Sabtu, 31 Desember 2022

Catatan Akhir Tahun 2022: Momentum Instrospeksi Diri

 


Hari ini adalah penghujung tahun 2022. Dalam hitungan jam lagi, kita akan berganti tahun. Sudahkah kita melakukan introspeksi diri? Kembali menengok ke belakang; beragam kesempatan terlewatkan. Kesempatan untuk menimba ilmu, berbagi, bersilaturahmi, dan sebagainya. Tak sadar kita, waktu begitu gesit. Jauh meninggalkan kita. Seolah-olah usia stagnan. Padahal selalu berkurang dalam setiap embusan nafas. Lagi-lagi kita kita terlena. 


Kesempatan untuk beramal dibiarkan begitu saja tanpa penyesalan. Seakan-akan waktu bisa diputar kembali. Seolah-olah hidup di dunia ini abadi. Padahal maut selalu mengintai. Padahal setiap amal akan dipertanggungjawabkan kelak. Nikmat kesehatan dan waktu luang berlalu tanpa arti. Biasanya tersadarkan ketika nikmat tersebut dicabut. Begitulah manusia, kadang lalai untuk bersyukur. Kadang lupa untuk mengingat-Nya. 


Ironinya lagi, ada yang suka berenang di lautan kemaksiatan. Halal dan haram dilabrak. Katanya: nikmatilah usia muda untuk bersenang-senang dan berfoya-foya, ketika tua barulah taubat dan hijrah. Dikiranya dia bisa mengendalikan waktu kematian. Dia menyangka usia mudanya masih lama. Padahal, usia muda itu sebentar saja. Belum tentu juga bisa sampai usia tua. Sebab malaikat maut tak memandang tua atau muda. Jika tiba saatnya, maka dicabutlah nyawa manusia. Tak ada kompromi. Tak ada sogok menyogok. Malaikat maut hanya menjalankan tugas-Nya. Dia patuh 100 persen terhadap perintah Allah SWT. 


Lalu, kenapa sebagian dari kita masih berjalan di atas muka bumi ini dengan membusungkan dada. Melangkah dengan penuh keangkuhan. Memandang sebelah mata manusia lainnya. Mentang-mentang berkuasa, bertindak sesuka hati. Mentang-mentang pintar dan cerdas, dia meremehkan mereka yang tak mengenyam pendidikan. Mentang-mentang bergelimang harta, dia berbuat seenaknya kepada si miskin di sekelilingnya. 


Duh, manusia memang tak pernah luput dari kelalaian. Hanya saja, ada yang sengaja tak beranjak sebab menikmatinya. Tak merasa bersalah sebab ingin bertaubat beberapa tahun lagi. Lucu. Seakan-akan dia bisa meneropong usianya bakal panjang. Padahal, masalah kematian adalah rahasia Tuhan. Tak ada yang tahu. Dia menyangka bisa menahan tugas malaikat maut. Ada-ada saja memang.


Sepertinya kita harus kembali merenung. Bahwa semua yang kita miliki: ilmu, jabatan, anak, istri, kesehatan, mobil, rumah, emas, uang, dan sebagainya adalah adalah titipan. Tidak ada yang bisa dan perlu dibanggakan. Sebab, kapan pun titipan itu bisa diambil. Artinya kita bukanlah pemilik yang sebenarnya. Sebab itu, jangan pernah merasa memiliki atas semua yang ada pada diri kita.


Sebelum berganti tahun, melalui catatan ringkas ini, saya mengajak Anda semua untuk kembali instrospeksi diri. Sudah berapa banyak waktu yang terlewatkan dengan sia-sia? Seberapa sering kita melabrak berbagai larangan-Nya? Seberapa sering kita menyepelekan perintah-perintah-Nya? Apakah kita sudah benar-benar bertaubat? Bagaimana akhlak kita kepada sesama manusia? Apakah sudah menghormati guru dan orangtua? Dan masih banyak lagi pertanyaan yang bisa kita lontarkan terhadap diri sendiri dalam rangka muhasabah.


Mari kita menghisab diri sendiri sebelum semuanya terlambat. Menghitung segala kesalahan yang telah diperbuat. Hal itu sebagai langkah untuk membenahi diri. Di penghujung tahun 2022 ini, mari kita bangun spirit perbaikan. Menjadi pribadi yang lebih bertakwa secara zahir dan batin. Takwa yang sebenar-benarnya takwa. Ayo, kita berupaya untuk istikamah di jalan kebaikan. Di jalan yang diridhai Allah. Sekarang adalah waktunya. Tunggu apa lagi. Yuk, berlomba-lomba berbuat kebajikan. Berlomba-lomba dalam mencegah kemaksiatan. Semoga di tahun 2023 nanti dan seterusnya, kita menjadi pribadi yang lebih baik dan bermanfaat bagi sebanyak-banyaknya orang. Amin.



Surabaya,


Sabtu, 31 Desember 2022

08.10 WIB


Sumber gambar:

 https://images.app.goo.gl/w3T1Su4zPnBcsMhJ6



Penulis: Muhammad Aufal Fresky 





Dunia sebagai Ladang Beramal

 



Kemarin, saya sholat Jumat di Masjid Ainul Yakin, Universitas Islam Malang (Unisma). Menarik sekali khotbah Jumat yang disampaikan khatib. Dia menerangkan tentang betapa banyak limpahan nikmat yang telah Allah SWT berikan kepada kita. Sehingga, kita mesti bersyukur sepanjang waktu kepada Allah. 


Selain itu, memasuki penghujung tahun 2022, sang khatib mengimbau dan mengingatkan jemaah sholat Jumat untuk muhasabah atau instrospeksi diri atas segala kesalahan, kekhilafan, dan kelalaian sepanjang tahun 2022. Mengevaluasi diri agar menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Sebab, sebagian dari manusia senangnya mengoreksi kesalahan orang lain dibandingkan kesalahan diri sendiri.


Selanjutnya, sang khatib juga mengatakan bahwa setiap amal kebaikan di dunia, sekecil apapun pasti akan dibalas oleh Allah. Begitu juga dengan keburukan yang kita lakukan pasti akan mendapatkan pembalasan di hari Akhirat nanti. Maka dari itu, setiap manusia harus menjadikan dunia sebagai ladang untuk beramal. Buka justru sebagai tujuan utama hidup. Sebab, hidup pada dasarnya adalah pengembaraan alias perjalanan. Finish-nya di hari Akhirat nanti. Masih banyak tahapan yang akan kita lalui. 


Kesalahan terbesar sebagian dari kita adalah menjalani hidup seolah-olah kekal selamanya. Seakan-akan tidak akan menjumpai yang namanya kematian. Padahal dunia ini fana. Kita hidup di dunia hanya sebentar saja. Sebab itu, bekal terbaik menuju alam akhirat yaitu dengan memperbanyak berbuat amal kebaikan.


Salah satu upaya yang bisa kita lakukan untuk mempersiapkan diri yaitu dengan menggunakan waktu secara optimal untuk ibadah. Untuk mengabdi kepada Sang Pencipta. Artinya, orientasi hidup kita adalah akhirat. Prioritas hidup kita adalah bagaimana meraih Ridha Allah. 


Begitulah kira-kira kurang lebihnya yang bisa saya tangkap dari khutbah Jumat kemarin. Semoga bermanfaat. Amin 



Malang,

Sabtu, 31 Desember 2022

05.11


Oleh: Muhammad Aufal Fresky 

Kamis, 29 Desember 2022

Menulis untuk Mencerahkan Masyarakat

 

Beberapa tahun silam, saat saya menempuh studi S1 di Universitas Airlangga, menulis seolah menjadi aktivitas yang tidak terpisahkan dalam keseharian saya. Entah itu menulis artikel populer atau hanya sekadar untuk mengisi catatan harian. Entah kenapa, menulis semacam menjadi aktivitas yang begitu menyita perhatian saya. Ada kepuasan tersendiri manakala tulisan sudah rampung. 


Memang saat itu sedang gencar-gencarnya berupaya menggali passion dalam diri saya. Sekaligus meneguhkan identitas saya sebagai penulis. Ya, saat itu, saya sedang mencari ketenaran dan jati diri lewat menulis. Popularitas dan pengakuan sosial seakan-akan menjadi acuan dalam berkarya.


Tak ayal, ketika karya saya tidak dimuat di media massa, seolah ada kekecewaan. Sebab, tak ada sesuatu yang bisa saya pamerkan ke teman-teman. Padahal, untuk mempublikasikan tulisan di zaman sekarang tidak harus lewat media mainstream. Hal itu menjadi beban pikiran saya bagaimana menembus media massa. Berkali-kali saya menulis artikel dan dikirimkan ke alamat email redaksi media, dan berkali-kali pula penolakan itu saya terima. Apakah saya kecewa? Tentu saja. Apa saya menyerah? Ya saya sempat menyerah, tapi tak berlangsung lama. Sebab, saat itu saya bertekad untuk menembus media massa.


Ternyata upaya demi upaya berbuah manis. Tulisan saya berhasil menembus meja redaksi harian Radar Surabaya. Saat itu, tulisan saya dimuat di rubrik 'Horizon' dengan judul 'Mahasiswa, Politik, dan Peradaban'. Sungguh lega dan senang hati saya saat itu. Saya mendapatkan apresiasi dari orang-orang di sekitar saya. Namun, pujian itu tidak berlangsung lama. Sementara saya merasa ketagihan untuk terus menulis dan menembus media.


Saya sadar betul, saat itu yang saya cari adalah popularitas dan validasi dari orang lain. Padahal pujian dari orang lain bisa membuat terlena dan menjadikan diri seolah-olah paling cerdas dan hebat dibandingkan yang lainnya. Padahal baru satu tulisan yang tembus. Itupun masih di media lokal. Artinya, saya selalu mengingatkan diri saya sendiri agar tidak jumawa dan merasa puas atas pencapaian itu. Sebab, proses dan perjalanan untuk menjadi penulis hebat masih panjang.


Memang, setiap penulis memiliki motif yang beragam dalam berkarya. Ada yang ingin terkenal, mendapatkan honor, dan naik jabatan Motif semacam itu sah-sah saja. Namun, saya rasa motif tersebut sebenarnya bersifat temporal. Tidak selamanya tulisan kita terus-terusan dimuat di media massa. Bagaimana mengatasi hal itu jika tujuannya tidak tercapai? Itu kembali ke kita. Apakah masih menulis atau berhenti?


Selain itu, ada juga yang menulis murni untuk mengedukasi dan mencerahkan masyarakat. Dia tidak peduli diakui atau tidak, mendapatkan honor atau tidak, naik jabatan atau tidak. Baginya yang terpenting adalah menyebarluaskan tulisannya untuk membangun bangsa dan negara. Tidak harus lewat media massa. Bagi orang semacam itu, biasanya tidak dipengaruhi faktor-faktor eksternal dalam menulis. Dia akan selalu berkarya dalam segala kondisi. Meskipun kadang harus menerima hujatan yang bertubi-tubi. Dia akan bangkit dan terus menulis.


Sebab, menulis baginya adalah panggilan jiwa. Dia menulis untuk berbagi. Semoga saya dan Anda semua bisa menjadi penulis yang memiliki karakter semacam itu. Artinya selalu fokus menghasilkan tulisan-tulisan yang bermanfaat bagi orang lain. Akhir kata, saya berharap melalui tulisan ini, ada sesuatu yang bisa diambil. Setidaknya bisa lebih mengerti bahwa menulis untuk memotivasi dan menginspirasi orang lain akan menjadikan kita lebih lega dan bahagia. Sebab, kebahagiaan hati itu tidak berkaitan dengan popularitas dan materi. Membahagiakan orang lain lewat tulisan juga bisa membuat kita bahagia. Teruslah menulis untuk mencerahkan publik!



Universitas Islam Malang (Unisma),

Kamis, 29 Desember 2022

11.06 WIB


Oleh: Muhammad Aufal Fresky 


Ikhtiar Menjaga Konsistensi Menulis

 Lama sudah saya tidak memposting tulisan di fresky93.blogspot.com. Entah kenapa, tiba-tiba rasa malas dan kebiasaan menunda itu kerap kali menghinggapi. Padahal, niat awal saya membuat blog yaitu untuk melatih kemampuan menulis dan menjaga konsistensi dalam menulis. Menulis apa saja. Tidak harus yang bersifat teoritis atau tulisan ilmiah.


Saya akui, menunda dan malas adalah dua kebiasaan yang menjadi ancaman nyata bagi setiap penulis. Kenapa? Karena jika kedua kebiasaan itu terus dilakoni, maka produktivitas dalam berkarya akan mandek. Gairah menulis pun perlahan akan menjadi hilang. Untungnya, meskipun saya tidak aktif memposting tulisan di blog, saya tetap sempatkan menulis di beberapa platform. Tapi itu bukan menjadi pembenaran. Sebab, konsisten memposting tulisan di blog itu adalah untuk mendeteksi kedisiplinan diri dalam menulis; sejauh mana berkomitmen untuk menghasilkan tulisan dalam setiap harinya.


Setalah sekian tahun vakum di dunia blogger, melalui tulisan ini saya hendak menyapa Anda semua bahwa saya aktif kembali. Ini juga menjadi salah satu wujud membangun kembali komitmen menulis di blog yang mulai tergerus oleh berbagai kesibukan (atau sok sibuk?). Rasa-rasanya setiap orang pasti memiliki kesibukan. Pun demikian dengan saya. Namun, hal itu bukanlah alasan apalagi pembenaran untuk konsisten menulis. Apalagi yang memiliki tekad untuk menjadi penulis hebat dan produktif. 


Mana ada penulis hebat yang lahir dengan instan. Semuanya membutuhkan waktu dan proses. Butuh perjuangan, pengorbanan, konsistensi, dan spirit pantang menyerah. Sama halnya ketika hendak mendapatkan mutiara di dasar laut kita harus berani menyelam dan berenang untuk mencari dan menemukannnya. Begitu juga dengan orang yang ingin menjadi penulis dan menghasilkan karya yang hebat, dia harus menulis dan terus menulis. Memprioritaskan aktivitas menulis dalam kesehariannya. Tidak harus menunggu datangnya momentum atau inspirasi. Inspirasi ataupun ide kadang harus dicari dan digali. Bukan duduk menunggu bola. Tapi berlari menjemput bola. Artinya mesti proaktif mendapatkan ide, lalu mengolahnya. 


Lewat catatan ringkas ini, saya pastikan blog ini aktif kembali. Intinya, siapa saja yang ingin produktif menulis, maka mulailah menulis sekarang juga. Belajar dari pengalaman, bahwa menunda justru membuat kita terlena. Menjadikan waktu terbuang sia-sia. Padahal, waktu adalah harta yang sangat bernilai dalam hidup kita. Sekali pergi, tak akan pernah kembali lagi. Sebab itu, saya mengajak diri saya sendiri dan Anda semua untuk belajar untuk menghargai waktu dengan konsisten berkarya. Sekali lagi, catatan ini menjadi upaya saya menghargai waktu serta menjaga konsistensi dalam menulis.



Universitas Islam Malang (Unisma),

Kamis, 29 Desember 2022

10.20 WIB


Oleh: Muhammad Aufal Fresky 






Featured Post

Pelestarian Batik Madura Butuh Regulasi Terarah

  Sejak beberapa tahun terakhir, saya  bergelut di bidang usaha batik tulis Madura. Selain karena dukungan keluarga, faktor lingkungan juga ...