Sekali lagi saya mengucapkan alhamdulilah ( segala puji bagi Allah)
yang telah memberikan kesempatan untuk menuliskan sedikit ide dan
gagasan yang ada dalam akal fikiran, tepatnya tentang organisasi yang
sangat saya cintai ini yaitu HmI. Sudah setahun lebih saya berada dan
berproses di dalam organisasi ini, suka cita telah saya rasakan dan
beberapa amanah telah saya lalui. Untuk kali ini saya mengucapkan
terimaksih kepada kawan-kawan semua yang telah memberikan kepercayaan
kepada saya untuk mengeman amanah sebagai kepala bidang P3A di HmI
komisariat ekonomi.
Untuk kali ini kita akan mengadakan Rapat
kerja, semoga selama satu tahun kepengurusan kedepan diberikan kemudahan
oleh Allah SWT dalam mengemban amanah organisasi ini. Di dalam tubuh
organisasi ini terdapat banyak pengurus serta anggota dengan berbagai
macam karakteristik dan dari berbagai angkatan terutama yang 2011, saya
tau persis karakteristik masing-masing individu dalam organisasi ini
meskipun pengetahuan saya tentang mereka tidak mungkin 100 % benar.Oleh
karena perbedaan itu saya bisa memerikan sedikit penilaian tentang
organisasi ini, dan salah satu penilaian saya yaitu bahwa setiap
individu yang ada dalam organisasi ini sangat unik dan bahkan mungkin
karena terlalu uniknya saya sulit menebak jalan fikiran mereka
masing-masing. Ada kader yang semenjak awal aktif di HmI dan sampai
sekarang militansinya masih terjaga, ada yang awalnya aktif di
pertengahan jalan keaktifannya berkurang, ada yang jarang ke komisariat
karena kesibukannya di BEM/BLM, ada yang aktif namun pas lagi kajian
tidur dengan sejuta mimpinya, itulah komisariat kita, banyak hal yang
ada dan patut kita syukuri dan perbaiki lagi keadaannya. Organisasi ini
janganlah bersifat statis seperti batu yang tak bergerak kemana mana,
namun harus dinamis seperti air yang mengalir dan terus bergerak serta
membawa banyak manfaat bagi sekitarnya.
Saya bukanlah Sukarno
dengan kekuatan oarsinya bisa mempengaruhi rakyat banyak, saya bukan
juga seperti Tan Malaka atau Sjahrir dengan intelektualitasnya bisa
membawa perubahan bagi bangsa ini, dan saya juga bukanlah Lafran Pane
yang dengan kecerdasannya bisa menjadi pioner berdirinya organisasi ini.
Saya hanyalah salah satu Putera bangsa dengan sejuta impian yaitu ingin
menggabungkan ide dan gagasan dari para tokoh-tokoh bangsa untuk di
terapkan dalam konteks kehidupan sosial saat ini, dan yang pastinya ide
yang baik dan luhur. Memang terkadang idealitas yang kita miliki selalu
berbenturan bahakan berlawanan dengan realitas yang terjadi, itulah
hidup, pasti ada tantangan dan hambatan di dalamnya, karena Socrates pun
berujar “ hidup yang tidak teruji ialah hidup yang tak pantas untuk
dijalani “, maka wajar jika ada ujian dalam memperjuangkan idealisme
yang ada dalam jiwa kita, karena jika boleh berkaca pada para pemimpin
kita dahulu kala maka banyak hikmah yang bisa kita ambil salah satunya
tekad serta kekomsistenan mereka dalam memperjuangkan cita-cita dan
idealisme mereka bahkan penjara dan ancaman pembunuhan pun tidak
menciutkan kobaran semangat mereka.
Tan Malaka juga berkata
bahwa idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimilki oleh seorang
mahasiswa. Jadi dengan begitu mahasiswa terutama kader HmI harus
mempunyai nilai-nilai ideal /luhur yang menjadi pegangan dalam
menjalankan aktivitasnya. Salah satu sumber nilai yang bisa dijadikan
patokan bagi kader HmI sebagai umat muslim yaitu Al-Quran dan Hadis,
selain itu juga menjadikan Pancasila sebagai pegagannya sebagai warga
negara Indonesia. Selanjutnya para kader diharapan memegang kuat-kuat
prinsip dan nilai tersebut.
Untuk semua kader saya ucapkan
selamat anda telah menemukan jalan yang benar dalam berorganisasi, jalan
ini adalah HmI. Pernah terlontar oleh salah satu senior saya yang
bernama kanda Hafis, dia berujar bahwa organisasi ini ibarat kuda dimana
kita bisa menungganginya dengan baik manakala kita sering memakai kuda
tersebut. Artinya adalah HmI hanya sebuah alat yang tidak akan
memberikan apa-apa kepada kawan-kawan jika kalian semua bersifat pasif.
Perlu keaktiafan kawan-kawan semua dalam menjalani roda organisasi ini.
Memang kehidupan terkadang tidak seperti yang kita mau, karena kita
hanyalah manusia yang mampu berkehendak namun Tuhanlah yang kan
menentukan segalanya, oleh karena itu jika dalam perjalanan ada suatu
duri yang mengganjal saya harap kawan-kawan tidak putus asa dan selalu
tegar menghadapi itu semua.
Waktu silih berganti, zaman pun
kian kian menemukan jalannya untuk berubah. Sementara ini para kader
dihadapakan oleh berbagai macam tantangan nasional maupun global yang
ada di depan mata. Era lama telah berlalu, era baru kini siap menyambut
yaitu era dimana dunia seperti ada di genggaman kita dimana batas
wilayah, jarak dan waktu bukan lagi menjadi permasalahan dalam
berinteraksi. Untuk kedepannya kita juga akan mengahadapi MEA (
Masyarkat Ekonomi Asean) atau sebelumnya kita kenal sebagai AFTA ( Asean
Free Trade Area) yaitu suatu keatuan kerjasama di bidang ekonomi yang
diprakarasi oleh negar-negara Asean dimana jarak antar negara bukan
menjadi masalah dalam melakukan aktivitas ekonomi. Konsekuebsi logisnya
adalah setiap kader harus mempersiapkan segala persiapan dalam menyambut
tantangan internasional tersebut ditambah sekarang kita memasuki era
meritokrasi yaitu suatu era dimana siapa yang mempunyai kemampuan,
skill, kecerdasan dan keahlian maka dialah yang akan digunakan di dalam
segala bidang terutama bidang yang digeluti oleh orang tersebut. Salah
satu persiapannya adalah setiap kader wajib hukumnya meningkatkan segala
kemampuannya di bidang akademik ( khususnya bidang ekonomi) terutama
penguasaan akan teori dan segala hal yang berhubungan dengan ekonomi
seperti statistika, matematika ataupun ekonometrika dalam menunjang
kemampuan atau kualitas dirinya dalam menghadapi era tersebut. Hal
lainnya yang patut diperhatikan adalah penguasaan dan pemahaman kader
terhadap bahasa asing terutama bahas inggris sebagai media komunikasi
Internasional karena bahasa Inggris sangat penting dalam meningkatkan
interaksi kita dengan orang-orang asing. Selain itu masih banyak hal
lagi yang patut diperhatikan dalam menyikapi tantatangan di atas seperti
penguatan moralitas dan keimanan kita karena bagaimanapun juga ketika
interaksi golabal telah menemukan jalannya maka mau tidak mau pasti ada
pertukaran budaya dan gaya hidup antar manusia dan dengan begitu
diharapkan setiap kader tidak kehilangan jati drinya sebagai muslim
Nusantara.
Sebelum mengakhiri tulisan ini alangkah baiknya saya
mengutip kata Mutiara Bung Karno yaitu “ Kita belum hidup di dalam
sinar bulan purnama, kita masih hidup di masa pancaroba, tetaplah
bersemangat elang rajawali “. Perkataan beliau mengandung makna bahwa
kita masih harus melakukan proses dalam mencapai cita-cita dan hal itu
perlu tekad dan semangat yang kuat. Akhirnya saya berkata dengan suara
lantang bahwa dari sekian banyak tantangan masih ada setitik cahaya yang
akan menerangi langkah-langkah kita, cahaya tersebut adalah tekad dan
kemauan dari diri kita.
Surabaya, 15 Mei 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar