Selasa, 05 November 2024

Arkan dan Kiai Wardi

 

Di sebuah kampung jauh di sana, ada seorang pemuda yang masih bergumul dengan ragam pertanyaan yang menghujam alam pikirannya. Senantiasa mengusik malam-malamnya. Pertanyaan itu seputar pencarian identitas dan jati dirinya. Pemuda tersebut memberontak terhadap keadaan diri dan sekelilingnya. Seolah-olah dunia sedang bekerja tidak sesuai dengan apa yang selama ini dalam tafsirnya. Kegamangan demi kegamangan mendorong langkah kakinya terus berjalan menelusuri tempat-tempat asing yang selama ini belum pernah dikunjunginya. Dia memutuskan untuk menjadi pengembara demi menemukan jawaban-jawaban atas pertanyaan yang menghantui hari-harinya. Dalam keadaan seperti itulah, kadang rasa rindu terhadap guru-gurunya di waktu madrasah dulu kembali menyeruak. Kerinduan yang tak bisa segera dibayarkan. Informasi terbaru, guru-gurunya tersebut ternyata semuanya telah meninggal dunia akibat letusan gunung berapi. Tidak hanya guru-gurunya, ribuan warga Kampung Sudimakmur juga wafat. Memang ajal tak ada yang mengetahui. Bencana tersebut tak ada yang menduga. Warga kampung panik dan histeris ketika suara gemuruh gunung telah membuat suasana mencekam. Dan beberapa waktu kemudian letusan itu menyebabkan semua warga kampung meninggal dunia. Termasuk guru-guru sang pemuda tersebut. Nama pemuda itu adalah Ahmad Arkan. 

Mendung duka menyelimuti batinnya. Guru-guru yang selama ini dicintainya telah meninggalkan dia untuk selama-lamanya. Kepada siapa lagi dia akan mengadukan pertanyaan yang berkecamuk dalam kepalanya. Dia harus bergerak lagi mencari sumber mata air kebijaksanaan. Dia mulai terbakar semangatnya untuk menemukan guru sejati. Sebab, sudah tak mungkin lagi dia kembali ke kampung halamannya yang telah luluh lantah oleh bencana alam. Arkan tidak mau berhenti dengan pencariannya. Dia tidak cepat puas dengan ilmu dan pengetahuannya yang selama ini diperolehnya di madrasah. Bahkan, dia merasa betul bahwa pengetahuan dan ilmunya sangat sedikit dan terbatas. Sebab itulah, dia menjelajah ke berbagai pelosok Jawa dan Madura untuk meminum dari mata air ilmu dan hikmah.

Tak terhitung berapa makam aulia yang dia ziarahi. Tak terhitung berapa jumah kiai yang telah dia sowani. Arkan terus menerus berjalan tanpa henti. Baginya, perjalanan tersebut semacam menjadi perjalanan menemukan diri yang sebenarnya. Perjalanan mengasah alam batinnya. Mengasah diri agar menjadi manusia yang sebenar-benarnya manusia. Sebab, selama ini Arkan merasa bahwa banyak di antara manusia yang dijumpainya bukanlah manusia yang seutuhnya. Ada manusia yang perangainya seperti iblis, ada yang setengah macan, ada yang seperti tikus, dan semacamnya. Radar hati Arkan mulai terasah. Dia mulai mengenali banyak tipikal manusia. Ternyata selama ini, yang ditemuinya itu memakai topeng yang berlapis-lapis. Tidak menjadi dirinya sendiri. Dengan kata lain penuh dengan permak dan sandiwara. Tidak sesuai apa yang diucapkan dengan hatinya. Tidak selaras kata dan perbuatannya. Arkan tidak menjauhi mereka yang berwatak semacam itu. Justru dia belajar dari mereka agar tidak terjebak menjadi manusia yang penuh dengan kepalsuan. Sebab, kepalsuan ini sebenarnya akan membawa kita semua pada yang namanya ketidaktenangan dan kegelisahan hidup. Kepalsuan juga menjadikan kita berjarak dengan Tuhan dan bahkan bisa menimbulkan kemurkaan Tuhan. Sebab kita telah menegasikan nilai-nilai kejujuran dan kebenaran dalam menjalani hidup

Setibanya di Desa Payudan Daleman, Sumenep, Arkan menemukan sebuah gua yang menarik perhatiannya. Gua Payudan namanya. Konon, berdasarkan cerita warga setempat, gua tersebut menjadi tempat pertapaan tokoh-tokoh besar di zaman dahulu. Termasuk pembesar kerajaan dan bahkan Proklamator Republik Indonesia, Bung Karno, pernah bertapa di tempat tersebut. Pepohonan rindang di sekitar Gua menambah suasana syahdu dan sejuk. Membuat betah siapa pun yang datang ke Gua tersebut.

Di depan gua, Arkan terlibat asik ngobrol dengan sosok tua bersorban putih. Wajahnya memancarkan keteduhan, membuat damai hati setiap orang yang memandangnya. Usut punya usut, orang tersebut ternyata Kiai Wardi, salah satu Kiai asal Bangkalan yang memang rutin mendatangi gua tersebut. Tidak banyak orang yang mengetahui sosok Kiai Wardi. Sebab, dia sendiri bukanlah kiai masyhur di tengah-tengah masyarakat. Rutinitasnya dihabiskan mengajar santri-santrinya yang hanya sejumlah hitungan jari. Kiai Wardi juga senang berkelana di berbagai tempat di Jawa Madura. Ternyata, takdir perjumpaan dengan Kiai Wardi, membuat Arkan seolah memiliki spirit dan gairah baru dalam menjalani hidupnya. Dalam bincang-bincang yang tidak sampai sejam tersebut, Arkan menimba banyak ilmu dan hikmah dari Sang Kiai. Pertanyaan-pertanyaan tentang Tuhan, manusia, alam, dan hakikat kehidupan semua dijawab oleh Kiai Wardi dengan telaten dengan merujuk beragam sumber refrensi kitab klasik dan modern. Seolah-olah Kiai Wardi ini menjadi kitab berjalan. Semua pertanyaan juga dibarengin dengan contoh dalam kehidupan nyata. Kiai Wardi menjawab tidak hanya berdasarkan teks, tetapi juga konteks. Kekaguman Arkan semakin menjadi-jadi. Mulai detik itu juga, di depan Kiai Wari, Arkan memutuskan untuk menjadi murid dan sekaligus khodimnya. Kiai Wardi juga langsung mengiyakannya. Melihat semangat yang berkobar-kobar dan mungkin juga membaca potensi besar sang pemuda yang nantinya bisa membawa banyak kebermanfaatan di tengah masyarakat. 

Waktu sudah menunjukkan jam 17.20 WIB. Waktu maghrib akan tiba. Sebelum mengakhiri perbincangan, Kiai Wardi memberikan beberapa petuah kepada Arkan untuk dijadikan pegangan hidupnya. Pertama yaitu memperbanyak zikir kepada Allah dan memperbanyak sholawat kepada Rasulullah. Kedua, sering berkumpul dengan orang-orang sholeh. Ketiga, menjadi pribadi yang penuh dengan kasih sayang kepada manusia dan seluruh makhluk di muka bumi. Keempat, upayakan untuk sholat tepat waktu dan berjemaah di masjid. Kelima, menjadi manusia berakhlakul karimah. 

Petuah-petuah tersebut tersebut, imbuh Kiai Wardi, diharapkan bisa membuat sanubari Arkan tenang dan penuh optimisme dalam mengarungi hidup yang penuh gelombang ini. Tiba-tiba Azan maghrib berkumandang dari dekat musola kecil di sekitar Gua Payudan. Obrolan berakhir. Kiai Wardi meminta Arkan menemuinya kembali di Pasarean Syaikhona Kholil satu bulan lagi pada jam 00.00 WIB. Arkan menyanggupinya. Kiai Wardi pamitan untuk melanjutkan perjalanan. Tiba-tiba Arkan terbangun dari tidur pulasnya di pelataran musola dekat Gua Payudan. Waktu menunjukkan jam 11.30 WIB. Ternyata dia hanya bertemu Kiai Wardi dalam mimpi. Namun, uniknya, mimpi tersebut ternyata terasa sangat nyata. Semua nasehat dan pesan Kiai Wardi seolah nempel di pikirannya. Selepas tidur siang tersebut, Arkan merasakan ada ketenangan. Dia langsung menuju tempat wudu untuk menunaikan Sholat Dhuhur. Setelah sholat Dhuhur, ada ketentraman tersendiri yang menyelimuti batinnya. 

Dan di belakangnya, sosok yang ada dalam mimpinya itu sudah menunggunya. Dia kaget bukan main. Seolah tak percaya. Antara nyata dan mimpi. Dan yang membuat dia semakin heran yaitu ketika Kiai Wardi langsung berucap: “Temui saya di Pesarean Syaikhona Kholil satu bulan lagi tepat jam 00.00 WIB”. Belum sempat Arkan membalas, Kiai Wardi langsung pergi keluar. Dan Arkan diam seribu kata. Tak berkutik. Seolah tersihir. Dan dia baru sadar ketika Kiai Wardi sudah tak ada di depannya. Hanya saja yang dia rasakan adalah pancaran aura dan kharisma Kiai Wardi seolah menghipnotis dirinya untuk menjadi manusia yang lebih bertakwa secara dhohir maupun batin. Dari mimpi dan perjumpaan sekilas itulah Arkan menemukan beberapa jawaban atas pertanyaannya selama ini. Tak henti-hentinya dia mengucapkan alhamdulillah atas karunia besar yang telah Allah berikan kepada-nya. Selanjutnya, dia hanya tinggal menunggu waktu untuk menuntaskan beberapa pertanyaan lainnya kepada Sang Kiai. Selain memang dia sangat penasaran kepada sosok berjubah dan bersorban putih tersebut. 


Oleh: Muhammad Aufal Fresky


Sumber ilustrasi: depositphotos.com

Featured Post

Pelestarian Batik Madura Butuh Regulasi Terarah

  Sejak beberapa tahun terakhir, saya  bergelut di bidang usaha batik tulis Madura. Selain karena dukungan keluarga, faktor lingkungan juga ...