Selasa, 09 Juli 2024

Sebuah Obrolan Bergizi dengan Ifan




Selepas bertamu ke kediaman Kak Nailul, kakak sepupu saya, yang baru saja datang haji, saya dan Ifan menuju 'Gazebo Aneka Batik'. Lama sudah saya tak ngobrol santai dengan kawan satu ini. Ifan adalah salah satu kawan dekat saya. Kami berdua sama-sama alumni SMAN 4 Pamekasan. 

Sembari menikmati kopi dan rokok, kami memulai obrolan dengan santai. Tanpa topik khusus. Mengalir begitu saja. Awalnya, kami membahas tentang betapa banyak manusia, yang kadang ingat dan dekat dengan Tuhan ketika sedang sakit atau dilanda musibah. Ketika sedang sedih, galau, atau berduka-cita, baru ingat Tuhan. Ketika senang, bahagia, atau mendapatkan banyak nikmat berupa harta atau semacamnya, semakin lupa, atau bahkan lalai. Seolah-olah nikmat tersebut karena usahanya sendiri. Seakan-akan tidak ada campur tangan Tuhan di situ. Belum lagi menyinggung masalah nikmat waktu luang dan sehat yang mana sebagian dari kita kerap kali lalai untuk mensyukurinya. Baik dengan hati, ucapan, maupun tindakan.

Tidak hanya itu, saya dan Ifan juga membingungkan masalah kedamaian hati. Betapa kedamaian hati tersebut bisa dirasakan ketika kita dekat dengan Tuhan. Bisa melalui zikir ataupun tafakur. Sering merenungi kebesaran Tuhan di alam semesta, maupun yang ada dalam diri kita sendiri. Bukankah setiap detak jantung kita adalah salah satu bukti kuasa-Nya? Hal itu juga menjadi salah satu nikmat luar biasa yang mestinya kita syukuri terus-terusan. Keberadaan kita di alam dunia ini juga mestinya digunakan untuk meningkatkan iman dan takwa kita. Senantiasa mendekatkan diri kepada Allah. Kapan pun dan di mana pun kita berada. Berupa menjadi hamba yang dicintai Allah. Berusaha untuk meningkatkan kecintaan kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW.

Obrolan semakin menarik. Tidak berjalan searah. Sesekali saya menanggapi pernyataan Ifan. Kadang juga bertanya. Begitu juga dengan Ifan, sesekali menanggapi apa yang sampaikan. Kami berupaya untuk tidak saling menang-menangan dalam berargumen. Kebetulan memang belum ada adegan bantah-bantahan. Semua yang disampaikan Ifan, saya menyetujuinya. Bukan karena tidak berani menyangkal. Tapi, memang yang disampaikannya sesuai apa yang saya ketahui dan pahami.

Semisal, tentang perumpamaan hati sebagai raja, akal sebagai jenderal, dan anggota tubuh sebagai prajurit. Idealnya, manusia harus sering mendengarkan suara hatinya. Sebab, suara hati nurani itu condong ke arah kebaikan. Jangan sampai dikendalikan oleh hawa nafsu. Jadikan hati nurani sebagai pengendali gerak-gerik kita. Jika mengikuti hawa nafsu, bisa terjerumus ke lembah kemaksiatan. Melanggar syariat Islam. Semakin menjauh dari Allah. Perindah dan percantik hati kita, maka perangai mulai akan nampak dalam setiap ucapan dan tindakan kita. Jika rajanya baik, maka jenderal dan prajuritnya menjadi baik. Begitu juga sebaliknya. Jadi kuncinya ada di raja. Ada di hati. Salah satu  cara membersihkan hati yaitu dengan memperbanyak zikrullah.

Selain itu, kami juga membahas tentang keutamaan akhlak. Kemuliaan seseorang ada pada akhlaknya yang luhur. Bahkan, Nabi Muhammad SAW diutus ke dunia ini untuk memperbaiki dan menyempurnakan akhlak manusia. Berbicara tentang akhlak, ini ada kaitannya dengan segala sendi kehidupan. Mulai dari hubungan dengan Tuhan, sesama manusia, bahkan dengan hewan dan tumbuhan. Di lingkup keluarga pun juga begitu. Diatur betul bagaimana caranya seorang anak berhubungan dengan kedua orangtuanya. Sebab, di era sekarang, banyak anak-anak yang secara sengaja atau tidak sengaja, berbicara atau berperilaku kurang ajar terhadap bapak ibunya. Alias lancang atau tidak sopan ketika ngobrol dengan ayah ibunya. Merasa lebih pintar. Sok tahu. Atau bahkan nadanya tinggi di depan ayah ibunya. Padahal, sepintar apapun, secerdas apapun, setinggi apapun gelar dan jabatan kita, di hadapan orangtua, harus letakkan semuanya. Kosongkan diri. Dan berbicaralah dengan penuh penghargaan, ketundukan, dan penghormatan. Sebab, begitulah sikap mulia yang harus kita biasakan. Ini juga menjadi peringatan bagi saya dan Ifan. Bukan berarti kami lebih baik dari Anda semua. 

Obrolan semakin menarik. Waktu terasa berjalan cepat. Selanjutnya, Ifan juga menyinggung masalah perbedaan antara percaya dan yakin. Sekilas tampak sama. Tapi ternyata berbeda. Orang yang yakin sudah tentu percaya. Orang yang percaya belum tentu yakin. Gimana maksudnya? Baiklah, saya berikan contoh. Ada orang namanya X. Dia muslim. Dia percaya bahwa Allah mengatur rezeki. Setiap manusia, bahkan seluruh mahluk hidup di muka bumi ini telah dijamin rezekinya. Ada takarannya masing-masing. Sayangnya, X ini selalu khawatir jualannya tidak laku. Ragu dan bingung, apakah dagangannya ada orang beli atau tidak. Kebetulan dia jualan sarung. Selalu diliputi ketakutan tidak mampu memenuhi kebutuhan pokoknya. Padahal dia merasa sudah berusaha dan berdoa secara optimal. Berarti X ini hanya percaya belum yakin terkait masalah rezeki. Kalau keyakinannya kokoh, dia akan tenang-tenang saja. Sebab, merasa betul bahwa rezeki dari Allah dan setiap manusia sudah ada porsinya masing-masing. Dengan begitu hatinya lega. Begitu kira-kira kurang lebihnya, yang saya tangkap dari Ifan terkait perbedaan percaya dan yakin.

Sebenarnya masih ada beberapa bahasan lagi terkait kasyaf dan istidraj. Tapi berhubung kedua mata saya sudah tidak bisa diajak kompromi, catatan ini harus segera diakhiri. Baiklah saya akan akhiri catatan ini dengan kata-kata mutiara yang saya dapatkan dari Ifan. Bunyinya yaitu: 

"Nyareh elmoh panekah gebey abekteh. Benni temasakteh. Nyareh elmoh panekah gebey mabeccek ateh. Benni mageli ateh." 

Artinya: mencari ilmu itu untuk berbakti. Bukan untuk menjadi sakti. Mencari ilmu itu untuk memperbaiki hati. Bukan untuk mengeraskan hati.

Sekali lagi, terima kasih untuk Ifan, atas waktu, ilmu, dan cerita pengalamannya. Semoga obrolan tadi membawa kebaikan untuk kita. Semoga catatan ini juga membawa kebaikan, terutama untuk penulis, dan juga pembaca yang budiman. 


Oleh: Muhammad Aufal Fresky

PP. Al-Ikhlas, Desa Klampar, Kecamatan Proppo, Pamekasan 

Selasa, 9 Juli 2024

23.27 WIB


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Featured Post

Pelestarian Batik Madura Butuh Regulasi Terarah

  Sejak beberapa tahun terakhir, saya  bergelut di bidang usaha batik tulis Madura. Selain karena dukungan keluarga, faktor lingkungan juga ...