Jumat, 15 Mei 2026

Refleksi Diri Sejenak di Vila de'Rumah Rindu Alam

 


Adakah sejarahnya orang-orang besar di negeri ini yang tidak cinta akan ilmu dan pengetahuan? Bukankah orang-orang sukses di berbagai bidang memiliki ketekunan dan kedisiplinan tinggi dalam membaca buku? Seperti halnya pendiri bangsa kita yang bahkan dikatakan sebagai "kutu buku" atau pecinta buku kelas kakap. Contohnya seperti Sukarno, Hatta, Natsir, Agus Salim, dan masih banyak lagi tentunya.

Membaca buku, tentu saja hanya salah satu cara untuk melatih ketajaman pikiran dan termasuk juga daya analisis. Membaca buku hanya salah satu jalan untuk memperluas wawasan dan memperteguh kepribadian. Sebab, menempa diri, tidak cukup hanya dengan bergulat dengan tumpukan buku dan kertas.

Mengembangkan diri, bisa dengan melatih kepekaan membaca realitas sosial dan alam. Bahkan, bisa juga dengan berupaya mengenali diri dan esensi hidup. Untuk apa kita hidup? Dari mana asal usul kita? Ke mana muara dari semua ini? Apa tujuan hidup yang sejati?

Dengan sering merenungi pertanyaan-pertanyaan semacam itu, insya Allah tirai-tirai penghalang kita dengan Tuhan perlahan akan tersingkap. Bahwa ternyata kita hanyalah makhluk yang terbatas ruang dan waktu. Bahwa kita sekadar makhluk yang penuh dengan keterbatasan.

Dengan begitu, perasaan jumawa akan terkikis pelan-pelan. Dengan begitu, kita bisa semakin menundukkan kepala. Menyadari betul betapa kecilnya kita di tengah besarnya kekuasaan Allah. Bayangkan saja, alam semesta ini di mana ujungnya? Bumi, bulan, planet-planet lain, galaksi, dan berbagai benda luar angkasa lainnya menunjukkan keagungan ciptaan Allah. Betapa hebat ciptaan Allah. Semua tersusun dengan pola-pola yang menakjubkan.

Hanya saja, kadang sebagian dari kita tidak mampu dan bahkan tidak mau untum menangkap sedikit dari tanda-tanda yang dicipratkan. Padahal, kedua bola mata masih berfungsi dengan baik. Padahal, kedua telinga masih mampu mendengar dengan jelas. Jangan-jangan yang buta buka mata jasmaniah kita. Jangan-jangan yang tuli bukan telinga jasmaniah kita. Tapi mata dan telinga ruhaniah kita. 

Bisa jadi hari telah lama berkabut dan kotor sehingga tidak sanggup merasakan dan menyelami kekuasaannya. Dianggapnya semua terjadi karena "hukum alamiah". Dianggapnya semua pernak-pernik dunia dan keindahannya adalah sebuah kebetulan belaka. Padahal di balik itu ada campur tangan Sang Maha Kreator. Ada arsitek agung yang merancang semuanya sedemikian rupa. Kita menjadi sulit merasakan dan menyadari sebab hanya memandang semua dengan mata fisik. Sementara di lain sisi, mata batin kita terlelap. 

Maka dari itu, senyampang masih ada kesempatan, sudah semestinya kita belajar menghidupkan hati agar lebih peka membaca tanda-tanda keagungan Allah. 

Karena seperti yang telah disampaikan di awal tadi, bahwa membaca bukan hanya berbicara mengenai proses memahami ilmu dari buku, makalah, majalah, dan sejenisnya. Lebih luas dari itu, juga menyinggung perihal memahami gejala alam dan sosial di sekeliling kita. Termasuk juga berupaya mengenali diri kita sendiri selalu manusia.

Dan jika ditelusuri dari perjalanan sounding fathers kita, nampaklah bahwa mereka ternyata dunia mereka tidak hanya bergumul dengan buku. Tapi dengan kenyataan; seperti ragam persoalan ekonomi, sosial, politik, budaya, dan semacamnya. Mereka, tidak menjadikan kepalanya hanya digunakan untuk menumpuk ilmu. Otaknya tidak hanya menjadi semacam hardisk penyimpan data dan informasi. Lebih dari itu, mereka bergerak, berjuang, dan berdedikasi untuk agama, nusa, dan bangsa. 

Para pendahulu tersebut, nyatanya memiliki visi yang melampaui zaman. Cita-citanya besar. Semangat perjuangannya bak batu karang. Semua itu, bermula dari kemampuan membaca denyut nadi kehidupan masyarakat. 

Baiklah, tiba saatnya saya memungkasi catatan ini. Izinkan saya mengambil sebuah kesimpulan bahwa di dunia yang semakin renta ini, marilah kita menjadi pembelajar sepanjang hayat, senantiasa menghidupkan hati dengan zikir, mengasah pikiran dengan membaca buku. Ambillah jeda dalam rutinitas keseharian untuk refleksi diri dan tafakkur. 


Kepkaan batin perlu diasah dengan sering mengingat Allah. Kecerdasan pikiran juga perlu ditingkatkan dengan tekun membaca teks dan konteks. Satu lagi, belajarlah untuk menjadi bijaksana dalam menjalani hari-hari yang seolah semakin singkat ini. Bukankah kita tak abadi di dunia ini? Sekali lagi, catatan ringkas ini semacam refleksi singkat bagi saya pribadi terutama selaku penulis. Tentu agar ke depan bisa bijaksana melakoni hidup.


de'Rumah Rindu Alam, Jl. Mojowarno, Mojorejo, Kec. Junrejo, Kota Batu.


Kamis, 14 Mei 2026

10.40 WIB



Kamis, 14 Mei 2026

Renungan Malam di Vila de'Rumah Rindu Alam

Suasananya asri nan meneduhkan. Gemercik suara kolam renang dan kolam ikan menjadi irama alami yang menentramkan pikiran. Pohon-pohon rindang dan semilir angin juga menambah nuansa kesejukan. Benar-benar syahdu. Begitulah kesan awal saya saat pertama kali sampai di vila "de'Rumah Rindu Alam" ini. 

Kondisinya sangat mendukung untuk mengarang sebuah tulisan. Ide-ide segar tiba-tiba datang bermunculan satu per satu. Saya pun tidak ingin kehilangan momentum. Sehingga, wajib kiranya untuk segera dieksekusi menjadi sebuah karya utuh. Dan kali ini, saya memutuskan untuk sedikit membahas perihal pentingnya menjaga kewarasan berpikir dan menegakkan nilai-nilai kemanusiaan di tengah hiruk-pikuk zaman.

Dunia saat ini, seakan menuntut manusia menjadi cepat, tangkas, dan up to date. Seolah memberikan jeda untuk sekadar merenung dan refleksi adalah sebuah hal yang tak wajar. Memang, hal-hal baru bermunculan setiap harinya. Yang viral yang menyita perhatian. Kemunafikan dibungkus dengan dalil agama. Ketidakadilan dikaburkan dengan memanipulasi regulasi. Kebenaran disamarkan lewat otoritas mutlak antikritik. Perjuangan menegakkan kebenaran dibungkam sebab dinilai mengusik stabilitas kekuasaan. 

Otak menjadi tumpul karena nalar dimatikan pelan-pelan. Daya kritis dilemahkan karena dianggap melabrak aturan. Suara jeritan rakyat bawah tak didengar. Yang di atas sana justru sibuk bagi-bagi kekuasaan, proyek, tender, dan semacamnya. Ada yang malu-malu kucing mengakui perbuatan culasnya itu. Ada yang bermuka tembok alias telah tercabut rasa malunya. Rakyat, dijadikan sebatas sapi perah yang dihisap terus. Yang meminum hasilnya adalah mereka yang selalu haus akan materi dan jabatan.

Sepertinya kita perlu sejenak jeda untuk membaca realitas sosial hari ini. Bahwa dunia kadang terbolak-balik; tak seperti yang kita inginkan, tak sesuai dengan apa yang diharapkan. Seperti halnya banyak ahli hukum yang justru mempermainkan hukum, ahli agama justru menginjak-injak agama, ahli ekonomi sibuk merekayasa statistik pertumbuhan ekonomi, ahli kedokteran hilang kemanusiaannya, dan semacamnya. 

Menghadapi dunia yang semakin renta dan tua ini, menggunakan logika saja tidak cukup. Harus melibatkan rasa. Hati nurani perlu terus dihidupkan agar kemanusiaan kita tidak tergerus arus zaman. Sebab, manusia akan semakin bermartabat manakala mampu memanusiakan manusia lainnya. Artinya mampu menghargai dan menghormati manusia lainnya apa pun latar belakangnya. Dalam hal ini, yang dibutuhkan bukan hanya kecerdasan intelektual. Namun juga kecerdasan emosional dan bahkan spritual. Bahwa semua manusia di dunia ini adalah ciptaan Allah. Dan menjadi kewajiban kita untuk tidak berbuat buruk kepada manusia lainnya, entah dengan tutur kata atau tindakan kita. 

Gemerlap zaman menuntut kita untuk menjadi pribadi yang setia memegang nilai-nilai luhur. Seperti halnya nilai kebajikan, kejujuran, keadilan, kebenaran, dan semacamnya. Menuntut kita untuk menjadi pribadi yang memiliki prinsip seperti batu karang yang tetap kokoh berdiri tegak di tengah terjangan gelombang ombak dan bahkan badai sekalipun. Tidak mudah terombang-ambing lingkungan dan keadaan. Tetap menjadikan Al-Quran dan Hadist sebagai pedoman dan panduan utama. 

Jadi, di era sekarang, memang semestinya kita perlu belajar untuk tidak menjadi follower, gampang terbawa arus, mudah ganti haluan. Belajar untuk tidak cepat kebakaran jenggot ketika ada yang memprovokasi. Belajar untuk tidak mudah menghakimi orang lain. Belajar untuk melihat segala persoalan dari banyak sudut pandang agar lebih jernih dalam membaca dan mencernanya.

Sekali lagi, kewarasan berpikir perlu dijaga dan terus dirawat agar kita tidak mudah mengambil kesimpulan secara serampangan. Otak dan hati perlu dipadukan untuk menimbang-nimbang segala sesuatunya. Pun demikian dengan nafsu yang perlu dikendalikan agar tidak liar. Sebab, kita tidak mau istilah "homo homini lupus" (manusia adalah serigala bagi sesama manusia) semakin teraktualisasi dalam keseharian kita.

Sekian dulu renungan malam ini. Semoga bermanfaat. Salam satu pena. 


de'Rumah Rindu Alam, Jl. Mojowarno, Mojorejo, Kec. Junrejo, Kota Batu.


Rabu, 13 Mei 2026

23.10 WIB.

 


Sumber gambar: https://derumahrindualam.com/

Senin, 02 Desember 2024

Kharisma Kiai Darmin

 



Al-Furqon, pesantren yang terletak di pinggiran Sungai Barkah itu dipimpin Kiai Darmin sejak tahun 1980. Dia pendiri sekaligus pengasuh utama pesantren. Warga Kampung Klampis mengagumi sosok kiai tersebut sebagai pribadi yang penuh kasih sayang dan istikamah mengayomi umat. Terutama Abdullah, salah satu santri senior yang kini sudah boyong dari pesantren tersebut. Di depanku, Abdulloh tak bisa menahan haru ketika menceritakan betapa lembutnya gurunya tersebut. Dari awal mondok, sekitar usia belasan tahun, Abdulloh menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri betapa penuh perhatiannya Sang Kiai kepada santri-santrinya. Bahkan, kiainya tersebut ringan tangan alias sangat dermawan kepada seluruh santri-santrinya. Terutama kepada mereka yang berasal dari keluarga tak berada. Kiai Darmin tidak segan-segan membawakan beras untuk dimakan oleh santri-santri yang memang secara ekonomi tidak mampu. Sebab, sebagian besar santri-santri Kiai Darmin sendiri merupakan yatim piatu dan dari kaum dhuafa’. Bahkan ada beberapa santri yang hanya bermodalkan sehelai pakaian untuk menimba ilmu ke Kiai Darmin. Tentu saking tak berpunyanya santri-santri tersebut. 

Abdulloh menceritakan selaksa peristiwa dan ragam kenangan yang terjalin dengan Kiai Darmin. Baginya, sosok kiainya tersebut bukan sekadar guru biasa. Bukan hanya mentransfer llmu dan pengetahuan kepada seluruh santri-santrinya. Lebih dari itu, Kiai Darmin merupakan penyejuk jiwa dan pembimbing ruhani para santri dan seluruh warga di Kampung Klampis. Bahkan tidak sedikit dari luar kota yang sowan ke dhalemnya untuk sekadar ngalap berkah dan minta nasihat terkait beragam permasalahan hidup. Mulai dari masalah ekonomi hingga politik, satu demi satu, silih berganti, tamu-tamu Kiai Darmin datang dan pergi. Kediamannya seolah tak pernah sepi. Keberadaannya menjadi magnet kuat yang menarik sebanyak-banyaknya orang dari berbagai macam penjuru Tanah Air. Sosok sederhana tersebut menjadi panutan umat. 

Abdulloh memberikan keterangan, suatu waktu pada tahun 1990, ada segerombolan bandit yang menghadang Kiai Darmin dan Sarnuji (sopir Kiai Darmin) yang sedang melakukan rihlah dakwah ke Probolinggo. Ada sekitar lima bandit bercelurit itu menyuruh Kiai Darmin dan Sarnuji keluar dari mobil. Dengan tenang, Kiai Darmin keluar dan menyapa pentolan tertinggi bandit tersebut: “Assalamulaikum saudaraku. Adakah yang bisa saya bantu untuk Anda semua?” Mendengar suara lembut nan berwibawa dari Kiai Darmin, sang pentolan bandit tersebut bergetar hatinya. Suara dan pandangan lembut Kiai Darmin seolah melunakkan hatinya. Tersungkurlah kepala perampok tersebut di bawah kaki Kiai Darmin. Tak bersuara. Diam seribu bahasa. Sorot matanya yang tadi penuh amarah, tiba-tiba berubah menjadi linangan air mata. Entah ajian dan kesaktian macam apa yang dimiliki Kiai Darmin sehingga membuat pentolan bandit tersebut seolah tak berdaya. Ternyata, anak buahnya juga hampir sama semua. Tidak bisa bisa menahan air matanya. Isak tangis tiba-tiba pecah dari segerombolan perampok tersebut. Suasana menjadi haru. Semuanya dengan suara terisak-isak memohon maaf kepada Kiai Darmin.

Seketika itu juga, kelima bandit yang terkenal garang dan kejam itu, mendeklarasikan diri untuk menjadi santri dan pengawal setia Kiai Darmin.  Dan selepas dari kejadian itu, Kiai Darmin meminta agar mereka bertaubat dan tinggal di Pondok Al-Furqon. Semuanya menyetujui. Singkat cerita, kata Abdulloh, kelima orang tersebut ternyata menjelma menjadi kiai besar yang tersebar di berbagai tempat. Ada yang di Banjarmasin, Sumenep, Aceh, Lampung, dan Jogjakarta. Dari situlah, Abdulloh, semakin kagum dengan cara dan strategi kaderisasi yang diterapkan oleh Kiai Darmin dalam mendidik santri-santrinya. Tak terkecuali kelima mantan bandit tersebut. Tidak hanya itu, ada kabar dari beberapa santri senior lainnya. Kiai Darmin mampu membaca masa depan seseorang. Hal itu yang oleh sebagian orang-orang pesantren dianggap sebagai karomah atau kemampuan luar biasa yang biasanya diberikan Tuhan kepada para kekasihnya. 

Itu hanyalah secuil kisah dari ribuan atau bahkan jutaan kisah mengenai Kiai Darmin yang disampaikan Abdulloh kepadaku. Kini usia Kiai Darmin semakin sepuh. Kekuatan fisiknya mulai rapuh. Beberapa putranya mulai menggantikan perannya di pondok dan di tengah-tengah masyarakat. Kiai Darmin hanya sesekali keluar dari dhalemnya. Akhir-akhir ini, kata para santrinya, Kiai Darmin menyibukkan diri bertafakkur dan mendekatkan diri kepada Allah di dhalem dan Masjid Al-Furqon. 

Suatu waktu, di hari Jumat, selepas mengimami sholat Shubuh, Kiai Darmin segera bergegas menuju kamar pribadinya. Santri-santri pada keheranan. Sebab, tak biasanya sang kiai buru-buru. Seolah dikejar waktu. Sang Kiai meminta abdi dhalemnya untuk mengumpulkan 9 santri senior di depan kamarnya. Sang Kiai duduk pas di depan pintu sembari meminta 9 santri senior itu mendengarkan petuah-petuahnya. Selang lima menit, dalam keadaan tangan masih memegang tasbih, beliau tiba-tiba tersungkur. Saat itu juga sang malaikat maut telah mencabut nyawa sang kiai. Keluarga besar beliau semua berkumpul. Pun dengan ribuan santrinya. Seolah tak percaya, tokoh panutan, sang penyejuk kalbu telah tiada. Pergi meniggalkan pondok, santri, keluarga, dan seluruh warga Klampis untuk selama-lamanya. Tangisan duka menyelimuti Pesantren Al-Furqon. Ribuan warga Klampis bahkan dari luar Klampis berduyun-duyun mendatangi kediaman sang kiai. Mereka semua seolah berebutan ingin mengantarkan jenazah sang kiai ke liang lahat dan sekaligus memberikan penghormatan terakhir. 

Kini, Klampis telah kehilangan mutiaranya. Pelita ilmu dan pelipur lara itu telah pergi untuk selama-lamanya. Tapi, kepergian itu bukanlah akhir dari segalanya. Ajaran-ajaran luhur Kiai Darmin tercermin dalam gerak-gerik santrinya. Warisan keteladanan akhlak Kiai Darmin akan nampak dalam tutur kata dan perangai seluruh santrinya. Seperti yang telah disampaikan dalam petuah terakhir kepada 9 santri seniornya: “Teruskan perjuanganku, jangan pernah ragu dan takut melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar, jadilah pelita di tengah-tengah umat.”


Oleh: Muhammad Aufal Fresky


Sumber ilustrasi:

 https://pcnumalangkota.or.id/blog/2020/03/07/dedikasi-kiai-kampung/

Selasa, 05 November 2024

Arkan dan Kiai Wardi

 

Di sebuah kampung jauh di sana, ada seorang pemuda yang masih bergumul dengan ragam pertanyaan yang menghujam alam pikirannya. Senantiasa mengusik malam-malamnya. Pertanyaan itu seputar pencarian identitas dan jati dirinya. Pemuda tersebut memberontak terhadap keadaan diri dan sekelilingnya. Seolah-olah dunia sedang bekerja tidak sesuai dengan apa yang selama ini dalam tafsirnya. Kegamangan demi kegamangan mendorong langkah kakinya terus berjalan menelusuri tempat-tempat asing yang selama ini belum pernah dikunjunginya. Dia memutuskan untuk menjadi pengembara demi menemukan jawaban-jawaban atas pertanyaan yang menghantui hari-harinya. Dalam keadaan seperti itulah, kadang rasa rindu terhadap guru-gurunya di waktu madrasah dulu kembali menyeruak. Kerinduan yang tak bisa segera dibayarkan. Informasi terbaru, guru-gurunya tersebut ternyata semuanya telah meninggal dunia akibat letusan gunung berapi. Tidak hanya guru-gurunya, ribuan warga Kampung Sudimakmur juga wafat. Memang ajal tak ada yang mengetahui. Bencana tersebut tak ada yang menduga. Warga kampung panik dan histeris ketika suara gemuruh gunung telah membuat suasana mencekam. Dan beberapa waktu kemudian letusan itu menyebabkan semua warga kampung meninggal dunia. Termasuk guru-guru sang pemuda tersebut. Nama pemuda itu adalah Ahmad Arkan. 

Mendung duka menyelimuti batinnya. Guru-guru yang selama ini dicintainya telah meninggalkan dia untuk selama-lamanya. Kepada siapa lagi dia akan mengadukan pertanyaan yang berkecamuk dalam kepalanya. Dia harus bergerak lagi mencari sumber mata air kebijaksanaan. Dia mulai terbakar semangatnya untuk menemukan guru sejati. Sebab, sudah tak mungkin lagi dia kembali ke kampung halamannya yang telah luluh lantah oleh bencana alam. Arkan tidak mau berhenti dengan pencariannya. Dia tidak cepat puas dengan ilmu dan pengetahuannya yang selama ini diperolehnya di madrasah. Bahkan, dia merasa betul bahwa pengetahuan dan ilmunya sangat sedikit dan terbatas. Sebab itulah, dia menjelajah ke berbagai pelosok Jawa dan Madura untuk meminum dari mata air ilmu dan hikmah.

Tak terhitung berapa makam aulia yang dia ziarahi. Tak terhitung berapa jumah kiai yang telah dia sowani. Arkan terus menerus berjalan tanpa henti. Baginya, perjalanan tersebut semacam menjadi perjalanan menemukan diri yang sebenarnya. Perjalanan mengasah alam batinnya. Mengasah diri agar menjadi manusia yang sebenar-benarnya manusia. Sebab, selama ini Arkan merasa bahwa banyak di antara manusia yang dijumpainya bukanlah manusia yang seutuhnya. Ada manusia yang perangainya seperti iblis, ada yang setengah macan, ada yang seperti tikus, dan semacamnya. Radar hati Arkan mulai terasah. Dia mulai mengenali banyak tipikal manusia. Ternyata selama ini, yang ditemuinya itu memakai topeng yang berlapis-lapis. Tidak menjadi dirinya sendiri. Dengan kata lain penuh dengan permak dan sandiwara. Tidak sesuai apa yang diucapkan dengan hatinya. Tidak selaras kata dan perbuatannya. Arkan tidak menjauhi mereka yang berwatak semacam itu. Justru dia belajar dari mereka agar tidak terjebak menjadi manusia yang penuh dengan kepalsuan. Sebab, kepalsuan ini sebenarnya akan membawa kita semua pada yang namanya ketidaktenangan dan kegelisahan hidup. Kepalsuan juga menjadikan kita berjarak dengan Tuhan dan bahkan bisa menimbulkan kemurkaan Tuhan. Sebab kita telah menegasikan nilai-nilai kejujuran dan kebenaran dalam menjalani hidup

Setibanya di Desa Payudan Daleman, Sumenep, Arkan menemukan sebuah gua yang menarik perhatiannya. Gua Payudan namanya. Konon, berdasarkan cerita warga setempat, gua tersebut menjadi tempat pertapaan tokoh-tokoh besar di zaman dahulu. Termasuk pembesar kerajaan dan bahkan Proklamator Republik Indonesia, Bung Karno, pernah bertapa di tempat tersebut. Pepohonan rindang di sekitar Gua menambah suasana syahdu dan sejuk. Membuat betah siapa pun yang datang ke Gua tersebut.

Di depan gua, Arkan terlibat asik ngobrol dengan sosok tua bersorban putih. Wajahnya memancarkan keteduhan, membuat damai hati setiap orang yang memandangnya. Usut punya usut, orang tersebut ternyata Kiai Wardi, salah satu Kiai asal Bangkalan yang memang rutin mendatangi gua tersebut. Tidak banyak orang yang mengetahui sosok Kiai Wardi. Sebab, dia sendiri bukanlah kiai masyhur di tengah-tengah masyarakat. Rutinitasnya dihabiskan mengajar santri-santrinya yang hanya sejumlah hitungan jari. Kiai Wardi juga senang berkelana di berbagai tempat di Jawa Madura. Ternyata, takdir perjumpaan dengan Kiai Wardi, membuat Arkan seolah memiliki spirit dan gairah baru dalam menjalani hidupnya. Dalam bincang-bincang yang tidak sampai sejam tersebut, Arkan menimba banyak ilmu dan hikmah dari Sang Kiai. Pertanyaan-pertanyaan tentang Tuhan, manusia, alam, dan hakikat kehidupan semua dijawab oleh Kiai Wardi dengan telaten dengan merujuk beragam sumber refrensi kitab klasik dan modern. Seolah-olah Kiai Wardi ini menjadi kitab berjalan. Semua pertanyaan juga dibarengin dengan contoh dalam kehidupan nyata. Kiai Wardi menjawab tidak hanya berdasarkan teks, tetapi juga konteks. Kekaguman Arkan semakin menjadi-jadi. Mulai detik itu juga, di depan Kiai Wari, Arkan memutuskan untuk menjadi murid dan sekaligus khodimnya. Kiai Wardi juga langsung mengiyakannya. Melihat semangat yang berkobar-kobar dan mungkin juga membaca potensi besar sang pemuda yang nantinya bisa membawa banyak kebermanfaatan di tengah masyarakat. 

Waktu sudah menunjukkan jam 17.20 WIB. Waktu maghrib akan tiba. Sebelum mengakhiri perbincangan, Kiai Wardi memberikan beberapa petuah kepada Arkan untuk dijadikan pegangan hidupnya. Pertama yaitu memperbanyak zikir kepada Allah dan memperbanyak sholawat kepada Rasulullah. Kedua, sering berkumpul dengan orang-orang sholeh. Ketiga, menjadi pribadi yang penuh dengan kasih sayang kepada manusia dan seluruh makhluk di muka bumi. Keempat, upayakan untuk sholat tepat waktu dan berjemaah di masjid. Kelima, menjadi manusia berakhlakul karimah. 

Petuah-petuah tersebut tersebut, imbuh Kiai Wardi, diharapkan bisa membuat sanubari Arkan tenang dan penuh optimisme dalam mengarungi hidup yang penuh gelombang ini. Tiba-tiba Azan maghrib berkumandang dari dekat musola kecil di sekitar Gua Payudan. Obrolan berakhir. Kiai Wardi meminta Arkan menemuinya kembali di Pasarean Syaikhona Kholil satu bulan lagi pada jam 00.00 WIB. Arkan menyanggupinya. Kiai Wardi pamitan untuk melanjutkan perjalanan. Tiba-tiba Arkan terbangun dari tidur pulasnya di pelataran musola dekat Gua Payudan. Waktu menunjukkan jam 11.30 WIB. Ternyata dia hanya bertemu Kiai Wardi dalam mimpi. Namun, uniknya, mimpi tersebut ternyata terasa sangat nyata. Semua nasehat dan pesan Kiai Wardi seolah nempel di pikirannya. Selepas tidur siang tersebut, Arkan merasakan ada ketenangan. Dia langsung menuju tempat wudu untuk menunaikan Sholat Dhuhur. Setelah sholat Dhuhur, ada ketentraman tersendiri yang menyelimuti batinnya. 

Dan di belakangnya, sosok yang ada dalam mimpinya itu sudah menunggunya. Dia kaget bukan main. Seolah tak percaya. Antara nyata dan mimpi. Dan yang membuat dia semakin heran yaitu ketika Kiai Wardi langsung berucap: “Temui saya di Pesarean Syaikhona Kholil satu bulan lagi tepat jam 00.00 WIB”. Belum sempat Arkan membalas, Kiai Wardi langsung pergi keluar. Dan Arkan diam seribu kata. Tak berkutik. Seolah tersihir. Dan dia baru sadar ketika Kiai Wardi sudah tak ada di depannya. Hanya saja yang dia rasakan adalah pancaran aura dan kharisma Kiai Wardi seolah menghipnotis dirinya untuk menjadi manusia yang lebih bertakwa secara dhohir maupun batin. Dari mimpi dan perjumpaan sekilas itulah Arkan menemukan beberapa jawaban atas pertanyaannya selama ini. Tak henti-hentinya dia mengucapkan alhamdulillah atas karunia besar yang telah Allah berikan kepada-nya. Selanjutnya, dia hanya tinggal menunggu waktu untuk menuntaskan beberapa pertanyaan lainnya kepada Sang Kiai. Selain memang dia sangat penasaran kepada sosok berjubah dan bersorban putih tersebut. 


Oleh: Muhammad Aufal Fresky


Sumber ilustrasi: depositphotos.com

Minggu, 20 Oktober 2024

Menyambut Pemimpin Baru dengan Penuh Optimisme

 

Alhamdulillah. Hujan kembali mengguyur Malang. Sejuk rasanya. Suasana begini tak ingin saya lewatkan begitu saja. Seolah ada dorongan untuk menuliskan sesuatu. Jari jemari seakan-akan tergerak untuk memahat kata demi kata. Meski belum jelas konsep utuhnya seperti apa. Memang begitulah kadang gaya saya menulis. Mengalir entah ke mana muaranya. Penuh dengan spontanitas. Lebih-lebih jika tulisan ini semacam tulisan bebas.

Baiklah, saat  ini saya ingin sedikit mengulas transisi kepemimpinan nasional. Hari ini Prabowo-Gibran resmi dilantik sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia. Menggantikan Jokowi-Ma'ruf yang purnatugas. Tentunya harapan rakyat Indonesia begitu tinggi. Pemimpin baru akan menakhodai kita selama lima tahun ke depan. Tak lupa juga rasa terima kasih saya, selaku bagian dari rakyat Indonesia, kepada Pak Jokowi dan Kiai Ma'ruf atas dedikasi dan pengabdiannya selama ini. Bagaimanapun juga, beliau berdua, saya yakin betul, sudah mempersembahkan yang terbaik untuk bangsa dan negara ini. Lepas dari ragam masalah yang mungkin belum dituntaskan selama kepemimpinan beliau. 

Tentu hal itu otomatis menjadi pekerjaan rumah bagi Prabowo untuk segera menuntaskan. Ratusan juta mata rakyat Indonesia saat ini tertuju padanya. Sepak terjang dan gerak-geriknya, mulai hari ini hingga 2029, akan selalu menghiasi halaman-halaman depan koran dan majalah. Akan disiarkan banyak saluran media. Baik cetak maupun online. Semua jurnalis akan mengabarkan setiap program, keputusan, regulasi, dan kebijakan yang dikeluarkannya. Termasuk juga gerak-gerik para para menteri yang sudah dipilihnya tak lepas dari sorotan pers. 

Pun demikian dengan saya pribadi, berharap betul, Prabowo-Gibran bisa menjadi 'problem solver'. Di pundak mereka berdua, nasib rakyat akan ditentukan. Amanah dan tanggung jawab besar sedang diembannya. Presiden buka sekadar pemegang otoritas tertinggi di negeri ini. Lebih dari itu, menjadi 'pilot' yang akan membawa kita semua mewujudkan cita-cita nasional. Seperti yang telah diamanahkan dalam pembukaan UUD 1945 yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia, yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. 

Saya optimistis Prabowo adalah sosok patriot yang jiwa nasionalismenya tak perlu diragukan lagi. Mentalitasnya sebagai pemimpin sudah teruji. Apalagi dia memiliki latar belakang sebagai militer. Tentu kedisiplinan dan jiwa kepemimpinannya sudah terasah sejak muda. Jejak perjalanan hidupnya pun semakin membuat saya yakin bahwa Prabowo bisa menjadi kepala negara dan sekaligus kepala pemerintahan yang disegani di dalam maupun di luar negeri. Lebih-lebih, kita tahu semua, dia jago berbahasa Inggris dan jaringannya sudah kelas internasional. Ditambah lagi, dia merupakan Pimpinan tertinggi Partai Gerindra, tentu wibawa dan daya tariknya sebagai pemimpin tertinggi di Indonesia akan semakin meningkat berlipat-lipat. Rasa-rasanya, akan sukar diintervensi atau dipengaruhi.

Lalu, bagaimana dengan Gibran? Bagaimanapun juga, lepas dari kontroversi atau pro dan kontra pencalonannya, dia adalah Wapres sah di negeri ini. MK sudah mengesahkannya. Kini, baiknya kita lepaskan dulu prasangka buruk tentang Gibran. Saya yakin, memang jalannya, dia sudah ditakdirkan oleh Allah menjadi wapres. Dia telah menjadi 'kuda hitam' yang karir politiknya sangat brilian. Melejit. Tanpa embel-embel 'anak Jokowi', saya juga percaya, dalam diri Gibran ada potensi yang besar yang nantinya bisa membawa warna baru dalam perjalanan negeri ini. Gibran sebagai salah satu simbol 'pemimpin muda' diharapkan bisa membangkitkan optimisme seluruh rakyat Indonesia akan terjadinya perubahan ke arah yang lebih baik. Kreativitas dan inovasinya didambakan seluruh rakyat Indonesia. Terutama dalam mendobrak pola-pola lama di dunia birokrasi yang berbelit-belit dan 'berbiaya mahal'. Gibran sepenuhnya diharapkan menjadi jembatan emas yang bisa melahirkan Generasi Emas. Apalagi Indonesia ini, memiliki banyak sumber daya pemuda yang cerdas, kreatif, dan sangat potensial menjadi akselerator pembangunan negara di segala bidang. Tentu hal tersebut juga dalam rangka mewujudkan Indonesia Emas 2045.

Kiranya, saya cukupkan sampai di sini dulu catatan ringan ini. Intinya, saya mengajak seluruh rakyat Indonesia, terutama diri saya pribadi untuk mendukung penuh pemerintahan ke depan. Kita sambut pemimpin baru kita dengan gegap gempita dan penuh optimisme. Jika dalam perjalanan ada yang dirasa kurang pas, sampaikan saran dan kritik dengan cara-cara konstitusional dan beradab. Kita jaga negeri ini bersama-sama. Mari bergandengan tangan, kokohkan persatuan, dan bergerak serentak dalam mewujudkan Indonesia yang lebih berdaulat, adil, dan makmur. Semoga Prabowo-Gibran bisa menunjukkan taringnya di kancah global. 'Sang Garuda' sudah cukup lama terlelap. Saatnya terbang tinggi mengangkasa. Sudah waktunya Sang Merah Putih berkibar di segala penjuru dunia.

Terakhir, ayo kita doakan bersama-sama agar pemimpin kita mampu mengemban amanah dengan sebaik-baiknya. Mampu mengangkat harkat dan martabat bangsa di mata internasional. Amin3.


Oleh: Muhammad Aufal F


Malang, 

Ahad, 20/10/2024

15.41 WIB


Sumber gambar: liputan6.com





Senin, 23 September 2024

Mahbub Djunaidi

 

Sosok satu ini bisa dibilang 'langka'. Kemampuan menulisnya berbeda dari rata-rata intelektual publik pada umumnya. Dengan gayanya khasnya yang jenaka, ia cekatan dalam memaparkan persoalan berat menjadi lelucon renyah yang bisa dikonsumsi siapapun. Gaya tulisannya satire, penuh sarkas, membuat pembacanya tertawa terpingkal-pingkal. Padahal, bisa jadi yang membaca adalah sasaran kritiknya. Siapakah ia?

Ia adalah Mahbub Djunaedi, kolumnis yang sanggup menyajikan tulisan 'pedas' menjadi lelucon. Kapasitas intelektual dan selera humornya tinggi. Pantas saja ia selalu mampu meramu tulisan berbobot melalui bahasa yang komunikatif. Sindirannya halus. Tidak blak-blakan. Tidak main hantam begitu saja. Selaras dengan hal itu, Fariz Alneizar, pendiri Rumah Aksoro, menyatakan bahwa gaya tulisan Mahbub mampu mengubah tragedi menjadi komedi.

Mahbub jeli dalam mengurai kusutnya problematika sosial kemasyarakatan. Ia mahir menerangkan kepada publik beragam masalah yang masih buram. Ia jabarkan tetek bengek isu-isu yang sedang viral. Analisanya setajam silet, bahasanya mudah dipahami. Ia mampu menyajikan aneka ragam masalah pahit menjadi bahan olok-olok dalam catatannya. Chatibul Umam, sahabat karibnya, pernah menyatakan bahwa ia sosok pejuang yang pintar menulis, ia menulis sekali jadi, hasilnya alamiah dan spontan.

Sosok kelahiran Jakarta, 22 Juli 1933 ini dikenal luas sebagai pemikir yang gencar menyuarakan kepentingan publik. Ia berani membela kepentingan 'wong cilik', apapun risikonya. Sampai-sampai ia dijuluki si Burung Parkit di kandang macan. Menurut Lukman Hakim, mantan Menteri Agama Republik Indonesia, istilah burung parkit mempresentasikan sosok Mahbub Djunaidi yang sederhana, tidak bisa diam, dan pandai bergaul.

Ia juga dijuluki 'Pendekar Pena' sebab kepiawaiannya menghidangkan gagasan ke dalam tulisan. Banyak media massa lokal dan nasional yang mempublikasikan tulisannya. Dalam catatannya berjudul 'Kesatria' (Kompas, 14 Juni 1985), ia mengaku sebagai penulis generalis, bukan spesialis. Artinya, ia menulis ihwal apa saja yang lewat di depan matanya. Persis tukang loak yang menjual apa saja yang bisa dipikul.

Selama hidup, ia tidak hanya berkiprah sebagai wartawan ataupun kolumnis. Ia juga seorang aktivis dan politikus. Terbukti bahwa ia pernah menjadi anggota Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), anggota Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI), Ketua Umum pertama Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII), Wakil Ketua Umum Tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama ( PB NU), dan Wakil Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Ringkas cerita, masih banyak hal tentang Bung Mahbub, yang tidak saya paparkan semua dalam catatan ini. Intinya, anak muda hari ini, bisa meniru spirit perjuangannya. Meneladani semangat pengorbanannya. Kegigihan dan konsistensinya menyebarkan nilai-nilai kebaikan patut diacungi jempol. Ia merupakan 'pelita' dan sekaligus 'kompas' bagi bangsa ini.

Intinya, dedikasi dan pengabdiannya untuk umat patut diapresiasi. Rekam jejaknya menjadi inspirasi tersendiri bagi generasi hari ini. Bung Mahbub sudah lama pergi. Tapi tulisannya abadi. Ia adalah kesatria bangsa. Sekali lagi, "Bung Mahbub, kami masih mengenangmu".

Oleh: Muhammad Aufal Fresky

PP. Al-Ikhlas, Desa Klampar
Kamis, 18 Maret 2021
15.27 WIB

Sumber gambar: kompasiana.com







Melawan dengan Pena




Saya percaya kekuatan tulisan itu nyata adanya. Bahkan lebih dahsyat dari peluru yang hanya bisa menembus satu kepala manusia. Sedangkan tulisan bisa menembus jutaan kepala manusia. Intinya, kekuatan pena tidak bisa diragukan lagi.

Tidak heran jika para jurnalis menjadi salah satu momok menakutkan bagi pemerintahan yang otoriter. Tengok saja di zaman orde baru, berapa banyak majalah yang dibredel oleh pemerintah karena begitu vokal dan vulgar mengkritik jalannya pemerintahan. Ternyata dengan pena kita bisa melawan. 

Bahkan dulu di zaman penjajahan, para pendiri bangsa menggunakan media massa untuk menyebarluaskan propaganda nasionalisme dan persatuan. Ketajaman berpikir dan kekuatan intelektualitas tokoh bangsa tersebut terlihat dari tulisan-tulisan bernas yang mereka hasilkan. Para penjajah pun menjadi kalang kabut. 

Pena menjadi sarana terbaik untuk melawan keangkuhan penguasa. Artinya, dengan pena kita bisa mengkritik kebijakan pemerintah yang tidak memihak rakyat. Dengan pena juga kita memberikan alternatif solusi atas beragam permasalahan bangsa. 

Saya berpandangan bahwa dengan menulis, seseorang bisa menjadi pejuang kemanusiaan. Bisa juga menjadi pejuang keadilan. Maka dari itu, jika ada penguasa yang menyalahi nilai kemanusiaan dan nilai keadilan, maka kita bisa bergerak tidak hanya dengan demonstrasi. Namun juga melalui tulisan yang kritis, tajam, dan konstruktif tentunya.

Lawanlah segala bentuk penyelewengan anggaran negara dengan cara menulis. Lawanlah segala bentuk penyalahgunaan kekuasaan dengan menulis. Percayalah, bahwa kekuatan pena bisa mengubah pikiran jutaan orang. Yakinlah bahwa kekuatan tulisan bisa menggerakkan jutaan manusia untuk beraksi sekaligus meruntuhkan dominasi penguasa yang dzalim dan semena-mena. 

Terakhir, untuk milenial Indonesia, saya berharap mampu menjadi insan-insan yang cerdas dan kritis melihat keadaan. Tidak hanya menjadi generasi yang 'manut'. Hanya plonga-plongo terhadap realitas bangsanya. Takut menjadi pendobrak. Takut menjadi generasi yang 'melawan'. Tidak berani mengungkapkan ide dan pikirannya melalui tulisan. Sekali lagi, ayo berani melawan melalui pena dan tulisan. Melawan dalam konteks yang positif tentunya.


Penulis: Muhammad Aufal 

Pamekasan,

Senin, 18 Mei 2020

21.09 WIB




Sumber ilustrasi: meramuda.com

Featured Post

Pelestarian Batik Madura Butuh Regulasi Terarah

  Sejak beberapa tahun terakhir, saya  bergelut di bidang usaha batik tulis Madura. Selain karena dukungan keluarga, faktor lingkungan juga ...