Senin, 18 Mei 2015

Gili Labak Surga yang Tersembunyi (Sebuah Catatan Perjalanan)



Oleh : Muhammad Aufal Fresky 

Beberapa waktu yang lalu banyak teman saya yang memposting gambar dan foto tentang salah satu pulau yang ada di seberang Kabupaten Sumenep. Nama pulau tersebut menjadi semakin terkenal ketika gambar dan foto-foto mengenai pulau tersebut sering muncul di berbagai sosial media seperti facebook, twitter, instagram, path dan semacamnya. Bahkan nama pulau tersebut semakin terangakat ketika sering diperbincangkan dari mulut ke mulut. Daya tarik dari pulau tersebut sepertinya memancing perhatian masyarakat untuk mengunjunginya. Baik Masyarakat dari Madura maupun dari luar Madura. Mungkin pembaca penasaran apa nama pulau tersebut, dan apa yang ditawarkan di dalamnya. Sama halnya dengan apa yang saya alami ketika baru mendengar dari cerita Teman bahwa di daerah Madura ada pulau eksotis dan menarik untuk di datangi. Nama pulau tersebut adalah Gili Labak. Saya beruntung kemaren tepatnya pada hari Sabtu, 17 Mei 2015 bisa berkunjung ke pulau terebut. Maklum selama ini saya terkesan “sok” menyibukkan diri sehingga jarang bisa memanfaatkan waktu untuk  memanjakan diri menyatu dengan alam. Maka dari itulah mulai dari saat ini hingga seterusnya saya tidak hanya ingin bergelut pada dunia tulis menulis, lebih dari itu akan menjadi “Penjelajah”.
Mungkin pembaca juga penasaran, apa maksud dan tujuan saya menulis perjalanan ke Gili Labak. Sebelumnya perlu dijelaskan kembali, bahwa saya sangat mencintai dunia tulis menulis, oleh karena itulah setiap ada ide, pemikiran, dan gagasan tentang segala hal maka saya ingin dan butuh untuk menuliskannya. Selain itu, ini merupakan ekspresi rasa syukur saya kepada Allah SWT yang telah menakdirkan saya untuk berkunjung ke Gili Labak. Karena saya percaya manusia hanya bisa berkehendak dan Allah yang menentukan. Maka tak heran jika kehendak saya telah lama untuk berkunjung ke Gili Labak baru terealisasi kemaren. Sama halnya ketika saya bisa berangkat berkunjung ke Tanah Suci sebanyak dua kali, itu semua adalah kehendak dan ketentuan  Allah. Karena sebelumnya saya tidak pernah berfikir dan menyangka bisa umroh sebanyak dua kali.
Sekali lagi saya menulis di sini karena memang niat saya ketika berada di Gili Labak, saya bertekad bahwa setelah pulang haruslah menjadikan perjalanan ini sebuah catatan. Sekalian untuk mempromosikan Gili Labak terhadap masyarakat luas. Karena saya percaya kata-kata juga bisa mempengaruhi pikiran seseorang. Maka dari itulah semoga pembaca yang belum pernah berkunjung ke sana tertarik untuk berwisata dan berliburan di sana.
Kali ini saya akan menceritakan perjalanan menuju ke Gili Labak dan perjalanan pulang dari sana. Kebetulan saya terpilih menjadi “driver” alias supir bagi teman-teman saya. Konsekuensinya saya harus menjemput teman-teman saya. Kita janji berangkat jam 05.00 WIB dari Pamekasan. Faktanya mungkin pembaca sudah mengerti, kita jadi berangkat sekitar jam 06.30 WIB. Telat sejam setangah dari waktu kesepakatan awal. Jangan bilang datang terlambat adalah budaya Indonesia. Karena masih banyak orang Indonesia yang menghargai waktu. Ini hanyalah kebiasaan yang kita turuti. Saya sama sekali tidak jengkel kepada sikap teman-teman saya, karena saya datangnya juga telat. Sebelumnya sudah saya duga bahwa pastinya budaya “ngaret” masih eksis di kalangan anak muda. Berhubung mobil yang dipakai adalah mobil saya, maka otomatis teman-teman harus menunggu jemputan. Waktu itu saya bangun sekitar jam 04.30 WIB, namun masih nyantai di rumah. Akhirnya karena terlalu lama nyantai, saya pun kebablasan dan berangkat dari rumah jam 05.30 WIB. Berkali kali salah satu teman menghubungi saya, dengan tegas saya jawab lagi “OTW”, padahal masih makan.
Setelah itu saya berangkat di rumah yang disepakati untuk berkumpul. Sesampai di sana,  ada tambahan teman dari Surabaya sebanyak enam orang, lima cowo dan satu cewe. Saya sendiri sudah mengetahui hal tersebut sebelumnya, karena kami sepakat akan berangkat kesana dengan pasukan sebanyak sebelas orang, dari Pamekasan lima orang dan dari Surabaya sejumlah enam orang. Sontak saya bahagia, karena pastinya akan mendapatkan kenalan baru, khususnya “kaum hawa”. Namun apalah daya ketika tibanya di rumah teman itu, dari sebelas orang, hanya ada dua  cewe, yang salah satunya sudah saya kenal. Otomatis kenalan cewe saya hanya bertambah satu orang, sisanya “kaum terlaknat”, hehe, becanda bro, maksud saya “kaum adam” alis cowo. Di luar ekpektasi saya dan teman-teman cowo yang lainnya. Tetapi itu bukanlah masalah bagi kita, hal yang terpenting yaitu bisa liburan bersama.. Mereka berenam mengendarai sepeda motor, sementara kami berlima memakai mobil, kita semua akhirnya berangkat bareng dan janji ketemuan di Pelabuhan Kalianget, Sumenep.
Setelah sekitar sejam perjalanan, tibalah kita berlima di Pelabuhan Kalianget. Ternyata teman-teman dari Surabaya sudah menunggu di sana sekitar beberpa menit sebelum kita tiba. Saya parkir di tempat parkiran yang sudah disediakan, tiket masuk pelabuhan yaitu sebesar Rp 5000.  Di Pelabuhan itulah kita menyatu menjadi sebelas pasukan. Setelah beberapa lama di Pelabuhan, kita berunding perahu motor yang mana yang akan dipakai, tentunya harus sesuai dengan anggaran yang kita sepakati bersama. Di sana kita bertemu dengan seseorang yang menawarkan jasa penyebrangan menggunakan perahu motor. Awalnya dia menawarkan dengan tarif Rp 800.000, untuk penyebrangan pulang pergi Gili Labak. Teman saya menawar agar harganya diturunkan menjadi Rp 500.000. Orang tersebut mulai menurunkan harga menjadi Rp 700.000, lalu kami berunding lagi, ternyata orang tersebut tidak mau menurunkan harganya. Selang beberapa saat kemudia, kami sepakat menaikkan penawaran sebesar Rp 600.000. Kita mahasiswa dan harus pinter dalam hal negoisasi. hehe. Sayangnya, orang tersebut tetap konsisten dengan harga yang ditawarkan. Kita berunding lagi, dan untuk mengefektifkan waktu akhirnya kami sepakat dengan harga tersebut yaitu sebesar Rp 700.000.
Singkat cerita akhirnya kita semua menyebrang, dan perjalanan menuju Gili Labak membutuhkan waktu sebanyak dua jam, begitu juga baliknya ke pelabuhan nanti. Total kita semua berada di tengah lautan selama empat jam, untuk perjalanan menuju Gili Labak, dan bali menuju pelabuhan nanti. Selama di lautan kita sempatkan untuk mengabadikan foto bersama di tengah perahu. Setelah puas berfoto, kini kita nikmati semilir angin laut.
Saya menikmati pemandangan tengah laut yang begitu menarik dan mempesona. Semua beban pikiran serasa hilang untuk sejenak, begitu juga waktu seakan berhenti berputar. Karena momentum di tengah lautan begitu saya resapi dengan penuh penghayatan. Di atas perahu, kita juga saling kenalan dan mengakrabkan diri. Setelah itu masing-masing mulai diam membisu, ada beberapa orang yang ngobrol dengan temannya. Sementara suara mesin masih tetap berbunyi, perjalanan sudah hampir sejam lebih. Semua diantara kita pasti penasaran dan sudah tidak sabar melihat sebuah yang terkenal dengan sebutan “The Hidden Paradise”, atau “Surga yang Tersembunyi”.
Di tengah laut dengan suara ombak yang kian bergemuruh, saya mencoba untuk merenung dan melakukan refleksi diri. Refleksi diri yang saya lakukan yaitu terkait kehidupan yang pada hakikatnya adalah perjalanan. Ada akhir dari tujuan yang hendak dicapai oleh manusia di dalam hidupnya. Dalam perjalanan tersebut membutuhkan proses. Begitu juga dengan kita yang hendak liburan, tujuannya adalah Gili Labak. Maka dari itu kita harus sabar menikmati proses dua jam di tengah lautan. Selama di perjalanan ada beberapa teman saya yang muntah dan tidak tahan dengan angin laut. Namun bagaimanapun juga, perjalanan ini harus dilalui mereka. Karena dari kejauhan, Gili Labak sudah mulai terlihat.
Akhirnya setelah berjam-jam lamanya terombang ambing di tengah lautan, sampailah kita di Gili Labak. Kita sampai di sana sekitar jam 11.30 WIB, menjelang dhuhur. Sungguh pulau yang sangat menawan dan eksotis. Saya rasa pulau ini tidak kalah menarik dengan tempat lainnya yang sudah terkenal di Indonesia, semisal Bali ataupun Lombok. Awalnya saya mengira tempat ini sangat sepi, namun ternyaata sudah banyak wisatawan yang ada di sana, mungkin karena eksistensi Gili Labak yang semakin meningkat di berbagai kalangan. Kesan awal saat pertama kali menginjakkan kaki di Gili Labak yaitu, “Amazing and Beautiful”, pantas saja jika Gili Labak dijuluki Surga yang tersembunyi.
Setibanya di lokasi, kita semua mencari tempat untuk berteduh dan meletakkan barang-barang bawaan. Sementara itu jam sudah memasuki waktu dhuhur. Kita bergegas untuk melaksanakan Sholat berjamaah. Setelah semua selesai melaksanakan kewajiban sholat, maka tibalah saatnya untuk menikmati keindahan Gili Labak yang sangat cantik ini. Kita menyewa alat pelampung dan semua yang dibutuhkan untuk menyelam.
Tanpa berfikir lama saya langsung menceburkan ke dalam air laut. Membiarkan tubuh basah dengan air laut, karena sudah lama saya ingin menyatu dengan alam. Laut dan keindahan di dalamnya telah menjadi magnet kepada setiap orang yang memandangnya. Sungguh mengagumkan dan menakjubkan. Bahkan saya pribadi tidak bisa menggambarkannya dengan rangkaian kata-kata. Perpaduan laut biru, pasir putih, terumbu karang, serta pancaran sinar matahari seperti menjelaskan kepada semua pengunjung bahwa pulau ini adalah adalah tempat yang menawan dan memikat hati. Bahkan beberapa burung-burung yang mengudara di atas pantai seperti bernyanyi menyambut kebahagian yang kita rasakan. Sungguh pesta pantai yang luar biasa. Kita semua bersama dan berbaur dalam keceriaan. Romantika persahabatan begitu kuat menyatu bersamaan dengan semilir angin laut. Di tepi pantai kita tertawa dan becanda. Sekilas saya perhatikan raut muka kawan-kawan yang begitu senang bisa berwisata di pulau tersebut. Rona wajah yang terpancar seperti sedang melepaskan sebuah kepenatan rutinitas masing-masing individu diantara mereka. Sepertinya Gili Labak akan menjadi pulau yang selalu kita rindukan.
Gili Labak telah menyihir kita semua, berbagai keindahan alam yang disajikan telah menarik perhatian selama di sana. Kelembutan pasir putih di sekitar pantai menjadi arena bagi kita untuk bermain dan menghilangkan beban pikiran. Selain itu, deretan beberapa perahu nelayan yang sedang berlabuh menjadi pemanis kawasan pantai tersebut. Kita berjalan dan terkadang berlari menikmati suasana pantai yang begitu memukau. Terkadang sembari memandangi daun dan pepohonan yang melambai di pulau tersebut. Kita berkeliling pulau tersebut sambil mengabadikan objek menarik yang ada di sana.
Gemercik dan deburan suara ombak seolah menjadi sebuah nada alami yang mengiringi langkah-langkah kita. Udara yang masih segar seakan memberikan suntikan energi bagi setiap pengunjung. Kebersihan pantai masih sangat terjaga dan masih terawat dengan baik. Maka dari itulah kita sebagai pengunjung berusaha semaksimal mugkin agar senantiasa menjaga kebersihan selama di sana.
Pesona air laut yang bersih dan bening memberikan kesejukan tersendiri bagi setiap mata yang memandanginya. Keberadaan panorama alam Gili Labak sepertinya bisa menenangkan jiwa dan mendamaikan hati. Ini adalah suatu ciptaan Tuhan yang mengagumkan. Maka bersyukurlah bagi setiap manusia yang pernah mengunjungi tempat tersebut. Karena Gili Labak adalah salah satu bukti kekuasaan Tuhan yang begitu memanjakan mata pengunjung. Gili Labak seakan menjadi salah satu wujud kesempurnaan lukisan alam yang tiada celah. Bagi saya pribadi, Gili Labak telah melembutkan rasa yang pernah ada. Karena daya magis pulau tersebut berhasil membangkitkan gairah dan semangat yang pernah saya miliki.
Singkat cerita setelah puas menikmati sajian pemandangan di Gili Labak, kini tiba saatnya kita semua untuk balik menuju pelabuhan. Kita balik dari Gili Labak sekitar jam 16.25  WIB. Kita berkesempatan untuk menikmati senja di tengah lautan. Cahaya matahari mulai meredup di ufuk barat, sebuah momentum yang luar biaa untuk dinikmati. Hari semakin gelap,, cahaya matahari sudah tidak kelihatan lagi, namun tergantikan oleh cahaya bintang yang mula bermunculan di atas langit. Sejenak saya memandang ke atas langit, sunggguh besar kuasa Tuhan. Mulailah saya merenung dan berfilosofi. Di tengah suara ombak laut yang kian bergemuruh, ternyata memancing sebuah pernyataan dalam diri saya, bahwa Tuhan Pencipta alam sungguh mengatur semuanya dengan harmonis. Tuhanlah yang menundukkan dan mengusasai lautan. Rasanya semakin menyadarkan saya bahwa sesungguhnya manusia adalah makhluk yang kecil dan terbatas. Sungguh celaka manusia-manusia yang  sombong dan merasa dirinya tidak membutuhkan Tuhan. Oleh karenanya dalam perjalanan di tengah lautan, saya sempatkan untuk berdzikir dan mengingat Tuhan. Itu adalah sebagai wujud bahwasanya saya adalah manusia lemah yang selalu membutuhkan Tuhan kapanpun dan dimanapun saya berada. Di atas perahu saya merenungi tentang masa lalu, masa kini, dan masa depan. Semua seakan menampakkan dengan jelas tentang segala hal yang telah terlewati. Memberikan pelajaran bagaimana harusnya aku melangkah. Sementara itu perahu terus melaju mengarah ke palabuhan. Refleksi perenungan belumlah usai, saya masih memandangi kilauan bintang sembari suara ombak dengan hempasan angin malam  yang semakin kencang. Akhirnya setelah berjam-jam berada di tengah lautan, sampailah kita di pelabuhan Kalianget.
Akhir cerita dan kita pulang, dan sebelumnya saya berpamitan dengan kawan-kawan yang dari Surabaya. Karena rencananya mereka akan langsung balik ke Surabaya. Masih seperti yang awal tadi, dalam perjalanan pulang saya masih bertindak sebagai supir bagi teman-tema saya. Dalam perjalanan pulang, mobil yang saya tumpangi hampir mengalami sebuah kecelakaan. Ceritanya adalah ketika saya berusha menyalip truk, namun di sisi yang berlawanan ada sebuah mobil dengan kecepetan tinggi hampir menabrak saya. Saya tidak melihat mobil tersebut, karena ketika hendak menyalip, di depan saya juga ada dua mobil yang berusaha menyalip truk tadi. Saya tidak menduga ada mobil melaju dengan sangat kencang dari arah berlawanan.Sungguh beruntung nasib kita semua, karena Tuhan masih melindungi kita. Saya rasa kurang dari sepersekian detik kecelakaan itu terjadi. Saya merasa Tuhan masih melindungi kita semua. Sudah sepatutnya saya dan teman-teman bersyukur bisa terhindar dari kecelakaan, dan ini adalah sebuah peringatan keras sekaligus pelajaran berharaga bagi saya. Agar nantinya mengemudi dengan hati-hati dan mengutamakan keselamatan diri dan penumpang di dalamnya. Sekali lagi saya ucapkan “Alhamdulilah”, segala puji bagi Allah yang telah memberikan keselamatan bagi kita semua.
Dalam perjalanan pulang, banyak hal yang diomongkan teman-teman saya di mobil. Saya menjadi pendengar yang baik bagi mereka. Setibanya di Pamekasan, saya antarkan mereka pulang ke tempat mereka berkumpul, setelah itu saya pulang ke rumah dengan perasaan bahagia. Sungguh perjalanan yang luar biasa. Ini hanyalah bagian kecil yang saya ceritakan dari sebuah perjalanan. Cukup sekian cerita yang bisa sampaikan, semoga bermanfaat.
Pamekasan, 18 Mei 2015








Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Featured Post

Pelestarian Batik Madura Butuh Regulasi Terarah

  Sejak beberapa tahun terakhir, saya  bergelut di bidang usaha batik tulis Madura. Selain karena dukungan keluarga, faktor lingkungan juga ...