Jumat, 15 Mei 2026

Refleksi Diri Sejenak di Vila de'Rumah Rindu Alam

 


Adakah sejarahnya orang-orang besar di negeri ini yang tidak cinta akan ilmu dan pengetahuan? Bukankah orang-orang sukses di berbagai bidang memiliki ketekunan dan kedisiplinan tinggi dalam membaca buku? Seperti halnya pendiri bangsa kita yang bahkan dikatakan sebagai "kutu buku" atau pecinta buku kelas kakap. Contohnya seperti Sukarno, Hatta, Natsir, Agus Salim, dan masih banyak lagi tentunya.

Membaca buku, tentu saja hanya salah satu cara untuk melatih ketajaman pikiran dan termasuk juga daya analisis. Membaca buku hanya salah satu jalan untuk memperluas wawasan dan memperteguh kepribadian. Sebab, menempa diri, tidak cukup hanya dengan bergulat dengan tumpukan buku dan kertas.

Mengembangkan diri, bisa dengan melatih kepekaan membaca realitas sosial dan alam. Bahkan, bisa juga dengan berupaya mengenali diri dan esensi hidup. Untuk apa kita hidup? Dari mana asal usul kita? Ke mana muara dari semua ini? Apa tujuan hidup yang sejati?

Dengan sering merenungi pertanyaan-pertanyaan semacam itu, insya Allah tirai-tirai penghalang kita dengan Tuhan perlahan akan tersingkap. Bahwa ternyata kita hanyalah makhluk yang terbatas ruang dan waktu. Bahwa kita sekadar makhluk yang penuh dengan keterbatasan.

Dengan begitu, perasaan jumawa akan terkikis pelan-pelan. Dengan begitu, kita bisa semakin menundukkan kepala. Menyadari betul betapa kecilnya kita di tengah besarnya kekuasaan Allah. Bayangkan saja, alam semesta ini di mana ujungnya? Bumi, bulan, planet-planet lain, galaksi, dan berbagai benda luar angkasa lainnya menunjukkan keagungan ciptaan Allah. Betapa hebat ciptaan Allah. Semua tersusun dengan pola-pola yang menakjubkan.

Hanya saja, kadang sebagian dari kita tidak mampu dan bahkan tidak mau untum menangkap sedikit dari tanda-tanda yang dicipratkan. Padahal, kedua bola mata masih berfungsi dengan baik. Padahal, kedua telinga masih mampu mendengar dengan jelas. Jangan-jangan yang buta buka mata jasmaniah kita. Jangan-jangan yang tuli bukan telinga jasmaniah kita. Tapi mata dan telinga ruhaniah kita. 

Bisa jadi hari telah lama berkabut dan kotor sehingga tidak sanggup merasakan dan menyelami kekuasaannya. Dianggapnya semua terjadi karena "hukum alamiah". Dianggapnya semua pernak-pernik dunia dan keindahannya adalah sebuah kebetulan belaka. Padahal di balik itu ada campur tangan Sang Maha Kreator. Ada arsitek agung yang merancang semuanya sedemikian rupa. Kita menjadi sulit merasakan dan menyadari sebab hanya memandang semua dengan mata fisik. Sementara di lain sisi, mata batin kita terlelap. 

Maka dari itu, senyampang masih ada kesempatan, sudah semestinya kita belajar menghidupkan hati agar lebih peka membaca tanda-tanda keagungan Allah. 

Karena seperti yang telah disampaikan di awal tadi, bahwa membaca bukan hanya berbicara mengenai proses memahami ilmu dari buku, makalah, majalah, dan sejenisnya. Lebih luas dari itu, juga menyinggung perihal memahami gejala alam dan sosial di sekeliling kita. Termasuk juga berupaya mengenali diri kita sendiri selalu manusia.

Dan jika ditelusuri dari perjalanan sounding fathers kita, nampaklah bahwa mereka ternyata dunia mereka tidak hanya bergumul dengan buku. Tapi dengan kenyataan; seperti ragam persoalan ekonomi, sosial, politik, budaya, dan semacamnya. Mereka, tidak menjadikan kepalanya hanya digunakan untuk menumpuk ilmu. Otaknya tidak hanya menjadi semacam hardisk penyimpan data dan informasi. Lebih dari itu, mereka bergerak, berjuang, dan berdedikasi untuk agama, nusa, dan bangsa. 

Para pendahulu tersebut, nyatanya memiliki visi yang melampaui zaman. Cita-citanya besar. Semangat perjuangannya bak batu karang. Semua itu, bermula dari kemampuan membaca denyut nadi kehidupan masyarakat. 

Baiklah, tiba saatnya saya memungkasi catatan ini. Izinkan saya mengambil sebuah kesimpulan bahwa di dunia yang semakin renta ini, marilah kita menjadi pembelajar sepanjang hayat, senantiasa menghidupkan hati dengan zikir, mengasah pikiran dengan membaca buku. Ambillah jeda dalam rutinitas keseharian untuk refleksi diri dan tafakkur. 


Kepkaan batin perlu diasah dengan sering mengingat Allah. Kecerdasan pikiran juga perlu ditingkatkan dengan tekun membaca teks dan konteks. Satu lagi, belajarlah untuk menjadi bijaksana dalam menjalani hari-hari yang seolah semakin singkat ini. Bukankah kita tak abadi di dunia ini? Sekali lagi, catatan ringkas ini semacam refleksi singkat bagi saya pribadi terutama selaku penulis. Tentu agar ke depan bisa bijaksana melakoni hidup.


de'Rumah Rindu Alam, Jl. Mojowarno, Mojorejo, Kec. Junrejo, Kota Batu.


Kamis, 14 Mei 2026

10.40 WIB



Kamis, 14 Mei 2026

Renungan Malam di Vila de'Rumah Rindu Alam

Suasananya asri nan meneduhkan. Gemercik suara kolam renang dan kolam ikan menjadi irama alami yang menentramkan pikiran. Pohon-pohon rindang dan semilir angin juga menambah nuansa kesejukan. Benar-benar syahdu. Begitulah kesan awal saya saat pertama kali sampai di vila "de'Rumah Rindu Alam" ini. 

Kondisinya sangat mendukung untuk mengarang sebuah tulisan. Ide-ide segar tiba-tiba datang bermunculan satu per satu. Saya pun tidak ingin kehilangan momentum. Sehingga, wajib kiranya untuk segera dieksekusi menjadi sebuah karya utuh. Dan kali ini, saya memutuskan untuk sedikit membahas perihal pentingnya menjaga kewarasan berpikir dan menegakkan nilai-nilai kemanusiaan di tengah hiruk-pikuk zaman.

Dunia saat ini, seakan menuntut manusia menjadi cepat, tangkas, dan up to date. Seolah memberikan jeda untuk sekadar merenung dan refleksi adalah sebuah hal yang tak wajar. Memang, hal-hal baru bermunculan setiap harinya. Yang viral yang menyita perhatian. Kemunafikan dibungkus dengan dalil agama. Ketidakadilan dikaburkan dengan memanipulasi regulasi. Kebenaran disamarkan lewat otoritas mutlak antikritik. Perjuangan menegakkan kebenaran dibungkam sebab dinilai mengusik stabilitas kekuasaan. 

Otak menjadi tumpul karena nalar dimatikan pelan-pelan. Daya kritis dilemahkan karena dianggap melabrak aturan. Suara jeritan rakyat bawah tak didengar. Yang di atas sana justru sibuk bagi-bagi kekuasaan, proyek, tender, dan semacamnya. Ada yang malu-malu kucing mengakui perbuatan culasnya itu. Ada yang bermuka tembok alias telah tercabut rasa malunya. Rakyat, dijadikan sebatas sapi perah yang dihisap terus. Yang meminum hasilnya adalah mereka yang selalu haus akan materi dan jabatan.

Sepertinya kita perlu sejenak jeda untuk membaca realitas sosial hari ini. Bahwa dunia kadang terbolak-balik; tak seperti yang kita inginkan, tak sesuai dengan apa yang diharapkan. Seperti halnya banyak ahli hukum yang justru mempermainkan hukum, ahli agama justru menginjak-injak agama, ahli ekonomi sibuk merekayasa statistik pertumbuhan ekonomi, ahli kedokteran hilang kemanusiaannya, dan semacamnya. 

Menghadapi dunia yang semakin renta dan tua ini, menggunakan logika saja tidak cukup. Harus melibatkan rasa. Hati nurani perlu terus dihidupkan agar kemanusiaan kita tidak tergerus arus zaman. Sebab, manusia akan semakin bermartabat manakala mampu memanusiakan manusia lainnya. Artinya mampu menghargai dan menghormati manusia lainnya apa pun latar belakangnya. Dalam hal ini, yang dibutuhkan bukan hanya kecerdasan intelektual. Namun juga kecerdasan emosional dan bahkan spritual. Bahwa semua manusia di dunia ini adalah ciptaan Allah. Dan menjadi kewajiban kita untuk tidak berbuat buruk kepada manusia lainnya, entah dengan tutur kata atau tindakan kita. 

Gemerlap zaman menuntut kita untuk menjadi pribadi yang setia memegang nilai-nilai luhur. Seperti halnya nilai kebajikan, kejujuran, keadilan, kebenaran, dan semacamnya. Menuntut kita untuk menjadi pribadi yang memiliki prinsip seperti batu karang yang tetap kokoh berdiri tegak di tengah terjangan gelombang ombak dan bahkan badai sekalipun. Tidak mudah terombang-ambing lingkungan dan keadaan. Tetap menjadikan Al-Quran dan Hadist sebagai pedoman dan panduan utama. 

Jadi, di era sekarang, memang semestinya kita perlu belajar untuk tidak menjadi follower, gampang terbawa arus, mudah ganti haluan. Belajar untuk tidak cepat kebakaran jenggot ketika ada yang memprovokasi. Belajar untuk tidak mudah menghakimi orang lain. Belajar untuk melihat segala persoalan dari banyak sudut pandang agar lebih jernih dalam membaca dan mencernanya.

Sekali lagi, kewarasan berpikir perlu dijaga dan terus dirawat agar kita tidak mudah mengambil kesimpulan secara serampangan. Otak dan hati perlu dipadukan untuk menimbang-nimbang segala sesuatunya. Pun demikian dengan nafsu yang perlu dikendalikan agar tidak liar. Sebab, kita tidak mau istilah "homo homini lupus" (manusia adalah serigala bagi sesama manusia) semakin teraktualisasi dalam keseharian kita.

Sekian dulu renungan malam ini. Semoga bermanfaat. Salam satu pena. 


de'Rumah Rindu Alam, Jl. Mojowarno, Mojorejo, Kec. Junrejo, Kota Batu.


Rabu, 13 Mei 2026

23.10 WIB.

 


Sumber gambar: https://derumahrindualam.com/

Featured Post

Pelestarian Batik Madura Butuh Regulasi Terarah

  Sejak beberapa tahun terakhir, saya  bergelut di bidang usaha batik tulis Madura. Selain karena dukungan keluarga, faktor lingkungan juga ...