menyala.

Nasionalisme Bung Karno


    Terdengar suara riuh rendah dan tepuk tangan dari berbagai golongan atau elemen bangsa ketika sang proklamator membacakan teks proklamasi puluhan tahun silam. Pembacaan teks proklamasi tersebut menandakan bahwa bangsa Indonesaia telah merdeka dan bebas menentukan nasib hidupnya sendiri dan setiap bangsa di dunia ini tidak mempunyai hak untuk kembali menjajah negeri ini. Sebelum teks  proklamasi tersebut dibacakan terdapat banyak rentetan  peristiwa sejarah dan penting yang mewarnai kehidupan bangsa Indonesia di masa silam. Mulai dari masa pergerakan sampai masa pasca proklamasi. Perjuangan bangsa Indonesia pada masa itu dibagi menjadi dua cara, yang pertama melalu jalur diplomasi seperti perjanjian linggarjati, konferensi meja bundar, perjanjian renvile dan sebagainya, yang kedua melalui jalur pertempuran/peperangan secra fisik melawan penjajah seperti pertempuran di Surabaya, Bandung lautan api, perang puputan, pertempuran ambarawa dan lain sebagainya. Hal yang paling mengesankan untuk dikenang dan diambil hikmahnya pada masa itu yaitu mengenai nasionalisme manusia-manusia Indonesia yang  dengan ikhlas tanpa pamrih berjuang dengan segenap jiwa dan raga sekaligus dengan penuh pengorbanan demi kemerdekaan bangsanya. Dari sekian banyak tokoh yang muncul pada waktu itu seperti Bung Tomo, Jenderal Sudirman, Sutan Sjahrir dan lain sebagainya, nama Bung Karno sangat terkenal seantero bumi Indonesia bahkan hingga ddunia Internasional.
   Bung Karno merupakan sosok manusia yang pernah ikut mewarnai perjuangan bangsa Indonesia menjadi negara yang merdeka, bahkan hingga beliau menggal dunia  rasa nasionalismenya masih melekat dalam jiwa Bung Karno. Beliau merupakan sosok pemimpin ideal bagi masyarakat Indonesia pada waktu itu, bahkan karena rasa cinta yang teramat dalam  akan negerinya tersebut Bung Karno rela tinggal selama berpuluh-puluh tahun di penjara, bahkan beliau ikhlas tanpa menggerutu meskipun beliau selalu diasingkan oleh pihak penjajah ke daerah-daerah terpencil. Bung Karno berkeliling dunia untuk mengharumkan nama bangsanya, beliau tidak mengharapkan balasan apapun dari bangsanya, meskipun hingga akhir hayatnya pun beliau seperti dalam pengasingan oleh pemerintahan orde baru yang tidak menginginkan nama Bung Karno dikenang. Saya Aufal Fresky akan selalu mengenang jasa-jasa beliau.

14 Mei 2013
Jam 08.20 WIB
 Aku hidup bukan hanyar sekedar untuk makan lalu mati (AF)

Featured Post

Pelestarian Batik Madura Butuh Regulasi Terarah

  Sejak beberapa tahun terakhir, saya  bergelut di bidang usaha batik tulis Madura. Selain karena dukungan keluarga, faktor lingkungan juga ...