Tepat pada hari Selasa, 21 Mei 2024, saya berkesempatan untuk mengikuti Pelatihan Menulis dalam rangkaian acara Creative Book Fair 2. Pelatihan dihelat di Ruang Pertemuan 1 Perpustakaan Universitas Brawijaya. Dua pemateri yang hadir yaitu Engelbertus Kukuh Widijatmoko dan Gedeon Soerja Ardi Noegraha. Kukuh sebagai seorang dosen, trainer, dan penulis. Sementara Gedeon merupakan Ketua Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) Kota Malang. Kukuh membahas terkait dunia tulis menulis. Dilengkapi pembahasan dari Gedeon yang mengulas tentang dunia penerbitan buku.
Baiklah, dalam catatan ini, saya akan fokuskan pada pembahasan dari Kukuh atau biasa dikenal dengan sebutan Dosen Blankon. Dia mengulas terkait bagaimana cara atau resep-resep jitu dalam menulis. Saya akan menyampaikan sesuai pemahaman dan gaya bahasa saya. Jadi tidak sama persis. Tapi setidaknya tidak terlalu jauh. Dalam kesempatan tersebut, dia mengutarakan bahwa otak manusia memproduksi gagasan. Otak manusia merekonstruksi setiap peristiwa. Saya menangkap pernyataan tersebut bahwa setiap dari kita sebenarnya bisa mendapatkan ide. Bahkan, semua hal yang kita lihat, dengar, dan rasakan, bisa menjadi sumber inspirasi. Apa yang terlintas dalam benak kita, bisa menjadi bahan untuk memulai menulis. Selanjutnya, beragam peristiwa yang ada di sekeliling kita juga bisa menjadi bahan untuk membuat sebuah tulisan.
Dalam proses menulis, salah satu hambatan terbesar ada dalam diri kita sendiri. Hambatan-hambatan itu di antaranya kurang percaya diri, merasa tidak memiliki bakat, takut tulisannya jelek, cepat menyerah, menunda-nunda, dan malas. Bisa jadi, hambatan-hambatan itu bermula dari tidak adanya motivasi dalam menulis. Kenapa bisa tidak ada motivasi? Bisa jadi karena tidak ada tujuan yang jelas dalam menulis. Padahal, memiliki tujuan yang spesifik dalam menulis sangat berpengaruh terhadap konsistensi seseorang dalam menulis. Menemukan alasan kenapa harus menulis akan menjadi bahan bakar yang terus menggerakkan seseorang untuk terus menulis. Terkait tujuan menulis itu bermacam-macam. Ada yang memang murni untuk honor dan popularitas. Ada yang karena tuntutan profesi dan tugas kampus. Ada juga yang karena tugas perusahaan. Bahkan, ada yang tanpa tujuan. Iseng-iseng aja untuk mengisi waktu luang. Hemat saya, tujuan dalam menulis yaitu untuk menjadi lentera di tengah masyarakat. Menyebarkan kebaikan dan kebermanfaatan.
Dalam memetik sebuah ide, kita bisa menjadikan beragam kejadian di masa lalu sebagai bahan dalam menulis. Tentu saja, setiap dari kita memiliki pengalaman yang berbeda-beda dan memiliki keunikan tersendiri. Pelbagai kejadian di masa silam dan rangkaian peristiwa yang telah berlalu tersebut bisa kita jadikan inspirasi dalam menulis. Semisal tentang romansa di masa sekolah, perjuangan merampungkan skripsi, perjalanan ketika ke berkunjung ke tempat wisata, dan sebagainya. Semua bisa kita tuliskan dengan gaya bahasa kita sendiri. Memori otak merekam dan menyimpan pengalaman kita. Tinggal bagaimana kita menuangkannya menjadi sebuah karya, baik fiksi maupun nonfiksi.
Sekali lagi, hambatan dalam menulis yaitu keraguan dan ketakutan untuk memulainya. Biasanya terlalu berpikir aneh-aneh akan tulisannya sendiri. Takut hasilnya acak-acakan misalnya. Selain rasa takut, biasanya merasa ragu terhadap kemampuannya sendiri. Tidak percaya diri bahwa dirinya bisa menulis. Merasa tidak punya bakat. Padahal, setiap orang sebenarnya bisa menulis. Tidak ada urusannya dengan bakat. Meskipun berpengaruh, palingan hanya beberapa persen saja. Sebab, menurut pandangan pribadi, penulis hebat itu tidak dilahirkan secara prematur. Melalui proses yang cukup panjang. Artinya, semua tergantung kemauan, spirit, gairah, ketekunan, dan kedisiplinan dalam menulis. Tidak ada ceritanya seseorang bisa menghasilkan tulisan yang berkelas tanpa melalui proses pembelajaran sebelumnya. Sebab itulah, kita harus yakin betul bahwa masing-masing dari kita memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi penulis. Sudah saatnya membangun rasa percaya diri bahwa kita bisa memulainya. Hilangkan dari sekarang belenggu-belenggu yang mengikat mentalitas kita dalam berkarya. Seperti halnya cemas, takut, ragu, minder, dan tak percaya diri. Sebab, semua itu bisa menjadi virus yang bisa menganggu proses kreatif kita dalam menghasilkan tulisan.
Tak heran jika Kukuh juga memberikan antivirusnya. Semacam penawar atau obat yang bisa menghalau virus-virus yang menyerang penulis. Anti virusnya yaitu mengakui bahwa setiap dair kita mampu menulis, membaca karya orang, memiliki persepektif unik, meyakini bahwa tulisan punya efek domino, dan yang terakhir yaitu 5M (menulis, menulis, menulis, menulis, dan menulis. Saya sangat setuju dengan lima antivirus tersebut. Terutama terkait konsep 5M. Sebab, menulis itu sebenarnya adalah praktik menuangkan ide atau pemikiran dalam sebuah tulisan. Memahami teori menulis itu penting. Tapi, jauh lebih penting lagi mempraktikkannya. Semakin sering menulis, akan menemukan gaya yang pas. Kemudian bisa mengira-ngira sendiri di bagian mana harus dikembangkan. Seperti halnya seseorang yang hendak bercita-cita menjadi perenang profesional. Dia tidak cukup hanya memandang kolam renang dan berpikir terus menerus terkait gaya berenang. Namun, harus berani bersentuhan dengan air. Berani terjun ke kolam renang dan merasakan sensasinya sendiri. Begitu juga dengan penulis. Tidak jauh beda. Harus berani menerapkan 5M. Sebab, jam terbang dalam menulis juga sangat menentukan kualitas tulisan seseorang.
Agar semangat menulis terjaga, tujuan perlu diperjelas. Dari materi yang diutarakan Kukuh, ada delapan hal yang bisa dijadikan alasan seseorang dalam menulis. Di antaranya yaitu: tulisan merupakan komunikasi permanen, sebagai cara mendokumentasikan ingatan, menulis menyebarkan pengetahuan dan kebijaksanaan, menulis melestarikan sejarah, menulis dalam membangun sistem kepercayaan, sebagai cara untuk mengungkapkan diri Anda dan mencerminkan diri Anda sebenarnya, menulis dapat membangun sisi artistik dan kreatif, menulis berguna untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan. Dengan mengetahui beberapa faedah dalam menulis, setidaknya kita tergerak atau termotivasi untuk memulainya. Sebab, menulis sendiri memberikan beragam kebermanfaatan untuk diri sang penulis dan untuk orang lain. Setidaknya dengan menulis, kita melakukan terapi diri atau istilah kerennya self healing.
Tidak hanya itu, Kukuh juga menegaskan bahwa ada hubungan positif antara kepercayaan diri dengan kemampuan menulis kreatif. Maksudnya, semakin tinggi tingkat kepercayaan diri maka semakin tinggi pula tingkat kemampuan menulis kreatif. Variabel kepercayaan diri. Jadi sudah waktunya kita membuang jauh-jauh rasa minder dan inferior terhadap tulisan kita. Seperti apapun hasilnya, itulah karya otentik kita. Gagasan orisinil kita. Jika ada yang mengkritik, terimalah dengan hati lapang. Anggap saja sebagai cambukan untuk menghasilkan karya-karya yang lebih baik lagi. Intinya, setiap penulis harus open minded. Tidak gampang baper ketika ada masukan. Juga tidak gampang terlena ketika ada yang memuji karya kita. Sebab, sejatinya penulis itu adalah seorang pembelajar seumur hidup. Tidak mudah merasa puas dengan karya-karya yang telah ditulisnya.
Sang dosen blankon juga menjelaskan mengenai metode Garuda dalam menulis. Maksudnya metode Garuda yaitu setiap penulis sangat dianjurkan untuk terbang tinggi. Arti dari terbang tinggi yaitu penulis harus mengambil jarak dengan sesuatu hal yang akan ditulis. Kemudian, berpandangan lebih luas (holistik). Tujuannya agar penulis memiliki banyak sudut pandang/ persepektif dalam mengamati suatu hal. Lalu, tatapan tajam (fokus) memilah dan memilih bahan tulisan. Tujuannya agar lebih spesifik. Kemudian cengkraman kuat (otentik). Setiap penulis mesti memiliki ciri khasnya tersendiri. Baik dari gaya bahasa dan semacamnya. Selanjutnya, membawa visi dan misi (kemanfaatan). Setiap penulis mesti memiliki tujuan untuk memberikan dampak positif bagi pembacanya. Ringkasnya, menulis untuk mencerahkan publik.
Begitulah kurang lebihnya paparan dari Dosen Blankon. Ditambah lagi sedikit pandangan dari saya pribadi selaku penulis. Intinya, dalam menulis yaitu niat kuat, percaya diri, berani memulai, tekun, tidak baperan, dan selalu optimistik. Jadi mari menulislah apa pun yang terlintas dalam pikiran. Mulai saat ini. Lao Tzu, filsuf China, pernah berkata, “Perjalanan ribuan mil dimulai dari satu langkah kecil.”
Oleh: Muhammad Aufal Fresky (Penikmat kopi dan sastra)
Malang,
Rabu, 22/5/2024
19.36 WIB



