Alhamdulilah,
hari ini aku masih bisa menikmati hari yang begitu indah. Segala nikmat telah
Tuhan berikan kepadaku. Hari ini adalah hari dimana umurku bertambah satu
tahun. Jadi hari ini adalah peresmian umurku yang ke- 22. Telah banyak hal yang
pernah aku lalui dalam hidup. Tentang pencarian, perjuangan, pengorbanan dan
lain sebagainya. Tulisan ini pada dasarnya hanyalah bertujan untuk kembali
merefleksikan diriku dan segala hal yang telah terlewati. Jadi tujuan tulisan
ini adalah sebagai bahan evaluasi sekaligus koreksi bagi diriku pribadi untuk
memperbaiki serta membenahi diri. Tulisan ini juga mempunyai maksud agar di
hari ulang tahun ini, aku bisa kembali memiliki semangat serta gairah untuk
mewujudkan segala impian dan cita-cita yang aku tetapkan.
Berbicara
mengenai refleksi hidup, maka ada hubungannya dengan apa yang telah kita
kerjakan selama ini. Tidak hanya mengingat atau merekam segala sesuatu yang
terlewati. Lebih dari itu berupaya untuk memeriksa kembali tentang jejak
langkah yang aku buat. Jangan-jangan selama ini aku lalai menjalankan perintah
agama. Atau barangkali aku mengabaikan pendidikan akademikku selama kuliah. Dan
masih banyak hal lain yang mesti menjadi bahan evaluasi untuk berbenah di hari
ultahku.
Pengalaman
dan berbagai kesalahan di masa lalu sejatinya adalah sarana pembelajaran bagi
diriku. Belajar menjadi pribadi yang lebih tangguh dan dewasa. Aku berpikir
bahwa hidup adalah sebuah proses. Hidup adalah perjalanan. Kita semua berproses
dan berjalan menuju kesuksesan masing-masing. Sedangkan persepektif kesuksesan
dan kebahagiaan antarmanusia itu berbeda-beda. Ada yang beranggapan kesuksesan
dan kebahagiaan adalah ketika meraih
banyak jabatan dan memiliki berbagai pernak-pernik dunia. Adapula yang berpikir
kebahagiaan hidup adalah ketenangan dan ketentraman hati. Memang tidak salah
jika ada perbedaan di antara manusia. Karena hal pikiran dan kesadaran manusia
akan hidup dan kehidupan tidak bisa disamakan. Aku sendiri beranggapan bahwa kesuksesan
terbesar seorang manusia adalah ketika dia bisa mendapatkan kehidupan yang baik
di sisi Allah SWT. Aku tidak membatasi kesukssan hanya pada pencapiaan materi
dan jabatan. Karena hal itu bersifat temporal dan fana. Kesuksesan dunia
tidaklah abadi, semua akan pergi meninggalkan kita. Itu hanyalah kesuksesan
jangka pendek. Maka dari itulah, aku berusaha memantapkan hati bahwa kesuksesan
dunia hanyalah sarana untuk mendapatkan kesuksesan yang jauh lebih berharga
yaitu kesuksesan di akhirat. Karena kesuksesan di akhirat bersifat abadi dan
kekal. Untuk mendapatkan kesuksesan di akhirat, aku harus bersungguh-sungguh
dalam berupaya menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangnnya. Berusaha
untuk selalu berjalan di jalan yang lurus. Yaitu jalan yang di ridhai Allah
SWT.
Jadi
aku akan berusaha meluruskan niat agar segala tindakanku bertujuan untuk
mencari ridha Allah SWT. Oleh sebab ituah aku berpandangan bahwa kesuksesan
manusia itu ada dua yaitu kesuseksesan jangka pendek dan kesusesan jangka
panjang. Atau bisa juga disebutkan kesuksesan di dunia dan kesuksesan di
akhirat. Manusia bijak tidak akan terlena oleh kesuksesan dunia yang diraihnya.
Manusia yang bijak juga tidak bersedih ketika dunia dan seisinya meninggalkan
dirinya. Karena dia percaya dan yakin bahwa Allah akan memberikan jalan yang
terbaik bagi dirinya dengan catatan dia senantiasa tetap di jalan yang lurus.
Maka dari itulah ingin rasanya aku bijak dalam menjalani hidup ini.
Aku
ingin memaknai hidup ini dengan lebih bijak lagi. Aku tidak ingin hanya mampir
dalam kehidupan ini. Aku tidak ingin menjadi manusia yang hanya mengikuti arus.
Kalau bisa aku ingin mencipatakan arus positif dalam kehidupan ini. Aku tidak
mau jika hidup hanya sebatas makan, tidur, buang hajat, beristri, memiliki
anak, menua lalu meninggal dunia. Terlalu berharga kehiduan ini untuk sekedar
dilalu semacam hal itu. Apa bedanya manusia dengan binatang jika hanya melalui
kehidupan hanya dengan memenuhi hasrat biologisnya. Aku ingin hidup dengan
penuh makna. Seperti menjadi manusia yang berguna bagi agama, nusa dan bangsa.
Aku ingin menjadi pribadi yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Karena tanpa
itu, aku rasa kehidupan ini akan menjadi hampa. Tanpa berbagi dengan orang
lain, kehidupan ini rasanya penuh egoisme semata.
Jadi
aku berpandangan bahwa memaknai hidup bisa memberikan banyak manfaat kepada
orang lain. Makna hidup adalah ketika kita bisa menjalin kedekatan dengan Sang
Pencipta. Karena hal itu akan memberikan ketenangan dan kedamaian jiwa.
Berangkat dari memaknai hidup itulah aku memiliki cita-cita di masa depan.
Salah satunya adalah aku sangat berambisi menjadi seorang penulis buku
sekaligus pendidik.
Alasan
terbesar saya menjadi seoarang penulis buku yaitu ingin berbagi kepada orang
lain. Aku ingin menyebarluaskan ilmu dan pengetahuan di tengah masyarakat. Aku
ingin berkontribusi dalam memajukan bangsa. Terutama dalam mencerdaskan
generasi muda Indonesia. Jadi melalui tulisan, aku ingin membangun cara
berpikir, mentalitas, dan kepribadian pemuda Indonesia. Melalui tulisan pula
aku ingin kembali menata kehidupan bangsa ini yang semakin semrawut. Aku juga
beranggapan bahwa dengan menulis aku mendapatkan keuntungan jangka panjang.
Karena dengan menulis aku bisa beramal. Aku percaya setiap kebaikan kelak pasti
akan mendapatkan balasan yang setimpal. Oleh karena itulah, aku memantapkan
diri untuk menjadi seorang penulis buku. Hal tersebut senada dengan anjuran
Imam Al-Ghazali. Beliau berkata bahwa jikalau kita bukan anak seorang raja atau
ulama` maka jadilah penulis. Jadi perkataan Al-Ghazali semakin menguatkan
tekadku untuk menjadi seoarang penulis.
Selain
bercita-cita menjadi seorang penulis buku, aku memiliki impian menjadi seorang
pendidik. Karena mendidik dan mengajar adalah salah satu sarana untuk
mentranfer ilmu dan pngetahuan kepada orang lain. Dengan menjadi seoarang
pendidik/ pengajar, maka aku bisa terlibat serta berkontribusi dalam
mencerdaskan kehidupan bangsa. Aku ingin mendidik dan mengajar anak bangsa agar
mereka menjadi calon pemimpin masa depan yang baik. Aku ingin membenahi mental
dan moral anak bangsa melalui jalur pendidikan. Selain itu, melalui pendidikan,
aku ingin menanamkan kepada peserta didik terkait nilai-nilai luhur,
memperkenalkan Pancasila dan sejarah bangsa, memberikan penjelasan tentang
catatan hidup para pahlawan dan sebagainya. Harapannya suatu saat nanti akan
tercipta generasi bangsa yang memiliki kesadaran sejarah. Yaitu generasi yang
mengerti dan mengenal asal usul serta jati dirinya. Sehingga generasi semacam
itu tidak bimbang dalam melangkah dan menghadapi derasnya globalisasi. Karena
mereka telah memiliki acuan dan patokan nilai. Jadi di sini aku ingin berperan
sebagai pendidik untuk membangun bangsa Indonesia agar lebih baik lagi ke
depannya.
Perlu
diketahui bahwa catatan ini tidak hanya berisi refleksi diriku. Tetapi juga
terkait segala hal dan keinginan yang ingin aku wujudkan di masa depan. Tentang
mimpi-mimpi yang ingin aku capai. Selama ini, aku hanya menulis di media massa.
Tetapi nantinya, aku mesti lebih kreatif dan produktif dalam mencerdaskan
kehidupan bangsa. Salah satu caranya yaitu dengan menulis buku. Intinya di
usiaku yang semakin bertambah ini, aku ingin menjadi manusia yang lebih
produktif, kreatif, inovatif serta berguna bagi masyarakat banyak. Intinya aku
ingin mempersembahkan hidupku untuk mengabdi kepada Tuhan. Berdedikasi bagi
kemajuan nusa dan bangsa.
Waktu
silih berganti, masa terus berubah, dan manusia selalu mencari. Mencari makna
hidup. Apa itu hidup? Darimana asal muasal kita? Kenapa kita semua berada di
dunia? Apa yang harusnya kita lakukan selama hidup? Bagaimana seharusnya
menjalani hidup? Kemana semua akan bermuara? Manusia akan selalu bertanya tanya
tentang arti dari kehidupan ini. Maka dari itulah setiap manusa mesti memiliki
pegangan yang kuat untuk menjawab pertanyaan tadi. Pegangan di sini adalah
tuntunan agama. Maka dari itulah di
momentum ultah yang ke 22 ini aku ingin menveluasi hubunganku dengan Allah SWT.
Jangan-jangan selama ini aku menjadi muslim simbolik. Secara identitas bisa
dikatakan seorang muslim. Tetapi secara esensial masih jauh dari yang namanya
muslim. Di momentum ultah ini aku ingin berubah menjadi manusia yang selalu
dekat dengan Tuhan. Karena jujur, selama ini terkadang aku lalai mengingatNya.
Terkadang mengabaikann panggilannya. Mengulur waktu sholat, bahkan terkadang
kesiangan ketika sholat shubuh. Aku tidak ingin hal itu terus-terusan terjadi
dalam hidupku. Aku benar-benar ingin menjadi seorang muslim yang benar.
Yaitu manusia yang secara esensial
benar-benar menjalankan perintah agama dan menjauhi larangannya. Selalu menjaga
hubungannya dengan Tuhan, dengan sesama, maupun dengan alam dan seisinya.
Selain
itu, melalui tulisan ini, aku ingin mengungkapkan rasa syukurku kepada Allah
SWT. Karena selama ini nikmat yang telah diberikan kepadaku sangat banyak,
bahkan tidak bisa aku hitung. Allah memberikanku kesehatan yang baik, kecukupan
materi, pendidikan tinggi yang berkualitas, dan lain sebagainya. Bahkan berkat
nikmat kesehatan dan umur yang panjang inilah aku bisa menuliskan catatan ini. Sungguh
aku merasa sebagai manusia yang kurang bersyukur kepada Allah. Maka dari
itulah, aku ingin memperbaiki itu. Berubah menjadi pribadi yang selalu
mensykuri nikmatNya. Bersyukur sendiri bisa dilakukan melalui hati, lisan dan juga
perbuatan.
Aku
sendiri di besarkan di lingkungan yang agamis. Dan aku merasa hal itu adalah
salah satu nikmat Tuhan. Karena secara tidak langsung lingkungan semacam itu
akan berpengaruh terhadap pembentukan kepribadianku. Selama ini, aku cukup
mengerti bagaimana masyarakat di lingkunganku membentuntuk pola pikirku.
Meskipun tidak sepenuhnya lingkungan membentuk pola pikirku. Karena selain
dibentuk oleh lingkungan, pola pikir juga bisa dipengaruhi oleh pendidikan,
buku, teman, dan organisasi. Jadi lingkungan tempat tinggal yang agamis membawa
pengaruh bagi diriku untuk memandang kehidupan ini. Secara spesifknya, tempat
tinggalku berada tepat di tengah lembaga
pendidikan. Di dalamnya terdapat lembaga pesantren serta sekolah SMP/ SMK. Nama
yayasannya adalah Al-Ikhlas. Terkadang aku malu dengan diriku sendiri ketika
aku melanggar norma agama. Karena sejak lahir sampai sekarang, aku dibesarkan
di sana. Semacam ada ikatan emosional antara aku dengan lingkunganku. Maka dari
itulah, bertambahnya usia ini semoga menjadi momentum untuk menjadi pribadi
yang berkepribadian luhur, berakhlak mulia, serta selalu konsiten berjalan di
jalan Tuhan.
Intinya
di usia yang ke 22 ini aku ingin menjadi manusia yang lebih bertakwa kepada
Allah, berguna bagi masyarakat, serta manusia yang senantiasa berbagi kepada
orang lain. Oh iya tidak lupa aku ingin mengucapkan terimaksih kepada wanita
spesial yang ada dalam hidupku. Wanita itu adalah ibuku sendiri. Sekali lagi,
di usiaku yang ke 22, aku berterimkasih sebesar-besarnya kepada ibuku yang
selalu mencintai dan menyayangiku. Terimakasih kepada ibu yang selalu
mengingatkanku untuk tidak lupa Sholat. Tak lupa juga aku berterimkasih kepada
bapakku yang merupakan panutan dan tauladan dalam hidupku. Beliau adalah salah
satu role model bagi diriku sendiri. Oh ya, selain kedua orangtuaku, ada lagi
orang spesial dalam hidupku. Dia adalah orang yang mengerti aku setelah orangtuaku.
Dia adalah mantan terakhirku. Bagiku dia wanita spesial. Dan sampai saat ini
kami masih dekat dan berhubungan baik.
Sebenarnya
masih banyak hal yang ingin ku sampaikan
melalui catatan ini. Semisal tentang wanita, cinta, kampus, dan semacamnya. Tetapi
berhubung keterbatasan waktu, saya cukupkan catatan ini sampai di sini. Semoga
catatan ini membawa manfaat, khususnya bagi diriku sendiri selaku penulis.
Catatan
ini dibuat untuk memperingati hari ulang tahun ku yang ke 22
Surabaya,
14 Desember 2015
Pukul
12.58 WIB