Sabtu, 31 Agustus 2024

Jangan Terbuai Topeng dan Retorika Politisi!

 

Sembari menikmati secangkir kopi dan sebatang rokok, pikiran saya mulai berpetualang. Jari jemari mulai 'gatal' untuk mengetikkan sesuatu. Lintasan pikiran ini mesti mewujud menjadi karya. Apalagi udara segar Kota Batu seolah menjadi pendukung untuk memahat kata demi kata. Lantas, apa yang hendak saya tuliskan pagi ini? Mengapa tak berkonsep? Mengapa seolah tak direncanakan? Memang begitulah kadang saya dalam menulis. Yaitu spontan dan mengalir. Baiklah, kali ini saya putuskan untuk sedikit membahas tentang 'topeng politisi'. 

Mengingat pemberitaan yang kian santer di pelbagai media. Entah itu televisi, koran, majalah, portal online, dan sebagainya. Siang malang seolah tak ada habisnya membahas Pilkada. Gegap gempita Pilkada di seluruh penjuru Tanah Air terasa betul. Antusiasme calon pemimpin daerah dan juga parpol pengusung juga semakin riuh. Ada juga calon yang independen. Tak membawa bendera parpol. Semua hendak berkompetisi untuk menduduki kursi kekuasaan. Baik sebagai bupati, walikota, atau gubernur. Dari zaman ke zaman, tahta memang menarik untuk diperebutkan. 

Bahkan tidak jarang yang saling sikut untuk merebut hati rakyat. Politik uang atau 'serangan fajar' juga kerap kali menjadi strategi alternatif untuk mendulang suara sebanyak-banyaknya. Ironinya lagi, sebagian dari kita juga tak mengenal betul siapa sebenarnya yang hendak kita pilih. Tak mengerti latar belakang dan rekam jejaknya. Apakah calon pemimpin tersebut pernah tersandung kasus, apakah moralitasnya teruji, itu tak jadi persoalan bagi kita. Sebagian dari kita memilih tanpa pertimbangan yang matang. Ada yang memilih karena ketenaran, ketampanan, uang, sikap, kesamaan ideologi, dan sebagainya. Semua pemilih memiliki logikanya sendiri dalam mencoblos. 

Bahkan, banyak di antara kita yang mudah dikelabui retorika politisi. Lebih-lebih saat kampanye. Semua calon pemimpin seolah berhati mulia. Seakan-akan menjadi malaikat penyelamat kehidupan masyarakat yang dihadapkan beragam persoalan. Rangkaian solusi ditawarkan. Janji selangit dilontarkan. Bertindak seolah juru selamat.

Penampilan dan perkataannya meyakinkan. Kata mereka, kepentingan rakyat adalah segalanya. Urusan rakyat adalah harga mati. Kesejahteraan rakyat tak bisa ditawar lagi. Benarkah demikian? Kita semua sama sekali tidak begitu tahu. Hampir tidak bisa dibedakan antara calon satu dengan lainnya. Sama-sama bertekad memberantas korupsi, kolusi, dan nepotisme. Semuanya bertekad mewujudkan pemerintahan daerah yang bersih dan demokratis. Semuanya bertekad hendak menegakkan keadilan. Setiap momentum politik, begitulah yang diucapkan setiap calon.

Padahal, hemat saya, rakyat kita sudah mulai melek politik. Tidak lagi gampang terbuai janji-janji palsu. Kita mulai belajar dari kejadian sebelum-sebelumnya. Yaitu di mana janji hanyalah tinggal janji. Banyak kepala daerah, yang sampai akhir kepemimpinannya, belum memenuhi janji politiknya. Ternyata selain lain di bibir, lain di hati, lain juga di tindakan kesehariannya. Pemimpin daerah semacam itu sebenarnya hanya mengikuti nafsu dan ambisi politiknya. Ketika sudah menerima mandat dari rakyat, mereka seolah punya jurus menghilang. Penyakitnya sama semua yaitu hilang ingatan. 

Oleh sebab itu, dalam Pilkada kali ini, kita tak boleh gampang terkecoh. Jangan sampai terhipnotis calon-calon pemimpin yang memakai 'topeng' berlapis-lapis. Sebab, mereka sebenarnya tidak menjadi dirinya sendiri. Sama sekali tidak otentik. Di sisi lain, kita mendambakan sosok pemimpin yang otentik dengan kepribadian luhurnya. Kita semua mengharapkan kehadiran pemimpin yang visioner, cerdas, jujur, berintegritas, dan bersedia melayani rakyat dengan sepenuh hati. Kita semua tidak ingin pemimpin yang penuh dengan kebohongan dan kepalsuan. Jika sejak awal sudah memanipulasi rakyat, lalu bagaimana ketika sudah jadi pemimpin? Bukankah bisa tambah parah? 

Akhirnya, saya selaku penulis, berharap betul Pilkada kali ini menghasilkan pemimpin-pemimpin daerah yang amanah dan bertanggung jawab. Pemimpin yang dalam hati dan pikirannya bersih. Pemimpin yang bersedia bersusah payah, bahkan lebih mementingkan rakyat dibandingkan diri, keluarga, dan golongannya. Jadi, pilihlah pemimpin sesuai hati nurani kita. Sebab, pemimpin yang terpilih kelak, tidak hanya menentukan nasib kita. Tapi anak cucu kita beberapa tahun mendatang. Sekali lagi, jangan mudah terpengaruh raut wajah dan perangai lembut politisi menjelang Pilkada!

Oleh: Muhammad Aufal Fresky 

Hotel Pohon Inn, Kota Batu

Sabtu, 31 Agustus 2024

06.01 WIB


Sumber ilustrasi: tribunnews.com

Jumat, 30 Agustus 2024

Sekilas Potret Keunikan Hotel Pohon Inn


12 tahun sudah usia hotel yang sedang saya tempati ini. Ya, tepat pada tanggal 2 Mei 2012, H. Eddy Rumpoko, Walikota Batu saat itu, meresmikan 'Hotel Pohon Inn'. Lokasinya yaitu di Jl. Oro-oro Ombo No.9, Kota Wisata Batu. Hotel yang menawarkan nuansa satwa dalam desain interior dan eksteriornya ini, berada di tengah Jatim Park 2. Letaknya juga diapit Museum Satwa dan Batu Secret Zoo. Boleh dibilang lokasinya strategis. Sangat potensial mengundang wisatawan menginap di dalamnya. Bisa menjadi magnet tersendiri bagi para pelancong dari berbagai daerah tentunya.

Daya tarik sebuah destinasi wisata salah satunya yaitu ketersediaan sarana dan prasarana yang memadai. Contohnya hotel dengan fasilitas lengkap dan nyaman untuk dijadikan tempat istirahat atau sekadar untuk melepas penat. Apalagi hotelnya memiliki keunikan dan ciri khas tersendiri. Tentunya akan membuat orang penasaran. Memancing minat dan rasa ingin tahu para traveler dari seluruh penjuru Indonesia, bahkan dunia. Lebih-lebih Hotel Pohon Inn yang lokasinya berdekatan dengan banyak destinasi wisata. Nilai plusnya akan bertambah. Kemudian, perlu digarisbawahi, saya sama sekali tidak ada kaitannya dengan manajemen hotel ini. Artinya catatan ini mengalir saja. Murni apa yang sedang terlintas dalam alam pikiran ini, saya tuliskan. Mungkin ada pertanyaan: "Kok tulisannya promosikan hotel orang? Memangnya dibayar?" 

Baiklah, saya jawab pelan-pelan. Memang catatan ini terkesan sifatnya persuasif. Mempengaruhi orang. Ada kesan mempromosikan usahanya orang. Lalu apa masalahnya? Anggap saja ini adalah sebuah cara saya membantu bisnis sebuah hotel yang saya sendiri tak kenal dengan ownernya. Tak tahu namanya. Tak mengerti darimana asal-usulnya. Artinya secara genetik juga tak ada kaitan. Bukan om, keponakan, sepupu, dua pupu, tiga pupu, apalagi saudara. Mungkin persamaannya yaitu sama-sama turunan Nabi Adam dan Ibu Hawa. Selebihnya, saya belum bisa menarik garis persamaannya. Poinnya adalah tidak ada salahnya saya berkontribusi lewat catatan ini untuk mempromosikan bisnisnya orang.

Tidak ada ruginya juga bagi saya. Saya yakin Tuhan saya melihat dan menilai niatan saya. Lagian, berbuat baik pada orang lain tak perlu memandang latar belakang suku, agama, ideologi, negara, dan sebagainya. Apalagi hanya karena beda partai politik (parpol). Jangan sampai seperti itu. Apalagi hanya persoalan beda pilihan saat pilpres, Pilgub, Pilbup, Pilkades, dan pil-pil yang lainnya. Sekali lagi, jangan sampai hal itu menjadi pertimbangan dalam berbuat kebajikan kepada orang lain.

Saya percaya dan yakin bahwa setiap perkataan dan perbuatan kita tak perna lepas dari penilaian dan pencatatan Malaikat Roqib dan Atid. Termasuk segala hal yang kita tuliskan. Termasuk juga tulisan ini, pasti juga dinilai. Apa niat saya. Untuk apa saya menulis catatan ini. Apakah untuk dipuji-puji? Apakah untuk mendapatkan popularitas? Atau untuk menjadi sosok berpengaruh di tengah masyarakat? Tentu yang tahu hanyalah Allah dan malaikatnya. Kepada Pembaca sekalian, mungkin saja saya bisa mengecoh dan memanipulasi seakan-akan tulisan ini tulus untuk membawa kebermanfaatan untuk orang. Namun, saya sendiri tak mampu dan pasti tidak akan pernah mampu untuk mengelabui Allah dan malaikatnya. Jadi biarlah Allah dan malaikatnya yang menilai niat saya ini.

Kembali lagi terkait Hotel Pohon Inn, saya kira bisa menjadi stimulus yang mampu menggerakkan pariwisata lokal. Khususnya di Kota Batu. Dan jika destinasi wisata di Kota Batu tumbuh dan berkembang, pasti akan menyumbang pendapat asli daerah (PAD) di sektor pariwisata. Hal itu, saya rasa akan membawa dampak yang cukup siginifikan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kota Batu. Sebab, para pelancong hampir dipastikan akan berburu kuliner dan oleh-oleh untuk dibawa pulang. Begitu juga dengan jasa transportasi, khususnya transportasi online, akan semakin hidup. Sebab, tidak semua pelancong membawa motor atau mobil pribadi. Pasti membutuhkan jasa antar jemput untuk riwa-riwi ke tempat wisata. 

Jadi hemat saya, Hotel Pohon Inn telah menciptakan nilai pembeda. Terutama dari segi desain dan lokasi. Semoga menjadi role model bagi hotel-hotel lainnya. Berkompetisi secara sehat menarik perhatian pengunjung. Tentunya dengan mengedepankan kreativitas dan inovasi. Akhirnya, saya hanya bisa berharap agar catatan ini membawa pencerahan. Terutama bagi diri penulis dan pembaca sekalian. Terima kasih.


Oleh: Muhammad Aufal Fresky 


Hotel Pohon Inn, Kota Wisata Batu

Jumat, 30 Agustus 2024

21.15 WIB

Sumber gambar: tiket.com





Minggu, 25 Agustus 2024

Rahasia dan Kiat Sukses ala Merry Riana

Kemarin, Sabtu (24/8/2024), saya janjian berjumpa dengan Gus Fathul (Pengasuh PP. Kanzun Najah, Kota Batu). Kami berdua janjian jam 13.00 WIB di Malang Town Square (Matos). Saya tiba duluan di lokasi. Sembari menunggu Gus Fathul, saya menyaksikan sebuah acara Festival Literasi Perpustakaan Bank Indonesia Malang. Acara tersebut dikemas dalam sebuah Talk Show: Start Strong Finish Stronger. Pematerinya yaitu Merry Riana, seorang entrepreneur, investor, dan juga content creator. Antusiasme hadirin begitu terasa. Saya sendiri menonton dari pinggir sebab memang tidak terdaftar sebagai peserta. 

Dalam acara yang dihadiri ratusan orang tersebut, saya mendapatkan inspirasi dan motivasi bagaimana menjadi pribadi yang tangguh dan pantang menyerah dalam berjuang. Terutama di bidang kewirausahaan yang sedang dibahas oleh Merry. Dia mengungkapkan bahwa ada tiga hal untuk mencapai impian kita. Ada tiga hal untuk meraih kesuksesan hidup. Di antaranya yaitu kemauan, kemampuan, dan kesempatan. Ketiga hal tersebut harus dimiliki oleh setiap pemimpi yang ingin mewujudkan mimpi-mimpinya menjadi sebuah kenyataan. Yang pertama, tentu saja setiap dari kita mesti memiliki kemauan. Harus ada niat yang kokoh untuk mencapai cita-cita kita. Tanpa adanya kemauan atau niat yang kuat, kita tidak akan memiliki dorongan yang kuat untuk melewati setiap tahapan menuju pintu kesuksesan. Selanjutnya yaitu kemampuan. 

Artinya, kita mesti memiliki setidaknya bekal pengetahuan, ilmu, dan kemampuan yang cukup untuk mewujudkan mimpi kita tersebut. Ilmu dan pengetahuan, terutama di bidang kewirausahaan, bisa didapatkan di ruang kelas maupun luar kelas. Kita bisa belajar di mana saja, kapan saja, dan kapan saja. Bahkan, di era digital sekarang, kita bisa mengasah kemampuan atau keterampilan kita lewat media sosial (sosial). Bisa mempelajari ilmu tentang kewirausahaan lewat Youtube, website, e-book, dan semacamnya. Bisa belajar secara daring kepada ahlinya. Menggali ilmu kepada mereka yang telah berpengalaman di dunia usaha. Kemudian yang terakhir yaitu kesempatan. Untuk menuju kesuksesan, kita harus mencari dengan proaktif ruang-ruang yan bisa meningkatkan kapasitas diri kita. Terutama yang menunjang bidang yang kita geluti. Dalam hal ini, memilah dan memilih lingkungan adalah menjadi hal yang penting. Sebab, dengan siapa kita bergaul, itu mempengaruhi gerak langkah kita. Mempengaruhi juga bagaimana kelak masa depan kita. Dari lingkaran pertemanan itulah biasanya akan muncul banyak kesempatan. Akan terbuka lebar peluang-peluang yang sebelumnya mungkin tak terpikirkan. 

Tidak hanya itu, perempuan kelahiran Jakarta, 29 Mei 1980, itu juga berbagi tentang pengalaman hidupnya di masa silam. Dia bercerita bahwa pada tahun 1998 dia memutuskan dengan beberapa pertimbangan untuk melanjutkan studinya di Singapura. Salah satu alasannya yaitu pada saat itu, di Indonesia sedang terjadi kerusuhan. Di mengambil jurusan Electrical and Electronic Engineering atau Teknik Elektro di Universitas Teknologi Nanyang. Selama kuliah, dia tidak hanya fokus pada kegiatan akademik kampusnya. Lebih dari itu, juga berupaya untuk mencari lahan pekerjaan untuk mencukupi kebutuhan hidupnya selama di Singapura. Bahkan, dia mencoba untuk mendapatkan penghasilan mulai dari membagikan brosur di jalan, menjadi pelayan di hotel, dan menjaga toko bunga. 

Dalam proses bekerja dan mengumpulkan pundi-pundi uang tersebut, tidak sedikit yang memandangnya sebelah mata. Bahkan sampai menertawakannya. Namun, hal tersebut tidak membuat nyali dan tekad Merry kendor. Dia terus melangkah mengejar impiannya. Kepada seluruh audiens dia mengingatkan agar jangan pernah gengsi dalam menekuni bidang-bidang yang dipandang remeh oleh orang lain. Jangan pernah  mengecilkan setiap kesempatan yang telah Tuhan berikan kepada kita. Jangan sampai gengsi yang kita miliki sampai menutup pintu rezeki kita. Dia juga menegaskan bahwa untuk mendapatkan sesuatu yang besar tidak harus dimulai dari hal besar. Kemudian, terkait perjalanannya menjadi karyawan dan memulai berwirausaha, Merry juga pernah ditipu dan kerap kali mengalami kerugian. Namun, dia tetap konsisten melaju dan bergerak terus menuju mimpi besarnya. 

Lagi-lagi, kepada kami semua, Merry mengatakan bahwa kami harus berani memulai bermimpi besar. Tapi harus diperhatikan bahwa bukan sekadar bermimpi. Bukan sekadar modal nekad. Namun juga harus dibarengi dengan perencanaan yang matang dan penuh perhitungan tentunya. Memang, hidup itu tidak mudah. Penuh lika-liku. Banyak kesukaran dan rintangan yang menghadang. Tapi jangan jadikan alasan untuk tidak mencoba. Jangan jadikan alasan untuk menyerah. Percayalah, bahwa setiap kerja keras selalu membuahkan hasil. Orang yang bekerja keras akan menghasilkan keberuntungan bagi dirinya sendiri. Hidup itu jangan banyak protes. Tapi harus menjalan proses. Sebab, tantangan hidup semakin lama semakin susah. 

Dalam menjalani hidup, kita juga harus menjaga pikiran agar selalu positif. Sebab, jika pikiran kita negatif, yang ada hanyalah ketakutan, keraguan, dan hilangnya semangat serta kemauan untuk maju. Di sisi lain, dalam memandang segala sesuatu dalam hidup kita, usahakan mencoba memandang dengan sudut pandang yang berbeda. Memiliki persepektif lain. Harapannya dengan sudut pandang yang berbeda itu, kita bisa menjadikan beragam persoalan atau masalah yang mendera hidup kita dengan kacamata positif. Melihat dari sisi lain. Menganggap kegagalan adalah sebagai sebuah tangga menuju kesuksesan. Kegagalan bukan akhir segalanya. Kegagalan adalah proses pematangan diri. Proses pendewasaan diri. Kita bisa belajar banyak hal dari beragam kegagalan yang kita alami. Belajar dari pengalaman jauh lebih berharga dan sangat penting tentunya.

Dalam talk show tersebut, Mery mengungkapkan bahwa dalam mengarungi kehidupan ini harus memiliki tujuan yang jelas. Karena dengan tujuan tersebut, kita bisa tergerak untuk mencapainya. Kita juga harus memiliki motivasi untuk meraih cita-cita besar kita. Baik motivasi interna, yaitu motivasi yang berasal dari dalam diri kita. Maupun motivasi eksternal, yaitu motivasi yang berasal dari luar diri kita. Semisal dari lingkungan kita bergaul ataupun dari buku-buku yang kita baca. 

Begitulah kira-kira, kurang lebih apa yang dituturkan Merry selama acara tersebut. Tentu saja dengan sedikit tambahan dari saya pribadi selaku penulis. Sebab, yang saya sampaikan dalam catatan ini tidak sepenuhnya sama seratus persen dengan apa yang disampaikan Merry. Saya hanya menangkap intisari atau poin-poinnya saja. Kemudian saya olah dan tulis lagi dengan bahasa sendiri. Semoga catatan ini mampu menyalakan api semangat dalam diri kita masing-masing untuk bergerak meniti jalan kesuksesan. Sekali lagi, teruslah belajar, bekerja, dan berkarya dengan istikamah. Jangan pedulikan omongan orang lain. Sebab kata Merry kemarin: Hidup itu Tuhan yang ngasih, kita yang jalani, orang yang komentari. Jadi tetaplah menebar kebaikan, tetaplah berguna bagi sesama. Jadilah pribadi yang senantiasa membawa kesejukan di tengah-tengah masyarakat. Kesuksesan sejati adalah ketika kita mampu menjadi pribadi yang membawa banyak manfaat bagi sebanyak-banyaknya orang. 


Oleh: Muhammad Aufal Fresky


Malang,

Ahad, 25 Agustus 2024

19.18 WIB

Kamis, 15 Agustus 2024

Seuntai Catatan untuk Anakku: Muhammad Arsyad Askara

 


Nak Arsyad, catatan ini dituliskan saat usiamu masih 6 bulan. Jika suatu saat engkau membaca tulisan ini, percayalah ini adalah bentuk kasih sayang ayah kepadamu. Jujur saja, hingga kini, ayah masih beradaptasi mengurus semua keperluanmu. Mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi. Beruntungnya, ayah didampingi ibumu yang luar biasa cekatan. Cukup detail memperhatikan kebutuhanmu. 

Bahkan, ibumu lumayan mampu menafsirkan arti tangisanmu. Entah itu tangisan minta makan bubur, pengen mimik susu, mau digendong, tanda mengantuk, bahkan segala jenis tangisanmu sepertinya mampu dimaknai oleh ibumu. Itu tiada lain tiada bukan saking dekatnya hubungan emosional ibumu dengan dirimu, Nak.

Ikatan batin yang begitu kuat antara ibu dan anak tak perlu dibuktikan dengan ucapan verbal. Dengan melihat reaksi ibumu yang begitu 'gupuh' saat engkau merengek, itu sudah cukup. Tidak selamanya cinta harus diungkapkan dengan kata-kata. Bahasa tubuh kadang lebih kuat dan mantap. Frekuensi dan getaran kasih sayang seorang ibu begitu nyata, Nak. Tanpa engkau minta, dia sudah memberikan segalanya untukmu. Bahkan bertaruh nyawa, ibumu rela betul. Hal itu terbukti saat proses kelahiranmu, Nak. 

Sebelum itu, sembilan bulan lamanya, ibumu tertatih-tatih mengandung. Selama itu pula, pola makan, pola tidur, dan pola aktivitas ibumu, disesuaikan untuk menjaga kesehatan dan keselamatanmu selama di kandungan. Engkau menjadi prioritas utama baginya. Bahkan, dengan tulus hati mengorbankan banyak hal untuk menjagamu di kandungan. 

Nak, ibumu adalah pahlawan bagimu. Jangan sekali-kali engkau menyakiti hatinya. Senyum dan tawamu adalah kebahagiaan tersendiri bagi ibu dan ayahmu. Tak terukur nilainya. Tak bisa diukur dengan rupiah. 

Nak Arsyad, kelahiranmu ke alam dunia adalah takdir Allah SWT. Atas kehendak-Nya, engkau bisa bernafas dan bergerak. Hingga detik ini pula, engkau dengan lincah melakukan aksi telentang, tengkurap, dan berguling. Sampai-sampai jatuh dari atas kasur. Engkau merengek. Ibumu kaget setengah mati. Pikirannya ke mana-mana. Khawatir betul. Perasaannya campur aduk. Over thinking. Memang, kasih sayang seorang ibu kepada anaknya ibarat lautan tak bertepi. Tak ada batasnya. Ingat-ingat akan hal itu, Nak. 

Selanjutnya, izinkan ayah mengutip Al-Qur'an Surah Luqman ayat 14 :  

وَوَصَّيْنَا ٱلْإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُۥ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَٰلُهُۥ فِى عَامَيْنِ أَنِ ٱشْكُرْ لِى وَلِوَٰلِدَيْكَ إِلَىَّ ٱلْمَصِيرُ

Artinya: "Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku lah kembalimu." 

Baiklah, sebelum memungkasi tulisan ini, ayah juga kutipkan hadis nabi yang diambil dari kitab 'At-Tarhib wat Tarhib' karya Al-Mundziri terkait berbakti kepada kedua orangtua:

“Dari sahabat Abdullah bin Mas’ud ra, ia bertanya kepada Rasulullah, ‘Wahai Rasulullah, apakah amal paling utama?’ ‘Shalat pada waktunya,’ jawab Rasul. Ia bertanya lagi, ‘Lalu apa?’ ‘Lalu berbakti kepada kedua orang tua,’ jawabnya. Ia lalu bertanya lagi, ‘Kemudian apa?’ ‘Jihad di jalan Allah,’ jawabnya.” (HR Bukhari dan Muslim).


Oleh: Muhammad Aufal Fresky 


Villa Bukit Tidar, Kota Malang

Kamis, 15 Agustus 2024

20.58 WIB











Featured Post

Pelestarian Batik Madura Butuh Regulasi Terarah

  Sejak beberapa tahun terakhir, saya  bergelut di bidang usaha batik tulis Madura. Selain karena dukungan keluarga, faktor lingkungan juga ...