Oleh : Muhammad Aufal Fresky
Beberapa
waktu yang lalu banyak teman saya yang memposting gambar dan foto tentang salah
satu pulau yang ada di seberang Kabupaten Sumenep. Nama pulau tersebut menjadi semakin
terkenal ketika gambar dan foto-foto mengenai pulau tersebut sering muncul di
berbagai sosial media seperti facebook, twitter, instagram, path dan
semacamnya. Bahkan nama pulau tersebut semakin terangakat ketika sering
diperbincangkan dari mulut ke mulut. Daya tarik dari pulau tersebut sepertinya
memancing perhatian masyarakat untuk mengunjunginya. Baik Masyarakat dari
Madura maupun dari luar Madura. Mungkin pembaca penasaran apa nama pulau
tersebut, dan apa yang ditawarkan di dalamnya. Sama halnya dengan apa yang saya
alami ketika baru mendengar dari cerita Teman bahwa di daerah Madura ada pulau
eksotis dan menarik untuk di datangi. Nama pulau tersebut adalah Gili Labak.
Saya beruntung kemaren tepatnya pada hari Sabtu, 17 Mei 2015 bisa berkunjung ke
pulau terebut. Maklum selama ini saya terkesan “sok” menyibukkan diri sehingga
jarang bisa memanfaatkan waktu untuk
memanjakan diri menyatu dengan alam. Maka dari itulah mulai dari saat
ini hingga seterusnya saya tidak hanya ingin bergelut pada dunia tulis menulis,
lebih dari itu akan menjadi “Penjelajah”.
Mungkin
pembaca juga penasaran, apa maksud dan tujuan saya menulis perjalanan ke Gili
Labak. Sebelumnya perlu dijelaskan kembali, bahwa saya sangat mencintai dunia
tulis menulis, oleh karena itulah setiap ada ide, pemikiran, dan gagasan
tentang segala hal maka saya ingin dan butuh untuk menuliskannya. Selain itu,
ini merupakan ekspresi rasa syukur saya kepada Allah SWT yang telah menakdirkan
saya untuk berkunjung ke Gili Labak. Karena saya percaya manusia hanya bisa
berkehendak dan Allah yang menentukan. Maka tak heran jika kehendak saya telah
lama untuk berkunjung ke Gili Labak baru terealisasi kemaren. Sama halnya
ketika saya bisa berangkat berkunjung ke Tanah Suci sebanyak dua kali, itu
semua adalah kehendak dan ketentuan
Allah. Karena sebelumnya saya tidak pernah berfikir dan menyangka bisa umroh
sebanyak dua kali.
Sekali
lagi saya menulis di sini karena memang niat saya ketika berada di Gili Labak,
saya bertekad bahwa setelah pulang haruslah menjadikan perjalanan ini sebuah
catatan. Sekalian untuk mempromosikan Gili Labak terhadap masyarakat luas. Karena
saya percaya kata-kata juga bisa mempengaruhi pikiran seseorang. Maka dari
itulah semoga pembaca yang belum pernah berkunjung ke sana tertarik untuk
berwisata dan berliburan di sana.
Kali
ini saya akan menceritakan perjalanan menuju ke Gili Labak dan perjalanan
pulang dari sana. Kebetulan saya terpilih menjadi “driver” alias supir bagi teman-teman saya. Konsekuensinya saya
harus menjemput teman-teman saya. Kita janji berangkat jam 05.00 WIB dari
Pamekasan. Faktanya mungkin pembaca sudah mengerti, kita jadi berangkat sekitar
jam 06.30 WIB. Telat sejam setangah dari waktu kesepakatan awal. Jangan bilang
datang terlambat adalah budaya Indonesia. Karena masih banyak orang Indonesia
yang menghargai waktu. Ini hanyalah kebiasaan yang kita turuti. Saya sama
sekali tidak jengkel kepada sikap teman-teman saya, karena saya datangnya juga
telat. Sebelumnya sudah saya duga bahwa pastinya budaya “ngaret” masih eksis di
kalangan anak muda. Berhubung mobil yang dipakai adalah mobil saya, maka
otomatis teman-teman harus menunggu jemputan. Waktu itu saya bangun sekitar jam
04.30 WIB, namun masih nyantai di rumah. Akhirnya karena terlalu lama nyantai,
saya pun kebablasan dan berangkat dari rumah jam 05.30 WIB. Berkali kali salah
satu teman menghubungi saya, dengan tegas saya jawab lagi “OTW”, padahal masih
makan.
Setelah
itu saya berangkat di rumah yang disepakati untuk berkumpul. Sesampai di sana, ada tambahan teman dari Surabaya sebanyak
enam orang, lima cowo dan satu cewe. Saya sendiri sudah mengetahui hal tersebut
sebelumnya, karena kami sepakat akan berangkat kesana dengan pasukan sebanyak
sebelas orang, dari Pamekasan lima orang dan dari Surabaya sejumlah enam orang.
Sontak saya bahagia, karena pastinya akan mendapatkan kenalan baru, khususnya
“kaum hawa”. Namun apalah daya ketika tibanya di rumah teman itu, dari sebelas
orang, hanya ada dua cewe, yang salah
satunya sudah saya kenal. Otomatis kenalan cewe saya hanya bertambah satu
orang, sisanya “kaum terlaknat”, hehe, becanda bro, maksud saya “kaum adam”
alis cowo. Di luar ekpektasi saya dan teman-teman cowo yang lainnya. Tetapi itu
bukanlah masalah bagi kita, hal yang terpenting yaitu bisa liburan bersama..
Mereka berenam mengendarai sepeda motor, sementara kami berlima memakai mobil,
kita semua akhirnya berangkat bareng dan janji ketemuan di Pelabuhan Kalianget,
Sumenep.
Setelah
sekitar sejam perjalanan, tibalah kita berlima di Pelabuhan Kalianget. Ternyata
teman-teman dari Surabaya sudah menunggu di sana sekitar beberpa menit sebelum
kita tiba. Saya parkir di tempat parkiran yang sudah disediakan, tiket masuk
pelabuhan yaitu sebesar Rp 5000. Di
Pelabuhan itulah kita menyatu menjadi sebelas pasukan. Setelah beberapa lama di
Pelabuhan, kita berunding perahu motor yang mana yang akan dipakai, tentunya
harus sesuai dengan anggaran yang kita sepakati bersama. Di sana kita bertemu
dengan seseorang yang menawarkan jasa penyebrangan menggunakan perahu motor.
Awalnya dia menawarkan dengan tarif Rp 800.000, untuk penyebrangan pulang pergi
Gili Labak. Teman saya menawar agar harganya diturunkan menjadi Rp 500.000.
Orang tersebut mulai menurunkan harga menjadi Rp 700.000, lalu kami berunding
lagi, ternyata orang tersebut tidak mau menurunkan harganya. Selang beberapa
saat kemudia, kami sepakat menaikkan penawaran sebesar Rp 600.000. Kita
mahasiswa dan harus pinter dalam hal negoisasi. hehe. Sayangnya, orang tersebut
tetap konsisten dengan harga yang ditawarkan. Kita berunding lagi, dan untuk
mengefektifkan waktu akhirnya kami sepakat dengan harga tersebut yaitu sebesar Rp
700.000.
Singkat
cerita akhirnya kita semua menyebrang, dan perjalanan menuju Gili Labak
membutuhkan waktu sebanyak dua jam, begitu juga baliknya ke pelabuhan nanti.
Total kita semua berada di tengah lautan selama empat jam, untuk perjalanan
menuju Gili Labak, dan bali menuju pelabuhan nanti. Selama di lautan kita
sempatkan untuk mengabadikan foto bersama di tengah perahu. Setelah puas
berfoto, kini kita nikmati semilir angin laut.
Saya
menikmati pemandangan tengah laut yang begitu menarik dan mempesona. Semua
beban pikiran serasa hilang untuk sejenak, begitu juga waktu seakan berhenti
berputar. Karena momentum di tengah lautan begitu saya resapi dengan penuh
penghayatan. Di atas perahu, kita juga saling kenalan dan mengakrabkan diri.
Setelah itu masing-masing mulai diam membisu, ada beberapa orang yang ngobrol
dengan temannya. Sementara suara mesin masih tetap berbunyi, perjalanan sudah
hampir sejam lebih. Semua diantara kita pasti penasaran dan sudah tidak sabar
melihat sebuah yang terkenal dengan sebutan “The
Hidden Paradise”, atau “Surga yang Tersembunyi”.
Di
tengah laut dengan suara ombak yang kian bergemuruh, saya mencoba untuk
merenung dan melakukan refleksi diri. Refleksi diri yang saya lakukan yaitu
terkait kehidupan yang pada hakikatnya adalah perjalanan. Ada akhir dari tujuan
yang hendak dicapai oleh manusia di dalam hidupnya. Dalam perjalanan tersebut
membutuhkan proses. Begitu juga dengan kita yang hendak liburan, tujuannya
adalah Gili Labak. Maka dari itu kita harus sabar menikmati proses dua jam di
tengah lautan. Selama di perjalanan ada beberapa teman saya yang muntah dan
tidak tahan dengan angin laut. Namun bagaimanapun juga, perjalanan ini harus
dilalui mereka. Karena dari kejauhan, Gili Labak sudah mulai terlihat.
Akhirnya
setelah berjam-jam lamanya terombang ambing di tengah lautan, sampailah kita di
Gili Labak. Kita sampai di sana sekitar jam 11.30 WIB, menjelang dhuhur.
Sungguh pulau yang sangat menawan dan eksotis. Saya rasa pulau ini tidak kalah
menarik dengan tempat lainnya yang sudah terkenal di Indonesia, semisal Bali
ataupun Lombok. Awalnya saya mengira tempat ini sangat sepi, namun ternyaata
sudah banyak wisatawan yang ada di sana, mungkin karena eksistensi Gili Labak
yang semakin meningkat di berbagai kalangan. Kesan awal saat pertama kali
menginjakkan kaki di Gili Labak yaitu, “Amazing
and Beautiful”, pantas saja jika Gili Labak dijuluki Surga yang
tersembunyi.
Setibanya
di lokasi, kita semua mencari tempat untuk berteduh dan meletakkan
barang-barang bawaan. Sementara itu jam sudah memasuki waktu dhuhur. Kita
bergegas untuk melaksanakan Sholat berjamaah. Setelah semua selesai
melaksanakan kewajiban sholat, maka tibalah saatnya untuk menikmati keindahan
Gili Labak yang sangat cantik ini. Kita menyewa alat pelampung dan semua yang
dibutuhkan untuk menyelam.
Tanpa
berfikir lama saya langsung menceburkan ke dalam air laut. Membiarkan tubuh
basah dengan air laut, karena sudah lama saya ingin menyatu dengan alam. Laut
dan keindahan di dalamnya telah menjadi magnet kepada setiap orang yang
memandangnya. Sungguh mengagumkan dan menakjubkan. Bahkan saya pribadi tidak
bisa menggambarkannya dengan rangkaian kata-kata. Perpaduan laut biru, pasir
putih, terumbu karang, serta pancaran sinar matahari seperti menjelaskan kepada
semua pengunjung bahwa pulau ini adalah adalah tempat yang menawan dan memikat
hati. Bahkan beberapa burung-burung yang mengudara di atas pantai seperti
bernyanyi menyambut kebahagian yang kita rasakan. Sungguh pesta pantai yang
luar biasa. Kita semua bersama dan berbaur dalam keceriaan. Romantika
persahabatan begitu kuat menyatu bersamaan dengan semilir angin laut. Di tepi
pantai kita tertawa dan becanda. Sekilas saya perhatikan raut muka kawan-kawan
yang begitu senang bisa berwisata di pulau tersebut. Rona wajah yang terpancar
seperti sedang melepaskan sebuah kepenatan rutinitas masing-masing individu
diantara mereka. Sepertinya Gili Labak akan menjadi pulau yang selalu kita
rindukan.
Gili
Labak telah menyihir kita semua, berbagai keindahan alam yang disajikan telah
menarik perhatian selama di sana. Kelembutan pasir putih di sekitar pantai
menjadi arena bagi kita untuk bermain dan menghilangkan beban pikiran. Selain
itu, deretan beberapa perahu nelayan yang sedang berlabuh menjadi pemanis
kawasan pantai tersebut. Kita berjalan dan terkadang berlari menikmati suasana
pantai yang begitu memukau. Terkadang sembari memandangi daun dan pepohonan
yang melambai di pulau tersebut. Kita berkeliling pulau tersebut sambil
mengabadikan objek menarik yang ada di sana.
Gemercik
dan deburan suara ombak seolah menjadi sebuah nada alami yang mengiringi
langkah-langkah kita. Udara yang masih segar seakan memberikan suntikan energi
bagi setiap pengunjung. Kebersihan pantai masih sangat terjaga dan masih
terawat dengan baik. Maka dari itulah kita sebagai pengunjung berusaha
semaksimal mugkin agar senantiasa menjaga kebersihan selama di sana.
Pesona
air laut yang bersih dan bening memberikan kesejukan tersendiri bagi setiap
mata yang memandanginya. Keberadaan panorama alam Gili Labak sepertinya bisa
menenangkan jiwa dan mendamaikan hati. Ini adalah suatu ciptaan Tuhan yang
mengagumkan. Maka bersyukurlah bagi setiap manusia yang pernah mengunjungi
tempat tersebut. Karena Gili Labak adalah salah satu bukti kekuasaan Tuhan yang
begitu memanjakan mata pengunjung. Gili Labak seakan menjadi salah satu wujud
kesempurnaan lukisan alam yang tiada celah. Bagi saya pribadi, Gili Labak telah
melembutkan rasa yang pernah ada. Karena daya magis pulau tersebut berhasil
membangkitkan gairah dan semangat yang pernah saya miliki.
Singkat
cerita setelah puas menikmati sajian pemandangan di Gili Labak, kini tiba
saatnya kita semua untuk balik menuju pelabuhan. Kita balik dari Gili Labak
sekitar jam 16.25 WIB. Kita
berkesempatan untuk menikmati senja di tengah lautan. Cahaya matahari mulai
meredup di ufuk barat, sebuah momentum yang luar biaa untuk dinikmati. Hari
semakin gelap,, cahaya matahari sudah tidak kelihatan lagi, namun tergantikan
oleh cahaya bintang yang mula bermunculan di atas langit. Sejenak saya memandang
ke atas langit, sunggguh besar kuasa Tuhan. Mulailah saya merenung dan
berfilosofi. Di tengah suara ombak laut yang kian bergemuruh, ternyata
memancing sebuah pernyataan dalam diri saya, bahwa Tuhan Pencipta alam sungguh
mengatur semuanya dengan harmonis. Tuhanlah yang menundukkan dan mengusasai
lautan. Rasanya semakin menyadarkan saya bahwa sesungguhnya manusia adalah
makhluk yang kecil dan terbatas. Sungguh celaka manusia-manusia yang sombong dan merasa dirinya tidak membutuhkan
Tuhan. Oleh karenanya dalam perjalanan di tengah lautan, saya sempatkan untuk
berdzikir dan mengingat Tuhan. Itu adalah sebagai wujud bahwasanya saya adalah
manusia lemah yang selalu membutuhkan Tuhan kapanpun dan dimanapun saya berada.
Di atas perahu saya merenungi tentang masa lalu, masa kini, dan masa depan.
Semua seakan menampakkan dengan jelas tentang segala hal yang telah terlewati.
Memberikan pelajaran bagaimana harusnya aku melangkah. Sementara itu perahu
terus melaju mengarah ke palabuhan. Refleksi perenungan belumlah usai, saya
masih memandangi kilauan bintang sembari suara ombak dengan hempasan angin
malam yang semakin kencang. Akhirnya
setelah berjam-jam berada di tengah lautan, sampailah kita di pelabuhan
Kalianget.
Akhir
cerita dan kita pulang, dan sebelumnya saya berpamitan dengan kawan-kawan yang
dari Surabaya. Karena rencananya mereka akan langsung balik ke Surabaya. Masih
seperti yang awal tadi, dalam perjalanan pulang saya masih bertindak sebagai
supir bagi teman-tema saya. Dalam perjalanan pulang, mobil yang saya tumpangi
hampir mengalami sebuah kecelakaan. Ceritanya adalah ketika saya berusha
menyalip truk, namun di sisi yang berlawanan ada sebuah mobil dengan kecepetan
tinggi hampir menabrak saya. Saya tidak melihat mobil tersebut, karena ketika
hendak menyalip, di depan saya juga ada dua mobil yang berusaha menyalip truk
tadi. Saya tidak menduga ada mobil melaju dengan sangat kencang dari arah
berlawanan.Sungguh beruntung nasib kita semua, karena Tuhan masih melindungi
kita. Saya rasa kurang dari sepersekian detik kecelakaan itu terjadi. Saya
merasa Tuhan masih melindungi kita semua. Sudah sepatutnya saya dan teman-teman
bersyukur bisa terhindar dari kecelakaan, dan ini adalah sebuah peringatan
keras sekaligus pelajaran berharaga bagi saya. Agar nantinya mengemudi dengan
hati-hati dan mengutamakan keselamatan diri dan penumpang di dalamnya. Sekali lagi
saya ucapkan “Alhamdulilah”, segala puji bagi Allah yang telah memberikan
keselamatan bagi kita semua.
Dalam
perjalanan pulang, banyak hal yang diomongkan teman-teman saya di mobil. Saya
menjadi pendengar yang baik bagi mereka. Setibanya di Pamekasan, saya antarkan
mereka pulang ke tempat mereka berkumpul, setelah itu saya pulang ke rumah
dengan perasaan bahagia. Sungguh perjalanan yang luar biasa. Ini hanyalah
bagian kecil yang saya ceritakan dari sebuah perjalanan. Cukup sekian cerita
yang bisa sampaikan, semoga bermanfaat.
Pamekasan, 18 Mei 2015