Senin, 23 September 2024

Mahbub Djunaidi

 

Sosok satu ini bisa dibilang 'langka'. Kemampuan menulisnya berbeda dari rata-rata intelektual publik pada umumnya. Dengan gayanya khasnya yang jenaka, ia cekatan dalam memaparkan persoalan berat menjadi lelucon renyah yang bisa dikonsumsi siapapun. Gaya tulisannya satire, penuh sarkas, membuat pembacanya tertawa terpingkal-pingkal. Padahal, bisa jadi yang membaca adalah sasaran kritiknya. Siapakah ia?

Ia adalah Mahbub Djunaedi, kolumnis yang sanggup menyajikan tulisan 'pedas' menjadi lelucon. Kapasitas intelektual dan selera humornya tinggi. Pantas saja ia selalu mampu meramu tulisan berbobot melalui bahasa yang komunikatif. Sindirannya halus. Tidak blak-blakan. Tidak main hantam begitu saja. Selaras dengan hal itu, Fariz Alneizar, pendiri Rumah Aksoro, menyatakan bahwa gaya tulisan Mahbub mampu mengubah tragedi menjadi komedi.

Mahbub jeli dalam mengurai kusutnya problematika sosial kemasyarakatan. Ia mahir menerangkan kepada publik beragam masalah yang masih buram. Ia jabarkan tetek bengek isu-isu yang sedang viral. Analisanya setajam silet, bahasanya mudah dipahami. Ia mampu menyajikan aneka ragam masalah pahit menjadi bahan olok-olok dalam catatannya. Chatibul Umam, sahabat karibnya, pernah menyatakan bahwa ia sosok pejuang yang pintar menulis, ia menulis sekali jadi, hasilnya alamiah dan spontan.

Sosok kelahiran Jakarta, 22 Juli 1933 ini dikenal luas sebagai pemikir yang gencar menyuarakan kepentingan publik. Ia berani membela kepentingan 'wong cilik', apapun risikonya. Sampai-sampai ia dijuluki si Burung Parkit di kandang macan. Menurut Lukman Hakim, mantan Menteri Agama Republik Indonesia, istilah burung parkit mempresentasikan sosok Mahbub Djunaidi yang sederhana, tidak bisa diam, dan pandai bergaul.

Ia juga dijuluki 'Pendekar Pena' sebab kepiawaiannya menghidangkan gagasan ke dalam tulisan. Banyak media massa lokal dan nasional yang mempublikasikan tulisannya. Dalam catatannya berjudul 'Kesatria' (Kompas, 14 Juni 1985), ia mengaku sebagai penulis generalis, bukan spesialis. Artinya, ia menulis ihwal apa saja yang lewat di depan matanya. Persis tukang loak yang menjual apa saja yang bisa dipikul.

Selama hidup, ia tidak hanya berkiprah sebagai wartawan ataupun kolumnis. Ia juga seorang aktivis dan politikus. Terbukti bahwa ia pernah menjadi anggota Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), anggota Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI), Ketua Umum pertama Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII), Wakil Ketua Umum Tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama ( PB NU), dan Wakil Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Ringkas cerita, masih banyak hal tentang Bung Mahbub, yang tidak saya paparkan semua dalam catatan ini. Intinya, anak muda hari ini, bisa meniru spirit perjuangannya. Meneladani semangat pengorbanannya. Kegigihan dan konsistensinya menyebarkan nilai-nilai kebaikan patut diacungi jempol. Ia merupakan 'pelita' dan sekaligus 'kompas' bagi bangsa ini.

Intinya, dedikasi dan pengabdiannya untuk umat patut diapresiasi. Rekam jejaknya menjadi inspirasi tersendiri bagi generasi hari ini. Bung Mahbub sudah lama pergi. Tapi tulisannya abadi. Ia adalah kesatria bangsa. Sekali lagi, "Bung Mahbub, kami masih mengenangmu".

Oleh: Muhammad Aufal Fresky

PP. Al-Ikhlas, Desa Klampar
Kamis, 18 Maret 2021
15.27 WIB

Sumber gambar: kompasiana.com







Melawan dengan Pena




Saya percaya kekuatan tulisan itu nyata adanya. Bahkan lebih dahsyat dari peluru yang hanya bisa menembus satu kepala manusia. Sedangkan tulisan bisa menembus jutaan kepala manusia. Intinya, kekuatan pena tidak bisa diragukan lagi.

Tidak heran jika para jurnalis menjadi salah satu momok menakutkan bagi pemerintahan yang otoriter. Tengok saja di zaman orde baru, berapa banyak majalah yang dibredel oleh pemerintah karena begitu vokal dan vulgar mengkritik jalannya pemerintahan. Ternyata dengan pena kita bisa melawan. 

Bahkan dulu di zaman penjajahan, para pendiri bangsa menggunakan media massa untuk menyebarluaskan propaganda nasionalisme dan persatuan. Ketajaman berpikir dan kekuatan intelektualitas tokoh bangsa tersebut terlihat dari tulisan-tulisan bernas yang mereka hasilkan. Para penjajah pun menjadi kalang kabut. 

Pena menjadi sarana terbaik untuk melawan keangkuhan penguasa. Artinya, dengan pena kita bisa mengkritik kebijakan pemerintah yang tidak memihak rakyat. Dengan pena juga kita memberikan alternatif solusi atas beragam permasalahan bangsa. 

Saya berpandangan bahwa dengan menulis, seseorang bisa menjadi pejuang kemanusiaan. Bisa juga menjadi pejuang keadilan. Maka dari itu, jika ada penguasa yang menyalahi nilai kemanusiaan dan nilai keadilan, maka kita bisa bergerak tidak hanya dengan demonstrasi. Namun juga melalui tulisan yang kritis, tajam, dan konstruktif tentunya.

Lawanlah segala bentuk penyelewengan anggaran negara dengan cara menulis. Lawanlah segala bentuk penyalahgunaan kekuasaan dengan menulis. Percayalah, bahwa kekuatan pena bisa mengubah pikiran jutaan orang. Yakinlah bahwa kekuatan tulisan bisa menggerakkan jutaan manusia untuk beraksi sekaligus meruntuhkan dominasi penguasa yang dzalim dan semena-mena. 

Terakhir, untuk milenial Indonesia, saya berharap mampu menjadi insan-insan yang cerdas dan kritis melihat keadaan. Tidak hanya menjadi generasi yang 'manut'. Hanya plonga-plongo terhadap realitas bangsanya. Takut menjadi pendobrak. Takut menjadi generasi yang 'melawan'. Tidak berani mengungkapkan ide dan pikirannya melalui tulisan. Sekali lagi, ayo berani melawan melalui pena dan tulisan. Melawan dalam konteks yang positif tentunya.


Penulis: Muhammad Aufal 

Pamekasan,

Senin, 18 Mei 2020

21.09 WIB




Sumber ilustrasi: meramuda.com

Teruslah Berdzikir dan Belajar

 



Pernahkah Anda mengalami suatu kondisi di mana hati merasa gelisah tak menentu? Merasa hidup kok begini-begini saja. Merasa tidak tenang dan khawatir dengan masa depan. Dari hari ke hari, tahun ke tahun, berpikir seolah tidak ada pencapaian yang berarti. Belum lagi, dunia yang semakin cepat berubah menuntut kita lebih adaptif menghadapinya. 

Perubahan dalam hidup adalah keniscayaan. Tidak ada manusia yang mampu membendung perubahan. Disadari atau tidak, diri kita juga senantiasa berubah. Kita yang sekarang, berbeda dengan kita di waktu remaja dulu. Semisal dari segi fisik, pola pikir, wawasan, mental, finansial, dan semacamnya. Itu semua dipengaruhi oleh pengalaman, pendidikan, keluarga, lingkungan, dan buku-buku yang kita dibaca. 

Manusia cerdas adalah manusia yang mampu membaca perubahan zaman dan mengambil beragam peluang untuk mengembangkan diri seoptimal mungkin. Sebab, hari ini akses pengetahuan dibuka seluas-luasnya. Ada e-book, website, blog, Youtube, dan semacamnya. Itu semua memungkinkan kita untuk melesat jauh memajukan pikiran dan memperhalus perangai. Tapi, apakah kita maksimal menggunakannya? Jangan-jangan sebatas menjadi 'objek' bukan 'subjek' perubahan. Sebatas menjadi 'follower' bukan 'leader'.

Ada manusia yang usianya masih relatif muda, tapi perangai dan tutur katanya begitu dewasa. Ada manusia yang umurnya dikategorikan tua, tapi perilakunya kekanak-kanakan. Ternyata, 'dewasa' itu tidak ada kaitannya dengan umur. Ini soal pilihan hidup. Salah besar, jika ada yang beranggapan bahwa orang yang umurnya tua pasti matang pemikirannya dan pasti bijak perilakunya. Sebab, kemauan untuk berubah menjadi lebih baik itu adalah soal kesadaran, niat, dan kesungguhan.

Hari kemarin telah berlalu, hari esok masih misteri, dan hari ini adalah milik kita. Kita tidak bisa mengubah catatan sejarah di masa silam, juga tidak bisa membaca masa depan. Yang bisa kita lakukan adalah memanfaatkan hari ini sebaik mungkin. Semisal, dari segi ibadah, produktivitas dalam berkarya, hubungan dengan sesama, dan semacamnya. Intinya, bagaimana caranya agar hari demi hari selalu ada perubahan ke arah yang lebih baik lagi. Sebab, kita tidak tahu, berapa lama jatah hidup kita di dunia. Kematian bisa datang ke kapan pun, di mana pun, dan kepada siapa pun.

Lalu, terkait arus perubahan yang kian massif, terkadang membuat hati dan pikiran dipenuhi kekhawatiran yang berlebihan. Salah satunya bisa jadi karena koneksi kita dengan Allah lemah. Solusinya adalah dengan memperbanyak dzikir. Sebab, dengan berdzikir mencegah kita dari kemaksiatan dan kelalaian. Dengan berdzikir hati menjadi lebih tenang. 

KH Muhammad Arifin Ilham dalam bukunya berjudul 'Makna Dzikir' menuliskan, bahwa Rasulullah SAW bersabda , segala sesuatu ada sikatnya, ada pembersihnya, ada pengkilatnya. Sikat hati yang kotor, pembersih hati yang bernoda, pengkilat hati yang berdebu adalah dzikrullah. Selain itu, dengan semakin banyak berdzikir maka hati akan menjadi bersih dan pikiran akan jernih. Dan hati yang bersih akan menghasilkan ketenangan, kedamaian, dan kebahagiaan. 

Salah satu solusi bagi pikiran yang berkabut dan hati yang gelisah yaitu memperbanyak dzikir. Yakinlah bahwa dengan mendekatkan diri kepada Allah, masalah dalam hidup ini bisa diatasi. Tidak perlu bersedih atau risau memikirkan problem hidup, sebab kita memiliki Allah yang Maha Kuasa.

Yakinlah bahwa Allah yang mengatur hidup kita dengan sebaik-baiknya. Tetaplah berprasangka positif kepada Allah apa pun yang terjadi dalam hidup. Sekali lagi, hadapi setiap perubahan zaman dengan pikiran dan langkah yang positif. 

Dari uraian di atas, dalam menghadapi perubahan zaman, agar hati dan pikiran kita tenang, maka perbanyaklah berdzikir. Selain itu, jangan pernah kendor untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat. Sebab dengan ilmu, hati dan pikiran juga bisa menjadi lebih terang. Intinya, teruslah berdzikir dan belajar, mumpung masih sehat dan selagi masih ada kesempatan.



Oleh: Aufal Fresky

Desa Klampar, Pamekasan

Rabu, 27 Oktober 2021

06.11 WIB


Sumber ilustrasi: quizizz.com










Kenapa Saya Menulis?

 



Ketika hendak menulis sesuatu; baik itu fiksi maupun non-fiksi, saya kembali bertanya ke dalam hati saya sendiri: "Apa tujuannya? Kenapa mesti menulis?"

Pertanyaan semacam itu perlu sering dilontarkan, agar tujuan menulis jelas dan terarah. Sebab kalau boleh jujur, saya sendiri pernah, bahkan mungkin masih sampai saat ini, berupaya terus menulis agar dicap 'pemuda hebat', 'intelektual', 'pemikir', dan sejenisnya. Popularitas menjadi incaran utama.

Saya mengakui hal itu sejak awal-awal menulis di buletin kampus. Benar-benar gila eksistensi. Hal itu seperti bawaan saya dari zaman SMA, sempat ikut ekskul band agar terkenal di sekolah. Padahal, saya saat itu pemalu. Mungkin sampai saat ini juga masih 'pemalu'. Atau malu-maluin? Entahlah.

Niat menulis untuk mengasah kemampuan diri jauh lebih baik dibandingkan hanya sekadar untuk tampil keren di hadapan orang lain. Bisa-bisa hati menjadi keruh. Sebab, selalu ingin dilihat dan dipuji. Merasa kecewa saat tak ada yang melihat dan memuji. Akhirnya kendor dan hilang semangat untuk berkarya. Apa sebab? Ya karena menggantungkan aktivitas menulis pada penilaian orang lain. Senantiasa berpikir bagaimana cara terlihat pintar di hadapan publik. Sungguh, hal itu melelahkan. Kita mengejar penilaian manusia. Mendambakan pujian. Murung ketika dikritik. Sakit hati ketika tulisan dicela. Itu pertanda, mental belum kuat.

Membangun mental agar tangguh menghadapi cercaan perlu dibiasakan. Sebab, tidak ada ceritanya penulis hebat dilahirkan dari proses instan. Pasti mereka telah melewati banyak rintangan dalam menulis. Mulai dari kehabisan ide, kekurangan data, gaya bahasa yang kaku, dihujat, dan semacamnya. Namun, mereka tetap bersemangat untuk berkarya. Terbukti, dari konsistensinya tersebut, banyak karya-karya luar biasa yang dihasilkan. Keseriusan dan ketekunannya berbuah manis.

Baiklah, kembali lagi terkait tujuan menulis, perlahan saya mulai menemukannya. Di antaranya agar menjadi pribadi yang haus ilmu dan pengetahuan. Dengan menulis, saya akan tergerak untuk belajar. Saya akan terdorong untuk melahap bacaan apa pun yang berkaitan dengan tema yang hendak saya angkat dalam tulisan. Membaca sendiri tidak cukup membaca teks berupa buku, koran, majalah, buletin, website, dan sejenisnya. Membaca mengandung makna luas. Sepeti membaca alam, masyarakat, dan bahkan membaca diri kita sendiri. Dari situlah terbesit ide yang bisa ditulis.

Bagi saya, menulis itu menyenangkan, mencerahkan, dan memberdayakan. Saya percaya, menulis akan menguatkan daya ingat. Tujuan saya menulis adalah untuk menjadi pembelajar seumur hidup dan menebar manfaat kepada banyak orang. Sebab, cepat atau lambat, saya akan menua dan meninggal dunia. Setidaknya, ada hal yang saya wariskan. Ini tidak hanya menyangkut 'passion'. Lebih dari itu, ada misi di dalamnya.


Oleh: Aufal F.

Kampung Batik Klampar, Pamekasan
Rabu, 2 Februari 2022
05.43 WIB

Sumber ilustrasi: depositphotos.com



Minggu, 22 September 2024

Memetik Ilmu dari Dua Kiai

 



Tadi pagi, saya berjumpa dengan dua kiai. Tidak hanya itu, saya juga mendapatkan siraman rohani dari beliau berdua. Pertama, Kiai Abul Hasan, paman saya sendiri. Kedua, Kiai Muhammad Sa'udi, pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) An-Nawawi, Jepara, Jawa Tengah. 

Kiai Sa'udi ke Pamekasan dalam rangka mengisi acara pengajian di salah satu tempat. Dia bersama dua santrinya. Salah satunya adalah Afros, adek sepupu saya. Sementara itu, Kiai Abul ke Pamekasan dalam rangka mudik dan silaturahmi dengan keluarga besarnya di Madura. Beliau sendiri sudah lama menetap di Situbondo. Jadi hampir dipastikan setiap tahun pulang kampung, tepatnya di Dusun Banyumas, Desa Klampar, Kecamatan Proppo.

Di sebuah gazebo Ponpes Al-Ikhlas, Kiai Sa'udi membahas masalah lembaga pendidikan tingkat sekolah menengah kejuruan (SMK). Menurutnya, pemerintah terlalu banyak mendirikan SMK. Bahkan, sudah menyebar di desa-desa. Setiap tahun, pasti mengeluarkan tenaga terampil di bidangnya masing-masing. Semisal, jurusan Tata Busana, menghasilkan penjahit; jurusan Teknik Otomotif menghasilkan mekanik otomotif, dan sebagainya. 

Hanya saja, menurutnya, saat ini jumlah lulusan SMK membeludak. Tidak sebanding dengan kebutuhan industri yang relatif sedikit. Tidak heran, banyak yang menganggur. Sebab, lapangan pekerjaan yang tersedia untuk jebolan SMK minim. Selain itu, Kiai Sa'udi juga membandingkan orientasi dan cara berpikir yang dibangun di SMK dengan sekolah menengah atas (SMA) dan Madrasah Aliyah (MA). 

Beliau beranggapan, bahwa cara berpikir anak-anak SMK seolah dikerdilkan oleh pemerintah, hanya sekadar memperoleh pekerjaan. Beda halnya dengan di SMA/MA, pola pikir yang dibangun yaitu bagaimana agar jebolannya juga bisa berkontribusi mencerdaskan kehidupan bangsa. Beliau menegaskan, persoalan rezeki sudah diatur oleh Allah Swt. Karena Allah adalah pemberi dan pengatur rezeki.

Saya pribadi sebenarnya ingin menanggapi pernyataan beliau. Tapi entah kenapa lidah ini tertahan, tak mampu bergerak. Saya memilih diam, menyimak, dan menyerap untaian ilmu dan hikmah yang terlontar dari lisan beliau. Bagi saya pribadi, berjumpa dan memandang wajah beliau merupakan keberuntungan tersendiri. Gerak-geriknya, tasbih yang melekat di jari-jemarinya, menjadi pelajaran bagi saya.  jangankan berkomentar, menatap wajahnya saja, saya tak berani. 

Selanjutnya, saya kembali ke rumah. Di sana sudah ada Kiai Abul Hasan yang sedang bercengkerama dengan ayah saya di teras rumah. Sontak, saya dipanggil untuk menemaninya ngobrol. Dari dulu, beliau dikenal sebagai sosok yang suka tampil perlente alias modis. Alasannya, untuk mensyukuri nikmat Tuhan. Saya sepakat dengannya. Sebab, saya berpandangan bahwa sombong tidaknya seseorang itu tidak bisa dilihat dari penampilannya. Sebab, hal tersebut adanya di hati. 

Bersama Kiai Abul, saya tidak terlalu kaku. Beliau periang dan suka bercanda. Sesekali melontarkan humor yang membuat kami tertawa bersama. Suasana jadi cair. Saya perhatikan, dibalik humor ada pesan tersirat yang bisa diambil hikmahnya. Hal itu menjadi edukasi berharga bagi saya.

Alumnus Pesantren At-Taroqqi Sampang itu juga menyampaikan, dalam kehidupan bermasyarakat, kita perlu menerapkan akhlak mulia. Sebab, tanpa akhlak mulia, masyakarat akan condong meremehkan dan tidak menghormati. Dalam pergaulan sosial, masyarakat lebih menerima, menghargai, dan menghormati orang-orang yang sopan dan beradab. Apalagi orang itu alim. Kemuliaan seseorang bergantung bagaimana tingkah lakunya di tengah masyarakat. Jangan harap disegani jika kita sendiri sukar menghormati orang lain.

Selain itu, Kiai Abul juga menuturkan bahwa kita harus melayani tamu dengan sebaik mungkin. Tanpa membeda-bedakan latar belakangnya. Sebab, hal itu juga berkaitan dengan penerapan akhlak mulia dalam kehidupan bermasyarakat.

Begitulah kurang lebihnya yang saya dapatkan dari perjumpaan dengan dua kiai tersebut. Limpahan energi positif mengalir dalam diri saya. Seolah dicas kembali. Spirit baru menyala dan rasa optimis semakin hidup. 


Oleh: Aufal Fresky

Ponpes Al-Ikhlas, Desa Klampar, 

Kecamatan Proppo, Pamekasan

Sabtu, 7/5/2022

10.51 WIB


Sumber ilustrasi: pmiigusdur.com

















Memperhatikan 'Inner Beauty'

 


Mendengar istilah 'glowing', bayangan saya tertuju pada perempuan dengan wajah yang putih mulus tanpa noda. Istilah tersebut kerap kali dipakai sebagai standarisasi kecantikan wajah kaum Hawa. Seolah-olah wajah bening itu menjadi patokan utama kecantikan. Lantas bagaimana nasib perempuan yang kulitnya tidak putih. Apakah mereka dikategorikan perempuan kurang menarik? Saya tegas menjawab: Tidak.

Penilaian terkait kecantikan wajah itu relatif dan subjektif. Standar kecantikan setiap orang berbeda-beda. Belum tentu perempuan dengan warna kulit berkilau itu otomatis menarik. Saya rasa pengaruh iklan produk kosmetik dan tontonan drama Korea yang semakin digandrungi milenial juga berpengaruh terhadap konsep kecantikan. Ini ada hubungannya dengan perang kebudayaan antarnegara. Siapa yang lebih kuat dan berpengaruh, akan mendominasi percaturan budaya skala global. Kepentingan ekonomi suatu negara ada di baliknya. Ada aktor yang dengan sengaja merebut pasar milenial dengan mengendalikan pikirannya, semisal melalui tontonan.

Konsep perempuan cantik itu wajahnya harus putih dan mulus sengaja diciptakan untuk kepentingan ekonomi. Artis-artis bermuka 'glowing' ditampilkan untuk merebut pasar kaum muda. Lagi-lagi ini ada sangkut-pautnya dengan strategi bisnis untuk memikat kaum muda agar membeli produk kecantikan seperti yang dipakai publik figur tersebut. 

Bahkan, tidak jarang ada juga yang sengaja operasi plastik untuk memiliki wajah yang mulus dan seksi. Tidak peduli berapa biaya yang dikeluarkan, yang penting wajahnya bisa putih, halus, dan berkilau. Baginya, rupa menawan seperti artis Korea adalah segalanya. 

Lantas, apakah saya sengaja menulis catatan ini untuk memojokkan atau menyalahkan perempuan yang rajin perawatan? Tentu saja tidak. Merawat tubuh seperti halnya wajah, adalah salah satu bentuk syukur kita kepada Tuhan dalam rangka menjaga pemberiannya. Perlu diperjelas lagi, bahwa yang saya tekankan dalam tulisan ini warna kulit putih itu bukan patokan kecantikan. Tidak perlu terlalu memaksakan apabila memang dari sananya kulit kita berwarna hitam atau cokelat misalnya. Semua itu adalah anugerah Tuhan. Lain halnya jika kita menjaga agar kulit wajah tidak kusam atau kusut, itu beda bahasan. 

Menjaga wajah agar tetap 'ayu' (cantik) itu hal wajar bagi perempuan. Namun, 'inner beauty' (kecantikan dari dalam) itu jangan sampai dilupakan. Bahkan, itu menjadi hal utama untuk menjadi pribadi menarik. Tidak sekadar 'meng-glowing-kan' wajah dengan aneka 'skincare'. Hati juga perlu dibersihkan dan dirawat intens dengan mengaji, berzikir, bersalawat, salat, hadir majelis taklim, tahajjud, dan amalan-amalan sunnah lainnya. 

Silahkan berdandan sebaik mungkin, asal jangan lupakan kecantikan hati. Merawat hati agar tetap bersinar tentu saja memerlukan kesadaran. Kita harus tahu dan paham bahwa merawat hati akan berdampak pada keanggunan akhlak kita. Percayalah, wajah jelita itu terbatas waktu. Ada kalanya akan semua kulit akan menua dan keriput. Lantas kenapa sebagian perempuan mati-matian mengejar kecantikan wajah yang tak abadi? 

Sebab itu, membersihkan dan merawat hati akan menjadikan seorang perempuan memiliki kepribadian mulia. Ini juga berlaku bagi kaum Adam. Artinya, kecantikan dari dalam itu jauh lebih besar dampaknya dalam kehidupan. Tidak hanya di dunia, tapi kelak di akhirat. Sebab, orang yang memiliki hati bersih, biasanya cenderung memiliki tutur kata dan sikap yang penuh dengan kelembutan dan kasih sayang.

Apa yang nampak pada dhohir seseorang adalah biasanya cerminan batinnya. Maka penting untuk selalu mengasah batin kita agar terkoneksi dengan Allah dan Rasulullah SAW agar akhlak kita menjadi mulia. Silahkan, rawat fisik seoptimal mungkin, tapi jangan sampai ketinggalan batin perlu dirawat juga, bahkan harus lebih diprioritaskan.

Kesimpulan dari uraian di atas adalah kaum perempuan perlu lebih memperhatikan kecantikan hati dengan memperbanyak ibadah. Selain itu, perlu berupaya agar tidak memiliki sifat iri, riya', takabbur, ujub, dan segala penyakit hati lainnya, agar hati semakin bercahaya. Percayalah, kecantikan fisik akan sirna, kelembutan hati akan terkenang selamanya.


Oleh: Aufal Fresky


Desa Klampar, Pamekasan

Senin, 19 Oktober 2021

12.14 WIB



Sumber ilustrasi: pinterest.com


 











 


Melunasi Janji Kemerdekaan


Setelah menikmati 79 tahun kemerdekaan, muncul beberapa pertanyaan dalam benak saya. Di antaranya adalah apa sumbangsih yang sudah kita berikan untuk bangsa dan negeri tercinta? Bagaimana mengungkapkan rasa cinta Tanah Air dengan beragam kegiatan positif dan produktif? Tentu saja pertanyaan-pertanyaan tersebut membayangi akal pikiran saya. Terus-terusan saya mencoba mencari dan berupaya menggali apa yang bisa saya persembahkan untuk Ibu Pertiwi ini. Dan pada akhirnya, saya perlahan menemukan cara sederhana dan langkah kecil yang mungkin bisa saya berikan. Salah satunya yaitu lewat jalur jurnalistik. Ya, saya pribadi ingin turut ambil peran dalam proses pencerdasan bangsa. Menulis menjadi salah satu cara menawarkan gagasan dan ide-ide progresif terkait banyak hal. 

Belenggu penjajahan sudah lama hilang. Jepang dan Belanda sudah tidak lagi menjajah bangsa dan negara ini. Kita tidak lagi berperang dengan bangsa asing secara fisik. Namun, apakah kemerdekaan yang telah kita raih sudah menjadi akhir dari segalanya? Bukankah kemerdekaan yang kita raih adalah hanyalah jembatan emas untuk meraih cita-cita bangsa ini? Setelah dipikir-pikir lagi, memang kita sudah terlepas dari jeratan imperialisme dan kolonialisme. Secara de jure dan de facto bangsa ini merdeka dan berdaulat. Tapi, sekali lagi, pekerjaan rumah yang menanti masih menumpuk. Perjalanan masih panjang. Perjuangan bangsa ini masih belum selesai. Setiap elemen masyarakat, khususnya anak-anak muda sebagai generasi penerus, perlu berkaca pada masa silam bangsa. Tentu saja agar spririt perjuangan tokoh di masa lampau bisa kita warisi. Melalui segenap potensi yang kita miliki, saya yakin masing-masing dari kita bisa berperan. Saya sendiri memilih berjuang melalui pena. Sebab inilah salah satu passion saya. Saya mencintai dunia tulis menulis dengan segenap jiwa. 

Jika dipelajari dari sejarah perjalanan bangsa ini, kemerdekaan yang kita raih bukanlah hadiah atau pemberian secara cuma dari pihak penjajah. Bukan karena belas kasihan mereka. Tapi, ada tetesan keringat dan darah para pahlawan bangsa yang telah gugur mendahului kita. Artinya, kemerdekaan ini tidak secara instan kita dapatkan. Sudah pantas jika generasi saat ini mengisi kemerdekaan ini dengan hal-hal yang berdampak positif bagi kemajuan bangsa dan negara. Hal ini juga sebagai ungkapan rasa syukur ke hadirat Allah, yang telah membebaskan bangs aini dari belenggu penjajahan, Lewat tulisan ini juga, saya ingin mengajak pembaca sekalian untuk merenung dan meninjau kembali apa-apa yang telah terlewati. Belajar dari sejarah akan membuat pemikiran dan kepribadian semakin dewasa dan matang. Semakin mengenal bangsa dan negara ini, rasa cinta itu akan tertanam secara perlahan. 

Kembali lagi, terkait peran kita untuk mengisi kemerdekaan, kita bisa memilih banyak jalur.  Seperti halnya lewat dunia jurnalistik, pendidikan, usaha, budaya, politik, dakwah, dan semacamnya, Intinya, gerak langkah kita sebisa mungkin bisa menjadikan Indonesia semakin maju. Segala tindakan kita, sebisa mungkin dikerahkan untuk mengangkat harkat dan martabat bangsa. Lebih-lebih di dunia internasional. Indonesia harus menjadi mercusuar peradaban dunia. Percayalah, kita adalah bangsa yang besar yang memiliki ragam kebudayaan yang unik, luhur, dan estetik. Terdapat banyak local wisdom yang bisa digali dan diambil untuk diterapkan dalam kehidupan sehari -hari kita. Indonesia menyimpan ribuan bahkan jutaan mutiara terpendam. Semua kembali ke diri kita sendiri. Bagaimana memanfaatkan mutiara-mutiara tersebut agar bisa terasa manfaatnya untuk seluruh rakyat Indonesia. 

Indonesia adalah negeri elok dan mempesona yang sangat disayangkan jika dibiarkan tanpa dirawat dan dikelola dengan baik. Betapa banyak rakyat Indonesia yang masih kesulitan untuk mencari penghidupan di Tanah Air-nya sendiri. Padahal, kekayaan alamnya melimpah. Mulai dari lautnya hingga potensi pertaniannya. Ternyata kita belum sepenuhnya merdeka dari kemiskinan. Belum lagi berbicara pendidikan yang masih belum mampu mencerdaskan kehidupan bangsa. Tidak meratanya akses dan kesempatan untuk mengenyam pendidikan layak masih menjadi persoalan. Kesejahteraan guru juga timpang. Ada yang per bulan hanya mendapatkan ratusan ribu rupiah. Sungguh, tidak cukup memenuhi kebutuhan minimal. Apalagi harga-harga bahan pokok juga melambung. Fasilitas pendidikan di pelosok dan kota juga belum sepenuhnya merata. Hal itu mempengaruhi kualitas sumber daya manusia (SDM) kita yang juga tidak merata. Ternyata, kita belum terbebas dari kebodohan. Kebodohan yang terkadang secara sengaja didesain secara sistemik. Kebodohan yang kadang dipengaruhi oleh para pengambil kebijakan yang tidak berpikir secara matang dan komprehensif. 

Pada akhirnya, saya sendiri, seperti yang telah disampaikan di paragraf pertama tadi, akan mencoba berjuang dengan tulisan. Tentu saja untuk ikut menjadi pelita di tengah mayarakat. Sebab, perjuangan melawan kebodohan dan kemiskinan ini bukan hanya menjadi tanggung jawab dan tugas pemerintah. Kita semua perlu memainkan peran di bidang kita masing-masing. Seorang pengusaha misalnya, bisa berjuang memberantas kemiskinan dengan memberdayakan masyarakat lokal dalam pekerjaannya. Guru/dosen juga bisa berkontribusi membagikan di luar ruang kelas untuk masyarakat yang memerlukan. Terutama sebagai bekal untuk bekerja. Jika semua dari kita peka dan peduli, saya yakin perlahan kebodohan dan kemiskinan ini akan teratasi. Tentu saja dengan dukungan kebijakan dan program yang terencana, terarah, dan berkesinambungan dari pemerintah. Melalui tulisan ini, saya mengajak Anda semua untuk melihat dengan lebih jernih lagi situasi dan kondisi bangsa ini. Persoalan-persoalan apa yang sedang dihadapi. Lalu mulai beraksi dan berkontribusi. Sebab, masalahnya bukan hanya kebodohan dan kemiskinan. Masih banyak. Ada ancaman radikalisme, narkoba, miras, dan judi online dan sebagainya. Mari bersatu padu mengisi kemerdekaan ini dengan hal-hal yang produktif. Indonesia memerlukan aksi nyata kita. Kalau tidak sekarang kapan lagi? Kalau bukan dari diri kita, siapa lagi? Kita harus bersama-sama melunasi janji kemerdekaan.


Oleh: Aufal Fresky

Sabtu, 21 September 2024

Urgensi Regenerasi Pengrajin Batik Klampar

 


Baru-baru saja viral di jagad media sosial (medsos) aksi seorang pria yang mengklaim batik berasal dari Malaysia. Hal itu terjadi saat pria tersebut bertemu Youtuber asal Amerika Serikat, IShowSpeed. Tak butuh waktu lama, kolom komentar channel Youtube yang menayangkan kejadian tersebut dibanjiri komentar warganet Indonesia. Berbondong-bondong netizen menanggapi aksi klaim tersebut. Tentu saja kita tidak terima, menolak dengan keras kekayaan asli Nusantara tiba-tiba dianggap punya negara tetangga. Entah apa tujuan pria tersebut, yang jelas batik adalah milik kita. Merupakan warisan nenek moyang Nusantara yang sudah diakui oleh dunia internasional. Tiba-tiba rasa nasionalisme warganet membara. Bersatu padu menangkal aksi klaim sepihak tersebut. Salut betul dengan solidaritas nasional netizen kita. Hanya saja apakah cukup sampai di sini? Apakah nunggu ada yang mengklaim budaya kita baru kita tersadar dan tergerak untuk melindungi aset budaya kita?

Sekali lagi, dengan tegas saya katakan: Tidak. Semua elemen bangsa, bukan hanya pemerintah, bertanggung jawab untuk ikut serta melestarikan seluruh budaya nasional. Baik yang fisik maupun non-fisik. Khususnya dalam catatan ini yaitu batik. Terkait batik sendiri, saya sudah cukup lama bersentuhan dengan yang namanya batik. Khususnya batik tulis Madura. Sebab, saya lahir, besar, dan tumbuh di Kampung Batik Klampar di Kecamatan Proppo, Pamekasan. Ya, dari kecil saya sudah terbiasa mengamati bagaimana pengrajin batik berkreasi. Mengamati bagaimana pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) batik di Desa Klampar berjualan batik. Jujur saja, desa saya menyimpan kekayaan lokal yang begitu luar biasa. Di dalamnya terdapat puluhan bahkan ratusan pekerja seni yang kemampuannya sebagian diwarisi secara genetik dari generasi ke generasi. Hanya saja, kali ini yang menjadi perhatian saya yaitu terkait masa depan Kampung Batik Klampar dan masa depan pengrajin batik di dalamnya. 

Sebab, jika ditelusuri lebih dalam lagi, ternyata pengrajin batik di Desa Klampar mulai berkurang dari waktu ke waktu. Jumlahnya semakin tergerus. Ini tentu menjadi alarm bagi pemerintah pusat dan daerah untuk lebih memperhatikan jumlah pengrajin di Desa Klampar. Sebab, pengrajin merupakan ujung tombak produksi batik yang ada di Klampar bahkan di Pamekasan pada umumnya. Apalagi selama ini Klampar dikenal luas sebagai kampung batik yang di dalamnya terdapat banyak pengrajin dan pedagang batik. Namun ironinya, tidak ada upaya dari pihak-pihak terkait untuk melakukan regenerasi pembatik yang ada di Klampar. Jika jumlah pembatik ini terus menurun, maka bukan tidak mungkin, cepat atau lembat, Klampar akan mengalami krisis pembatik. Dan hal itu akan sangat berpengaruh terhadap kelestarian batik, khususnya batik khas Klampar. 

Hemat saya, regenerasi pembatik di Klampar bukanlah persoalan sepele. Kita tidak boleh memandang problem ini dengan sebelah mata. Menganggap hal tersebut sebagai sebuah keniscayaan zaman. Sungguh, pikiran dan anggapan semacam itu perlu dibuang jauh-jauh. Sebab, perkara ini menyangkut dengan warisan agung leluhur yang perlu terus dijaga oleh generasi sekarang dan seterusnya. Kita semua tidak mau Kampung Batik Klampar sirna begitu saja. Lenyap tanpa bekas. Kita tidak ingin nama Klampar sebagai kampung batik yang tersohor kelak hanya menjadi cerita-cerita dari lisan ke lisan. Hanya menjadi catatan sejarah yang hilang jejak-jejaknya. Saya percaya betul, masih ada waktu dan kesempatan untuk melakukan perbaikan dan pembenahan di segala sektor yang berkaitan dengan pelestarian batik Klampar. Termasuk bagaimana cara melahirkan kader-kader pembatik yang siap menjadi ujung tombak pelestarian budaya lokal.

Apalagi saat ini sedang marak-maraknya, Pilkada serentak. Khususnya di Pamekasan yang mana kandidatnya juga bersaing ketat untuk menduduki kursi kekuasaan di Bumi Gerbang Salam. Visi, misi, dan program-program yang ditawarkan, saya rasa harus juga menyentuh sektor kebudayaan lokal. Hendak di bawa ke mana Kampung Batik Klampar? Bagaimana upaya yang akan dilakukan untuk menggenjot jumlah pengrajin batik? Kebijakan dan program apa yang akan ditawarkan untuk meningkatkan kesejahteraan pembatik? Memang, cukup carang calon pemimpin daerah yang menyinggung pelestarian budaya lokal. Biasanya yang dijanjikan adalah terkait pembukaan lapangan kerja secara umum, pendidikan murah dan merata, pemberantasan korupsi, dan semacamnya. Terkait batik dan pengrajin batik biasanya menyusul. Itu pun kalau ingat. 

Diperlukan perencanaan yang jelas dan terarah, strategi jitu, dan program yang berkelanjutan untuk melakukan regenerasi pembatik di Klampar. Hal itu sebagai upaya nyata untuk mencegah terjadinya krisis pembatik yang berkepanjangan. Sebab, jika tidak segara ditangani, bukan tidak mungkin nantinya Klampar tidak memiliki nilai jual. Tidak ada yang istimewa di dalamnya sebab kehabisan stok pengrajin. Dibutuhkan sinergi dan kolaborasi antara pemerintah, swasta, komunitas seni, dan pemuda lokal untuk segera mendorong regenerasi pembatik. Baik itu melalui bantuan pelatihan, kemitraan, pendanaan, dan semacamnya. Intinya bagaimana membuat pembatik di Klampar semakin bergairah untuk produksi. Intinya bagaimana Kampung Batik Klampar semakin hidup dan lestari. Sekali lagi, yang namanya regenerasi pembatik tidak bisa ditawar dan ditunda lagi. Karena hal itu menyangkut nasib batik Klampar, Kampung Batik Klampar, dan kelestarian budaya lokal tentunya. Hal itu juga menyangkut kepedulian kita terhadap warisan leluhur bangsa.


Oleh: Aufal Fresky

 

Minggu, 15 September 2024

Menapaki Tangga Kesuksesan

 


Sudah dua hari saya di Jember. Kemaren juga sempat silaturahmi dengan keluarga besar istri di Bondowoso. Rasanya cukup menyenangkan tentunya. Perjalanan dari Malang menuju Jember pada hari Jumat (13/9). Kemudian perjalanan silaturahmi dilanjutkan dengan rute Jember-Bondowoso-Jember pada hari Sabtu (14/9). Saya benar-benar menikmati setiap momennya.

Sebisa mungkin, saya mencoba memetik ragam pelajaran dalam setiap kesempatan. Terutama dari setiap orang-orang yang saya jumpai. Saya percaya betul bahwa ilmu dan pengetahuan tidak hanya bisa diperoleh di ruang-ruang kelas. Di alam bebas pun kita bisa mendapatkannya. Dari setiap obrolan ringan dan diskusi singkat, kita bisa mengambil pelajaran. Di mana pun dan kapan pun tentunya.

Contohnya, tadi saya memperoleh sedikit pelajaran dari Mas Safik terkait bagaimana perencanaan hidup jangka panjang. Termasuk bagaimana mengatur keuangan rumah tangga. Saya pikir-pikir, apa yang disampaikannya sangat relevan dan realistis. Bahwa hidup ini memang perlu direncanakan betul. Hendak ke mana nantinya, apa yang ingin dicapai, dan sebagainya. Sebab, tanpa begitu, kita bisa terombang-ambing keadaan. Berjalan tanpa arah dan tujuan. Bisa-bisa kita menggadaikan idealisme yang selama ini kita pegang erat-erat .

Tidak cukup rencana, hidup juga wajib dibarengi aksi nyata untuk menggapai cita-cita. Mimpi tanpa aksi akan menjadi ilusi. Hanya akan menjadi angan-angan kosong. Berani bermimpi, maka harus berani menanggung segenap konsekuensi dalam meraihnya. Termasuk bersedia bepayah-payahan, berkorban, konsisten, dan pantang menyerah tentunya. Sebagian dari kita kadang mudah putus asa ketika menghadapi cobaan.

Seakan-akan cobaan itu sangat memberatkan kita. Seolah-olah menjadi beban yang sulit dipikul. Padahal, Tuhan memberikan ujian sebenarnya untuk menaikkan level kita. Ujian adalah sarana untuk menempa diri. Sebab itu, mentalitas kita tidak boleh menciut. Tekad kita harus membara. Jangan sampai melempem. Semangat tak boleh kerdil. Mimpi besar harus dibarengi dengan semangat besar.

Jika sudah berupaya mati-matian, apapun hasilnya, kita serahkan kepada Yang Maha Kuasa. Sebab, manusia sejatinya hanya bisa berkehendak. Yang memutuskan adalah Allah SWT. Dan percayalah bahwa setiap yang terjadi dalam hidup kita adalah pasti yang terbaik untuk kita. Prasangka baik atau huznuzan kepada Sang Pencipta harus kita jaga. Jangan sampai berpikir buruk dan negatif. Sehingga hemat saya, jalan menuju impian atau kesuksesan hidup adalah usaha, doa, istikamah, dan tawakal. 

Akhir kata, untuk menutup catatan ini, saya mengajak kepada diri saya sendiri dan pembaca sekalian untuk memiliki spirit yang bergelora dalam mewujudkan mimpi. Spirit tersebut biasanya akan semakin bergelora ketika tujuan yang hendak dicapai sudah jelas. Tidak lagi samar-samar. Satu lagi, jadikan setiap problem sebagai batu loncatan untuk naik level. Mari bersama-sama gapai impian dengan kekuatan mimpi, doa, dan ikhtiar.


Oleh: M. Aufal Fresky 

Jl. Manggar, Kel. Gebang, Kec. Patrang, Kabupaten Jember

Minggu, 15/9/2024

07.34 WIB


Sumber ilustrasi: pixabay.com



Selasa, 10 September 2024

Kampus sebagai Kawah Candradimuka

 

Akhir-akhir ini gegap gempita penerimaan mahasiswa baru di beragam perguruan tinggi mulai terasa. Keriuhan orientasi pengenalan kehidupan kampus juga tersiar di beragam media online. Senyum lebar dan tawa lepas mahasiswa baru menghiasai hari-hari awal mereka memasuki kehidupan baru. Sebuah fase peralihan status siswa menjadi mahasiswa. Pun demikian dengan harapan setiap orangtua terhadap anak-anaknya tersebut agar kelak setelah lulus menjadi manusia orang-orang hebat dan bermartabat tentunya. Apapun bidang yang nantinya akan ditekuni, setiap orang tua mendambakan kesuksesan untuk anak-anaknya. Menimba ilmu di kampus menjadi salah satu cara untuk meningkatkan kualitas diri untuk menyongsong kehidupan yang lebih berarti. Tidak hanya bagaimana caranya berdampak untuk pribadi dan keluarganya. Lebih dari itu membawa banyak manfaat untuk agama, bangsa, dan negaranya. Dalam hal ini, kampus menjadi kawah candradimuka untuk mahasiswa agar giat giat menggali dan mengasah segenap kemampuan dan potensi diri. 

Dulu, zaman saya kuliah di salah satu kampus di Surabaya, saya sering mendengar dari senior-senior kampus saat itu bahwa tipikal mahasiswa ada tiga. Di antaranya yaitu mahasiswa kupu-kupu, mahasiswa kunang-kunang, dan mahasiswa kura-kura. Mahasiswa kupu-kupu yaitu maksudnya mahasiswa yang menghabiskan waktunya hanya fokus mengejar nilai indeks prestasi kumulatif (IPK). Menjadi mahasiswa yang berprestasi secara akademik menjadi satu-satunya tujuan utamanya. Kuliah pulang, kuliah pulang. Ada yang sekadar kuliah saja tapi tak memiliki tujuan. Dia juga termasuk mahasiswa kupu-kupu. Tapi kupu-kupu yang tak produktif. Tak tahu arah. Kemudian, yang kedua, mahasiswa kurang-kura. Yaitu mahasiswa yang selalu sibuk dengan kehidupan organisasi kampus. Kuliah rapat, kuliah rapat. Mahasiswa satu ini tipikal organisatoris. Kadang ada yang mengorbankan kewajibannya masuk kelas demi hadir acara organisasi. Tidak sedikit juga yang tak pandai mengatur waktu fokus belajar dan organisasi, sehingga kuliahnya terbengkalai. Menjadi mahasiswa ‘abadi’ di kampus. Tapi, banyak juga yang mampu menyeimbangkan antara tugas dan tanggung jawabnya sebagai insan akademis dan insan organisatoris. 

Lalu, terakhir yaitu mahasiswa kunang-kunang. Bagaimana tipikal mahasiswa satu ini? Mahasiswa kunang-kunang yaitu hanya menghabiskan waktunya di warung kopi (warkop) atau kafe. Kerjanya hanya bersenang-senang. Bersantai-santai ria. Kuliah sekadarnya. Tak tertarik dan tak ada minat ikut organisasi, Kuliah nangkring, kuliah nangkring. Begitulah kerjaannya. Berpindah-pindah tempat dari kafe satu ke kafe lainnya. Bahkan, ada juga yang memiliki basecamp atau markas di sebuah kafe tertentu yang menjadi tempat ngumpulnya. Tapi, tak selamanya mahasiswa kunang-kunang ini lalai terhadap tugas dan tanggung jawabnya. Ada juga yang mampu mengatur waktu dalam hal belajar. Ada juga yang giat berorganisasi. Artinya, tidak semua mahasiswa kunang-kunang ini hidupnya hanya bersenang-senang. Artinya menjadi mahasiswa kunang-kunang sekaligus kura-kura. Begitulah gambaran singkat terkait tipikal mahasiswa. Kembali pada diri mahasiswa itu sendiri selama kuliah, apa yang sebenarnya hendak dicari? Apa yang hendak dituju? Apa cita-cita besarnya lima tahun, sepuluh tahun, atau dua puluh tahun lagi? Apa visi dan misi hidupnya? Pertanyaan-pertanyaan tersebut mest dimiliki oleh setiap mahasiswa. Khususnya yang baru menapakkan kakinya di kampus. Sebab, banyak sekali mahasiswa yang tidak tahu arah. Bingung mau ke mana. Kuliah hanya sekadar mengikuti saran dan instruksi dari orang tua, kerabat, atau teman terdekat. Sehingga, ketika sudah menjalaninya, tidak menjadikan kampus sebagai kawah candradimuka. Sama sekali tidak tertarik untuk menempat diri menjadi lebih bermutu lagi. 

Padahal, kampus semestinya dijadikan wadah untuk mengasah segenap kemampuan setiap mahasiswa. Percayalah, dalam kehidupan kampus, banyak hal yang bisa diraih. Banyak hal yang bisa dipelajari. Bukan sekadar ilmu dan pengetahuan yang disampaikan dosen dalam ruang kelas. Ilmu di kampus tidak hanya berada di buku-buku teks kuliah. Tidak hanya berada pada materi yang disampaikan pengajar atau pendidik dalam kelas. Lebih dari itu, mahasiswa bisa mencari dan menemukan banyak hal-hal baru terkait pengembangan dirinya. Di luar kelas tentunya, Semisal, mulai terlibat aktif di organisasi intra ataupun ekstra kampus. Atau yang senang nulis, bisa mencoba mendaftarkan diri sebagai anggota lembaga pers mahasiswa (LPM). Yang senang teater, bisa mencoba ikutan unit kegiatan mahasiswa (UKM) di bidang teater. Dan masih banyak lagi tentunya. Tinggal sesuaikan dengan minat dan bakat kita sendiri. Sebab, dalam kehidupan kampus, banyak wadah yang bisa digunakan untuk menemukan dan mengembangkan passion kita. 

Sebagai penulis, saya meyakini betul bahwa setiap mahasiswa sebenarnya bisa menjadi insan akademis sekaligus insan organisatoris. Artinya, bisa aktif sebagai aktivis mahasiswa sekaligus juga sebagai akademisi. Semua kembali kepada diri mahasiswa itu sendiri. Yaitu bagaimana mengatur waktu dengan sebaik-baiknya. Sebab dari kesibukan-kesibukannya tersebut, dia bisa belajar mengelola waktu. Tidak hanya hanya, dalam dunia organisasi, mahasiswa akan ditempa dan dibentuk sedemikian rupa. Sehingga, perlahan, dia bisa meningkatkan kemampuan berkomunikasi, menulis, kepemimpinan, manajerial organisasi, mengatur waktu, menjalin networking, dan lain sebagainya. Kemampuan-kemampuan itu sama sekali tidak dipelajari di ruang kelas. Adanya di ruang kelas. 

Kemampuan-kemampuan semacam itu juga sangat berguna kelak ketika sudah purna dari kehidupan kampus. Sekali lagi, kampus adalah tempat terbaik untuk menempa diri menjadi pribadi yang lebih matang. Baik dari secara intelektual, sosial, emosional, dan spiritual. Kampus menjadi ladang terbaik untuk berlatih menjadi pemimpin. Sebab, sejatinya mahasiswa hari ini adalah calon pemimpin masa depan. Di bawah pundak mereka, masa depan bangsa ini dipertaruhkan. Kelak, mereka akan menjadi pemimpin-pemimpin di tengah masyarakat. Mahasiswa hari ini adalah harapan seluruh masyarakat Indonesia. Maka dari itu, kepada seluruh mahasiswa, khususnya yang baru masuk kampus, sudah saatnya memantapkan tujuan dan milikilah cita-cita besar. Jadikan kampus sebagai sarana untuk membangun mentalitas dan karakter diri. Bangunlah jiwa muda. Gelora muda harus berapi-api. Spirit muda tak boleh padam. Silakan, gali sedalam dalamnya kemampuan diri selama di kampus. Kembangkan seluas-luasnya jaringan pertemanannya. Cari seluas-luasnya ilmu dan pengetahuan. 


Oleh: Muhammad Aufal Fresky

Sumber ilustrasi: istockphoto.com


Jumat, 06 September 2024

Mempersiapkan Bekal Menuju Kampung Akhirat


Alhamdulillah, pagi ini saya menghirup udara segar di Kampung Batik Klampar. Saya pulang, selain karena cukup kangen dengan sanak famili, ada hal yang perlu dikerjakan. Termasuk urusan batik tulis. Ya, hidup memang tak pernah lepas dari yang namanya urusan. Urusan ini, urusan itu. Semua manusia di bumi ini, memiliki urusan masing-masing. Urusan yang hubungannya dengan Tuhan, manusia, hewan, tumbuhan, bahkan jin dan setan sekalipun. Selama nafas masih di kandung badan, sekali lagi, jangan harap lepas dari yang namanya urusan. Kemudian timbul pertanyaan dalam benak saya: Di antara semua urusan, mana yang harus diprioritaskan?

Dengan tegas saya jawab bahwa urusan dengan Tuhan lah yang harus dinomorsatukan. Bahkan tujuan kita diciptakan ke alam dunia sebenarnya adalah untuk menghamba kepada-Nya secara totalitas. Mengabdi sepenuh jiwa dan raga. Sebab, Dialah yang menciptakan kita. Dialah yang telah menganugerahkan akal, hati, dan segenap perangkat fisik tanpa kita memintanya. Tuhan telah melengkapi-Nya sejak kita berada di kandungan. Tanpa kita memesannya terlebih dahulu. Tanpa harus membayarnya. Lagian juga tak bisa dinilai dengan uang apa yang telah Allah berikan.

Dia Maha Tahu apa yang kita butuhkan. Ilmunya sangat luas dan tak terbatas. Kasih sayang-Nya sungguh teramat nyata. Hanya saja, sering berjalannya waktu, sebagian dari Kita seolah melupakan. Dan tak sedikit pula yang dengan mudahnya melabrak aturan-aturan dan panduan hidup yang telah ditetapkan-Nya melalui utusan-Nya: Nabi Muhammad SAW. Gemerlap dunia, bisa membutakan mata hati kita. Kecintaan kepada dunia bisa menjadi penghalang hubungan kita dengan Sang Pencipta.

Tipu daya dunia menyihir sebagian dari manusia. Seakan-akan kekal hidupnya. Seolah-olah tidak terbatas waktu. Padahal, malaikat maut selalu mengintai kita. Padahal, setiap dari kita hanya menunggu giliran untuk mati. Maka menjadi bijak, manusia-manusia yang menjadikan kematian sebagai pengingat dirinya. Manusia-manusia semacam itu biasanya cerdas dalam menjalani hidup. Tidak terlalu tergiur glamor dunia. Sebab, dalam pikiran dan hatinya, dunia ini sementara, akhirat selamanya. Dia sadar betul dunia ini hanyalah persinggahan. Ibarat seorang musafir yang mampir di sebuah kampung untuk kembali melanjutkan perjalanan panjangnya.

Seperti yang sudah ditegaskan dalam Al-Qur'an Surah al-Hadid ayat 20:

 وَّتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى الْاَمْوَالِ وَالْاَوْلَادِۗ كَمَثَلِ غَيْثٍ اَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهٗ ثُمَّ يَهِيْجُ فَتَرٰىهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُوْنُ حُطَامًاۗ وَفِى الْاٰخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيْدٌۙ وَّمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللّٰهِ وَرِضْوَانٌۗ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ 

Artinya: "Ketahuilah bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan, kelengahan, perhiasan, dan saling bermegah-megahan di antara kamu serta berlomba-lomba dalam banyaknya harta dan anak keturunan. (Perumpamaannya adalah) seperti hujan yang tanamannya mengagumkan para petani, lalu mengering dan kamu lihat menguning, kemudian hancur. Di akhirat ada azab yang keras serta ampunan dari Allah dan keridaan-Nya. Kehidupan dunia (bagi orang-orang yang lengah) hanyalah kesenangan yang memperdaya."

Selanjutnya, ada hadis Nabi yang diriwayatkan dari Ibnu Umar radiallahu ‘anhu berbunyi:

اعْمَلْ لِدُنْيَاكَ كَأنَّك تَعِيشُ أبَدًا، وَاعْمَلْ لِآخِرَتِكَ كَأَنَّكَ تَمُوْتُ غَدًا

Artinya: “Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau akan hidup selamanya. Dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok pagi.”

Menurut Muhammad Mutawalli asy-Sy’rawi, pemaknaan hadis di atas yaitu agar kita bekerja mendapatkan hal-hal yang sifatnya duniawi itu cukup seperlunya saja. Hal ini karena kita diimbau untuk berpikir bahwa kita akan hidup di dunia selamanya. Sehingga masih ada hari esok untuk melakukannya. Beda halnya dengan urusan akhirat, harus disegerakan. Sebab, esok kematian menjemput.

Akhirnya, catatan ini juga menjadi pengingat untuk kita, terutama untuk penulis pribadi. Bahwa dunia adalah ladang menabur kebaikan. Dunia adalah kampung sementara. Sebab, yang abadi adalah kampung akhirat. Maka dari itu, sudah saatnya kita kembali bersiap-siap dan berkemas-kemas untuk melanjutkan perjalanan panjang ini. Sehingga menjadi wajib kiranya untuk selalu memprioritaskan Allah dan Rasulnya dalam segenap aktivitas kita. Mencintai Allah dan Rasulnya lebih daripada kecintaan kita pada semua hal yang kita miliki, termasuk keluarga dan bahkan diri kita sendiri. Percayalah, itu jalan menuju kemuliaan hidup.


Oleh: Muhammad Aufal Fresky 


PP. Al-Ikhlas, Desa Klampar, Kec. Proppo, Pamekasan

Jumat, 6/9/2024

07.24 WIB


Sumber gambar: bumiqu.org



 

Featured Post

Pelestarian Batik Madura Butuh Regulasi Terarah

  Sejak beberapa tahun terakhir, saya  bergelut di bidang usaha batik tulis Madura. Selain karena dukungan keluarga, faktor lingkungan juga ...