Kamis, 14 Mei 2026

Renungan Malam di Vila de'Rumah Rindu Alam

Suasananya asri nan meneduhkan. Gemercik suara kolam renang dan kolam ikan menjadi irama alami yang menentramkan pikiran. Pohon-pohon rindang dan semilir angin juga menambah nuansa kesejukan. Benar-benar syahdu. Begitulah kesan awal saya saat pertama kali sampai di vila "de'Rumah Rindu Alam" ini. 

Kondisinya sangat mendukung untuk mengarang sebuah tulisan. Ide-ide segar tiba-tiba datang bermunculan satu per satu. Saya pun tidak ingin kehilangan momentum. Sehingga, wajib kiranya untuk segera dieksekusi menjadi sebuah karya utuh. Dan kali ini, saya memutuskan untuk sedikit membahas perihal pentingnya menjaga kewarasan berpikir dan menegakkan nilai-nilai kemanusiaan di tengah hiruk-pikuk zaman.

Dunia saat ini, seakan menuntut manusia menjadi cepat, tangkas, dan up to date. Seolah memberikan jeda untuk sekadar merenung dan refleksi adalah sebuah hal yang tak wajar. Memang, hal-hal baru bermunculan setiap harinya. Yang viral yang menyita perhatian. Kemunafikan dibungkus dengan dalil agama. Ketidakadilan dikaburkan dengan memanipulasi regulasi. Kebenaran disamarkan lewat otoritas mutlak antikritik. Perjuangan menegakkan kebenaran dibungkam sebab dinilai mengusik stabilitas kekuasaan. 

Otak menjadi tumpul karena nalar dimatikan pelan-pelan. Daya kritis dilemahkan karena dianggap melabrak aturan. Suara jeritan rakyat bawah tak didengar. Yang di atas sana justru sibuk bagi-bagi kekuasaan, proyek, tender, dan semacamnya. Ada yang malu-malu kucing mengakui perbuatan culasnya itu. Ada yang bermuka tembok alias telah tercabut rasa malunya. Rakyat, dijadikan sebatas sapi perah yang dihisap terus. Yang meminum hasilnya adalah mereka yang selalu haus akan materi dan jabatan.

Sepertinya kita perlu sejenak jeda untuk membaca realitas sosial hari ini. Bahwa dunia kadang terbolak-balik; tak seperti yang kita inginkan, tak sesuai dengan apa yang diharapkan. Seperti halnya banyak ahli hukum yang justru mempermainkan hukum, ahli agama justru menginjak-injak agama, ahli ekonomi sibuk merekayasa statistik pertumbuhan ekonomi, ahli kedokteran hilang kemanusiaannya, dan semacamnya. 

Menghadapi dunia yang semakin renta dan tua ini, menggunakan logika saja tidak cukup. Harus melibatkan rasa. Hati nurani perlu terus dihidupkan agar kemanusiaan kita tidak tergerus arus zaman. Sebab, manusia akan semakin bermartabat manakala mampu memanusiakan manusia lainnya. Artinya mampu menghargai dan menghormati manusia lainnya apa pun latar belakangnya. Dalam hal ini, yang dibutuhkan bukan hanya kecerdasan intelektual. Namun juga kecerdasan emosional dan bahkan spritual. Bahwa semua manusia di dunia ini adalah ciptaan Allah. Dan menjadi kewajiban kita untuk tidak berbuat buruk kepada manusia lainnya, entah dengan tutur kata atau tindakan kita. 

Gemerlap zaman menuntut kita untuk menjadi pribadi yang setia memegang nilai-nilai luhur. Seperti halnya nilai kebajikan, kejujuran, keadilan, kebenaran, dan semacamnya. Menuntut kita untuk menjadi pribadi yang memiliki prinsip seperti batu karang yang tetap kokoh berdiri tegak di tengah terjangan gelombang ombak dan bahkan badai sekalipun. Tidak mudah terombang-ambing lingkungan dan keadaan. Tetap menjadikan Al-Quran dan Hadist sebagai pedoman dan panduan utama. 

Jadi, di era sekarang, memang semestinya kita perlu belajar untuk tidak menjadi follower, gampang terbawa arus, mudah ganti haluan. Belajar untuk tidak cepat kebakaran jenggot ketika ada yang memprovokasi. Belajar untuk tidak mudah menghakimi orang lain. Belajar untuk melihat segala persoalan dari banyak sudut pandang agar lebih jernih dalam membaca dan mencernanya.

Sekali lagi, kewarasan berpikir perlu dijaga dan terus dirawat agar kita tidak mudah mengambil kesimpulan secara serampangan. Otak dan hati perlu dipadukan untuk menimbang-nimbang segala sesuatunya. Pun demikian dengan nafsu yang perlu dikendalikan agar tidak liar. Sebab, kita tidak mau istilah "homo homini lupus" (manusia adalah serigala bagi sesama manusia) semakin teraktualisasi dalam keseharian kita.

Sekian dulu renungan malam ini. Semoga bermanfaat. Salam satu pena. 


de'Rumah Rindu Alam, Jl. Mojowarno, Mojorejo, Kec. Junrejo, Kota Batu.


Rabu, 13 Mei 2026

23.10 WIB.

 


Sumber gambar: https://derumahrindualam.com/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Featured Post

Pelestarian Batik Madura Butuh Regulasi Terarah

  Sejak beberapa tahun terakhir, saya  bergelut di bidang usaha batik tulis Madura. Selain karena dukungan keluarga, faktor lingkungan juga ...