Selasa, 15 Desember 2015

Catatan 14 Desember 2015

(Sebuah Refleksi Hidup)
 
Alhamdulilah, hari ini aku masih bisa menikmati hari yang begitu indah. Segala nikmat telah Tuhan berikan kepadaku. Hari ini adalah hari dimana umurku bertambah satu tahun. Jadi hari ini adalah peresmian umurku yang ke- 22. Telah banyak hal yang pernah aku lalui dalam hidup. Tentang pencarian, perjuangan, pengorbanan dan lain sebagainya. Tulisan ini pada dasarnya hanyalah bertujan untuk kembali merefleksikan diriku dan segala hal yang telah terlewati. Jadi tujuan tulisan ini adalah sebagai bahan evaluasi sekaligus koreksi bagi diriku pribadi untuk memperbaiki serta membenahi diri. Tulisan ini juga mempunyai maksud agar di hari ulang tahun ini, aku bisa kembali memiliki semangat serta gairah untuk mewujudkan segala impian dan cita-cita yang aku tetapkan.
Berbicara mengenai refleksi hidup, maka ada hubungannya dengan apa yang telah kita kerjakan selama ini. Tidak hanya mengingat atau merekam segala sesuatu yang terlewati. Lebih dari itu berupaya untuk memeriksa kembali tentang jejak langkah yang aku buat. Jangan-jangan selama ini aku lalai menjalankan perintah agama. Atau barangkali aku mengabaikan pendidikan akademikku selama kuliah. Dan masih banyak hal lain yang mesti menjadi bahan evaluasi untuk berbenah di hari ultahku.
Pengalaman dan berbagai kesalahan di masa lalu sejatinya adalah sarana pembelajaran bagi diriku. Belajar menjadi pribadi yang lebih tangguh dan dewasa. Aku berpikir bahwa hidup adalah sebuah proses. Hidup adalah perjalanan. Kita semua berproses dan berjalan menuju kesuksesan masing-masing. Sedangkan persepektif kesuksesan dan kebahagiaan antarmanusia itu berbeda-beda. Ada yang beranggapan kesuksesan dan kebahagiaan adalah  ketika meraih banyak jabatan dan memiliki berbagai pernak-pernik dunia. Adapula yang berpikir kebahagiaan hidup adalah ketenangan dan ketentraman hati. Memang tidak salah jika ada perbedaan di antara manusia. Karena hal pikiran dan kesadaran manusia akan hidup dan kehidupan tidak bisa disamakan. Aku sendiri beranggapan bahwa kesuksesan terbesar seorang manusia adalah ketika dia bisa mendapatkan kehidupan yang baik di sisi Allah SWT. Aku tidak membatasi kesukssan hanya pada pencapiaan materi dan jabatan. Karena hal itu bersifat temporal dan fana. Kesuksesan dunia tidaklah abadi, semua akan pergi meninggalkan kita. Itu hanyalah kesuksesan jangka pendek. Maka dari itulah, aku berusaha memantapkan hati bahwa kesuksesan dunia hanyalah sarana untuk mendapatkan kesuksesan yang jauh lebih berharga yaitu kesuksesan di akhirat. Karena kesuksesan di akhirat bersifat abadi dan kekal. Untuk mendapatkan kesuksesan di akhirat, aku harus bersungguh-sungguh dalam berupaya menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangnnya. Berusaha untuk selalu berjalan di jalan yang lurus. Yaitu jalan yang di ridhai Allah SWT.
Jadi aku akan berusaha meluruskan niat agar segala tindakanku bertujuan untuk mencari ridha Allah SWT. Oleh sebab ituah aku berpandangan bahwa kesuksesan manusia itu ada dua yaitu kesuseksesan jangka pendek dan kesusesan jangka panjang. Atau bisa juga disebutkan kesuksesan di dunia dan kesuksesan di akhirat. Manusia bijak tidak akan terlena oleh kesuksesan dunia yang diraihnya. Manusia yang bijak juga tidak bersedih ketika dunia dan seisinya meninggalkan dirinya. Karena dia percaya dan yakin bahwa Allah akan memberikan jalan yang terbaik bagi dirinya dengan catatan dia senantiasa tetap di jalan yang lurus. Maka dari itulah ingin rasanya aku bijak dalam menjalani hidup ini. 
Aku ingin memaknai hidup ini dengan lebih bijak lagi. Aku tidak ingin hanya mampir dalam kehidupan ini. Aku tidak ingin menjadi manusia yang hanya mengikuti arus. Kalau bisa aku ingin mencipatakan arus positif dalam kehidupan ini. Aku tidak mau jika hidup hanya sebatas makan, tidur, buang hajat, beristri, memiliki anak, menua lalu meninggal dunia. Terlalu berharga kehiduan ini untuk sekedar dilalu semacam hal itu. Apa bedanya manusia dengan binatang jika hanya melalui kehidupan hanya dengan memenuhi hasrat biologisnya. Aku ingin hidup dengan penuh makna. Seperti menjadi manusia yang berguna bagi agama, nusa dan bangsa. Aku ingin menjadi pribadi yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Karena tanpa itu, aku rasa kehidupan ini akan menjadi hampa. Tanpa berbagi dengan orang lain, kehidupan ini rasanya penuh egoisme semata.
Jadi aku berpandangan bahwa memaknai hidup bisa memberikan banyak manfaat kepada orang lain. Makna hidup adalah ketika kita bisa menjalin kedekatan dengan Sang Pencipta. Karena hal itu akan memberikan ketenangan dan kedamaian jiwa. Berangkat dari memaknai hidup itulah aku memiliki cita-cita di masa depan. Salah satunya adalah aku sangat berambisi menjadi seorang penulis buku sekaligus pendidik.
Alasan terbesar saya menjadi seoarang penulis buku yaitu ingin berbagi kepada orang lain. Aku ingin menyebarluaskan ilmu dan pengetahuan di tengah masyarakat. Aku ingin berkontribusi dalam memajukan bangsa. Terutama dalam mencerdaskan generasi muda Indonesia. Jadi melalui tulisan, aku ingin membangun cara berpikir, mentalitas, dan kepribadian pemuda Indonesia. Melalui tulisan pula aku ingin kembali menata kehidupan bangsa ini yang semakin semrawut. Aku juga beranggapan bahwa dengan menulis aku mendapatkan keuntungan jangka panjang. Karena dengan menulis aku bisa beramal. Aku percaya setiap kebaikan kelak pasti akan mendapatkan balasan yang setimpal. Oleh karena itulah, aku memantapkan diri untuk menjadi seorang penulis buku. Hal tersebut senada dengan anjuran Imam Al-Ghazali. Beliau berkata bahwa jikalau kita bukan anak seorang raja atau ulama` maka jadilah penulis. Jadi perkataan Al-Ghazali semakin menguatkan tekadku untuk menjadi seoarang penulis.
Selain bercita-cita menjadi seorang penulis buku, aku memiliki impian menjadi seorang pendidik. Karena mendidik dan mengajar adalah salah satu sarana untuk mentranfer ilmu dan pngetahuan kepada orang lain. Dengan menjadi seoarang pendidik/ pengajar, maka aku bisa terlibat serta berkontribusi dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Aku ingin mendidik dan mengajar anak bangsa agar mereka menjadi calon pemimpin masa depan yang baik. Aku ingin membenahi mental dan moral anak bangsa melalui jalur pendidikan. Selain itu, melalui pendidikan, aku ingin menanamkan kepada peserta didik terkait nilai-nilai luhur, memperkenalkan Pancasila dan sejarah bangsa, memberikan penjelasan tentang catatan hidup para pahlawan dan sebagainya. Harapannya suatu saat nanti akan tercipta generasi bangsa yang memiliki kesadaran sejarah. Yaitu generasi yang mengerti dan mengenal asal usul serta jati dirinya. Sehingga generasi semacam itu tidak bimbang dalam melangkah dan menghadapi derasnya globalisasi. Karena mereka telah memiliki acuan dan patokan nilai. Jadi di sini aku ingin berperan sebagai pendidik untuk membangun bangsa Indonesia agar lebih baik lagi ke depannya.
Perlu diketahui bahwa catatan ini tidak hanya berisi refleksi diriku. Tetapi juga terkait segala hal dan keinginan yang ingin aku wujudkan di masa depan. Tentang mimpi-mimpi yang ingin aku capai. Selama ini, aku hanya menulis di media massa. Tetapi nantinya, aku mesti lebih kreatif dan produktif dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Salah satu caranya yaitu dengan menulis buku. Intinya di usiaku yang semakin bertambah ini, aku ingin menjadi manusia yang lebih produktif, kreatif, inovatif serta berguna bagi masyarakat banyak. Intinya aku ingin mempersembahkan hidupku untuk mengabdi kepada Tuhan. Berdedikasi bagi kemajuan nusa dan bangsa.
Waktu silih berganti, masa terus berubah, dan manusia selalu mencari. Mencari makna hidup. Apa itu hidup? Darimana asal muasal kita? Kenapa kita semua berada di dunia? Apa yang harusnya kita lakukan selama hidup? Bagaimana seharusnya menjalani hidup? Kemana semua akan bermuara? Manusia akan selalu bertanya tanya tentang arti dari kehidupan ini. Maka dari itulah setiap manusa mesti memiliki pegangan yang kuat untuk menjawab pertanyaan tadi. Pegangan di sini adalah tuntunan agama.  Maka dari itulah di momentum ultah yang ke 22 ini aku ingin menveluasi hubunganku dengan Allah SWT. Jangan-jangan selama ini aku menjadi muslim simbolik. Secara identitas bisa dikatakan seorang muslim. Tetapi secara esensial masih jauh dari yang namanya muslim. Di momentum ultah ini aku ingin berubah menjadi manusia yang selalu dekat dengan Tuhan. Karena jujur, selama ini terkadang aku lalai mengingatNya. Terkadang mengabaikann panggilannya. Mengulur waktu sholat, bahkan terkadang kesiangan ketika sholat shubuh. Aku tidak ingin hal itu terus-terusan terjadi dalam hidupku. Aku benar-benar ingin menjadi seorang muslim yang benar. Yaitu  manusia yang secara esensial benar-benar menjalankan perintah agama dan menjauhi larangannya. Selalu menjaga hubungannya dengan Tuhan, dengan sesama, maupun dengan alam dan seisinya.
Selain itu, melalui tulisan ini, aku ingin mengungkapkan rasa syukurku kepada Allah SWT. Karena selama ini nikmat yang telah diberikan kepadaku sangat banyak, bahkan tidak bisa aku hitung. Allah memberikanku kesehatan yang baik, kecukupan materi, pendidikan tinggi yang berkualitas, dan lain sebagainya. Bahkan berkat nikmat kesehatan dan umur yang panjang inilah aku bisa menuliskan catatan ini. Sungguh aku merasa sebagai manusia yang kurang bersyukur kepada Allah. Maka dari itulah, aku ingin memperbaiki itu. Berubah menjadi pribadi yang selalu mensykuri nikmatNya. Bersyukur sendiri bisa dilakukan melalui hati, lisan dan juga perbuatan.
Aku sendiri di besarkan di lingkungan yang agamis. Dan aku merasa hal itu adalah salah satu nikmat Tuhan. Karena secara tidak langsung lingkungan semacam itu akan berpengaruh terhadap pembentukan kepribadianku. Selama ini, aku cukup mengerti bagaimana masyarakat di lingkunganku membentuntuk pola pikirku. Meskipun tidak sepenuhnya lingkungan membentuk pola pikirku. Karena selain dibentuk oleh lingkungan, pola pikir juga bisa dipengaruhi oleh pendidikan, buku, teman, dan organisasi. Jadi lingkungan tempat tinggal yang agamis membawa pengaruh bagi diriku untuk memandang kehidupan ini. Secara spesifknya, tempat tinggalku berada  tepat di tengah lembaga pendidikan. Di dalamnya terdapat lembaga pesantren serta sekolah SMP/ SMK. Nama yayasannya adalah Al-Ikhlas. Terkadang aku malu dengan diriku sendiri ketika aku melanggar norma agama. Karena sejak lahir sampai sekarang, aku dibesarkan di sana. Semacam ada ikatan emosional antara aku dengan lingkunganku. Maka dari itulah, bertambahnya usia ini semoga menjadi momentum untuk menjadi pribadi yang berkepribadian luhur, berakhlak mulia, serta selalu konsiten berjalan di jalan Tuhan.
Intinya di usia yang ke 22 ini aku ingin menjadi manusia yang lebih bertakwa kepada Allah, berguna bagi masyarakat, serta manusia yang senantiasa berbagi kepada orang lain. Oh iya tidak lupa aku ingin mengucapkan terimaksih kepada wanita spesial yang ada dalam hidupku. Wanita itu adalah ibuku sendiri. Sekali lagi, di usiaku yang ke 22, aku berterimkasih sebesar-besarnya kepada ibuku yang selalu mencintai dan menyayangiku. Terimakasih kepada ibu yang selalu mengingatkanku untuk tidak lupa Sholat. Tak lupa juga aku berterimkasih kepada bapakku yang merupakan panutan dan tauladan dalam hidupku. Beliau adalah salah satu role model bagi diriku sendiri. Oh ya, selain kedua orangtuaku, ada lagi orang spesial dalam hidupku. Dia adalah orang yang mengerti aku setelah orangtuaku. Dia adalah mantan terakhirku. Bagiku dia wanita spesial. Dan sampai saat ini kami masih dekat dan berhubungan baik.
Sebenarnya masih banyak hal yang ingin  ku sampaikan melalui catatan ini. Semisal tentang wanita, cinta, kampus, dan semacamnya. Tetapi berhubung keterbatasan waktu, saya cukupkan catatan ini sampai di sini. Semoga catatan ini membawa manfaat, khususnya bagi diriku sendiri selaku penulis.

Catatan ini dibuat untuk memperingati hari ulang tahun ku yang ke 22
Surabaya, 14 Desember 2015
Pukul 12.58 WIB




Featured Post

Pelestarian Batik Madura Butuh Regulasi Terarah

  Sejak beberapa tahun terakhir, saya  bergelut di bidang usaha batik tulis Madura. Selain karena dukungan keluarga, faktor lingkungan juga ...