Senin, 29 Juni 2015

Nikmatnya Berproses di Himpunan Mahasiswa Islam


Oleh : Valiant Mahdi Syihaby Nur Hasyim 
 
            Keputusan orang-orang untuk ikut Latihan Kader 1 HMI dapat dikategorikan menjadi beberapa kategori, yaitu kagum akan sejarah dan perjuangan HMI, salah satu anggota keluarganya HMI, sungkan dengan teman yang merupakan kader HMI, dosen dikampusnya alumni HMI, dan menjadi korban kedok kader HMI. Sejak kecil aku telah mengenal beberapa aktivis HMI yang seringkali sowan ke rumah dan kenal akrab dengan mereka hingga saat ini. Maklum, bapakku pernah aktif di HMI sebagai Ketua Umum HMI Cabang Surabaya Komisariat Ushuluddin dan Ketua Bidang Internal HMI Cabang Surabaya, sedangkan ibuku yang usianya lebih muda lima tahun dari bapakku juga pernah aktif di HMI. Mereka mengajarkanku banyak hal tentang apa yang harus dilakukan seorang aktivis HMI.
            Aku melanjutkan studi di Institut Pertanian Bogor (IPB) dan hal pertama yang kucari adalah HMI. Tak mudah menemukan HMI, apalagi sistem perkuliahan di IPB menuntut mahasiswa tahun pertama untuk menetap di asrama selama setahun penuh dan kakak-kakak senior yang mendampingi mahasiswa-mahasiwa baru IPB ini kebanyakan berafiliasi dengan organ mahasiswa yang didirikan pada tahun 1998 mengunci rapat informasi HMI. Selang beberapa bulan, aku berdiskusi dengan Reza tentang HMI dengan segala keterbatasan informasiku tentang ada atau tidaknya HMI di IPB. Aku mencoba meyakinkannya untuk bergabung dengan HMI dan tiba-tiba ada seseorang yang menyela pembicaraan kami untuk meminjam korek api. Ia juga mendengar obrolan kami tentang HMI. Lalu kami berkenalan dengannya, ia adalah bang Furqon yang saat itu diamanahi sebagai Ketua Umum HMI Cabang Bogor Komisariat Peternakan dan ia menjelaskan banyak hal tentang HMI. Reza yang awalnya tidak tertarik dengan HMI, akhirnya tertarik juga dan bang Furqon janji untuk segera mencari informasi Latihan Kader 1 terdekat.
            Setelah dinyatakan lulus LK1 dan resmi menjadi kader HMI, aku mulai disibukkan banyak agenda mulai dari membiasakan diri membaca buku pergerakan, kajian rutin, menulis, silaturrahim, dan aksi. Senior yang membimbingku enggan berdiskusi denganku jika tidak ada bacaan baru setiap bertemu dengannya. Walaupun hanya tiga bulan sejak dinaikkan status dari anggota muda menjadi anggota biasa, banyak hal yang telah kupelajari dari HMI Cabang Bogor. Kunci utama dalam perkaderan HMI adalah silaturrahim, tiap ada agenda LK1 komisariat-komisariat se-Cabang Bogor, selalu aku sempatkan datang dan berbicara banyak hal dengan pengurus maupun senior komisariatnya.
            Setahun di IPB dengan segala hingar bingarnya telah berakhir. Tiba waktuku untuk berpisah dan mengulang studi di Universitas Airlangga (UNAIR). Sama halnya dengan di IPB, di UNAIR ini hal yang kucari adalah HMI. Beruntung aku kenal baik dengan mas Afi yang menjabat sebagai Ketua Umum HMI Cabang Surabaya, lalu ia memberikanku kontak ketua umum komisariat ekonomi yang saat itu dipimpin oleh mas Didik. Berhubung surat mutasi tak kunjung turun dan Alek yang saat itu sebagai ketua OC LK1 memintaku untuk ikutan lagi LK1 sebagai syarat jadi kader HMI Komisariat Ekonomi walaupun aku pernah ikut LK1 di komisariat kehutanan cabang Bogor.
            Sangat membosankan dan tidak ada hal yang baru kecuali materi teknik persidangan yang baru aku dapatkan di LK1 komisariat Ekonomi Airlangga. Yang menjadi fokus utamaku di LK1 ini adalah betapa kakunya hubungan antara peserta LK1, panitia LK1, pengurus komisariat, dan alumni. Setelah LK1 ini, aku tidak begitu aktif, bagiku tidak ada nilai tambah yang kudapat di komisariat Ekonomi Airlangga dan forum diskusinya terlalu menjemukkan. Sampai akhirnya komisariat memintaku untuk ikut LK2 Cabang Surabaya bersama Himma, Faid, dan Alek menjadi perwakilan komisariat Ekonomi.
            Forum LK2 ini menyadarkanku bahwa di HMI harus haus ilmu dan selalu mencari hal-hal baru untuk diubah kearah yang lebih baik. Apalagi di forum LK2 ini aku intens berdiskusi dengan mas Adhi, yang biasa kupanggil Ketum karena demisioner ketua umum HMI komisariat FISIP Airlangga yang saat ini kuliah S2 di St.John Seminary, Amerika Serikat begitu ahlinya menjelaskan dengan detail filsafat, politik, dan sejarah. Sejak saat itu kuputuskan bahwa kebiasaan-kebiasaan lamaku di Cabang Bogor harus dihidupkan lagi terutama membaca buku dan berdiskusi. Lama sekali aku merindukan forum-forum intelektual seperti ini. Juga disini aku berteman akrab dengan Lukman, Tirta, Hanief, Muas, Fahri, Faqih, Adi, Hafid, Kaji, Mahfud, Fuad, Yayak, dan Ricky.
            Aku begitu bersemangat setelah mengikuti LK2 ini dan sering melakukan protes ke Ketua Umum Komisariat Ekonomi Airlangga karena begitu mundurnya perkembangan HMI sejak ia pimpin. Karena protes-protesku tak ditanggapi, aku melampiaskannya dengan melakukan proses perkaderan diluar komisariat. Ku datangi tiap-tiap komisariat untuk berdiskusi dan bertanya segala macam hal yang tak diajarkan oleh Komisariat Ekonomi. Perlahan aku mulai mengerti tentang politik, hukum, sejarah, dan menambah pengetahuan ke-HMIan. Memang, untuk menebang pohon yang begitu tinggi dan besar diperlukan ketelatenan dalam mengasah pisau. Sebagai aktivis HMI kita tidak boleh hanya menunggu apa yang disajikan komisariat, tetapi juga harus mau memasak untuk memenuhi rasa lapar dan dahaga akan ilmu.
            Jika HMI dianalogikan sebagai lahan luas yang kosong, maka HMI adalah lahan luas yang siap diisi apa saja sesuai kehendak kita. Bahan-bahan yang dibutuhkan juga lengkap tersedia, hanya saja apakah kita mau melakukannya atau tidak semua dikembalikan ke kita. Jumlah follower twitter @HMIAirlangga dalam dua pekan meningkat dari 200-an follower menjadi 800-an follower memantik ide konyolku dan fahri kader HMI Komisariat FISIP Airlangga yang sama-sama bertugas sebagai admin twitter untuk mengadakan Masa Perkenalan Calon Anggota (MAPERCA) komisariat-komisariat dilingkup Koordinator Komisariat Airlangga. Temanya sangat sederhana, hanya untuk mengakrabkan kader HMI dan memperkenalkan Maba dengan HMI dengan mengundang Mbak Intan yang baru saja berhasil meraih predikat lulusan terbaik dari FEB dan mas Arya dosen FIB UNAIR. Dengan segala kekurangannya, akhirnya acara terselenggara dengan baik tanpa kekisruhan dan menunjukkan bahwa HMI besar karena berjamaah. Semua bisa bersatu asalkan menanggalkan ego pribadi dan dampak positif yang dirasakan adalah pada kepengurusan komisariat-komisariat dilingkup koordinator komisariat angkatan 2011 yang akrab sedari awal di HMI hingga diamanahi sebagai presidium komisariat.
            Selepas demisioner pengurus komisariat, ada beberapa opsi untuk melanjutkan jenjang perkaderan di HMI, yaitu lanjut sebagai pengurus komisariat, kandidat ketua umum korkom Airlangga, dan pengurus Cabang Surabaya. Akhirnya telah kuputuskan untuk melanjutkan jenjang perkaderan sebagai pengurus HMI Cabang Surabaya sebagai Departemen Perintisan Perguruan Tinggi Excellent yang berada dibawah bidang PTKP. Semakin tinggi pohon, maka semakin kencang pula anginnya, hal ini yang aku rasakan selama menjadi pengurus HMI Cabang Surabaya. Hingga aku dinasehati oleh mas Muslim bahwa di HMI ini kita belajar perilaku. Harus belajar berkompromi, sesekali mengalah, menahan ego, dan semua orang tidak dapat kita perlakukan dengan sama. Rasa sebalku dengan beberapa pengurus Cabang Surabaya harus diredam dan tidak semua harus diutarakan. Pelajaran ini yang telah aku lewatkan setelah empat tahun lebih di HMI, aku mulai berlatih untuk memahami setiap  perilaku orang dan banyak bersabar. Perlahan mulai kurasakan adanya perubahan positif.
            Aku belajar memberontak karena tak tahan dengan stagnasi HMI ditingkat komisariat. Aku belajar membaca agar tidak dibodohi orang. Aku belajar berdiskusi untuk menumbuhkan ide-ide dan pengetahuan baru. Aku belajar menulis karena waktu sangat terbatas jika menyuarakan ide kesetiap orang. Inilah nikmatnya berkader di HMI.

   Penulis : Valiant Mahdi ( Mahasiswa S1 Manajemen UNAIR/ Kader HmI )

Jumat, 26 Juni 2015

HmI Komek Airlangga, Revolusimu Belum Selesai


Oleh : Muhammad Aufal Fresky

Organisasi kemahasiswaan selalu menjadi bahan yang menarik untuk dicatat. Baik itu organisasi kemahasiswaan internal kampus seperti BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa), BLM (Badan Legeslatif Mahasiswa), HIMA (Himpunan Mahasiswa) jurusan, LPM (Lembaga Pers Mahasiswa) dan sebagainya, ataupun organisasi yang eksternal kampus seperti HmI (Himpunan mahasiswa Islam), GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia), PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) dan lain sebagainya. Semua memberikan warna dan dinamika tersendiri dalam dunia kemahasiswaan. Fokus penulisan saya kali ini yaitu terkait organisasi mahasiswa eksternal kampus bernama HmI, khususnya HmI Komisariat Ekonomi (Komek) Airlangga tepat saya berproses.
Sejak semester tiga, saya mulai masuk resmi menjadi anggota HmI melalui proses yang bernama LK 1 (Latihan Kaderisasi 1). Waktu terus berjalan, dan saya berkesempatan untuk mencicipi dinamika yang ada di dalamya. Banyak hal yang telah diberikan HmI, utamanya Komisariat Ekonomi Airlangga. Seiring berjalannya waktu, saya tidak lagi menjadi pengamat dan pemerhati organisasi tersebut, namun terjun langsung untuk berproses. Saya juga berkesempatan untuk menjadi pengurus. Dari pengalaman yang telah lalu, HmI telah menjadi warna tersendiri dalam kehidupan saya. Organisasi ini membuka cakrawala berfikir serta memperluas pandangan saya. Organisasi ini juga mengajarkan kepada saya untuk bertanggung jawab serta mengelola waktu dengan baik. Selain itu, HmI benar-benar merombak cara fikir yang selama ini saya anggap masih kekanak-kanakan. Secara perlahan, kedewasaan berfikit, berkata dan bersikap mulai saya dapatkan di organisasi ini. HmI telah menjadi pemicu yang menumbuhkan spirit membaca, menulis dan berdiskusi dalam diri saya. Organisasi tersebut memberikan kesempatan kepada saya untuk berlatih menjadi pribadi yang matang. Oleh karenanya setiap dinamika yang ada di dalamnya, saya anggap sebagai sebuah proses. Saya rasa HmI telah berhasil membentuk jiwa dan kepribadian seseorang, termasuk saya. Walaupun tidak sepenuhnya berasal dari HmI, namun anggapan saya, HmI mengambil bagian dalam hal tersebut. Sungguh, saya belajar banyak dari organisasi tersebut. Itu adalah sedikit potret pengalaman selama ada di HmI.
Lantas bagaimana dengan HmI Komisariat Ekonomi Airlangga sekarang. Apakah semua anggota maupun pengurus yang ada telah merasakan hal yang sama seperti apa yang saya dapatkan. Saya rasa tidak semua berfikiran begitu. Karena dalam realitasnya, setiap kepengurusan memiliki dinamikanya sendiri. Oleh karenanya untuk memunculkan benih-benih semangat dan gairah baru, saya beri judul tulisan ini Hmi Komek Airlangga , Revolusimu Belum Selesai. Mungkin kawan-kawan bertanya, mengapa saya mencantumkan kata “Revolusi” bukan “Reformasi” ataupun kata lainnya. Ini hanya penamaan judul, dan memang faktanya keadaan di organisasi tersebut perlu untuk direvolusi. Revolusi di sini tidak mengandung maksud mengganti Susunan dan skema presidium yang ada. Kata-kata revolusi yang saya maksudkan lebih pada sikap, watak, kebiasaan serta karakter setiap kader. Sebenaranya tulisan ini tidak bermaksud menggurui dengan kata-kata manis nan halus. Namun lebih pada bagaiamana catatan ini menjadi media untuk menyadarkan dan membangunkan setiap kader agar benar-benar menjadi aktivis muslim yang progresif revolusioner.
Sedari kepemimpinan Aim hingga Mukaffi, saya mengamati kinerja dan sepak terjang organisasi ini. Hasilnya, belum ada perubahan yang cukup signifikan dalam memberikan warna dan arah baru. Artinya budaya yang ditinggalkan oleh senior-senior mulai ditinggalkan bahkan terkikits. Dengan dalih ada UAS, kajian dan diskusi seakan menjadi barang antik yang harus ditaruk di museum untuk sementara. Seakan-akan keunggulan akademis adalah segalanya. Oleh sebab itulah saya mulai menulis catatan ini, karena mungkin kita belum sadar bahwa yang namanya ilmu dan pengetahuan itu bisa didapatkan dimana saja, kapan saja, dan dari siapa saja. Bukankah diskusi dan kajian adalah sebuah proses untuk membentuk perangai dan mengasah soft skill para kader. Seorang aktivis adalah orang yang mampu mengatur dan mengelola waktu dengan baik. Termasuk waktu untuk belajar dan berorganisasi. Buat apa masuk HmI, jika hanya duduk diam dan tidak mendapatkan apapun. Buat apa berkader jika enggan untuk berproses. Kita harus berbenah dan bergerak, karena waktu tidak akan pernah berhenti berputar. Sekali lagi. HmI Komek Airlangga, inilah tiba saatnya untuk membuang mindset keliru yang selama ini kita anut.
Mengamati kepengurusan sekarang, geli rasanya untuk diungkap. Karena bagaimanapun juga mereka terbentuk atas pola pengkaderan yang ada. Termasuk semua yang telah ditinggalkan oleh senior di atas mereka. Di balik itu semua, ada  tanggung jawab dan beban moral yang menjadi tanggungan kepengurusan sebelumnya. Para senior tidak boleh begitu saja melepas dan mengabaikan kepengurusan sekarang. Para senior, termasuk saya, harus membimbing adik-adik yang ada di HmI. Untuk yang adik-adik angkatan, mereka juga harus menikmati proses sebaik mungkin, jangan selalu berkaca dan meniru kepada angkatan atas. Lebih-lebih saling menyalahkan setiap angkatan kepengurusan, sungguh hal itu sangat tidak saya harapkan. Inilah momentum yang tepat untuk merombak mentalitas kita dari seorang aktivis yang apatis menjadi aktivis yang progresif.
Mukaffi selaku leader,  sepertinya perlu untuk menampakkan ketegasannya kepada semua presidium serta para anggota Komisariat. Semua pengurus dan anggota juga perlu untuk memberikan dukungan kepada Mukaffi untuk mengarungi bahtera kepengurusan tahun ini. Jadi semua yang terjadi menjadi tanggungan bersama, biarlah kita melebur dalam duka lara bersama. Karena ini adalah proses yang pastinya akan kita kenang. Perbaiki pola komunikasi antar presidium, karena itu akan menentukan jalannya pengkaderan dan aktivitas yang ada di komisariat. Selain itu perlu koordinasi antar kepada bidang dengan para anggotanya. Harus ada hubungan yang erat antar pengurus dan anggota. Karena sejatinya hubungan tersebut akan membentuk ikatan persaudaraan yang erat. Dengan begitu diharapakan secara perlahan, semua akan mengerti terkait keadaan dan kondisi yang ada di Komisariat. Semua akan merasa memilki komisariat. Sungguh kondisi yang ideal, jika jiwa para kader sudah mulai terikat dengan HmI, saya rasa kepekaaan untuk berproses tidak perlu selalu diingatkan, para kader akan memilki inisiatif sendiri untuk berbenah dan berproses.
Sekali lagi, dibutukan kerjasama dan solidaritas yang kuat antar presidium sekarang. Selaku pengurus, mereka mempunyai tanggung jawab yang besar untuk menentukan arah dan pola pengkaderan. Hal tersebut bisa dilihat dengan berbagai program dan agenda yang selama ini telah berjalan. Melakukan koreksi dan evaluasi menjadi sebuah keharusan bagi setiap kader. Sayang sekali jika wadah yang telah tersedia diabaikan begitu saja. Padahal di luar sana masyarakat menantikan kehadiran sosok Pemimpin Muda.
Selain itu catatan lainnya adalah, kebanyakan kader yang ada dan hadir selama ini hanya itu-itu saja. Saya tidak tahu, yang lainnya sibuk apa dan pergi kemana. Tidak sempatkah bagi mereka  untuk menyempatkan diri kurang lebih dua jam  hadir dan berproses di komisariat. Sesibuk-sibuknya orang, pastinya ada waktu jika hanya kurang lebih dua jam untuk berproses. Hal yang menjadi titik permasalahan bukan pada ada tidaknya waktu, namun lebih pada ada tidaknya niat dan keinginan untuk berkader, belajar dan berproses.
Mari kita bangun jiwa kepemimpinan melalui segala proses yang telah komisariat sediakan. Sikap dan pandangan kita terkait segala sesuatu bisa diperbaiki dan diperluas melalui jalannya kajian dan diskusi. Ubahlah segala kebiasaan untuk tidak peduli terhadap organisasi kita. Karena saya rasa orang yang tidak mempunyai sedikit kepedulian kepada organiasinya, maka bisa saya sebut “Aktivis Tak Tau Diri”, bahkan kata “Aktivis” tidak cocok bagi mereka, lebih tepatnya mereka menyandang kata “Pecundang”.
Sepertinya revolusi mental Jokowi cocok sekali jika diterapkan di Komisariat. Karena selamana ini banyak berkeliaran makhluk-makhluk yang pragmatis dan datang jika hanya ada maunya. Sugguh picik aktivis yang mempunyai watak seperti itu. Mengubah kebiasaan dan watak seseorang bukan hal yang mudah seperti segampang membalikkan telapak tangan. Semua juga butuh proses. Mungkin saran yang bisa saya berikan kepada para Presidium dan anggotanya, agar melakukan komunikasi yang intensif. Lakukanlah pendekatan dari hati ke hati, karena tutur kata yang berasal dari hati akan mudah diterima oleh pendengarnya. Untuk sementara, seluruh presidium perlu untuk intropeksi serta menghilangkan egoisme pribadi. Jangan sampai mengutamakan kepentingan diri sendiri, sementara kader yang lainnya menjadi korban dari sifat egois tersebut. Untuk mengakhiri tulisan saya katakan, “Berjalanlah terus kawan-kawan, revolusi kita belumlah usai, setiap perjuangan memerlukan pengorbanan. Sabar dan tabahlah dalam menghadapi setiap badai yang menghadang. InsyaAllah semua yang kita lakukan, akan kembali kepada kita. Yakinlah tidak ada hasil yang menghianati proses.”

Surabaya, 24 Juni 2015

Penulis : Muhammad Aufal Fresky (Kader HmI Komis Ekonomi Airlangga)






Jumat, 19 Juni 2015

Marhaban Ya Ramadhan


Oleh : Muhammad Aufal Fresky

Dengan ucapan Alhamdulilah, saya awali catatan ini. Bersyukur atas kesempatan yang telah Allah anugerahkan kepada saya untuk kembali berjumpa dengan bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah dan ampunan. Nikmat waktu dan kesehatan yang telah Allah berikan menyebabkan saya dan teman-teman muslim lainnya bisa menjalankan ibadah puasa di tahun 2015 ini. Semoga kita sebagai umat Islam benar-benar menjalkan ibadah puasa dengan niat ikhlas mengharap Ridha Allah.
Bulan Ramadhan adalah waktu yang tepat bukan hanya untuk menahan nafsu makan dan minum, lebih dari itu adalah sebuah momentum untuk memperbaiki kuallitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah. Selain itu, di bulan ini pula kita bisa berlomba-lomba untuk mengerjakan amal sholeh dan perbuatan kebajikan lainnya, hal tersebut sebagai sebuah bekal nanti ketika kita meninggal dunia. Alasan lainnya adalah karena di bulan ini pula, amal yang kta ketjakan mendapat ganjaran yang berlipat dari Gusti Allah.
Di hari pertama awal puasa ini, gegap gempita Ramadhan mulai dirasakan di berbagai penjuru di tanah air. Mulai dari mereka yang tinggal di perkotaan besar, hingga mereka yang mendiami pelosok-pelosok pedesaan juga merasakan kehadiran bulan suci Ramadhan. Semoga sambutan kita terhadap bulan Ramadhan sebanding dengan konsistensi kita dalam beribadah dan beramal selama bulan Ramadhan, dan bulan-bulan setelah Ramadhan.
Tadi malam, saya kebetulan saya mmengawali ibadah tarawih di salah satu masjid daerah Rungkut. Setelah sholat tarawih berjamaah, sang imam sempat memberikan kultum atau semacam kajian. Saya mendengarkan dengan seksama, karena saya ingin menuliskan ilmu dan pengetahuan yang di sampaikan sang penceramah tersebut menjadi sebuah catataan dakwah. Hal yang pertama disampaikan oleh beliau (penceramah) adalah terkait rukun puasa. Beliau mempertegas bahwa rukun puasa ada dua, yaitu antara lain niat dan tidak melakukan hal-hal yang menyebabkan batalnya puasa. Niat di sini letaknya dalam hati, bisa juga diperlengkap dengan ucapan dalam lisan. Niat wajib dilaksanakan sebelum kita menjalankan ibadah, karena itu merupakan salah satu rukun puasa.
Selanjutnya rukun puasa yang kedua adalah tidak melakukan hal/ perbuatan yang bisa menyebaban batalnya puasa. Beliau menjelaskan bahwa ada sembilan hal yang menyebaban batalnya puasa. Yaitu antara lain; a) Makan dengan sengaja, b) minum dengan sengaja c) muntah dengan sengaja, d) haid, e) nifas, f) mengeluarkan sperma dengan sengaja, semisal melihat foto/ video porno yang menyebabkan keluarnya sperma, g) niat hendak membatalkan puasa, maka pada saat itu pula puasanya batal, h) Melakukan hubungan intim suami istri di waktu siang hari, i) murtad.
Untuk penjelasan lebih lengkapnya, teman-teman bisa bertanya kepada mereka yang  berilmu (Ulama), atau bisa membaca dari lieratur tentang puasa. Karena keterbatasan ilmu yang saya miliki, saya tidak bisa menjelaskan semua lebih mendetail. Jadi mohon maaf sebelumnya, itu hanya poin-poin penting yang disampaikan oleh penceramah tersebut.
Selain itu ada lagi beberapa pesan lagi yang disampaikan oleh beliau. Yaitu terkait lima hal yang menyebabkan seorang yang berpuasa tidak mendapatkan pahala/ ganjaran dari ibadah puasanya. Artiya orang tersebut hanya sebatas menahan lapar dan dahaga, namun secara esensial tidak dikatakan sedang berpuasa. Lima hal tersebut yaitu; a) dusta berkata bohong, b) gibah, c) adu domba, d) melihat lawan jenis sehingga menimbulkan syahwat, d) melakukan sumpah palsu. Jadi beliau menghimbau kepada para jamaah agat menghindar untuk melakukan salah satu di antara lima hal tesebut. Karena jika kita melakukannya, maka akan menyebabkan hangus pahala puasa kita, hanya haus dan lapar yang diperoleh. Untuk sekedar menambahkan, bahwa intinya berpuasa tidak hanya menahan nafsu biologis untuk makan dan minum, lebih dari itu adalah menjaga perkataan dan tindakan. Sehingga bisa dikatakan adalah bulan Ramadahan adalah bulan yang tepat untuk kembali menata akhlak dan kepribadian seseorang agar sesuai dengan tuntunan Islam.
Itulah hal-hal yang disampaikan oleh penceramah tersebut. Selanjutnya saya akan menambahkan dengan beberapa uraian terkait bulan Ramadhan ini. Bagaimana seharusnya Umat Islam menjadikan bulan ini sebagai bulan untuk membangun kedekatan dengan Sang Pencipta. Mungkin selama ini kita terlalu sibuk dengan berbagai rutinitas aktivitas keseharian, sehingga melakukan ibadah hanya sekedarnya. Bahkan menjadikan ibadah sholaat lima waktu hanya pelengkap dan pengisi waktu senggang, padahal tujuan penciptaan manusia sendiri adalah untuk beribadah kepada Allah. Maka dari itulah bulan Ramadhan ini adalah saat yang tepat untuk mengevaluasi diri, apakah selama ini kita hanya mementingkan urusan dunia saja, hingga abai terhadap urusan yang jauh lebih abadi lagi yaiu akhirat.
Dalam rubrik “Tajuk Rencana” koran Kompas edisi (Kamis, 18 Juni 2015) dijelaskan pula terkait bulan puasa. Yaitu bahwa di bulan ampunan kita mendapat kesempatan luas untuk berdzikir, mengingat Allah, serta merenungkan makna dan tujuan hidup. Selanjutnya mereka yang berpuasa dengan khusyu`  dan tidak banyak meladani hiruk pikuk dunia akan berkembang mata batinnya. Jadi dapat saya katakan berpuasa adalah salah satu cara untuk membersihan hati dan menjernihkan jiwa.
Seterusnya marilah kita bersama-sama menjalankan ibadah puasa dengan penuh khidmat.  Ayo tingkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita di bulan yang mulia ini. Ambil kesempatan dan momentum ini, karena kesempatan yang berlalu tidak akan pernah bisa terulang lagi. Akhitnya di awal bulan puasa ini, sesuai dengan judul di atas sekaigus untuk mengakhiri tulisan ini, saya ucapkan, “Marhaban Ya Ramadhan”, semoga kita semua menjadi pribadi yang lebih baik lagi daripada sebelumnya.
Surabaya, 18 juni 2015
Penulis : Muhammad Aufal Fresky (Mahasiswa Unair)

Selasa, 16 Juni 2015

Dunia Kampus Tempat Menempa Diri

Oleh : Muhammad Aufal Fresky

Sejak menjadi mahasiswa baru banyak hal yang saya pertanyakan. Semisal tentang esensi terdalam dari proses perkuliahan itu sendiri. Kini usia semakin bertambah, sementara kedewasan befikir dan bersikap belum bisa dipahami dengan sungguh-sungguh. Jika kuliah hanya sebatas proses menambahkan gelar, lantas hendak kita apakan gelar tersebut.
Seusai sholat di masjid Nurza, terkadang saya amati tingginya gedung FEB, melihat gerak-gerik mahasiswa yang berbondong-bondong memasuki kelas. Lantas, muncul pikiran dalam benak saya, apakah kampus ini hanya menjadi pabrik penghasil akademisi. Iya itulah yang mestinya menjadi bahan koreksi dan evaluasi bagi kita semua. Kemana akhir dari semua proses ini akan bermuara. Jangan bertingkah layaknya binatang yang tak ada pikiran, hanya mengikuti arus namun lupa tujuan dari semua yang kita lakukan. Mungkin jika boleh menebak, ada beberapa hal yang dituju oleh mahasiwa semasa perkuliahan. Semisal ada yang berharap ketika lulus mendapatkan kerja yang mapan, bisa melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi lagi sehigga ekspektasi gaji yang diperoleh bisa meningkat searah dengan pendidikan yang diperolehnya, atau ada yang bercita-cita pasca lulus nanti ingin menjadi pebisnis, menjadi pegawai pemerintah dan semacamnya. Saya rasa itu adalah tujuan pasca lulus yang dimiliki oleh mahasiwa di kampus.
Berbicara tentang kuliah, maka pastinya berhubugan dengan proses dan waktu. Lantas apakah proses yang selama ini dijalani, dan waktu yang dikorbankan untuk mengikuti kuliah hanya bertujuan untuk pencapaian materi belaka. Saya rasa jika tujuannya hanya  pencapaia materi dan jabatan, maka akan menyempitkan bahkan menghilangkan esensi dari pendidikan tinggi itu sendiri. Karena pada dasarnya manusia sekolah/ menuntut ilmu tiada lain tiada bukan untuk memperbaiki ucapan dan tindakan manusia itu sendiri. Artinya bangku kuliha pada hakikatnya adalah tempat untuk menempa dan membentuk sikap dan karakter manusia. Karena kepribadian manusia adalah hasil dari proses yang dijalani manusia itu sendiri. Perangai dan akhlak adalah bagian terpenting yang mestinya dikedepankan dari proses pendidikan itu sendiri. Bukan sebaliknya mendorong mahasiwa agar segera lulus dengan waktu yang sesingkat-singkatnya dan bisa menadapatkan kerja layak, namun di sisi lain jiwa dan kepribadiannya belum matang. Sehingga yang terjadi adalah generasi muda di Indonesia mengalami apa yang dinamakan krisis jati diri bahkan degradasi moral.
Harusnya dunia kampus menjadi tempat untu mencetak manusia Indonesia yang mempunyai budi pekerti yang agung. Karena saya berpandangan bahwa akhlak manusia akan mencerminkan kepribadian manusia itu sendiri. Bahka akhlak manusia adalah cerminan dari nilai manusia. Jadi penting kiranya dunia kampus tidak hanya memberikan pendidikan akademis, jauh daripada itu mengedepankan tatanan moral mahasiwa yang ada di dalamnya. Percuma dan sia-sia jika dunia kampus hanya menjadi tempat untuk ajang  memperoleh nilai IPK tinggi namun di sisi lain tidak dijadikan tempat untuk membentuk kepribadian luhur mahasiwa. Membina perilaku mahasiswa bukan hal yang mudah. Atau hanya bisa dengan sebuah slogan saja. Membina karakter lebih sulit daripada membentuk mahasiwa pintar secara akademik. Karena karakter berhubungan dengan jiwa dan kebiasaan mahasiswa di dalamnya.
Sudah sewajarnya dunia kampus kembali berbenah. Utamanya bagi mereka yang diberi amanah sebagai  dosen  yang berhubugan langsung dengan mahasiwa. Kita sebagai mahasiswa perlu dibina mental dan perangainya. Bukan hanya diberi asupan pengetahuan. Karena sejatinya dosen bukan hanya bertindak sebagai pengajar, lebih dari itu mereka adalah pendidik.
Kiranya dosen merasa malu ketika gagal membimbing mahasiswa ke jalan yang benar. Percuma dosen menghasilkan ribuan sarjana pintar namun kosong secara adab dan moral. Adab mahasiwa terhadap dosennya sudah menjadi hal yang aneh di dunia kampus. Padahal itu adalah suatu cara untuk mengharagai dan menghormati seorang yang memberikan ilmu kepada kita. Ini bukan sepenuhnya bukan salah mahasisawa, karena juga maerupakan tanggung jawab dosen untuk memperingati dan mendidik adab mahasiwa. Biarlah dunia kampus berjalan dengan sistemnya, mengacuhkan tatana perilaku luhur bahkan dianggap tidak begitu penting dalam proses perkuliahan. Mahasiswa keluar masuk tanpa izin adalah hal yang biasa. Mungkin teman-teman beranggapan ini tidak terlalu penting untuk dibahas. Tapi lain halnya dengan saya, ini adalah penting, karena menyangkut tata cara bagaimana seorang murid mengharagai dan menghormati gurunya. Mungkin setiap dosesn mempunyai peraturan tersendiri selama proses perkuliahan. Tetapi alangkah lebih baiknya dosen juga memberitahu kepada mahasiwa agar meminta izin sebelum keluar masuk kelas.
Inti dari penulisan artikel ini adalah menghimbau kepada seluruh mahasiswa agar selama kuliah tidak hanya memperhatikan bagaimana memperoleh IPK tinggi , lebih dari itu bagaimana karakter dan kepribadian mereka bisa terbentuk selama kuliah di kampus. Artinya selama kuliah, mahasiwa harus menjadi manusia yang senantias menunjung tinggi nilai-nilai luhur, semisal kejujuran. Selain itu diharapkan setelah lulus nanti, mahasiswa tidak hanya bisa mendapatkan apa yang mereka cita-citakan, lebih dari itu bisa membawa manfaat dan kegunaan bagi masyarakat luas. Sehingga kehidupan mereka akan bermakna bagi diri dan sesamanya.

Penulis : M. Aufal Fresky (Mahasiswa S1 Ekonomi Pembanangunan Unair)




Featured Post

Pelestarian Batik Madura Butuh Regulasi Terarah

  Sejak beberapa tahun terakhir, saya  bergelut di bidang usaha batik tulis Madura. Selain karena dukungan keluarga, faktor lingkungan juga ...