Hari ini genap 30 tahun usia saya. Sudah memasuki usia kepala tiga. Tak disangka, tak dinyana, semua rasa-rasanya begitu cepat berlalu. Memang waktu begitu gesit. Tak ada isyarat, terus bergerak. Terus mengalir. Semua manusia tak kuasa menahan laju waktu. Tak peduli dari mana mereka berasal. Tak peduli anaknya siapa. Semua memiliki jatah umur yang sama. Setiap harinya memiliki waktu 24 jam. Begitupun dengan usia mudanya, tak ada yang mengalami usia muda berkali kali dalam hidupnya. Masa muda hanya sekali. Itupun tidak semua sampai usia tua. Tidak terhitung, banyak sekali pemuda yang tutup usia di masa mudanya. Entah karena sakit, kecelakaan, atau faktor lainnya. Yang Namanya maut tidak kenal usia. Begitulah rahasia kematian. Tidak bisa diprediksi. Bisa menimpa siapa saja, kapan saja, dan di mana saja. Maka bersyukurlah, kita yang hari ini masih bisa menghirup udara segara. Masih diberikan kesempatan hidup untuk memperbaiki diri. Begitu juga dengan diri saya yang sampai hari ini masih diberikan nikmat kesehatan dan waktu luang oleh Tuhan.
Di usia yang ke-30 tahun ini, sudah saatnya saya kembali melakukan introspeksi diri secara mendalam. Jangan-jangan, selama ini saya hanya asal-asalan menjalani hidup. Tidak mengerti dan menyadari betul apa yang sebenarnya menjadi tugas dan tanggung jawab saya di dunia ini. Ya, disadari atau tidak, jujur selama ini hubungan saya dengan Tuhan masih tidak begitu dekat. Bahkan, bisa dikategorikan jauh. Bukan berarti saya tidak menjalankan kewajiban-kewajiban saya sebagai seorang muslim dan mukmin. Namun, kewajiban-kewajiban yang dijalankan itu hanya ala kadarnya. Semisal, sholat lima waktu. Selama saya hidup, mungkin bisa dihitung jari, sholat saya yang benar-benar menghadap Allah. Saya tidak benar-benar menghadap dan menghadirkan Allah ketika melaksanakan sholat. Pikiran masih terikat ke dunia. Pikiran dan hati masih berkelana. Bahkan, sholat yang saya kerjakan seolah sedang balapan. Seakan-akan ingin cepat selesai. Tidak menikmatinya. Maka tak heran jika perbuatan keji dan mungkar masih kerap kali saya lakukan. Kemaksiatan demi kemaksiatan masih kerap kali saya kerjakan. Belum benar-benar bersih. Diri ini masih berselimut dosa. Bisa jadi disebabkan oleh pelaksanaan sholat yang masih sembrono. Pikiran dan hati tidak benar-benar menyembahnya. Hanya fisik saja yang melakukan gerakan. Rasa-rasanya, di usia saya yang sudah mencapai 30 tahun ini, sudah saatnya membenahi diri. Dan saya ingi memulainya dari kualitas sholat saya.
Saya rasa, hidup saya akan jauh lebih tenang jika saya menikmati sholat. Tidak buru-buru untuk selesai. Menghadirkan Allah dalam hati dan pikiran. Saya percaya, ketentraman jiwa bisa dimulai dari memperbaiki kualias sholat. Dan yang paling penting lagi adalah mengutamakan sholat berjemaah di masjid. Apalagi, orang yang membiasakan diri sholat berjamaah di masjid akan memiliki keutamaan-keutamaan tersendiri. Sejauh ini, saya masih belum istikamah untuk hadir sholat berjemaah di masjid. Memang, istikamah ini adalah suatu hal yang cukup berat jika tidak dilandasi oleh tujuan yang jelas dan kemauan yang kuat. Membiasakan diri sholat berjemaah di masjid berarti membiasakan diri untuk sholat di awal waktu. Dan itu juga memiliki keutamaannya tersendiri. Saya ingin kembali belajar untuk konsisten berjemaah di masjid. Setidaknya, untuk sholat Maghrib dan Shubuh. Niat ini harus kuat. Tanpa adanya niat yang kuat maka biasanya malas-malasan untuk pergi ke masjid. Apalagi, malas ini menjadi penyakit yang saya sendiri masih berupaya menangkal dan membuangnya jauh-jauh. Jika saya membiaskan kemalasan ini terus bersemi dalam diri, maka akan kesulitan untuk melangkah ke masjid. Dan saya tidak menginginkan hal itu terjadi. Saya harus berupaya seoptimal mungkin untuk melawan rasa malas ini. Terutama malas dalam beribadah sholat berjemaah dan tepat waktu.
Selain ingin memperbaiki kualitas sholat dan membiasakan diri sholat di masjid, di usia yang sudah menginjak 30 tahun ini, saya ingin terus membiasakan diri untuk membasahi lidah ini dengan dengan zikrullah dan sholawat. Saya meyakini betul dengan berzikir dan bersholawat hati dan pikiran saya akan jauh lebih tenang. Dengan berzikir dan dan bersholawat, hati akan bercahaya. Saya yakin bahwa dengan sholawat dan zikir, kotoran-kotoran dalam hati bisa dibersihkan. Saya ingin terus tersambung dengan Allah dan Rasulullah melalui zikir dan sholawat. Kedua amalan ini sangat super. Selain bisa membuat jiwa lebih tentram, juga bisa mendatangkan rezeki dari segala arah. Kedua amalan ini bisa mengundang turunnya rahmat Allah. Kedua amalan ini bisa membuat kita mendapatkan ridha dari Allah. Khusus untuk sholawat, bisa membuat kita jauh lebih dekat dengan Nabi Muhammad SAW. Dengan rajin bersholawat, kita bisa mendapatkan syafaat Nabi di kemudian hari. Dengan rajin bersholawat, insya Allah kita akan lebih dekat dengan sosok yang mulia tersebut. Dengan rajin bersholawat menjadi wasilah untuk lebih dekat kepada Sang Pencipta. Sholawat juga bisa membuat kita selamat di dunia dan di akhirat. Dijauhkan dari berbagai macam bala’.
Selanjutnya, salah satu hal lainnya yang menjadi perhatian saya dalam catatan ini adalah bagaimana memperbaiki hubungan dengan sesama. Ya, hubungan dengan manusia akan jauh terasa lebih indah jika memakai akhlakul karimah atau akhlak yang mulia. Jika memang ingin mencontoh atau meniru junjungan yang mulia, saya harus menerapkan akhlak yang baik kepada setiap orang yang saya jumpai. Menerapkan akhlak yang mulia tanpa memandang siapa dan dari mana orang yang dihadapi. Sebab, begitulah yang dicontohkan oleh Nabi. Begitulah yang diajarkan dalam Al-Quran. Namun, saya sendiri harus sadar dan paham bahwa tidak mungkin bisa membuat setiap orang yang saya kenali dan jumpai akan selalu senang kepada saya. Saya tidak akan mungkin bisa membuat semua orang senang dan cinta kepada saya. Sebab, begitulah hidup. Sebaik apapun kita menurut pandangan kita, pasti saja ada yang tidak senang, iri, atau risih dengan keberadaan kita. Jangankan kita sebagai makhluk yang berlumur dosa ini, sekelas Nabi Muhammad SAW sebagai suri tauladan saja masih ada yang membenci, memusuhi, dan bahkan kerap kali menggangu beliau. Apalagi kita. Adalah sebuah kemustahilan semua orang di sekeliling kita senang dengan keberadaan kita. Apalagi, kita aktif berjuang di jalan kebenaran dan kebaikan. Pasti ada hambatan yang akan kita hadapi. Bisa saja hambatan itu datangnya dari orang-orang terdekat kita. Namun, jangan takut. Tetaplah memiliki prinsip. Jadikan Allah sebagai tujuan utama kita. Jadikan Rasulullah sebagai panutan kita. Jangan terombang-ambing oleh pendapat dan pandangan orang yang belum tentu membawa kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Dunia ini adalah tempatnya ujian. Tidak mungkin ada manusia yang terlepas dari ujian. Kita semua sedang diuji oleh Allah. Bahkan, kekayaan adalah ujian dari Allah. Sejauh mana kita bisa menggunakan rezeki yang Allah berikan itu untuk meningkatkan iman dan takwa kita. Sejauh mana kita bisa mensyukuri nikmat-nikmat tersebut. Begitu juga dengan kemelaratan yang sedang menimpa kita. Itu juga ujian. Sejauh mana kita tetap bersabar menghadapinya. Intinya kita mesti pandai-pandai bersyukur dan bersabar. Insya Allah, hidup ini akan terasa jauh lebih menenangkan dan menyenangkan. Jangan pernah sekali-kali membandingkan keadaan ekonomi kita dengan sekeliling kita. Sebab, setiap orang memiliki jatahnya masing-masing. Tidak perlu merisaukan tetangga yang sedang mendapatkan nikmat. Tidak perlu sakit hati ketika ada tetangga sedang umroh atau membeli mobil baru. Semua itu sudah diatur oleh Allah. Memang, menjaga hati agar tidak iri terhadap nikmat orang lain ini perlu dibiasakan. Kita harus belajar senang melihat orang lain senang. Merasakan senang melihat orang lain tertawa riang. Jangan sebaliknya, sakit hati melihat tetangga bahagia. Itu adalah salah satu contoh aktualisasi akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari. Dan melalui catatan ini, di hari ultah saya ini, saya ingin menjadi pribadi yang memiliki akhlak yang luhur. Pribadi yang selalu membuat orang tenang dan bahagia sebab keberadaan saya.
Selanjutnya, di ultah saya kali ini, saya juga ingi melepaskan beragam belenggu masa lalu yang kadang menghantui hari-hari saya. Begitu juga dengan beragam kekhawatiran di masa depan yang kadang menyelimuti pikiran saya. Saya tidak memikirkan masa yang sudah terlewatkan. Saya tidak ingin terlalu merisaukan masa yang saya sendiri masih belum bisa menerka-nerka. Sebab, masa depan ini adalah menjadi sebuah misteri dan masa lalu sudah menjadi histori. Percuma memikirkan keduanya secara berlebihan. Adanya akan membuat hati saya semakin gusar..Pengalaman di masa silam cukup untuk dijadikan Pelajaran berharga untuk melangkah ke depannya. Sepertinya yang perlu saya lakukan yaitu fokus pada hari ini. Sebab, hari ini adalah hari di mana saya berada di dalamnya. Saya bisa melakukan banyak hal untuk menjadi pribadi yang lebih baik, produktif, dan berdaya dengan memanfaatkan waktu di hari ini.
Maka dari itu, setiap detiknya, tak boleh dilewatkan begitu saja hanya dengan melakukan hal-hal yang sia-sia. Di usia saya yang sudah 30 tahun ini, saya harus bisa mengelola waktu dengan baik. Mengerjakan hal-hal yang seharusnya menjadi prioritas utama dalam hidup saya. Catatan ini akan menjadi pengingat bagi saya pribadi bahwa saya sedang berupaya untuk menjadi pribadi yang lebih produktif dan bermanfaat untuk sebanyak-banyaknya orang. Saya yakin betul apa yang pernah didawuhkan Kanjeng Nabi Muhammad SAW yaitu bahwa sebaik-baik manusia adalah mereka yang bermanfaat bagi sesamanya. Saya ingin orang lain di sekeliling saya memperoleh manfaat sebab kehadiran saya. Baik melalui tulisan, ucapan, materi, dan sebagainya. Intinya, membawa kebaikan dan kebermanfaatan apapun bentuknya. Oleh sebab itu, saya mesti lebih produktif lagi berkarya untuk menebar ilmu dan mengajak kebaikan. Sekali lagi, tulisan ini akan menjadi pengingat bagi saya pribadi bahwa saya sedang berupaya menjadi pribadi yang lebih baik lagi dari segala sisi, baik spiritual, emosional, intelektual, dan sosial. Saya sedang berusaha untuk menjadi orang yang selalu membawa kemaslahatan kemaslahatan untuk agama, nusa, dan bangsa. Melalui catatan ini saya berdoa:” Ya Allah, jadikan hamba pribadi yang semakin bertakwa, berakhlak, dan membawa manfaat. Amin.”
Oleh: Muhammad Aufal Fresky
Sarijan Coffe, Kota Malang
Kamis, 14 Desember 2023
11.21 WIB
Sumber gambar: pixabay


