Adakah sejarahnya orang-orang besar di negeri ini yang tidak cinta akan ilmu dan pengetahuan? Bukankah orang-orang sukses di berbagai bidang memiliki ketekunan dan kedisiplinan tinggi dalam membaca buku? Seperti halnya pendiri bangsa kita yang bahkan dikatakan sebagai "kutu buku" atau pecinta buku kelas kakap. Contohnya seperti Sukarno, Hatta, Natsir, Agus Salim, dan masih banyak lagi tentunya.
Membaca buku, tentu saja hanya salah satu cara untuk melatih ketajaman pikiran dan termasuk juga daya analisis. Membaca buku hanya salah satu jalan untuk memperluas wawasan dan memperteguh kepribadian. Sebab, menempa diri, tidak cukup hanya dengan bergulat dengan tumpukan buku dan kertas.
Mengembangkan diri, bisa dengan melatih kepekaan membaca realitas sosial dan alam. Bahkan, bisa juga dengan berupaya mengenali diri dan esensi hidup. Untuk apa kita hidup? Dari mana asal usul kita? Ke mana muara dari semua ini? Apa tujuan hidup yang sejati?
Dengan sering merenungi pertanyaan-pertanyaan semacam itu, insya Allah tirai-tirai penghalang kita dengan Tuhan perlahan akan tersingkap. Bahwa ternyata kita hanyalah makhluk yang terbatas ruang dan waktu. Bahwa kita sekadar makhluk yang penuh dengan keterbatasan.
Dengan begitu, perasaan jumawa akan terkikis pelan-pelan. Dengan begitu, kita bisa semakin menundukkan kepala. Menyadari betul betapa kecilnya kita di tengah besarnya kekuasaan Allah. Bayangkan saja, alam semesta ini di mana ujungnya? Bumi, bulan, planet-planet lain, galaksi, dan berbagai benda luar angkasa lainnya menunjukkan keagungan ciptaan Allah. Betapa hebat ciptaan Allah. Semua tersusun dengan pola-pola yang menakjubkan.
Hanya saja, kadang sebagian dari kita tidak mampu dan bahkan tidak mau untum menangkap sedikit dari tanda-tanda yang dicipratkan. Padahal, kedua bola mata masih berfungsi dengan baik. Padahal, kedua telinga masih mampu mendengar dengan jelas. Jangan-jangan yang buta buka mata jasmaniah kita. Jangan-jangan yang tuli bukan telinga jasmaniah kita. Tapi mata dan telinga ruhaniah kita.
Bisa jadi hari telah lama berkabut dan kotor sehingga tidak sanggup merasakan dan menyelami kekuasaannya. Dianggapnya semua terjadi karena "hukum alamiah". Dianggapnya semua pernak-pernik dunia dan keindahannya adalah sebuah kebetulan belaka. Padahal di balik itu ada campur tangan Sang Maha Kreator. Ada arsitek agung yang merancang semuanya sedemikian rupa. Kita menjadi sulit merasakan dan menyadari sebab hanya memandang semua dengan mata fisik. Sementara di lain sisi, mata batin kita terlelap.
Maka dari itu, senyampang masih ada kesempatan, sudah semestinya kita belajar menghidupkan hati agar lebih peka membaca tanda-tanda keagungan Allah.
Karena seperti yang telah disampaikan di awal tadi, bahwa membaca bukan hanya berbicara mengenai proses memahami ilmu dari buku, makalah, majalah, dan sejenisnya. Lebih luas dari itu, juga menyinggung perihal memahami gejala alam dan sosial di sekeliling kita. Termasuk juga berupaya mengenali diri kita sendiri selalu manusia.
Dan jika ditelusuri dari perjalanan sounding fathers kita, nampaklah bahwa mereka ternyata dunia mereka tidak hanya bergumul dengan buku. Tapi dengan kenyataan; seperti ragam persoalan ekonomi, sosial, politik, budaya, dan semacamnya. Mereka, tidak menjadikan kepalanya hanya digunakan untuk menumpuk ilmu. Otaknya tidak hanya menjadi semacam hardisk penyimpan data dan informasi. Lebih dari itu, mereka bergerak, berjuang, dan berdedikasi untuk agama, nusa, dan bangsa.
Para pendahulu tersebut, nyatanya memiliki visi yang melampaui zaman. Cita-citanya besar. Semangat perjuangannya bak batu karang. Semua itu, bermula dari kemampuan membaca denyut nadi kehidupan masyarakat.
Baiklah, tiba saatnya saya memungkasi catatan ini. Izinkan saya mengambil sebuah kesimpulan bahwa di dunia yang semakin renta ini, marilah kita menjadi pembelajar sepanjang hayat, senantiasa menghidupkan hati dengan zikir, mengasah pikiran dengan membaca buku. Ambillah jeda dalam rutinitas keseharian untuk refleksi diri dan tafakkur.
Kepkaan batin perlu diasah dengan sering mengingat Allah. Kecerdasan pikiran juga perlu ditingkatkan dengan tekun membaca teks dan konteks. Satu lagi, belajarlah untuk menjadi bijaksana dalam menjalani hari-hari yang seolah semakin singkat ini. Bukankah kita tak abadi di dunia ini? Sekali lagi, catatan ringkas ini semacam refleksi singkat bagi saya pribadi terutama selaku penulis. Tentu agar ke depan bisa bijaksana melakoni hidup.
de'Rumah Rindu Alam, Jl. Mojowarno, Mojorejo, Kec. Junrejo, Kota Batu.
Kamis, 14 Mei 2026
10.40 WIB

Tidak ada komentar:
Posting Komentar