Rabu, 17 Juli 2024

Empat Turis Belanda dan Puluhan Duta Wisata se-Madura Kunjungi ‘Aneka Batik’



Beberapa hari yang lalu, Kampung Batik Klampar, tepatnya Sentra Batik Tulis Madura “ANEKA” kedatangan dua rombongan tamu dua hari berturut-turut. Pertama, pada hari Jumat, (12/7/2024), tamunya berasal dari Belanda. Empat turis dari Negeri Kincir Angin tersebut dibawa oleh salah satu agen travel asal Malang. Sekitar sore menjelang maghrib mereka tiba di Aneka Batik. Kunjungan bule-bule tersebut membuat keyakinan saya semakin mantap bahwa batik memiliki pesona atau daya tarik yang luar biasa di mata internasional. Bukan sekadar produk yang bernilai ekonomi. Lebih dari itu, batik merupakan warisan leluhur bangsa yang mengandung nilai estetik, historis, dan filosofis. Maka tak heran, wisatawan domestik dan mancanegara berbondong-bondong untuk membeli dan memborong batik-batik khas daerah tertentu. 

Di Aneka Batik, mereka tidak hanya mengamati keindahan batik-batik yang terpajang di etalase butik. Mereka juga penasaran bagaimana proses pembuatannya sehingga bisa menjadi sebuah produk jadi. Kami sendiri, dari Aneka Batik, sudah dihubungi pihak agen bahwa bule-bule tersebut ingin merasakan sensasi membuat batik. Akhirnya disepakati, akan ada praktek membatik kilat khusus bule tersebut. Ya, kira-kira kain seukuran sapu tangan. Sembari dipandu tiga pengrajin profesional, bule-bule tersebut nampak kegirangan dan antusias untuk belajar membatik. Pertama, kain-kain yang sudah dibagikan didesain menggunakan pensil. Mereka dibebaskan untuk menggambar apa saja yang ada di benaknya. Menuangkannya dalam kain. Setelah proses mendesain melalui pensil selesai, langkah selanjutnya yaitu menuangkan malam/lilin ke kain tersebut sesuai dengan desainnya. 

Dengan penuh keceriaan, bule-bule tersebut mencoba memegang canting. Satu per satu mulai bisa menuangkannya sampai selesai. Tentu saja sambil diarahkan dan dibantu oleh perajin dari Aneka Batik. Dalam proses belajar tersebut, saya, ayah, dan kedua saudara saya juga turut membantu. Dan yang paling aktif berkomunikasi dengan bule tersebut yaitu Mila, adek saya nomor 4. Kebetulan kemampuannya dalam bercakap menggunakan bahasa Inggris cukup mumpuni. Ringkas cerita, setelah selesai dibatik, mereka mewarnai pola yang masih kosong dengan beragam macam ornament seperti garis-garis arsiran maupun titik-titik sesuai kebutuhan. Kemudian melalui proses nembok atau melakukan blok bagian kain yang tidak ingin terkena warna. Setelah itu kain dicelup menggunakan bahan pewarna yang sudah disiapkan. Selanjutnya, melalui proses pelorodan atau proses menghilangkan atau melepaskan malam pada kain, Dalam proses ini, kain direbus menggunakan air mendidih sampai malam lepas, sehingga dapat memunculkan motif yang telah Digambar. Terakhir, kain-kain tersebut dicuci untuk menghilangkan sisa-sisa malam yang masih menempel. Begitulah kira-kira prosesnya dari awal hingga akhir. Namun, dalam prakteknya, bule-bule tersebut hanya nyobain mendesain, mencanting (membatik), dan mencolet (mewarnai). Untuk proses mewarnai kain, melorod, dan mencuci, dilakukan oleh perajin profesional. Sebab, dalam proses ini cukup membutuhkan keahlian dan pengalaman. Sementara kemaren waktunya juga mepet karena menjelang sholat maghrib. Jadi harus segera dirampungkan. 

Sembari menunggu batik hasil karyanya kering, bule-bule tersebut kami ajak ke dalam butik untuk melihat ragam corak dan motif batik tulis Madura. Dari gestur atau gerak-geriknya, bule-bule tersebut seolah kagum dan menyimpan ketakjuban terhadap mahakarya perajin batik tulis asal Klampar. Apalagi, di butik Aneka banyak batik tulis klasik Madura yang motif-motifnya cukup rumit dan detail. Setelah melihat-lihat, sebagian dari mereka membeli batik tulis khas Aneka Batik. Pastinya buat oleh-oleh ketika pulang ke Belanda. Sebab, Kampung Batik Klampar bukan tujuan akhir perjalanan wisata mereka selama di Indonesia. Ada beberapa destinasi wisata yang akan dikunjungi lagi. Sebelum ke Klampar, bule-bule tersebut sudah mengunjungi Wisata Bukit Jeddih di Bangkalan. Saya pribadi cukup senang dan antusias menyambut turis-turis tersebut. Saya rasa ini adalah saat yang tepat untuk kembali menggencarkan promosi batik tulis Madura, khususnya batik khas Klampar, ke dunia internasional. Saya percaya betul, mereka berempat akan menceritakan tentang batik ke kawan-kawannya di Belanda atau belahan dunia lainnya. Tentu hal tersebut secara tidak langsung bisa mengangkat citra Indonesia, atau Madura secara khusus, di mata internasional. Terlebih di bidang kebudayaan yang memang kita dikenal sebagai bangsa yang memiliki kekayaan budaya yang bernilai seni tinggi. 

Baiklah, kita cukupkan dulu cerita tentang bule-bule Belanda. Kunjungan selanjutnya yaitu dari Duta Wisata Kacong Cebbing se-Madura, pada hari Sabtu (13 Juli 2024). Ini bukan kali pertama saya menerima kunjungan Duta Wisata, Seingat saya, sudah beberapa kali Kacong Cebbing mengunjungi Sentra Batik Aneka. Beda dengan kunjungan turis Belanda, kunjungan Kacong Cebbing ini saya rasa hanya untuk melakukan pengamatan dan pembelajaran (edukasi) selama di Aneka Batik. Kebetulan yang jadi pematerinya adalah saya sendiri. Di hadapan sekitar 40 puluh anak muda yang berasal dari empat kabupaten di Madura itu, saya mulai menjelaskan secara singkat tentang sejarah batik, sejarah masuknya batik ke Pamekasan dan Madura. Termasuk juga bagaimana peran dan kontribusi anak-anak muda dalam melestarikan budaya lokal, khususnya batik Madura. Ini menjadi sharing yang cukup menarik. Tentu saja ada sesi tanya jawab. Setelah cukup panjang lebar saya bercerita tentang batik Madura, saya mempersilakan audien untuk merespon atau bertanya. Ada satu dua yang bertanya. Alhamdulillah, sesi pemberian materi dan tanya jawab berjalan lancar, 

Selain itu, saya perhatikan, beberapa di antara mereka juga melontarkan pertanyaan kepada beberapa pengrajin yang sedang membatik. Singkat cerita, acara kunjungan selesai. Saatnya mendokumentasikan kunjungan, Ya, kami semua foto bersama di dalam butik dan juga di luar butik.

Selaku salah satu satu pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) batik, saya berharap betul, puluhan anak-anak muda ini bisa mengangkat kembali citra Kampung Batik Klampar. Mempromosikan seluas-luas menggunakan beragam platform digital terkait keelokan dan keunikan batik khas Klampar. Mempromosikan juga tentang Kampung Batik Klampar. Setidaknya hal tersebut sebagai wujud kongkret dari pemuda Madura untuk berpartipasi dalam melestarikan budaya lokal. Dan memperkenalkan ke pihak luar terkait ragam motif batik tulis Madura yang penuh dengan nilai sejarah dan filosofi, Setidaknya bisa diposting di akun media sosial (medsos)-nya masing-masing. Atau bisa juga dengan menceritakan kunjungannya ke lingkungan terdekatnya. Sekali lagi, Duta Wisata Kacong Cebbing se-Madura ini adalah aset Madura yang juga memikul tanggung jawab untuk melestarikan budaya dan kesenian lokal. Khususnya batik Madura. Dengan lebih mengenal dan memahami budaya Madura, kita akan lebih bangga dan rasa memilikinya semakin tinggi. Sehingga akan tergerak untuk lebih proaktif mempromosikan ragam budaya Madura, khususnya batik Madura. Potensi Kampung Batik Klampar tidak boleh dibiarkan begitu saja. Tak begitu diurus, tidak begitu diperhatikan. Dan anak-anak muda ini, sudah saatnya bergandengan tangan, bersatu, dan mengambil peran untuk membuat Kampung Batik Klampar semakin dikenal luas. Bahkan memberikan ide-ide baru terkait bagaimana cara atau strategi untuk membuat Kampung Batik Klampar semakin bergeliat dan maju seperti halnya kampung-kampung batik lainnya yang selalu ramai wisatawan. Menunggu pemerintah mengambil sikap dan membuat gebrakan bukan menjadi solusi. Kita sebagai anak muda harus berani untuk menawarkan solusi dan mengambil langkah untuk masa depan Kampung Batik Klampar yang lebih cerah. Gebrakan anak muda dinanti oleh segenap masyarakat. Sebab, di tangan anak muda, masa depan bangsa ini dipertaruhkan. 


Universitas Brawijaya, Kota Malang

Selasa, 16 Juli 2024

11.40 WIB

Oleh: Muhammad Aufal Fresky







Selasa, 09 Juli 2024

Sebuah Obrolan Bergizi dengan Ifan




Selepas bertamu ke kediaman Kak Nailul, kakak sepupu saya, yang baru saja datang haji, saya dan Ifan menuju 'Gazebo Aneka Batik'. Lama sudah saya tak ngobrol santai dengan kawan satu ini. Ifan adalah salah satu kawan dekat saya. Kami berdua sama-sama alumni SMAN 4 Pamekasan. 

Sembari menikmati kopi dan rokok, kami memulai obrolan dengan santai. Tanpa topik khusus. Mengalir begitu saja. Awalnya, kami membahas tentang betapa banyak manusia, yang kadang ingat dan dekat dengan Tuhan ketika sedang sakit atau dilanda musibah. Ketika sedang sedih, galau, atau berduka-cita, baru ingat Tuhan. Ketika senang, bahagia, atau mendapatkan banyak nikmat berupa harta atau semacamnya, semakin lupa, atau bahkan lalai. Seolah-olah nikmat tersebut karena usahanya sendiri. Seakan-akan tidak ada campur tangan Tuhan di situ. Belum lagi menyinggung masalah nikmat waktu luang dan sehat yang mana sebagian dari kita kerap kali lalai untuk mensyukurinya. Baik dengan hati, ucapan, maupun tindakan.

Tidak hanya itu, saya dan Ifan juga membingungkan masalah kedamaian hati. Betapa kedamaian hati tersebut bisa dirasakan ketika kita dekat dengan Tuhan. Bisa melalui zikir ataupun tafakur. Sering merenungi kebesaran Tuhan di alam semesta, maupun yang ada dalam diri kita sendiri. Bukankah setiap detak jantung kita adalah salah satu bukti kuasa-Nya? Hal itu juga menjadi salah satu nikmat luar biasa yang mestinya kita syukuri terus-terusan. Keberadaan kita di alam dunia ini juga mestinya digunakan untuk meningkatkan iman dan takwa kita. Senantiasa mendekatkan diri kepada Allah. Kapan pun dan di mana pun kita berada. Berupa menjadi hamba yang dicintai Allah. Berusaha untuk meningkatkan kecintaan kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW.

Obrolan semakin menarik. Tidak berjalan searah. Sesekali saya menanggapi pernyataan Ifan. Kadang juga bertanya. Begitu juga dengan Ifan, sesekali menanggapi apa yang sampaikan. Kami berupaya untuk tidak saling menang-menangan dalam berargumen. Kebetulan memang belum ada adegan bantah-bantahan. Semua yang disampaikan Ifan, saya menyetujuinya. Bukan karena tidak berani menyangkal. Tapi, memang yang disampaikannya sesuai apa yang saya ketahui dan pahami.

Semisal, tentang perumpamaan hati sebagai raja, akal sebagai jenderal, dan anggota tubuh sebagai prajurit. Idealnya, manusia harus sering mendengarkan suara hatinya. Sebab, suara hati nurani itu condong ke arah kebaikan. Jangan sampai dikendalikan oleh hawa nafsu. Jadikan hati nurani sebagai pengendali gerak-gerik kita. Jika mengikuti hawa nafsu, bisa terjerumus ke lembah kemaksiatan. Melanggar syariat Islam. Semakin menjauh dari Allah. Perindah dan percantik hati kita, maka perangai mulai akan nampak dalam setiap ucapan dan tindakan kita. Jika rajanya baik, maka jenderal dan prajuritnya menjadi baik. Begitu juga sebaliknya. Jadi kuncinya ada di raja. Ada di hati. Salah satu  cara membersihkan hati yaitu dengan memperbanyak zikrullah.

Selain itu, kami juga membahas tentang keutamaan akhlak. Kemuliaan seseorang ada pada akhlaknya yang luhur. Bahkan, Nabi Muhammad SAW diutus ke dunia ini untuk memperbaiki dan menyempurnakan akhlak manusia. Berbicara tentang akhlak, ini ada kaitannya dengan segala sendi kehidupan. Mulai dari hubungan dengan Tuhan, sesama manusia, bahkan dengan hewan dan tumbuhan. Di lingkup keluarga pun juga begitu. Diatur betul bagaimana caranya seorang anak berhubungan dengan kedua orangtuanya. Sebab, di era sekarang, banyak anak-anak yang secara sengaja atau tidak sengaja, berbicara atau berperilaku kurang ajar terhadap bapak ibunya. Alias lancang atau tidak sopan ketika ngobrol dengan ayah ibunya. Merasa lebih pintar. Sok tahu. Atau bahkan nadanya tinggi di depan ayah ibunya. Padahal, sepintar apapun, secerdas apapun, setinggi apapun gelar dan jabatan kita, di hadapan orangtua, harus letakkan semuanya. Kosongkan diri. Dan berbicaralah dengan penuh penghargaan, ketundukan, dan penghormatan. Sebab, begitulah sikap mulia yang harus kita biasakan. Ini juga menjadi peringatan bagi saya dan Ifan. Bukan berarti kami lebih baik dari Anda semua. 

Obrolan semakin menarik. Waktu terasa berjalan cepat. Selanjutnya, Ifan juga menyinggung masalah perbedaan antara percaya dan yakin. Sekilas tampak sama. Tapi ternyata berbeda. Orang yang yakin sudah tentu percaya. Orang yang percaya belum tentu yakin. Gimana maksudnya? Baiklah, saya berikan contoh. Ada orang namanya X. Dia muslim. Dia percaya bahwa Allah mengatur rezeki. Setiap manusia, bahkan seluruh mahluk hidup di muka bumi ini telah dijamin rezekinya. Ada takarannya masing-masing. Sayangnya, X ini selalu khawatir jualannya tidak laku. Ragu dan bingung, apakah dagangannya ada orang beli atau tidak. Kebetulan dia jualan sarung. Selalu diliputi ketakutan tidak mampu memenuhi kebutuhan pokoknya. Padahal dia merasa sudah berusaha dan berdoa secara optimal. Berarti X ini hanya percaya belum yakin terkait masalah rezeki. Kalau keyakinannya kokoh, dia akan tenang-tenang saja. Sebab, merasa betul bahwa rezeki dari Allah dan setiap manusia sudah ada porsinya masing-masing. Dengan begitu hatinya lega. Begitu kira-kira kurang lebihnya, yang saya tangkap dari Ifan terkait perbedaan percaya dan yakin.

Sebenarnya masih ada beberapa bahasan lagi terkait kasyaf dan istidraj. Tapi berhubung kedua mata saya sudah tidak bisa diajak kompromi, catatan ini harus segera diakhiri. Baiklah saya akan akhiri catatan ini dengan kata-kata mutiara yang saya dapatkan dari Ifan. Bunyinya yaitu: 

"Nyareh elmoh panekah gebey abekteh. Benni temasakteh. Nyareh elmoh panekah gebey mabeccek ateh. Benni mageli ateh." 

Artinya: mencari ilmu itu untuk berbakti. Bukan untuk menjadi sakti. Mencari ilmu itu untuk memperbaiki hati. Bukan untuk mengeraskan hati.

Sekali lagi, terima kasih untuk Ifan, atas waktu, ilmu, dan cerita pengalamannya. Semoga obrolan tadi membawa kebaikan untuk kita. Semoga catatan ini juga membawa kebaikan, terutama untuk penulis, dan juga pembaca yang budiman. 


Oleh: Muhammad Aufal Fresky

PP. Al-Ikhlas, Desa Klampar, Kecamatan Proppo, Pamekasan 

Selasa, 9 Juli 2024

23.27 WIB


Featured Post

Pelestarian Batik Madura Butuh Regulasi Terarah

  Sejak beberapa tahun terakhir, saya  bergelut di bidang usaha batik tulis Madura. Selain karena dukungan keluarga, faktor lingkungan juga ...