Kamis, 14 Desember 2023

Catatan Reflektif di Hari Ulang Tahun ke-30

 

Hari ini genap 30 tahun usia saya. Sudah memasuki usia kepala tiga. Tak disangka, tak dinyana, semua rasa-rasanya begitu cepat berlalu. Memang waktu begitu gesit. Tak ada isyarat, terus bergerak. Terus mengalir. Semua manusia tak kuasa menahan laju waktu. Tak peduli dari mana mereka berasal. Tak peduli anaknya siapa. Semua memiliki jatah umur yang sama. Setiap harinya memiliki waktu 24 jam. Begitupun dengan usia mudanya, tak ada yang mengalami usia muda berkali kali dalam hidupnya. Masa muda hanya sekali. Itupun tidak semua sampai usia tua. Tidak terhitung, banyak sekali pemuda yang tutup usia di masa mudanya. Entah karena sakit, kecelakaan, atau faktor lainnya. Yang Namanya maut tidak kenal usia. Begitulah rahasia kematian. Tidak bisa diprediksi. Bisa menimpa siapa saja, kapan saja, dan di mana saja. Maka bersyukurlah, kita yang hari ini masih bisa menghirup udara segara. Masih diberikan kesempatan hidup untuk memperbaiki diri. Begitu juga dengan diri saya yang sampai hari ini masih diberikan nikmat kesehatan dan waktu luang oleh Tuhan. 

Di usia yang ke-30 tahun ini, sudah saatnya saya kembali melakukan introspeksi diri secara mendalam. Jangan-jangan, selama ini saya hanya asal-asalan menjalani hidup. Tidak mengerti dan menyadari betul apa yang sebenarnya menjadi tugas dan tanggung jawab saya di dunia ini. Ya, disadari atau tidak, jujur selama ini hubungan saya dengan Tuhan masih tidak begitu dekat. Bahkan, bisa dikategorikan jauh. Bukan berarti saya tidak menjalankan kewajiban-kewajiban saya sebagai seorang muslim dan mukmin. Namun, kewajiban-kewajiban yang dijalankan itu hanya ala kadarnya. Semisal, sholat lima waktu. Selama saya hidup, mungkin bisa dihitung jari, sholat saya yang benar-benar menghadap Allah. Saya tidak benar-benar menghadap dan menghadirkan Allah ketika melaksanakan sholat. Pikiran masih terikat ke dunia. Pikiran dan hati masih berkelana. Bahkan, sholat yang saya kerjakan seolah sedang balapan. Seakan-akan ingin cepat selesai. Tidak menikmatinya. Maka tak heran jika perbuatan keji dan mungkar masih kerap kali saya lakukan. Kemaksiatan demi kemaksiatan masih kerap kali saya kerjakan. Belum benar-benar bersih. Diri ini masih berselimut dosa. Bisa jadi disebabkan oleh pelaksanaan sholat yang masih sembrono. Pikiran dan hati tidak benar-benar menyembahnya. Hanya fisik saja yang melakukan gerakan. Rasa-rasanya, di usia saya yang sudah mencapai 30 tahun ini, sudah saatnya membenahi diri. Dan saya ingi memulainya dari kualitas sholat saya. 

Saya rasa, hidup saya akan jauh lebih tenang jika saya menikmati sholat. Tidak buru-buru untuk selesai. Menghadirkan Allah dalam hati dan pikiran. Saya percaya, ketentraman jiwa bisa dimulai dari memperbaiki kualias sholat. Dan yang paling penting lagi adalah mengutamakan sholat berjemaah di masjid. Apalagi, orang yang membiasakan diri sholat berjamaah di masjid akan memiliki keutamaan-keutamaan tersendiri. Sejauh ini, saya masih belum istikamah untuk hadir sholat berjemaah di masjid. Memang, istikamah ini adalah suatu hal yang cukup berat jika tidak dilandasi oleh tujuan yang jelas dan kemauan yang kuat. Membiasakan diri sholat berjemaah di masjid berarti membiasakan diri untuk sholat di awal waktu. Dan itu juga memiliki keutamaannya tersendiri. Saya ingin kembali belajar untuk konsisten berjemaah di masjid. Setidaknya, untuk sholat Maghrib dan Shubuh. Niat ini harus kuat. Tanpa adanya niat yang kuat maka biasanya malas-malasan untuk pergi ke masjid. Apalagi, malas ini menjadi penyakit yang saya sendiri masih berupaya menangkal dan membuangnya jauh-jauh. Jika saya membiaskan kemalasan ini terus bersemi dalam diri, maka akan kesulitan untuk melangkah ke masjid. Dan saya tidak menginginkan hal itu terjadi. Saya harus berupaya seoptimal mungkin untuk melawan rasa malas ini. Terutama malas dalam beribadah sholat berjemaah dan tepat waktu. 

Selain ingin memperbaiki kualitas sholat dan membiasakan diri sholat di masjid, di usia yang sudah menginjak 30 tahun ini, saya ingin terus membiasakan diri untuk membasahi lidah ini dengan dengan zikrullah dan sholawat. Saya meyakini betul dengan berzikir dan bersholawat hati dan pikiran saya akan jauh lebih tenang. Dengan berzikir dan dan bersholawat, hati akan bercahaya. Saya yakin bahwa dengan sholawat dan zikir, kotoran-kotoran dalam hati bisa dibersihkan. Saya ingin terus tersambung dengan Allah dan Rasulullah melalui zikir dan sholawat. Kedua amalan ini sangat super. Selain bisa membuat jiwa lebih tentram, juga bisa mendatangkan rezeki dari segala arah. Kedua amalan ini bisa mengundang turunnya rahmat Allah. Kedua amalan ini bisa membuat kita mendapatkan ridha dari Allah. Khusus untuk sholawat, bisa membuat kita jauh lebih dekat dengan Nabi Muhammad SAW. Dengan rajin bersholawat, kita bisa mendapatkan syafaat Nabi di kemudian hari. Dengan rajin bersholawat, insya Allah kita akan lebih dekat dengan sosok yang mulia tersebut. Dengan rajin bersholawat menjadi wasilah untuk lebih dekat kepada Sang Pencipta. Sholawat juga bisa membuat kita selamat di dunia dan di akhirat. Dijauhkan dari berbagai macam bala’.

Selanjutnya, salah satu hal lainnya yang menjadi perhatian saya dalam catatan ini adalah bagaimana memperbaiki hubungan dengan sesama. Ya, hubungan dengan manusia akan jauh terasa lebih indah jika memakai akhlakul karimah atau akhlak yang mulia. Jika memang ingin mencontoh atau meniru junjungan yang mulia, saya harus menerapkan akhlak yang baik kepada setiap orang yang saya jumpai. Menerapkan akhlak yang mulia tanpa memandang siapa dan dari mana orang yang dihadapi. Sebab, begitulah yang dicontohkan oleh Nabi. Begitulah yang diajarkan dalam Al-Quran. Namun, saya sendiri harus sadar dan paham bahwa tidak mungkin bisa membuat setiap orang yang saya kenali dan jumpai akan selalu senang kepada saya. Saya tidak akan mungkin bisa membuat semua orang senang dan cinta kepada saya. Sebab, begitulah hidup. Sebaik apapun kita menurut pandangan kita, pasti saja ada yang tidak senang, iri, atau risih dengan keberadaan kita. Jangankan kita sebagai makhluk yang berlumur dosa ini, sekelas Nabi Muhammad SAW sebagai suri tauladan saja masih ada yang membenci, memusuhi, dan bahkan kerap kali menggangu beliau. Apalagi kita. Adalah sebuah kemustahilan semua orang di sekeliling kita senang dengan keberadaan kita. Apalagi, kita aktif berjuang di jalan kebenaran dan kebaikan. Pasti ada hambatan yang akan kita hadapi. Bisa saja hambatan itu datangnya dari orang-orang terdekat kita. Namun, jangan takut. Tetaplah memiliki prinsip. Jadikan Allah sebagai tujuan utama kita. Jadikan Rasulullah sebagai panutan kita. Jangan terombang-ambing oleh pendapat dan pandangan orang yang belum tentu membawa kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi. 

Dunia ini adalah tempatnya ujian. Tidak mungkin ada manusia yang terlepas dari ujian. Kita semua sedang diuji oleh Allah. Bahkan, kekayaan adalah ujian dari Allah. Sejauh mana kita bisa menggunakan rezeki yang Allah berikan itu untuk meningkatkan iman dan takwa kita. Sejauh mana kita bisa mensyukuri nikmat-nikmat tersebut. Begitu juga dengan kemelaratan yang sedang menimpa kita. Itu juga ujian. Sejauh mana kita tetap bersabar menghadapinya. Intinya kita mesti pandai-pandai bersyukur dan bersabar. Insya Allah, hidup ini akan terasa jauh lebih menenangkan dan menyenangkan. Jangan pernah sekali-kali membandingkan keadaan ekonomi kita dengan sekeliling kita. Sebab, setiap orang memiliki jatahnya masing-masing. Tidak perlu merisaukan tetangga yang sedang mendapatkan nikmat. Tidak perlu sakit hati ketika ada tetangga sedang umroh atau membeli mobil baru. Semua itu sudah diatur oleh Allah. Memang, menjaga hati agar tidak iri terhadap nikmat orang lain ini perlu dibiasakan. Kita harus belajar senang melihat orang lain senang. Merasakan senang melihat orang lain tertawa riang. Jangan sebaliknya, sakit hati melihat tetangga bahagia. Itu adalah salah satu contoh aktualisasi akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari. Dan melalui catatan ini, di hari ultah saya ini, saya ingin menjadi pribadi yang memiliki akhlak yang luhur. Pribadi yang selalu membuat orang tenang dan bahagia sebab keberadaan saya. 

Selanjutnya, di ultah saya kali ini, saya juga ingi melepaskan beragam belenggu masa lalu yang kadang menghantui hari-hari saya. Begitu juga dengan beragam kekhawatiran di masa depan yang kadang menyelimuti pikiran saya. Saya tidak memikirkan masa yang sudah terlewatkan. Saya tidak ingin terlalu merisaukan masa yang saya sendiri masih belum bisa menerka-nerka. Sebab, masa depan ini adalah menjadi sebuah misteri dan masa lalu sudah menjadi histori. Percuma memikirkan keduanya secara berlebihan. Adanya akan membuat hati saya semakin gusar..Pengalaman di masa silam cukup untuk dijadikan Pelajaran berharga untuk melangkah ke depannya. Sepertinya yang perlu saya lakukan yaitu fokus pada hari ini. Sebab, hari ini adalah hari di mana saya berada di dalamnya. Saya bisa melakukan banyak hal untuk menjadi pribadi yang lebih baik, produktif, dan berdaya dengan memanfaatkan waktu di hari ini. 

Maka dari itu, setiap detiknya, tak boleh dilewatkan begitu saja hanya dengan melakukan hal-hal yang sia-sia. Di usia saya yang sudah 30 tahun ini, saya harus bisa mengelola waktu dengan baik. Mengerjakan hal-hal yang seharusnya menjadi prioritas utama dalam hidup saya. Catatan ini akan menjadi pengingat bagi saya pribadi bahwa saya sedang berupaya untuk menjadi pribadi yang lebih produktif dan bermanfaat untuk sebanyak-banyaknya orang. Saya yakin betul apa yang pernah didawuhkan Kanjeng Nabi Muhammad SAW yaitu bahwa sebaik-baik manusia adalah mereka yang bermanfaat bagi sesamanya. Saya ingin orang lain di sekeliling saya memperoleh manfaat sebab kehadiran saya. Baik melalui tulisan, ucapan, materi, dan sebagainya. Intinya, membawa kebaikan dan kebermanfaatan apapun bentuknya. Oleh sebab itu, saya mesti lebih produktif lagi berkarya untuk menebar ilmu dan mengajak kebaikan. Sekali lagi, tulisan ini akan menjadi pengingat bagi saya pribadi bahwa saya sedang berupaya menjadi pribadi yang lebih baik lagi dari segala sisi, baik spiritual, emosional, intelektual, dan sosial. Saya sedang berusaha untuk menjadi orang yang selalu membawa kemaslahatan kemaslahatan untuk agama, nusa, dan bangsa. Melalui catatan ini saya berdoa:” Ya Allah, jadikan hamba pribadi yang semakin bertakwa, berakhlak, dan membawa manfaat. Amin.”


Oleh: Muhammad Aufal Fresky




Sarijan Coffe, Kota Malang

Kamis, 14 Desember 2023

11.21 WIB

Sumber gambar: pixabay







 

Kamis, 07 Desember 2023

Selagi Ada Waktu, Teruslah Menebar Kebajikan


Seperti halnya diombang-ambing pikiran sendiri, kekhawatiran terhadap masa depan terkadang menghantui secara tiba-tiba. Tidak hanya itu, penyesalan di masa lalu juga kerap kali membayangi langkah-langkahku. Padahal, masa lalu sudah terlewati dan masa depan masih menjadi sebuah misteri. Sebenarnya, jika berpikir lebih dalam lagi, tak ada yang perlu dirisaukan. Semua kejadian-kejadian yang menimpa setiap manusia merupakan takdir yang telah Allah tentukan dalam hidupnya. Mana mungkin ada manusia yang sepanjang hidupnya selalu diliputi kebahagiaan. Ada kalanya, kesedihan demi kesedihan menghampirinya. Sebab, begitulah rumus hidup. Tidak ada kesenangan yang abadi. Tak ada kesedihan yang terus menerus. Semua silih berganti. Ada duka, ada tawa. Seperti halnya ada siang, ada malam. Semua berpasang-pasangan. Lantas, kenapa kita terjebak dalam pikiran yang berlebihan terhadap sesuatu yang kita sendiri tidak bisa mengubahnya. Kenapa kita bermuram durja terhadap sesuatu yang masih menjadi rahasia. 

Terus berjalan. Jangan terlalu menghiraukan omongan, cibiran, dan hinaan orang lain. Hidup terlalu berharga jika hanya sibuk memperhatikan komentar-komentar dari orang lain. Hidup terlalu singkat jika digunakan hanya untuk memikirkan sesuatu yang tidak begitu penting. Apalagi, selama kita hidup, sebaik apapun kita, pasti ada saja yang memandang sebelah mata atau bisa saja mengghibahi kita di belakang kita. Sesempurna apapun kita menurut kita, pasti ada saja yang tidak suka. Sebab begitulah hidup. Mana mungkin kita bisa membahagiakan hati setiap orang. Mana mungkin kita bisa bikin setiap orang tersenyum dan tertawa sebab keberadaan kita. Jika gerak-gerik kita bergantung pada pandangan dan komentar orang lain, maka Bersiap-siaplah idealisme yang kita miliki akan tergadai. Biasanya, manusia yang terlalu mempedulikan pandangan orang terhadap dirinya, akan mudah terbawa arus. Bahkan, dia bisa saja kehilangan karakter dan jati dirinya yang asli. Semua itu karena hanya terlalu pusing dengan pandangan orang. 

Padahal yang paling penting selama kita hidup yaitu bagaimana kita tetap berorientasi terhadap Allah sebagai Sang Maha Pencipta. Maksudnya, segala gerak-gerik kita mestinya hanya untuk Allah. Yang kita harus perhatikan dan dambakan betul yaitu bagaimana Allah ridha terhadap kita. Dan untuk mendapatkan ridha Allah, salah satu caranya yaitu melalui Rasulullah SAW. Ya, kita mesti menjadi pribadi yang senantiasa meniru dan meneladani akhlak mulia Nabi Muhammad SAW. Berupaya seoptimal mungkin untuk menjalankan sunnah-sunnah nabi kapan pun dan di mana pun. Tak peduli dengan cacian ataupun pujian orang lain. Artinya tidak merasa kecil hati ketika dipuji, dan tak merasa lebih baik dari orang lain ketika dipuji. Kita mesti belajar dan terus belajar menjadi pribadi yang rendah hati. 

Sekali lagi, ini tentang prinsip hidup yang harus kita pertahankan mati-matian. Prinsip hidup yang harus kita pegang erat-erat. Prinsip hidup yang tak menggantungkan diri kepada makhluk. Tidak menjadikan makhluk sebagai tujuan dari segala tindakan kita. Sebaliknya, mulai dari sekarang, kita mesti menjadikan Allah dan Rasulullah sebagai orientasi utama dari segala tindakan kita. Menjadikan Allah sebagai prioritas utama dibandingkan selain-Nya. Hidup akan terasa lebih nikmat dan tentram jika tak menghiraukan perkataan negatif orang lain. Sebab, kita ada bukan karena manusia. Kita ada karena ada yang mengadakan. Kita tercipta bukan karena kebetulan. Bukan secara bimsalabim jadi. Kita tercipta dan terlahir ke dunia karena Allah. Allah lah yang menghendaki kita hidup di dunia. Maka dari itu, sudah saatnya kita benar-benar sadar bahwa status kita adalah sebagai seorang hamba. 

Tak pantas jika berjalan di muka bumi ini dengan penuh keangkuhan. Tidak pantas jika kita merasa tinggi, merasa besar, merasa hebat dibandingkan yang lainnya. Percayalah, semua yang kita miliki, baik itu ilmu, kesehatan, rumah, anak, istri, mobil, sawah, perhiasan, dan sebagainya, itu merupakan titipan dari Allah. Sewaktu-waktu Allah bisa mengambil titipan itu. Jadi hakikatnya kita bukanlah pemilik aslinya. Malu rasanya jika kita sebagai seorang hamba merasa titipan itu adalah milik kita. Bahkan, semua organ tubuh kita sendiri adalah titipan dari Allah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Semisal, kedua kaki, akan ditanya ke mana melangkah selama hidup Kedua mata, akan diintrogasi, dibuat melihat apa selama hidup, dan sebagainya. 

Melalui tulisan ini, saya ingin mengingatkan pembaca sekalian, dan terutama diri saya selaku penulis. Yaitu bahwa hidup ini sebentar. Milikilah prinsip hidup yang luhur dan mulia. Letakkan dunia di kedua tangan, jangan di hati kita. Jadi ketika kita kehilangan, kita biasa-biasa saja. Sebaliknya, letakkan Allah dan Rasulullah di hati kita. Jadikan akhirat sebagai tujuan utama selama kita mengarungi bahtera kehidupan ini. Berlomba-lombalah dalam menebar kebajikan, Manfaatkan nikmat kesehatan dan waktu luang sebaik mungkin. Rugi besar jika kedua nikmat itu kita sia-siakan. Sebab, sewaktu-waktu, nikmat tersebut hilang dari diri kita. Baru kita merasa menyesal. Jangan sampai penyesalan itu tiba. Mumpung masih ada waktu, mari berkemas menuju alam akhirat. Kita semua tidak tahu akan malaikat maut menjumpai kita. Yang bisa kita lakukan adalah memanfaatkan waktu detik ini juga untuk menabung pahala. Semoga kita semua dimasukkan ke golongan orang-orang yang bertakwa lahir dan batin. Amin. Sekian yang bisa saya sampaikan melalui catatan ini. Semoga bermanfaat.


*) Penulis buku 'Empat Titik Lima Dimensi'

Kota Malang, 

Kamis, 30 November 2023

11.46 WIB


Sumber gambar: http://old.pcnu-pamekasan.or.id/makam-kh-khoiruddin-jadi-penutup-ziarah-maqbarah-tahun-ini/





Rabu, 06 Desember 2023

Malang, Bukan Hanya tentang Hujan dan Kenangan



Akhir-akhir ini, Kota Malang terasa lebih adem. Hampir tiap hari, guyuran hujan membasahi Kota Bunga ini. Sebagai perantau, saya merasa cukup betah tinggal di kota ini. Memang suasana sejuk membuat kantuk gampang menghampiri. Tidak hanya itu, kadang perut gampang keroncongan alias lapar. Apalagi saat saya harus memeras otak untuk menghasilkan sebuah karya. Khususnya karya opini. Sebagian opini saya tuntaskan di warung-warung kopi. Dari kafe ke kafe saya berpindah-pindah untuk menjaga spirit dalam berkarya.


Terkadang, ide baru dan segar tiba-tiba terbesit ketika saya sedang menikmati suasana kafe sembari menyeruput secangkir kopi. Tak ingin kehilangan kesempatan, saya buru-buru mengikat ide tersebut dalam 'notes' khusus. Notes itu sengaja saya buat untuk menampung ide-ide yang berseliweran sebelum nantinya ditulis menjadi sebuah gagasan utuh. Jujur saja saya menikmati saat-saat pikiran saya berkelana. Mengamati keadaan sekitar. Bahkan, tak jarang memori masa silam menghampiri. Itu pun bisa jadi bahan dalam menulis. 


Saya tidak pernah membatasi diri hanya bersedia menggali ide dari sumber-sumber tertulis atau tekstual. Lebih dari itu, saya bebaskan pikiran dan hati ini untuk membaca apa yang terlintas di depan mata dan apa yang dirasakan oleh hati ini. Keresahan demi keresahan tak jarang menyelimuti alam pikiran saya. Pertanyaan demi pertanyaan muncul begitu saja. Pertanyaan yang kadang saya sendiri masih mencoba untuk menelusuri jawabannya. Pertanyaan yang memang saya sendiri tak harus mengerti dan memahami saat itu juga jawabannya. Apalagi katanya, setiap penulis harus menjadi pembelajar seumur hidup. Tidak merasa puas dengan apa yang telah diketahui dan dipahami. Spirit menuntut ilmu rasa-rasanya 'fardhu ain' dimiliki penulis. 


Adalah sebuah kesalahan ketika kita merasa cukup dan puas dengan apa ilmu yang dimiliki. Sebuah kekeliruan besar ketika seseorang merasa pintar dan cerdas. Merasa sudah dipenuhi dengan ilmu. Padahal, sebanyak apapun ilmu kita, sedalam apapun ilmu yang kita pahami, hakikatnya masih sangat sedikit. Ibarat setetes air di tengah luasnya samudera ilmu. Apalagi ilmu yang kita miliki, sejatinya adalah anugerah dari Sang Pencipta. Sangat mungkin, ilmu yang kita miliki bisa dicabut kapan pun oleh Sang Pemilik Ilmu. Maka dari itu, sangat tidak pantas merasa jumawa dengan segala hal yang kita miliki. Sebab, itu semua titipan dari-Nya. 


Kembali lagi, terkait kebiasaan saya menulis dan mencari inspirasi di kafe, sebenarnya mulai intens ketika mulai menetap sementara di Malang. Malang seolah memberikan kesan dan warna tersendiri dalam perjalanan saya menggeluti dunia tulis menulis. Dunia yang selama ini cukup menyita perhatian saya. Sebab, saya meyakini betul bahwa dengan menulis saya bisa membawa kebermanfaatan untuk orang lain. Meskipun saya sendiri, tidak tahu persis, apakah orang-orang membaca tulisan saya atau tidak. Namun, saya percaya niat baik akan mendapatkan ganjaran. Dibaca atau tidak itu urusan belakangan. Syukur-syukur ada yang membaca. Saya hanya ingin keberadaan saya di dunia ini tidak hanya numpang hidup lalu mati tanpa arti. 


Sekali lagi, bagi saya, Malang lebih dari wilayah geografis. Bukan hanya tentang hujan dan kenangan. Namun juga sebagai tempat dimana saya berupaya mencari dan menemukan arti keberadaan diri. Malang menjadi tempat menempa diri. Dan yang lebih spesial lagi, Malang menjadi titik awal dimana benih-benih cinta antara saya dan istri mulai bersemi. 


Oleh: Muhammad Aufal Fresky (Penulis buku 'Empat Titik Lima Dimensi')


Kafe PadhasaranWedhangan, Kota Malang

Rabu, 6 Desember 2023

15.16 WIB


Featured Post

Pelestarian Batik Madura Butuh Regulasi Terarah

  Sejak beberapa tahun terakhir, saya  bergelut di bidang usaha batik tulis Madura. Selain karena dukungan keluarga, faktor lingkungan juga ...