Rabu, 11 Maret 2015

Semua Berawal dari HMI




   Masih terbayang dengan nyata di ingatan ketika bus rombongan peserta LK 1 beberapa tahun silam membawa saya ke Lawang. Dalam perjalanan, ditemani dengan candaan kawan-kawan kala itu. Sesampainya di lawang  pikiran saya selalu bertanya-tanya tentang kegiatan LK 1 tersebut. Itu adalah suatu kewajaran mengingat saya awam mengenai HmI. Singkat cerita selama LK 1 tersebut secara perlahan namun pasti saya mulai mengenal HmI, dan dari perkenalan itulah mulai tumbuh benih-benih kecintaan terhadap organisasi ini. Sebelumnya saya hanya mengenal segelintir organisasi di kampus, itupun dalam skala kecil. Selama LK 1 di Lawang tersebut banyak yang disampaikan oleh pemateri, salah satu di antaranya terkait Sejarah HmI dan tentang NDP . Materi tersebut sungguh benar-benar membuka cakrawala berfikir saya. Kala itu kegandrungan saya terhadap dunia pemikiran mulai terbangun. Konsep ketuhanan yang diajarkan pada LK 1 membawa saya pada perdebatan dengan salah satu pemateri bahkan masih ingat salah satu perkataan saya waktu itu yaitu intinya “Jika kami semua (peserta) jadi murtad/ kafir apakah mas akan bertanggung jawab”. Lalu pemateri menjelaskan dengan rinci mengenai konsep ketuhanan dan saya mulai lega terkait penjelasannya tersebut. Pertanyaan dan perdebatan menjadi hal menarik kala itu, sebab hal tersebut jarang saya temukan di ruang-ruang kelas di kampus. Salah satu inti yang saya tangkap pada waktu itu adalah bahwa Tuhan adalah sesuatu yang Transenden sifatnya, sementara manusia adalah bersifat imanen. Transenden artinya tidak terikat ruang dan waktu, sedangkan imanen mempunyai arti suatu hal yang terikat oleh ruang dan waktu. Dari situ bisa ditarik kesimpulan bahwa manusia adalah makhluk yang serba terbatas dan Tuhan adalah sang pencipta yang mempunyai sifat berbeda dengan ciptaannya. Sungguh pergulatan intelektual yang menguras fikiran agar berfikir secara jernih dan serasional mungkin, dan saya menikmati itu semua. Sempat di singgung oleh pemateri NDP terkait Syeh Siti Jenar, dan saya tertarik dengan ceritanya karena tokoh sufi tersebut menganut paham wahdatul wujud, namun saya sendiri masih belum memahami sepenuhnya apa itu wahdatul wujud. Setelah materi tersebut berakhir, pemateri menyarakan sebah buku untuk dibaca yaitu buku karya Karen Armstrong yang berjudul  “Sejarah Tuhan”.
Sebelumnya telah diceritakan oleh pemateri yang berbeda terkait sejarah HmI. Intinya HmI didirikan untuk dua tujuan utama yaitu menegakkan nila-nilai KeIslaman dan mempertahankan kemerdekaan Negara  Republik Indonesia. Perlu diketahui bahwa tidak semua materi di LK 1 akan saya ceritakan, karena masih banyak hal yang akan saya sampaikan pada tulisan ini. Singkat kata pada hari terakhir LK 1 kami dilantik sekaligus diresmikan menjadi anggota HmI. Salah satu hal lain yang masih terngiang yaitu ketika awal pembukaan dan hari terakhir, lagu Indonesia raya selalu dinyanyikan, dan itulah yang membuat saya merinding mendengarkannya mengingat jarang bagi mahasiswa menyanyikan dan mendengarkan lagu Indonesia raya di kampus-kampus kecuali acara HUT kemerdekaan RI. Setelah itu kami pulang dan istrahat di rumah dan kos masing-masing.
Hari demi hari telah berlalu, status keanggotaan HmI telah saya genggam, lantas apa selanjutnya yang harus saya lakukan di HmI, itu adalah pertanyaan yang harus dijawab. Saya mulai meleburkan diri di kegiatan komisariat, berbagai acara dan kajian saya ikuti. Hal tersebut untuk mengobati rasa penasaran terhadap organisasi ini. Setelah beberapa kajian saya ikuti, mulai muncul hasrat dan gairah untuk berdiskusi dan berdialektika. Tanpa saya sadari hasrat itu mulai tumbuh dan berkembang semenjak keikutsertaan dalam berbagai kajian di HmI. Tanpa disadari pula kemampuan retorika dan berbicara saya mulai terasah, bahkan ketika di kelas secara spontan kemampuan tersebut muncul, sungguh ini kekuatan magis yang  saya rasakan. Padahal sebelumnya tak pernah berfikir untuk menjadi mahasiswa aktif di kelas, namun HmI merubah dan menyihir saya menjadi mahasiswa aktif. Di HmI waktu saya menjadi anggota KPP yang diketuai oleh mas Adi. Di sinilah saya mulai didorong untuk menulis waktu itu saya menjadi penulis buletin HmI. Seingat saya buletin pertama yang saya tulis berjudul “Pers dan Kontrol Sosial”. Saya merasa lega menelurkan ide waktu itu, meski masih dalam bentuk buletin, berbagai artikel mulai saya tulis. Seperi halnya yang berjudul “Mahasiswa Bibliophilia dan Peradaban Emas”, lalu artikel tentang Ketuhanan yang berjudul “Haqqul Yaqin Tuhan Itu Ada” sempat saya tulis juga. Setelah Mas Adi demisionee. Lalu digantikan oleh Mas Faid sebagai kepala bidang KPP. Di zaman itu pula saya sempat menulis  buletin dengan judul “Hikmah di Balik Potret Sejarah Nusantara”. Sepertinya jalan saya di HmI menjadi penulis buletin mulai terasah .
Tahun telah berganti, saya pun semakin menyibukkan diri dengan berbagai aktivitas di dalam dan di luar kampus. Semenjak pergantian Ketua Umum dari Mas Aim ke Bang syahrul, semua serasa  berbeda. Inilah yang saya rasakan. Saya memang tidak mengamati keadaan organisasi secara keseluruhan, namun saya merasakan bahwa ada masalah internal organisasi. Saya menganggap hal itu suatu kewajaran untuk menjadikan HmI lebih berdinamika. Namun yang menjadi pertanyaan ketika para presidium waktu itu tidak menjalankan tugasnya dengan baik, lantas siapa lagi yang saya harapkan.
Waktu itu saya ditunjuk menjadi KOC LK 1 dan ada beberapa kekecewaan yang saya alami, salah satunya tugas SC pada waktu itu diambil alih oleh KOC, bukan karena KOC-nya cari muka, melainkan para SC sibuk dengan cangkruannya , seakan-akan acara LK 1 hanya melibatkan OC saja.  Tapi tak apa,  tak ada benci diantara kita. Pada waktu itu LK 1 berlokasi di Batu. Suasananya dingin dan membuat para panitia yang saya pimpin terhanyut dalam buaian mimpi-mimpinya padahal acara sudah mulai. Hari demi hari telah dilalui di Batu, acara LK 1 pun berjalan dengan khidmat dan lancar. Salah satu hal yang tak bisa saya lupakan adalah ketika menjelang pulang dan rombongan sudah berada di bus semua ada kejadian lucu. Kejadiaannya yaitu ketika bus mulai melaju meninggalkan Villa Batu, ada kader HmI yang ketinggalan di Vila, sebut saja dengan nama samaran Valian. Ketika bus telah pergi, tiba-tiba dia menghubungi salah satu penumpang bus dan sontak seisi bus tertawa semua. Bagaimana tidak, sebelum pulang semua telah kita cek dan tidak ada orang. Setelah diusut ternyata ketika bus siap-siap berangkat, saudara Valian sedang berada di toilet. Begitulah sekilas cerita LK 1 di Batu.
Waktu terus bergulir dan tanpa terasa sudah satu periode rezim Syahrul memimpin komisariat, dan ketua umum selanjutnya yang terpilih adalah Alan Fatih (Mantan ketua BLM FEB). Waktu itu saya mulai memfokuskan diri ke kegiatan akademik, namun apalah daya ketika Denizar (selaku mid formatur) menelfon dan meminta saya menjadi Kabid P3A, lantas saya segera menjawabnya apakah tidak ada yang lebih baik daripada saya. Waktu itu Denizar ternyata telah menghubungi Andiga, namun Andiga menolak dengan alasan akan fokus terhadap penelitian, entahlah yang jelas waktu itu saya bingung dan meminta waktu untuk memutuskan apakah saya terima atau tidak amanah tersebut. Setelah melalui pertimbangan, saya menerima amanah tersebut. Ketika kami dilantik, resmilah saya menjadi Kabid P3A HmI Komisariat EkonomI Airlangga.
Semenjak jadi Kabid P3A saya mulai bergelut dengan dinamika organisasi. Sungguh pengalaman yang berharga. Salah satu tugas saya adalah mengadakan kajian diskusi di komisariat. Pernah suatu ketika yang datang kajian hanya sekitar empat orang, namun diskusi terus berlanjut. Hari demi hari telah saya lalui. Saya mulai mengakrabkan diri dengan yang namanya komisariat dan Rapat. Setelah beberapa pekan menjadi Kabid P3A, ternyata tugas tulis menulis tetap tertuju dan terarah kepada saya. Entahlah, yang jelas saya harus melaksanakan perintah ketua umum, karena secara pribadi saya kurang suka yang namanya konflik. Salah satu tulisan saya ketika menjadi kabid yaitu berjudul  “Ekonomi Islam Jalan Menuju Tuhan”, setelah itu saya mulai fokus mengadakan kajian dan diskusi. P3A juga pernah mengadakan bedah buku, kajian, diskusi, kajian film, pelatihan penulisan, tutorial, LK 1, KPP (Kegiatan Pasca Pelatihan) dan semacamnya. Saya menikmati itu semua, dan tidak menganggap sebuah beban, melainkan sebuah wadah untuk berproses.
Sebelumnya saya mengucapkan terimakasih kepada para alumni baik yang di dalam maupun luar kampus yang selama ini memberikan dukungan moril dan materil bagi keberlangsungan organisasi ini, bahkan ada selentingan guyonan diantara kawan-kawan yang mengatakan bahwa “HmI tetap eksis karena dana alumni”, sepertinya guyonan tersebut tidak sepenuhnya salah.  
Tak lupa juga kepada senior yang selama ini menjadi guru dan teman diskusi . Saya sampaikan dengan tulus, terimakasih telah membimbing saya selama ini. Jiwa kepemimpinan, intelektualitas, dan kematangan emosi yang saya miliki, itu semua saya pelajari dari senior juga. Kepada teman-teman  Presidium HmI komisariat ekonomi Airlangga, tetaplah menjadikan visi HmI sebagai pusaka yang terus bersemayam di dalam jiwa walaupun kita tak lagi menjadi pengurus komisariat.
Selanjutnya buat adek-adek komisariat, tetaplah berproses dengan baik. Jangan pernah mengeluh, karena intan permata yang bernilai, awalnya adalah sebongkah batu yang telah melalui proses yang panjang.  Sebelum mengakhiri tulisan ini saya kutip kata-kata Lao tzu, filsuf Tiongkok, “Perjalanan ribuan mil dimulai dari satu langkah kecil”. Intinya perjalanan kita masih panjang kawan/ adek, ambillah langkah itu dengan aktif di HmI.
 Besok sabtu saya akan demisioner menjadi Kabid P3A HmI Komisariat Ekonomi Airlangga dan saya mohon maaf kepada kawan-kawan jika selama ada kata atau tindakan yang dirasa menyinggung kawan-kawan, dan maafkanlah jikalau kinerja saya kurang maksimal selama mengemban amanah ini. Hanya itu yang bisa saya sampaikan.
     Semua berawal dari HmI. Terlalu singkat rasanya saya jalani semua ini. Untuk mengakhiri tulisan ini,  hanya satu ucapan tulus  saya, “terima kasih HmI, terima kasih atas segala yang kau berikan".

Surabaya, 9 Januari 2015
Pukul 01.15 WIB

Penulis: Muhammad Aufal Fresky (Kabid P3A HmI Komisariat Ekonomi Airlangga)









Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Featured Post

Pelestarian Batik Madura Butuh Regulasi Terarah

  Sejak beberapa tahun terakhir, saya  bergelut di bidang usaha batik tulis Madura. Selain karena dukungan keluarga, faktor lingkungan juga ...