Mengutip perkataan voltaire, seorang tokoh Perancis yang mengatakan
bahwa dalam hal uang semua manusia mempunyai agama yang sama. Arti dari
pernyataan voltaire adalah bahwa dalam dalam hal materi semua manusia
mempunyai pandangan yang sama. Saya sebagai mahasiswa airlanga kurang
sepakat dengan pernyataan tersebut karena voltaire menganggap adalah
makhluk yang tidak mempunyai pandangan etis terhadap suatu hal. Jika
voltaire berkata demikian maka ijinkan saya untuk berkata dalam hal
fashion hampir semua mahasiswi mempunyai mindset yang sama. Kawan-kawan
boleh membantah pernytaan saya, karena memang saya belum melakukan
penelitian terhadap mindset para mahasiswi, saya hanya berasumsi
berdasarakan fakta empiris dan logika rasional selama saya kuliah di
Airlangga. Saya sendiri yakin bahwa pendapat saya tidak 100 % benar
karena relalita yang ada banyak sekali karakteristik dan ciri khas yang
dimiliki oleh masing-masing mahasiswi.
Setiap mahasiswi
mempnyai keunikannnya sendiri-sendiri, entah itu dari segi prinsip,
karakter, sudut pandang, cara berbicara dan yang terkahir adalah cara
berpakaian. Saya tidak akan membahas itu semua apalagi membicarakan
tentang asmaranya para mahasiswi kampus, bagi saya itu hal yang kurang
perlu, karena tidak akan membawa dampak yang signifikan bagi
pengembangan karakter dari mahasiswi itu sendiri. Sorotan saya kali ini
mengenai fenemena mahasiswi muslim dengan hijab dan jeans ketatnya
disertai lingkungan sosila yang mengelilinginya.
Pernah saya
lakukan suatu test kepada salah satu mahasiswi dengan pertanyaan kenapa
dia enggan memakai jilbab, jawabannya adalah karena dia merasa hatinya
dulu harus dihijabi lalu baru dia akan berpenampilan sebagai seorang
muslimah yang taat. Saya bukan orang picik yang selalu menyalahkan
setiap orang yang tidak memakai jilbab sebab bagaimanapun juga itu
adalah wilayah privasi mereka yang mana telah melekat suatu prisnip
terentu yang mereka ikuti. Di sisi lain saya mempunyai kesadaran bahwa
Islam adalah agama yang sempurna yang tidak hanya mengatur hubungan
manusia dengan Tuhannya lebih dari itu mengajarkan tentang banyak hal
salah satu diantaranya adalah meenganai tata cara seorang muslimah dalam
berperilaku dan berpenampilan. Mahasiswi muslim Indonsia bukan hanya
reprensentasi segolongan manusia indonesia dengan intelektual yang
mumpuni lebih dari itu mereka harus membuktikan kepada masyarakat banyak
bahwa mereka adalah sekumpulan orang-orang yang mempunyai ahlak yang
baik.
Sebagai seorang mahasiswa semester tua, saya sedikit tau
tentang mahasiswi di kampus. maksud sedikit tau adalah tentang
dinamika kehidupan kampus yang saya rasa stagnasinya begitu akut. Saya
tidak peduli dengan sistem yang menjadikan kita sebagai produk
indsutrial pendidikan, namun bagaimanapun juga menyalahkan sistem itu
bukan solusi terbaik. Kewajiban kita hanya menjadi yang tebaik dengan
begitu ada kalanya suatu saat kita bisa merubah itu semua.
Mahasiswi bukanlah objek pasif dari peradaban, mereka adalah subyek
aktif dari lahirnya suatu peradaban. Perlu diketahui segala tingkah laku
mahasiswi itu disebabkan oleh dua faktor yang pertama adalah faktor
internal yaitu faktor-faktor yang berasal dari dalam dirinya sendiri
seperti nilai-nilai yang dia anut, motivasi, pengetahuan, ideologi dan
semcamnya dan yang kedua adalah faktor eksternal yaitu hal-hal yang
berasal dari luar diri sang mahasiswi itu tadi.
Saya memilih
mahasiswi hijabers, sosialita dan jeans ketat sebagai judul dari tulisan
ini karena realitas sosial yang ada mengindikasikan bahwa mahasiswi
kita saat ini telah mengalami candu terhadap sosialita yang terpampang
di media saat ini. Memang kita sekarang telah memasuki era postmodern
yaitu era dimana dunia ibarat sebuah desa, jarak dan waktu bukan menjadi
masalah bagi manusia untuk melakukan suatu komunikasi, namun perubahan
era bukan menjadi suatu pembenaran atas prinsip yang tergadaikan.
Gencarnya arus informasi, telekomunikasi dan transportasi menjadi
variabel penting derasnya perubahan sosial yang terjadi saat ini,
termasuk kehidupn mahasiswi kita saat ini. Saya bukan orang munafik yang
menyalahkan para hijabers dengan celana jeans ketat tadi, karena pada
dasarnya meciptakan mahasiswi yang homogen adalah suatu hal yang teramat
sulit karena heterogenitas manusia adalah suatu niscata yang patut
untuk dimaklumi. Seorang lelaki normal saya meyukai akan suatu
keindahan, namun keindahan seperti apa yang patut untuk saya sukai, itu
adalah pertanyaan mengenai batasan seorang pria dalam memandang lawan
jenismya. Untuk saat ini saya bukanlah seorang malaikat yang bisa
menolak segala godaan, namun saya masih dalam proses untuk membentuk
suatu watak yang luhur dibalik gemerlap kehidupan para hijabers jeans
ketat tadi.
Sebagai perwakilan kaum adam saya mengatakan bahwa
hijab bukan sekedar tools atau media untuk menutupi aurat, dibalik itu
adalah suatu pembeda antara umat Islam dengan umat yang lainnya. Islam
adalah cara untuk hidup, Islam adalah agama pembebasan namun di balik
itu semua Islam mempunyai patokan tertentu yang wajib untuk dilakukan
oleh pemeluknya. Saya bukanlah orang konservatif yang memandang kaum
yang tidak berjilbab adalah golongan tak beradab, saya bukan juga
seorang liberalis yang menganjurkan kebebasan dalam beragama termasuk
dalam berhijab, bagaimanapun juga saya yakin bahwa anjuran Islam dalam
berhijab adalah suatu ajaran terbaik bagi pemeuknya.
Di media
massa, entah itu di TV, Tabloid, majalah ataupun semacamnya hijab sudah
menjadi suatu komoditas yang perkembangannya cukup pesat ditambah
mahasiswi kita saat ini adalah orang-orang yang selalu update akan
informasi terkini. Media tidak hanya berhasil membujuk kawula muda
terutama mahasiswi menjadikan hijab bukan sebagai kebutuhan namun telah
bergeser menjadi sebuah keinginan.
Saya mengamati hijab bukan
hanya sekedar penutup aurat, melainkan suatu simbol atau lambang dari
status sosial seseorang dan saya benar-benar merasakan hal tersebut, ini
bukan hanya suatu fenomena sosial melainkan suatu pergeseran budaya,
memang Tuhan suka terhadap suatu keindahan namun apakah keindahan
dijadikan alasan menjadikan hijab sebagai suatu komoditas sosial yang
membedakan mahasiswi satu dengan mahasiswi lainnya. Itu hak
masing-masiing individu saya tidak berhak ikut campur, namun s hanya
ingin memberikan suatu pandangan bahwa sesunggunhanya hijab saat ini
telah mengalami reduksi dari fungsi awalnya sebagai penutup aurat.
Berbagai macam corak, bentuk serta merek dari hijab banyak beredar di
pasaran, saya pribadi suka terhadap mahasiswi stylish dengan celana
jeans ketat, namun di sisi lain terkadang saya berfikir apakah cara
berpakaian mereka sudah sesuai dengan tuntutan agama, bukankah agama
melarang perempuan untuk menampakkan auratnya, jeans adalah celana ketat
yang terkadang bisa menampakkan lekuk tubuh sang mahasiswi tersebut.
Pemikiran saya terpecah, di sisi lain saya menikmati akan realitas
kehidupan mahasiswi kampus namun di sisi lain saya merenungkan suatu
patokan nilai yang mereka anut apakah mereka benar-benar menagmbil
esesnsi dari ajaran islam itu sendiri. Memang Islam tidak melarang
umatnya untuk mengenakan celana jeans, Islam hanya memberikan arahan
serta batasan tertentu bagaimana seharusnya seorang muslim
berpenampilan, jangan sampai penampilan seorang mahasiswi melebihi
batas. Saya tidak bisa menjelaskan lebih lanjut mengenai batasannya
karena jujur mengenai agama saya masih kurang.
Mahasisiwi
hijabers adalah sekelompok mahasiswi yang mempunyai minat yang sama
dalam hal berhijab dan selalu melek akan informasi mengenai produk hijab
yang terbaru. Mereka tidak hanya menjadikan berhijab sebagai tuntutan
agama lebih dari itu terkadang sebagai suatu simbol pembeda status
sosial. Secara tidak langsung mereka menjadi korban dari kapitalisme
global yang menjadikan budaya konsumtif sebagai kebiasaan sehari
harinya. Lingkungan sosial mereka biasaya berbeda dengan mahasiswi
lainnya, tempat tongkrongan serta hangoutnya juga terspesifikasi menjadi
sebuah kelas.
Kritik saya sebenarnya bukan terletak pada
gemerlap hijab yang mereka kenakan atau kelas sosial yang mereka bentuk,
melainkan lebih pada budaya konsumtif yang tidak mencerminkan watak
sebagai seorang intelektual yang menjadi panutan orang. Hak untuk
mengkonsumsi sebuah komoditas adalah adalah hak setiap orang namun
ketika konsumsi dilakukan bukan karena kebutuhan, implikasinya adalah
akan membentuk suatu kebiasaan yang lama kelamaan akan membentuk suatu
budaya konsumtif di kalangan intelektual tadi.
Sangat
disanyangkan jika setiap hari mereka mengeluarkan duit hanya untuk
update hijab terbaru, alangakah baiknya jika digunakan untuk membeli
buku. Suatu realitas sosial mahasiswi hijabers yang saya rasakan lagi
adalah masalah kepekaan sosial dan rendahnya minat berorganisasi
dikalangan mereka. Saya tidak mengatkan mereka adalah sekumpulan mahkluk
hedon seperti yang dikatakan filsuf Yunani benama Aristippus tentang
hedonisme yang berarti suatu paham yang mengaggap kenikmatan adalah
suatu tujuan utama dari kehidupan manusia. Mungkin lebih halusnya saya
katakan mereka adalah kumpulan mahasiswi yang masih berproses membentuk
jati dirinya yang independen yang berwatak humanis sosialis.
Hijab bermerek dan jeans ketat sudah menjadi lifestyle mahasiswi kita
saat ini, terlepas dari mana latar belakang mahasiswi tersebut berasal.
Saya rasa tidak ada salahnya mereka mengeksplorasi dan beraktualisasi
melalui penampilan mereka selama ada suatu pengahayatan mendalam serta
pengamalan secara konsisten tehadap agamanya.
Salah satu
konsep Islam yang mungkin bisa dijadikan solusi serta patokan dalam
berpenampilan yaitu mengenai larangan Islam terhadap perilaku Israf
(berlebih lebihan) dalam segala perilakunya di dunia, artinya Islam
melarang umatnya dalam berperilaku baik dalam makan, minum, maupun
berpenampilan termasuk berhijab secara berlebih lebihan atau melebihi
batas tertentu karena pada dasarnya suatu peilaku yang berlebihan adalah
tidak baik bisa juga menimbulkan kecemburuan sosial di tengah
masyarakat. Selanjutnya adalah setiap generasi muslimah saat ini
termasuk mahasiswi hijabers tadi alangkah baiknya mengamalkan ajaran
Islam lainnya yaitu sifat Qanaah yaitu merasa cukup atas segala
pemberian Allah dan mensyukuri segala nikmat yang ada.
Tulisan
ini adalah suatu refleksi bagi mahasiswi muslimah se Indonesia semoga
dengan ini, bisa meenjadi pribadi yang lebih sholehah serta menjadi umat
yang mengamalkan ajaran Islam secara Esensial atau secara substansial
bukan mengamlakan ajaran Islam secara simbolis. Sesungguhnya Allah tidak
akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu mau mengubahnya
sendiri, sesungguhnya mahasiswi tidak akan pernah bisa memahami agama
Islam secara substansial dan komperhensif kecuali dia mau benar-benar
belajar dari sekarang. Semoga mahasiswi muslimah tanah air menjadi
tauladan bagi generasi-genarasi di bawahnya.
Kesimpulannya
setiap generasi pasti mempunyai realitas sosial tersendiri yang
membedakan generasi sekarang dan sebelumnya, yan membuat kita unggul
adalah ketika generasi perempuan saat ini mampu membaca konteks sosial
yang ada dan tetap nerpegang teguh pada nilai-nilai luhur serta kearifan
budaya yang ada. Teruslah berkarya para mahasiswi hijabers, revolusimu
belumlah usai, bagaimanapun juga kalian adalah bagian dari bangsa,
kobarkan dan nyalakan semangat juang kalian.
(Note :
tetap pakek jeans ketat ya..karena bagaimanapun juga kalian pernak
pernik kampus yang harus dijaga kelestariannya..hahahaha)
aku memeluk pena dalam gemerlap dunia tanpa kepuasan (AF)
Surabaya, 26 Mei 2014