Seperti halnya diombang-ambing pikiran sendiri, kekhawatiran terhadap masa depan terkadang menghantui secara tiba-tiba. Tidak hanya itu, penyesalan di masa lalu juga kerap kali membayangi langkah-langkahku. Padahal, masa lalu sudah terlewati dan masa depan masih menjadi sebuah misteri. Sebenarnya, jika berpikir lebih dalam lagi, tak ada yang perlu dirisaukan. Semua kejadian-kejadian yang menimpa setiap manusia merupakan takdir yang telah Allah tentukan dalam hidupnya. Mana mungkin ada manusia yang sepanjang hidupnya selalu diliputi kebahagiaan. Ada kalanya, kesedihan demi kesedihan menghampirinya. Sebab, begitulah rumus hidup. Tidak ada kesenangan yang abadi. Tak ada kesedihan yang terus menerus. Semua silih berganti. Ada duka, ada tawa. Seperti halnya ada siang, ada malam. Semua berpasang-pasangan. Lantas, kenapa kita terjebak dalam pikiran yang berlebihan terhadap sesuatu yang kita sendiri tidak bisa mengubahnya. Kenapa kita bermuram durja terhadap sesuatu yang masih menjadi rahasia.
Terus berjalan. Jangan terlalu menghiraukan omongan, cibiran, dan hinaan orang lain. Hidup terlalu berharga jika hanya sibuk memperhatikan komentar-komentar dari orang lain. Hidup terlalu singkat jika digunakan hanya untuk memikirkan sesuatu yang tidak begitu penting. Apalagi, selama kita hidup, sebaik apapun kita, pasti ada saja yang memandang sebelah mata atau bisa saja mengghibahi kita di belakang kita. Sesempurna apapun kita menurut kita, pasti ada saja yang tidak suka. Sebab begitulah hidup. Mana mungkin kita bisa membahagiakan hati setiap orang. Mana mungkin kita bisa bikin setiap orang tersenyum dan tertawa sebab keberadaan kita. Jika gerak-gerik kita bergantung pada pandangan dan komentar orang lain, maka Bersiap-siaplah idealisme yang kita miliki akan tergadai. Biasanya, manusia yang terlalu mempedulikan pandangan orang terhadap dirinya, akan mudah terbawa arus. Bahkan, dia bisa saja kehilangan karakter dan jati dirinya yang asli. Semua itu karena hanya terlalu pusing dengan pandangan orang.
Padahal yang paling penting selama kita hidup yaitu bagaimana kita tetap berorientasi terhadap Allah sebagai Sang Maha Pencipta. Maksudnya, segala gerak-gerik kita mestinya hanya untuk Allah. Yang kita harus perhatikan dan dambakan betul yaitu bagaimana Allah ridha terhadap kita. Dan untuk mendapatkan ridha Allah, salah satu caranya yaitu melalui Rasulullah SAW. Ya, kita mesti menjadi pribadi yang senantiasa meniru dan meneladani akhlak mulia Nabi Muhammad SAW. Berupaya seoptimal mungkin untuk menjalankan sunnah-sunnah nabi kapan pun dan di mana pun. Tak peduli dengan cacian ataupun pujian orang lain. Artinya tidak merasa kecil hati ketika dipuji, dan tak merasa lebih baik dari orang lain ketika dipuji. Kita mesti belajar dan terus belajar menjadi pribadi yang rendah hati.
Sekali lagi, ini tentang prinsip hidup yang harus kita pertahankan mati-matian. Prinsip hidup yang harus kita pegang erat-erat. Prinsip hidup yang tak menggantungkan diri kepada makhluk. Tidak menjadikan makhluk sebagai tujuan dari segala tindakan kita. Sebaliknya, mulai dari sekarang, kita mesti menjadikan Allah dan Rasulullah sebagai orientasi utama dari segala tindakan kita. Menjadikan Allah sebagai prioritas utama dibandingkan selain-Nya. Hidup akan terasa lebih nikmat dan tentram jika tak menghiraukan perkataan negatif orang lain. Sebab, kita ada bukan karena manusia. Kita ada karena ada yang mengadakan. Kita tercipta bukan karena kebetulan. Bukan secara bimsalabim jadi. Kita tercipta dan terlahir ke dunia karena Allah. Allah lah yang menghendaki kita hidup di dunia. Maka dari itu, sudah saatnya kita benar-benar sadar bahwa status kita adalah sebagai seorang hamba.
Tak pantas jika berjalan di muka bumi ini dengan penuh keangkuhan. Tidak pantas jika kita merasa tinggi, merasa besar, merasa hebat dibandingkan yang lainnya. Percayalah, semua yang kita miliki, baik itu ilmu, kesehatan, rumah, anak, istri, mobil, sawah, perhiasan, dan sebagainya, itu merupakan titipan dari Allah. Sewaktu-waktu Allah bisa mengambil titipan itu. Jadi hakikatnya kita bukanlah pemilik aslinya. Malu rasanya jika kita sebagai seorang hamba merasa titipan itu adalah milik kita. Bahkan, semua organ tubuh kita sendiri adalah titipan dari Allah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Semisal, kedua kaki, akan ditanya ke mana melangkah selama hidup Kedua mata, akan diintrogasi, dibuat melihat apa selama hidup, dan sebagainya.
Melalui tulisan ini, saya ingin mengingatkan pembaca sekalian, dan terutama diri saya selaku penulis. Yaitu bahwa hidup ini sebentar. Milikilah prinsip hidup yang luhur dan mulia. Letakkan dunia di kedua tangan, jangan di hati kita. Jadi ketika kita kehilangan, kita biasa-biasa saja. Sebaliknya, letakkan Allah dan Rasulullah di hati kita. Jadikan akhirat sebagai tujuan utama selama kita mengarungi bahtera kehidupan ini. Berlomba-lombalah dalam menebar kebajikan, Manfaatkan nikmat kesehatan dan waktu luang sebaik mungkin. Rugi besar jika kedua nikmat itu kita sia-siakan. Sebab, sewaktu-waktu, nikmat tersebut hilang dari diri kita. Baru kita merasa menyesal. Jangan sampai penyesalan itu tiba. Mumpung masih ada waktu, mari berkemas menuju alam akhirat. Kita semua tidak tahu akan malaikat maut menjumpai kita. Yang bisa kita lakukan adalah memanfaatkan waktu detik ini juga untuk menabung pahala. Semoga kita semua dimasukkan ke golongan orang-orang yang bertakwa lahir dan batin. Amin. Sekian yang bisa saya sampaikan melalui catatan ini. Semoga bermanfaat.
*) Penulis buku 'Empat Titik Lima Dimensi'
Kota Malang,
Kamis, 30 November 2023
11.46 WIB
Sumber gambar: http://old.pcnu-pamekasan.or.id/makam-kh-khoiruddin-jadi-penutup-ziarah-maqbarah-tahun-ini/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar