Akhir-akhir ini, Kota Malang terasa lebih adem. Hampir tiap hari, guyuran hujan membasahi Kota Bunga ini. Sebagai perantau, saya merasa cukup betah tinggal di kota ini. Memang suasana sejuk membuat kantuk gampang menghampiri. Tidak hanya itu, kadang perut gampang keroncongan alias lapar. Apalagi saat saya harus memeras otak untuk menghasilkan sebuah karya. Khususnya karya opini. Sebagian opini saya tuntaskan di warung-warung kopi. Dari kafe ke kafe saya berpindah-pindah untuk menjaga spirit dalam berkarya.
Terkadang, ide baru dan segar tiba-tiba terbesit ketika saya sedang menikmati suasana kafe sembari menyeruput secangkir kopi. Tak ingin kehilangan kesempatan, saya buru-buru mengikat ide tersebut dalam 'notes' khusus. Notes itu sengaja saya buat untuk menampung ide-ide yang berseliweran sebelum nantinya ditulis menjadi sebuah gagasan utuh. Jujur saja saya menikmati saat-saat pikiran saya berkelana. Mengamati keadaan sekitar. Bahkan, tak jarang memori masa silam menghampiri. Itu pun bisa jadi bahan dalam menulis.
Saya tidak pernah membatasi diri hanya bersedia menggali ide dari sumber-sumber tertulis atau tekstual. Lebih dari itu, saya bebaskan pikiran dan hati ini untuk membaca apa yang terlintas di depan mata dan apa yang dirasakan oleh hati ini. Keresahan demi keresahan tak jarang menyelimuti alam pikiran saya. Pertanyaan demi pertanyaan muncul begitu saja. Pertanyaan yang kadang saya sendiri masih mencoba untuk menelusuri jawabannya. Pertanyaan yang memang saya sendiri tak harus mengerti dan memahami saat itu juga jawabannya. Apalagi katanya, setiap penulis harus menjadi pembelajar seumur hidup. Tidak merasa puas dengan apa yang telah diketahui dan dipahami. Spirit menuntut ilmu rasa-rasanya 'fardhu ain' dimiliki penulis.
Adalah sebuah kesalahan ketika kita merasa cukup dan puas dengan apa ilmu yang dimiliki. Sebuah kekeliruan besar ketika seseorang merasa pintar dan cerdas. Merasa sudah dipenuhi dengan ilmu. Padahal, sebanyak apapun ilmu kita, sedalam apapun ilmu yang kita pahami, hakikatnya masih sangat sedikit. Ibarat setetes air di tengah luasnya samudera ilmu. Apalagi ilmu yang kita miliki, sejatinya adalah anugerah dari Sang Pencipta. Sangat mungkin, ilmu yang kita miliki bisa dicabut kapan pun oleh Sang Pemilik Ilmu. Maka dari itu, sangat tidak pantas merasa jumawa dengan segala hal yang kita miliki. Sebab, itu semua titipan dari-Nya.
Kembali lagi, terkait kebiasaan saya menulis dan mencari inspirasi di kafe, sebenarnya mulai intens ketika mulai menetap sementara di Malang. Malang seolah memberikan kesan dan warna tersendiri dalam perjalanan saya menggeluti dunia tulis menulis. Dunia yang selama ini cukup menyita perhatian saya. Sebab, saya meyakini betul bahwa dengan menulis saya bisa membawa kebermanfaatan untuk orang lain. Meskipun saya sendiri, tidak tahu persis, apakah orang-orang membaca tulisan saya atau tidak. Namun, saya percaya niat baik akan mendapatkan ganjaran. Dibaca atau tidak itu urusan belakangan. Syukur-syukur ada yang membaca. Saya hanya ingin keberadaan saya di dunia ini tidak hanya numpang hidup lalu mati tanpa arti.
Sekali lagi, bagi saya, Malang lebih dari wilayah geografis. Bukan hanya tentang hujan dan kenangan. Namun juga sebagai tempat dimana saya berupaya mencari dan menemukan arti keberadaan diri. Malang menjadi tempat menempa diri. Dan yang lebih spesial lagi, Malang menjadi titik awal dimana benih-benih cinta antara saya dan istri mulai bersemi.
Oleh: Muhammad Aufal Fresky (Penulis buku 'Empat Titik Lima Dimensi')
Kafe PadhasaranWedhangan, Kota Malang
Rabu, 6 Desember 2023
15.16 WIB

Tidak ada komentar:
Posting Komentar