Sejak beberapa tahun terakhir, saya bergelut di bidang usaha batik tulis Madura. Selain karena dukungan keluarga, faktor lingkungan juga cukup mempengaruhi cara berpikir saya tentang batik Madura. Kebetulan saya dibesarkan di Desa Klampar, salah satu kampung batik terbesar di Madura, bahkan di Indonesia. Hal itulah yang membuat saya semakin terdorong untuk turut melestarikan batik Madura sebagai salah satu kekayaan lokal.
Tidak hanya itu, saya juga sering menerima tamu dan kunjungan dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan ada yang dari luar negeri. Hampir semua mengakui bahwa batik Madura unik, estetik, dan istimewa. Batik Madura dinilai memiliki ciri khas yang menonjol. Baik dari segi motif maupun warnanya. Belum lagi filosofi yang terkandung di dalamnya. Tentu saja hal tersebut membuat nilai batik Madura semakin meningkat.
Keberadaan batik Madura hingga saat ini tidak lepas dari peran pengrajin. Bagi saya, pengrajin adalah ujung tombak pelestarian batik Madura. Sebab, merekalah yang berkreasi menghasilkan batik. Tanpa, adanya pengrajin, pengusaha tidak memiliki batik yang bisa dijual. Tanpa pengrajin, keberadaan batik bisa saja tergilas roda zaman yang berkembang pesat. Beruntung, hingga saat ini Desa Klampar masih memiliki pengrajin batik yang konsisten menghasilkan batik Madura. Meskipun jumlah pengrajin tiap periodenya fluktuatif. Menyesuaikan dengan situasi dan kondisi.
Umumnya, pengrajin batik akan membatik jika ada permintaan dari pengusaha. Dan itu juga sangat berkaitan dengan kondisi pasar. Sejauh mana industri batik berkembang di tengah masyarakat. Terkait hal itu, untuk menyokong eksistensi keberadaan pengusaha dan pengrajin batik Madura, pemerintah setempat perlu memberikan dukungan melalui regulasi yang sistematis dan terarah. Sepertinya pemerintahan di empat kabupaten (Sumenep, Pamekasan, Sampang, Bangkalan) perlu duduk satu meja untuk menetapkan suatu formula khusus dalam rangka menjaga kelestarian batik Madura.
Termasuk mencari cara bagaimana agar ada regenerasi pengrajin batik di setiap kabupaten. Karena, situasinya sekarang sudah berubah. Sebagian milenial kita memandang pekerjaan sebagai pengrajin batik tidak cukup menjanjikan masa depan yang cerah. Ini mindset yang perlu diubah. Pemkab perlu meluncurkan program-program inovatif untuk membuat sebagian pemuda tertarik berkecimpung di dunia batik. Tentu saja bukan sekadar untuk bekerja. Lebih dari itu dalam rangka melestarikan budaya lokal.
Keberpihakan pemkab tentu saja bukan sekadar retorika. Namun harus segera dibuktikan. Pengrajin dan pelaku UMKM batik tidak butuh banyak janji manis. Yang dibutuhkan adalah regulasi atau kebijakan nyata. Sebab tak jarang sebagian pejabat kita hanya jago melontarkan kata-kata. Apalagi jika menyangkut kepentingan diri dan golongannya. Sementara, pengrajin dan pelaku UMKM batik hanya diberikan harapan kosong.
Sekali lagi, salah satu kunci untuk melestarikan batik Madura adalah aksi konkret pejabat terkait. Dalam hal ini Diskop UMKM dan Disperindag. Jangan hanya berkoar-koar di medsos: "Lestarikan budaya lokal, beli produk lokal". Tidak cukup itu. Yang diperlukan adalah keberpihakan nyata yang dampaknya bisa dirasakan. Aturan yang sistemik dan konstruktif benar-benar kita butuhkan. Bukan hanya aturan ala kadarnya. Apalagi yang bernuansa politis.
Rabu, 11/1/2023
08.37 WIB
Kampung Batik Klampar, Kecamatan Proppo, Pamekasan
Oleh: Muhammad Aufal Fresky
