Masih terbayang dengan nyata di ingatan ketika bus rombongan peserta LK 1 beberapa tahun silam membawa saya ke Lawang. Dalam perjalanan, ditemani
dengan candaan kawan-kawan kala itu. Sesampainya di lawang pikiran saya selalu bertanya-tanya tentang
kegiatan LK 1 tersebut. Itu adalah suatu kewajaran mengingat saya awam mengenai
HmI. Singkat cerita selama LK 1 tersebut secara perlahan namun pasti saya
mulai mengenal HmI, dan dari perkenalan itulah mulai tumbuh benih-benih
kecintaan terhadap organisasi ini. Sebelumnya saya hanya mengenal segelintir
organisasi di kampus, itupun dalam skala kecil. Selama LK 1 di Lawang tersebut
banyak yang disampaikan oleh pemateri, salah satu di antaranya terkait Sejarah
HmI dan tentang NDP . Materi tersebut sungguh benar-benar membuka cakrawala
berfikir saya. Kala itu kegandrungan saya terhadap dunia pemikiran mulai
terbangun. Konsep ketuhanan yang diajarkan pada LK 1 membawa saya pada
perdebatan dengan salah satu pemateri bahkan masih ingat salah satu perkataan
saya waktu itu yaitu intinya “Jika kami semua (peserta) jadi murtad/ kafir
apakah mas akan bertanggung jawab”. Lalu pemateri menjelaskan dengan rinci
mengenai konsep ketuhanan dan saya mulai lega terkait penjelasannya tersebut.
Pertanyaan dan perdebatan menjadi hal menarik kala itu, sebab hal tersebut
jarang saya temukan di ruang-ruang kelas di kampus. Salah satu inti yang saya
tangkap pada waktu itu adalah bahwa Tuhan adalah sesuatu yang Transenden
sifatnya, sementara manusia adalah bersifat imanen. Transenden artinya tidak
terikat ruang dan waktu, sedangkan imanen mempunyai arti suatu hal yang terikat
oleh ruang dan waktu. Dari situ bisa ditarik kesimpulan bahwa manusia adalah
makhluk yang serba terbatas dan Tuhan adalah sang pencipta yang mempunyai sifat
berbeda dengan ciptaannya. Sungguh pergulatan intelektual yang menguras fikiran
agar berfikir secara jernih dan serasional mungkin, dan saya menikmati itu
semua. Sempat di singgung oleh pemateri NDP terkait Syeh Siti Jenar, dan saya
tertarik dengan ceritanya karena tokoh sufi tersebut menganut paham wahdatul
wujud, namun saya sendiri masih belum memahami sepenuhnya apa itu wahdatul
wujud. Setelah materi tersebut berakhir, pemateri menyarakan sebah buku untuk
dibaca yaitu buku karya Karen Armstrong yang berjudul “Sejarah Tuhan”.
Sebelumnya telah
diceritakan oleh pemateri yang berbeda terkait sejarah HmI. Intinya HmI
didirikan untuk dua tujuan utama yaitu menegakkan nila-nilai KeIslaman dan
mempertahankan kemerdekaan Negara Republik Indonesia. Perlu diketahui bahwa tidak semua materi di LK 1 akan saya ceritakan, karena
masih banyak hal yang akan saya sampaikan pada tulisan ini. Singkat kata pada
hari terakhir LK 1 kami dilantik sekaligus diresmikan menjadi anggota HmI.
Salah satu hal lain yang masih terngiang yaitu ketika awal pembukaan dan hari
terakhir, lagu Indonesia raya selalu dinyanyikan, dan itulah yang membuat saya
merinding mendengarkannya mengingat jarang bagi mahasiswa menyanyikan dan
mendengarkan lagu Indonesia raya di kampus-kampus kecuali acara HUT kemerdekaan
RI. Setelah itu kami pulang dan istrahat di rumah dan kos masing-masing.
Hari demi hari telah
berlalu, status keanggotaan HmI telah saya genggam, lantas apa selanjutnya yang
harus saya lakukan di HmI, itu adalah pertanyaan yang harus dijawab. Saya mulai
meleburkan diri di kegiatan komisariat, berbagai acara dan kajian saya ikuti.
Hal tersebut untuk mengobati rasa penasaran terhadap organisasi ini. Setelah
beberapa kajian saya ikuti, mulai muncul hasrat dan gairah untuk berdiskusi dan
berdialektika. Tanpa saya sadari hasrat itu mulai tumbuh dan berkembang
semenjak keikutsertaan dalam berbagai kajian di HmI. Tanpa disadari pula
kemampuan retorika dan berbicara saya mulai terasah, bahkan ketika di kelas
secara spontan kemampuan tersebut muncul, sungguh ini kekuatan magis yang saya rasakan. Padahal sebelumnya tak pernah
berfikir untuk menjadi mahasiswa aktif di kelas, namun HmI merubah dan menyihir
saya menjadi mahasiswa aktif. Di HmI waktu saya menjadi anggota KPP yang
diketuai oleh mas Adi. Di sinilah saya mulai didorong untuk menulis waktu itu
saya menjadi penulis buletin HmI. Seingat saya buletin pertama yang saya tulis
berjudul “Pers dan Kontrol Sosial”.
Saya merasa lega menelurkan ide waktu itu, meski masih dalam bentuk buletin,
berbagai artikel mulai saya tulis. Seperi halnya yang berjudul “Mahasiswa Bibliophilia dan Peradaban Emas”, lalu artikel tentang
Ketuhanan yang berjudul “Haqqul Yaqin
Tuhan Itu Ada” sempat saya tulis juga. Setelah Mas Adi demisionee. Lalu digantikan oleh Mas Faid sebagai kepala bidang KPP. Di zaman itu pula saya sempat
menulis buletin dengan judul “Hikmah di Balik Potret Sejarah Nusantara”.
Sepertinya jalan saya di HmI menjadi penulis buletin mulai terasah .
Tahun telah berganti,
saya pun semakin menyibukkan diri dengan berbagai aktivitas di dalam dan di
luar kampus. Semenjak pergantian Ketua Umum dari Mas Aim ke Bang syahrul, semua
serasa berbeda. Inilah yang saya rasakan.
Saya memang tidak mengamati keadaan organisasi secara keseluruhan, namun saya
merasakan bahwa ada masalah internal organisasi. Saya menganggap hal itu suatu
kewajaran untuk menjadikan HmI lebih berdinamika. Namun yang menjadi pertanyaan
ketika para presidium waktu itu tidak menjalankan tugasnya dengan baik, lantas
siapa lagi yang saya harapkan.
Waktu itu saya ditunjuk
menjadi KOC LK 1 dan ada beberapa kekecewaan yang saya alami, salah satunya
tugas SC pada waktu itu diambil alih oleh KOC, bukan karena KOC-nya cari muka, melainkan
para SC sibuk dengan cangkruannya , seakan-akan acara LK 1 hanya melibatkan OC
saja. Tapi tak apa, tak ada benci diantara kita. Pada waktu itu
LK 1 berlokasi di Batu. Suasananya dingin dan membuat para panitia yang saya
pimpin terhanyut dalam buaian mimpi-mimpinya padahal acara sudah mulai. Hari
demi hari telah dilalui di Batu, acara LK 1 pun berjalan dengan khidmat dan
lancar. Salah satu hal yang tak bisa saya lupakan adalah ketika menjelang
pulang dan rombongan sudah berada di bus semua ada kejadian lucu. Kejadiaannya
yaitu ketika bus mulai melaju meninggalkan Villa Batu, ada kader HmI yang
ketinggalan di Vila, sebut saja dengan nama samaran Valian. Ketika bus telah
pergi, tiba-tiba dia menghubungi salah satu penumpang bus dan sontak seisi bus
tertawa semua. Bagaimana tidak, sebelum pulang semua telah kita cek dan tidak
ada orang. Setelah diusut ternyata ketika bus siap-siap berangkat, saudara Valian sedang berada di toilet. Begitulah sekilas cerita LK 1 di Batu.
Waktu terus bergulir dan
tanpa terasa sudah satu periode rezim Syahrul memimpin komisariat, dan ketua
umum selanjutnya yang terpilih adalah Alan Fatih (Mantan ketua BLM FEB). Waktu
itu saya mulai memfokuskan diri ke kegiatan akademik, namun apalah daya ketika
Denizar (selaku mid formatur) menelfon dan meminta saya menjadi Kabid P3A, lantas saya segera menjawabnya apakah tidak ada yang lebih baik daripada saya.
Waktu itu Denizar ternyata telah menghubungi Andiga, namun Andiga menolak
dengan alasan akan fokus terhadap penelitian, entahlah yang jelas waktu itu
saya bingung dan meminta waktu untuk memutuskan apakah saya terima atau tidak
amanah tersebut. Setelah melalui pertimbangan, saya menerima amanah tersebut.
Ketika kami dilantik, resmilah saya menjadi Kabid P3A HmI Komisariat EkonomI
Airlangga.
Semenjak jadi Kabid P3A
saya mulai bergelut dengan dinamika organisasi. Sungguh pengalaman yang
berharga. Salah satu tugas saya adalah mengadakan kajian diskusi di komisariat.
Pernah suatu ketika yang datang kajian hanya sekitar empat orang, namun diskusi
terus berlanjut. Hari demi hari telah saya lalui. Saya mulai mengakrabkan diri
dengan yang namanya komisariat dan Rapat. Setelah beberapa pekan menjadi Kabid P3A, ternyata tugas tulis menulis tetap tertuju dan terarah kepada saya. Entahlah,
yang jelas saya harus melaksanakan perintah ketua umum, karena secara pribadi
saya kurang suka yang namanya konflik. Salah satu tulisan saya ketika menjadi
kabid yaitu berjudul “Ekonomi Islam Jalan Menuju Tuhan”,
setelah itu saya mulai fokus mengadakan kajian dan diskusi. P3A juga pernah
mengadakan bedah buku, kajian, diskusi, kajian film, pelatihan penulisan,
tutorial, LK 1, KPP (Kegiatan Pasca Pelatihan) dan semacamnya. Saya menikmati
itu semua, dan tidak menganggap sebuah beban, melainkan sebuah wadah untuk
berproses.
Sebelumnya saya
mengucapkan terimakasih kepada para alumni baik yang di dalam maupun luar
kampus yang selama ini memberikan dukungan moril dan materil bagi
keberlangsungan organisasi ini, bahkan ada selentingan guyonan diantara
kawan-kawan yang mengatakan bahwa “HmI tetap eksis karena dana alumni”,
sepertinya guyonan tersebut tidak sepenuhnya salah.
Tak lupa juga kepada
senior yang selama ini menjadi guru dan teman diskusi . Saya sampaikan dengan
tulus, terimakasih telah membimbing saya selama ini. Jiwa kepemimpinan,
intelektualitas, dan kematangan emosi yang saya miliki, itu semua saya pelajari dari
senior juga. Kepada teman-teman
Presidium HmI komisariat ekonomi Airlangga, tetaplah menjadikan visi HmI
sebagai pusaka yang terus bersemayam di dalam jiwa walaupun kita tak lagi
menjadi pengurus komisariat.
Selanjutnya buat
adek-adek komisariat, tetaplah berproses dengan baik. Jangan pernah mengeluh,
karena intan permata yang bernilai, awalnya adalah sebongkah batu yang telah
melalui proses yang panjang. Sebelum
mengakhiri tulisan ini saya kutip kata-kata Lao tzu, filsuf Tiongkok,
“Perjalanan ribuan mil dimulai dari satu langkah kecil”. Intinya perjalanan
kita masih panjang kawan/ adek, ambillah langkah itu dengan aktif di HmI.
Besok sabtu saya akan demisioner menjadi Kabid
P3A HmI Komisariat Ekonomi Airlangga dan saya mohon maaf kepada kawan-kawan
jika selama ada kata atau tindakan yang dirasa menyinggung kawan-kawan, dan
maafkanlah jikalau kinerja saya kurang maksimal selama mengemban amanah ini.
Hanya itu yang bisa saya sampaikan.
Semua berawal dari HmI. Terlalu
singkat rasanya saya jalani semua ini. Untuk mengakhiri tulisan ini, hanya satu ucapan tulus saya, “terima kasih HmI, terima kasih atas segala
yang kau berikan".
Surabaya, 9 Januari 2015
Pukul 01.15 WIB
Penulis: Muhammad Aufal Fresky (Kabid P3A HmI Komisariat Ekonomi
Airlangga)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar