Sabtu, 02 Agustus 2014

Setitik Cahaya Harapan ( Sebuah Catatan Mahasiswa Anti Mainstream)


 

   Sekali lagi saya mengucapkan alhamdulilah ( segala puji bagi Allah) yang telah memberikan kesempatan untuk menuliskan sedikit ide dan gagasan yang ada dalam akal fikiran, tepatnya tentang organisasi yang sangat saya cintai ini yaitu HmI. Sudah setahun lebih saya berada dan berproses di dalam organisasi ini, suka cita telah saya rasakan dan beberapa amanah telah saya lalui. Untuk kali ini saya mengucapkan terimaksih kepada kawan-kawan semua yang telah memberikan kepercayaan kepada saya untuk mengeman amanah sebagai kepala bidang P3A di HmI komisariat ekonomi.
   Untuk kali ini kita akan mengadakan Rapat kerja, semoga selama satu tahun kepengurusan kedepan diberikan kemudahan oleh Allah SWT dalam mengemban amanah organisasi ini. Di dalam tubuh organisasi ini terdapat banyak pengurus serta anggota dengan berbagai macam karakteristik dan dari berbagai angkatan terutama yang 2011, saya tau persis karakteristik masing-masing individu dalam organisasi ini meskipun pengetahuan saya tentang mereka tidak mungkin 100 % benar.Oleh karena perbedaan itu saya bisa memerikan sedikit penilaian tentang organisasi ini, dan salah satu penilaian saya yaitu bahwa setiap individu yang ada dalam organisasi ini sangat unik dan bahkan mungkin karena terlalu uniknya saya sulit menebak jalan fikiran mereka masing-masing. Ada  kader yang semenjak awal aktif di HmI dan sampai sekarang militansinya masih terjaga, ada yang awalnya aktif di pertengahan jalan keaktifannya berkurang, ada yang jarang ke komisariat karena kesibukannya di BEM/BLM, ada yang aktif namun pas lagi kajian tidur dengan sejuta mimpinya, itulah komisariat kita, banyak hal yang ada dan patut kita syukuri dan perbaiki lagi keadaannya. Organisasi  ini janganlah bersifat statis seperti batu yang tak bergerak kemana mana,  namun harus dinamis seperti air yang mengalir dan terus bergerak serta membawa banyak manfaat bagi sekitarnya.
   Saya bukanlah Sukarno dengan kekuatan oarsinya bisa mempengaruhi rakyat banyak, saya bukan juga seperti Tan Malaka atau Sjahrir dengan intelektualitasnya bisa membawa perubahan bagi bangsa ini, dan saya juga bukanlah Lafran Pane yang dengan kecerdasannya bisa menjadi pioner berdirinya organisasi ini. Saya hanyalah salah satu Putera bangsa dengan sejuta impian yaitu ingin menggabungkan ide dan gagasan dari para tokoh-tokoh bangsa untuk di terapkan dalam konteks kehidupan sosial saat ini, dan yang pastinya ide yang baik dan luhur. Memang terkadang idealitas yang kita miliki selalu berbenturan bahakan berlawanan dengan realitas yang terjadi, itulah hidup, pasti ada tantangan dan hambatan di dalamnya, karena Socrates pun berujar “ hidup yang tidak teruji ialah hidup yang tak pantas untuk dijalani “, maka wajar jika ada ujian dalam memperjuangkan idealisme yang ada dalam jiwa kita, karena jika boleh berkaca pada para pemimpin kita dahulu kala maka banyak hikmah yang bisa kita ambil salah satunya tekad serta kekomsistenan mereka dalam memperjuangkan cita-cita dan idealisme mereka bahkan penjara dan ancaman pembunuhan pun tidak menciutkan kobaran semangat mereka.
  Tan Malaka juga berkata bahwa idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimilki oleh seorang mahasiswa. Jadi dengan begitu mahasiswa terutama kader HmI harus mempunyai nilai-nilai  ideal /luhur yang menjadi pegangan dalam menjalankan aktivitasnya. Salah satu sumber nilai yang bisa dijadikan patokan bagi kader HmI sebagai umat muslim  yaitu Al-Quran dan Hadis, selain itu  juga menjadikan Pancasila sebagai pegagannya sebagai warga negara Indonesia. Selanjutnya para kader diharapan memegang kuat-kuat prinsip dan nilai tersebut.
   Untuk semua kader saya ucapkan selamat anda telah menemukan jalan yang benar dalam berorganisasi, jalan ini adalah HmI. Pernah terlontar oleh salah satu senior saya yang bernama kanda Hafis, dia berujar bahwa organisasi ini ibarat kuda dimana kita bisa menungganginya dengan baik manakala kita sering memakai kuda tersebut. Artinya adalah HmI hanya sebuah alat yang tidak akan memberikan apa-apa kepada kawan-kawan jika kalian semua bersifat pasif. Perlu keaktiafan kawan-kawan semua dalam menjalani roda organisasi ini. Memang kehidupan terkadang tidak seperti yang kita mau, karena kita hanyalah manusia yang mampu berkehendak namun Tuhanlah yang kan menentukan segalanya, oleh karena itu jika dalam perjalanan ada suatu duri yang mengganjal saya harap kawan-kawan tidak putus asa dan selalu tegar menghadapi itu semua.
    Waktu silih berganti, zaman pun kian kian menemukan jalannya untuk berubah. Sementara ini para kader dihadapakan oleh berbagai macam tantangan nasional maupun global yang ada di depan mata. Era lama telah berlalu, era baru kini siap menyambut yaitu era dimana dunia seperti ada di genggaman kita dimana batas wilayah, jarak dan waktu bukan lagi menjadi permasalahan dalam berinteraksi. Untuk kedepannya kita juga akan mengahadapi MEA ( Masyarkat Ekonomi Asean) atau sebelumnya kita kenal sebagai AFTA ( Asean Free Trade Area) yaitu suatu keatuan kerjasama di bidang ekonomi yang diprakarasi oleh negar-negara Asean dimana jarak antar negara bukan menjadi masalah dalam melakukan aktivitas ekonomi. Konsekuebsi logisnya adalah setiap kader harus mempersiapkan segala persiapan dalam menyambut tantangan internasional tersebut ditambah sekarang kita memasuki era meritokrasi yaitu suatu era dimana siapa yang mempunyai kemampuan, skill, kecerdasan dan keahlian maka dialah yang akan digunakan  di dalam segala bidang terutama bidang yang digeluti oleh orang tersebut. Salah satu persiapannya adalah setiap kader wajib hukumnya meningkatkan segala kemampuannya di bidang akademik ( khususnya bidang ekonomi) terutama penguasaan akan teori dan segala hal yang berhubungan dengan ekonomi seperti statistika, matematika ataupun ekonometrika dalam menunjang kemampuan atau kualitas dirinya dalam menghadapi era tersebut. Hal lainnya yang patut diperhatikan adalah penguasaan dan pemahaman kader terhadap bahasa asing terutama bahas inggris sebagai media komunikasi Internasional karena bahasa Inggris sangat penting dalam meningkatkan interaksi kita dengan orang-orang asing. Selain itu masih banyak hal lagi yang patut diperhatikan dalam menyikapi tantatangan di atas seperti penguatan moralitas dan keimanan kita karena bagaimanapun juga ketika interaksi golabal telah menemukan jalannya maka mau tidak mau pasti ada pertukaran budaya dan gaya hidup antar manusia dan dengan begitu diharapkan setiap kader tidak kehilangan jati drinya sebagai muslim  Nusantara.
   Sebelum mengakhiri tulisan ini alangkah baiknya saya mengutip kata Mutiara Bung Karno yaitu “ Kita belum hidup di dalam sinar bulan purnama, kita masih hidup di masa pancaroba, tetaplah bersemangat elang rajawali “. Perkataan beliau mengandung makna bahwa kita masih harus melakukan proses dalam mencapai cita-cita dan hal itu perlu tekad dan semangat yang kuat. Akhirnya saya berkata dengan suara lantang bahwa dari sekian banyak tantangan masih ada setitik cahaya yang akan menerangi langkah-langkah kita, cahaya tersebut adalah tekad dan kemauan dari diri kita.  
  
               Surabaya, 15 Mei 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Featured Post

Pelestarian Batik Madura Butuh Regulasi Terarah

  Sejak beberapa tahun terakhir, saya  bergelut di bidang usaha batik tulis Madura. Selain karena dukungan keluarga, faktor lingkungan juga ...