Rabu, 22 Mei 2024

Resep Menulis ala Dosen Blankon

 

Tepat pada hari Selasa, 21 Mei 2024, saya berkesempatan untuk mengikuti Pelatihan Menulis dalam rangkaian acara Creative Book Fair 2. Pelatihan dihelat di Ruang Pertemuan 1 Perpustakaan Universitas Brawijaya. Dua pemateri yang hadir yaitu Engelbertus Kukuh Widijatmoko dan Gedeon Soerja Ardi Noegraha. Kukuh sebagai seorang dosen, trainer, dan penulis. Sementara Gedeon merupakan Ketua Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) Kota Malang. Kukuh membahas terkait dunia tulis menulis. Dilengkapi pembahasan dari Gedeon yang mengulas tentang dunia penerbitan buku.

Baiklah, dalam catatan ini, saya akan fokuskan pada pembahasan dari Kukuh atau biasa dikenal dengan sebutan Dosen Blankon. Dia mengulas terkait bagaimana cara atau resep-resep jitu dalam menulis. Saya akan menyampaikan sesuai pemahaman dan gaya bahasa saya. Jadi tidak sama persis. Tapi setidaknya tidak terlalu jauh. Dalam kesempatan tersebut, dia mengutarakan bahwa otak manusia memproduksi gagasan. Otak manusia merekonstruksi setiap peristiwa. Saya menangkap pernyataan tersebut bahwa setiap dari kita sebenarnya bisa mendapatkan ide. Bahkan, semua hal yang kita lihat, dengar, dan rasakan, bisa menjadi sumber inspirasi. Apa yang terlintas dalam benak kita, bisa menjadi bahan untuk memulai menulis. Selanjutnya, beragam peristiwa yang ada di sekeliling kita juga bisa menjadi bahan untuk membuat sebuah tulisan.

Dalam proses menulis, salah satu hambatan terbesar ada dalam diri kita sendiri. Hambatan-hambatan itu di antaranya kurang percaya diri, merasa tidak memiliki bakat, takut tulisannya jelek, cepat menyerah, menunda-nunda, dan malas. Bisa jadi, hambatan-hambatan itu bermula dari tidak adanya motivasi dalam menulis. Kenapa bisa tidak ada motivasi? Bisa jadi karena tidak ada tujuan yang jelas dalam menulis. Padahal, memiliki tujuan yang spesifik dalam menulis sangat berpengaruh terhadap konsistensi seseorang dalam menulis. Menemukan alasan kenapa harus menulis akan menjadi bahan bakar yang terus menggerakkan seseorang untuk terus menulis. Terkait tujuan menulis itu bermacam-macam. Ada yang memang murni untuk honor dan popularitas. Ada yang karena tuntutan profesi dan tugas kampus. Ada juga yang karena tugas perusahaan. Bahkan, ada yang tanpa tujuan. Iseng-iseng aja untuk mengisi waktu luang. Hemat saya, tujuan dalam menulis yaitu untuk menjadi lentera di tengah masyarakat. Menyebarkan kebaikan dan kebermanfaatan.

Dalam memetik sebuah ide, kita bisa menjadikan beragam kejadian di masa lalu sebagai bahan dalam menulis. Tentu saja, setiap dari kita memiliki pengalaman yang berbeda-beda dan memiliki keunikan tersendiri. Pelbagai kejadian di masa silam dan rangkaian peristiwa yang telah berlalu tersebut bisa kita jadikan inspirasi dalam menulis. Semisal tentang romansa di masa sekolah, perjuangan merampungkan skripsi, perjalanan ketika ke berkunjung ke tempat wisata, dan sebagainya. Semua bisa kita tuliskan dengan gaya bahasa kita sendiri. Memori otak merekam dan menyimpan pengalaman kita. Tinggal bagaimana kita menuangkannya menjadi sebuah karya, baik fiksi maupun nonfiksi. 

Sekali lagi, hambatan dalam menulis yaitu keraguan dan ketakutan untuk memulainya. Biasanya terlalu berpikir aneh-aneh akan tulisannya sendiri. Takut hasilnya acak-acakan misalnya. Selain rasa takut, biasanya merasa ragu terhadap kemampuannya sendiri. Tidak percaya diri bahwa dirinya bisa menulis. Merasa tidak punya bakat. Padahal, setiap orang sebenarnya bisa menulis. Tidak ada urusannya dengan bakat. Meskipun berpengaruh, palingan hanya beberapa persen saja. Sebab, menurut pandangan pribadi, penulis hebat itu tidak dilahirkan secara prematur. Melalui proses yang cukup panjang. Artinya, semua tergantung kemauan, spirit, gairah, ketekunan, dan kedisiplinan dalam menulis. Tidak ada ceritanya seseorang bisa menghasilkan tulisan yang berkelas tanpa melalui proses pembelajaran sebelumnya. Sebab itulah, kita harus yakin betul bahwa masing-masing dari kita memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi penulis. Sudah saatnya membangun rasa percaya diri bahwa kita bisa memulainya. Hilangkan dari sekarang belenggu-belenggu yang mengikat mentalitas kita dalam berkarya. Seperti halnya cemas, takut, ragu, minder, dan tak percaya diri. Sebab, semua itu bisa menjadi virus yang bisa menganggu proses kreatif kita dalam menghasilkan tulisan. 

Tak heran jika Kukuh juga memberikan antivirusnya. Semacam penawar atau obat yang bisa menghalau virus-virus yang menyerang penulis. Anti virusnya yaitu mengakui bahwa setiap dair kita mampu menulis, membaca karya orang, memiliki persepektif unik, meyakini bahwa tulisan punya efek domino, dan yang terakhir yaitu 5M (menulis, menulis, menulis, menulis, dan menulis. Saya sangat setuju dengan lima antivirus tersebut. Terutama terkait konsep 5M. Sebab, menulis itu sebenarnya adalah praktik menuangkan ide atau pemikiran dalam sebuah tulisan. Memahami teori menulis itu penting. Tapi, jauh lebih penting lagi mempraktikkannya. Semakin sering menulis, akan menemukan gaya yang pas. Kemudian bisa mengira-ngira sendiri di bagian mana harus dikembangkan. Seperti halnya seseorang yang hendak bercita-cita menjadi perenang profesional. Dia tidak cukup hanya memandang kolam renang dan berpikir terus menerus terkait gaya berenang. Namun, harus berani bersentuhan dengan air. Berani terjun ke kolam renang dan merasakan sensasinya sendiri. Begitu juga dengan penulis. Tidak jauh beda. Harus berani menerapkan 5M. Sebab, jam terbang dalam menulis juga sangat menentukan kualitas tulisan seseorang.

Agar semangat menulis terjaga, tujuan perlu diperjelas. Dari materi yang diutarakan Kukuh, ada delapan hal yang bisa dijadikan alasan seseorang dalam menulis. Di antaranya yaitu: tulisan merupakan komunikasi permanen, sebagai cara mendokumentasikan ingatan, menulis menyebarkan pengetahuan dan kebijaksanaan, menulis melestarikan sejarah, menulis dalam membangun sistem kepercayaan, sebagai cara untuk mengungkapkan diri Anda dan mencerminkan diri Anda sebenarnya, menulis dapat membangun sisi artistik dan kreatif, menulis berguna untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan. Dengan mengetahui beberapa faedah dalam menulis, setidaknya kita tergerak atau termotivasi untuk memulainya. Sebab, menulis sendiri memberikan beragam kebermanfaatan untuk diri sang penulis dan untuk orang lain. Setidaknya dengan menulis, kita melakukan terapi diri atau istilah kerennya self healing.

Tidak hanya itu, Kukuh juga menegaskan bahwa ada hubungan positif antara kepercayaan diri dengan kemampuan menulis kreatif. Maksudnya, semakin tinggi tingkat kepercayaan diri maka semakin tinggi pula tingkat kemampuan menulis kreatif. Variabel kepercayaan diri. Jadi sudah waktunya kita membuang jauh-jauh rasa minder dan inferior terhadap tulisan kita. Seperti apapun hasilnya, itulah karya otentik kita. Gagasan orisinil kita. Jika ada yang mengkritik, terimalah dengan hati lapang. Anggap saja sebagai cambukan untuk menghasilkan karya-karya yang lebih baik lagi. Intinya, setiap penulis harus open minded. Tidak gampang baper ketika ada masukan. Juga tidak gampang terlena ketika ada yang memuji karya kita. Sebab, sejatinya penulis itu adalah seorang pembelajar seumur hidup. Tidak mudah merasa puas dengan karya-karya yang telah ditulisnya. 

Sang dosen blankon juga menjelaskan mengenai metode Garuda dalam menulis. Maksudnya metode Garuda yaitu setiap penulis sangat dianjurkan untuk terbang tinggi. Arti dari terbang tinggi yaitu penulis harus mengambil jarak dengan sesuatu hal yang akan ditulis. Kemudian, berpandangan lebih luas (holistik). Tujuannya agar penulis memiliki banyak sudut pandang/ persepektif dalam mengamati suatu hal. Lalu, tatapan tajam (fokus) memilah dan memilih bahan tulisan. Tujuannya agar lebih spesifik. Kemudian cengkraman kuat (otentik). Setiap penulis mesti memiliki ciri khasnya tersendiri. Baik dari gaya bahasa dan semacamnya. Selanjutnya, membawa visi dan misi (kemanfaatan). Setiap penulis mesti memiliki tujuan untuk memberikan dampak positif bagi pembacanya. Ringkasnya, menulis untuk mencerahkan publik. 

Begitulah kurang lebihnya paparan dari Dosen Blankon. Ditambah lagi sedikit pandangan dari saya pribadi selaku penulis. Intinya, dalam menulis yaitu niat kuat, percaya diri, berani memulai, tekun, tidak baperan, dan selalu optimistik. Jadi mari menulislah apa pun yang terlintas dalam pikiran. Mulai saat ini. Lao Tzu, filsuf China, pernah berkata, “Perjalanan ribuan mil dimulai dari satu langkah kecil.” 


Oleh: Muhammad Aufal Fresky (Penikmat kopi dan sastra)


Malang,

Rabu, 22/5/2024

19.36 WIB




 

 




Jumat, 10 Mei 2024

Memetik Inspirasi dari Film 'The Architecture of Love'

  

Kemarin, Kamis (9/5), saya mengajak istri untuk nonton film di Mall Dinoyo, Malang. Awalnya, kami ingin nonton film horor. Namun, karena waktunya sudah lewat, akhirnya saya memutuskan menonton film berjudul "The Architecture of Love". Ya, sebuah film bergenre romance atau kata lainnya film cinta-cintaan gitu.

Film berdurasi 110 menit tersebut cukup menarik. Bercerita tentang seorang penulis novel bestseller yang kembali menemukan semangat dan gairah dalam berkarya ketika memutuskan pergi ke New York, Amerika Serikat. Sebelumnya, sang penulis yang bernama Raia Risjad (diperankan Putri Marino) bercerai dengan suaminya yang bernama Alam. Hal itu dikarenakan sang suami berselingkuh dengan perempuan lain. Padahal, suaminya tersebut menjadi salah satu inspirasi dari karya-karya hebat Raia.

Hati Raia remuk. Rumah tangga yang dibinanya hancur sudah. Rasa kecewa dan sedih berkecamuk dalam jiwanya. Spiritnya dalam menulis perlahan mulai menurun. Bahkan, ketika hendak memulai berkarya, dia merasa buntu. Ingatannya dihantui oleh luka di masa lalunya tersebut. Maka tak heran, Raia memutuskan untuk pergi merantau ke New York. Hal itu tiada lain tiada bukan untuk mengobati rasa sakitnya. Selain itu, tentu saja untuk mengatasi writer's block yang sedang dialaminya.

Meski sudah menetap cukup lama di New York, Raia tak kunjung memperoleh inspirasi untuk menulis. Waktu demi waktu terlewati begitu saja. Seolah tak ada ide yang melintas di benaknya. Dalam beberapa waktu, dia cukup sukar untuk menangkap inspirasi dan menuliskannya. Hingga pada suatu ketika, Raia bertemu dengan seorang laki-laki bernama River Yusuf (diperankan Nicholas Saputra), seorang arsitek yang bekerja dan tinggal di New York.

Perjumpaan Raia dan River tidak hanya sekali. Mereka berulang kali bertemu. Bahkan, perlahan keduanya mulai saling mengenal karakternya masing-masing. Seperti halnya, River yang mana orangnya sangat misterius, pendiam, sukar ditebak, dan kadang suka ngilang. Sebaliknya, Raia cukup terbuka. Namun, hanya kepada orang-orang tertentu saja. Khususnya kepada orang-orang di lingkaran terdekatnya. Apalagi orang yang disukainya.

Ya, perlahan-lahan semangat berkarya Raia kembali tumbuh. Apalagi saat River sering mengajaknya ke tempat-tempat ikonik dan bersejarah yang ada di New York. Tidak cukup sampai di situ, River juga memberikan penjelasan yang cukup detail mengenai jejak historis pembangunan gedung tersebut. Bahkan sampai filosofinya. River membuka cakrawala berpikir Raia. Mengajaknya untuk melihat New York dengan cara yang berbeda. Dari intensitas perjumpaan tersebut timbullah benih-benih asmara di antara keduanya. Khususnya Raia yang sepertinya sangat tertarik pada kepribadian River.

Namun, tak disangka-sangka, River juga mengalami kejadian cukup traumatis di masa silam. Diam-diam dia menyimpan penyesalan yang berlarut-larut di masa silam. River merasa bersalah karena atas kejadian kecelakaan yang telah menewaskan Andara (diperankan Agla Artalidia), istri tercintanya. Dengan kata lain, River masih belum begitu ikhlas merelakan kepergian sang istri. Dia masih sering kali dibayangi peristiwa kecelakaan maut yang merenggut nyawa kekasihnya.

Film ini semakin ciamik sebab visual Kota New York yang ditampilkan dengan cukup estetik. Bangunan-bangunan bersejarah dan monumental tak lepas dari sorotan. Mata penonton dimanjakan oleh visual beberapa sudut Kota New York yang sangat modern. Film ini juga membawa kita seakan-akan juga menikmati suasana New York.

Baiklah, terkait relasi romansa Raia dan River ternyata tidak berjalan mulus. River tidak menampakkan kalau dirinya juga sebenarnya menaruh hati pada Raia. Menunggu sebuah kepastian dalam sebuah hubungan asmara. Begitulah kira-kira yang dialami Raia. Perasaanya bergejolak. Di sisi lain, sikap River semakin dingin. Sulit ditebak apa sebenarnya yang dia mau. Hubungan keduanya semakin kompleks ketika Aga Yusuf, adik River (diperankan Jerome Kurnia), yang juga tinggal di New York, juga menaruh hati pada Raia. Beruntungnya, selama di New York, Raia memiliki sahabat bernama Erin (diperankan Jihane Almira). Erin selalu mendengarkan keluh kesah Raia. Bahkan, kerap kali memberikan saran dan masukan kepadanya terkait karir dan kehidupan asmaranya.

Di lain sisi, Erin juga sedang menaruh hati kepada seseorang bernama Diaz Umbara (diperankan oleh Omar Daniel). Bahkan dia berani mengungkapkan perasaanya secara terang-terangan kepada Diaz. Sayangnya, cintanya bertepuk sebelah tangan. Diaz merasa Erin kurang cocok untuk dijadikan kekasih. Erin menerima kenyataan itu dengan lapang dada. Tidak begitu kecewa. Apalagi sampai sakit hati berkepanjangan. Dia cukup tegar dalam mengendalikan perasaannya. Apalagi jam terbangnya dalam masalah asmara bisa dikatakan di atasnya Raia, sahabat dekatnya itu. Jadi masalah penolakan itu urusan kecil bagi Erin. Dan selanjutnya, hal yang tak terduga lagi yaitu Diaz ternyata diam-diam mengagumi dan menyukai Raia.

Baiklah, saya pribadi tidak bisa menceritakan secara detail semua cerita dalam film besutan Teddy Soeriaatmadja tersebut. Singkat cerita, setelah melalui jalan yang berliku-liku, River memulai berani terbuka mengungkapkan perasaannya kepada Raia ketika keduanya berada di Jakarta. Riang gembira hati Raia. Cintanya bersambut seiring dengan diluncurkannya karya terbarunya. 

Saya pribadi belajar dari film tersebut mengenai keteguhan hati dalam menjalani profesi yang kita tekuni. Dari film tersebut, saya juga belajar mengenai cara berdamai dengan masa silam dan bagaimana memandang segala sesuatu dari banyak sudut. Tidak hanya dari satu sisi. Dari film itu juga, saya belajar bagaimana agar konsisten berkarya meskipun sedang dilanda writer's block. Selain itu, film tersebut juga mengajari saya bagaimana agar menjadikan kepahitan di masa lalu sebagai pelajaran, serta memandangnya dengan penuh kebijaksanaan. Terakhir, dari film tersebut saya belajar agar senantiasa menjadi pembelajar seumur hidup. Artinya, selalu haus akan ilmu dan pengetahuan. Selalu berupaya kreatif dan inovatif dalam berkarya. Sekian dari saya, semoga catatan ini membawa pencerahan. Setidaknya untuk saya pribadi selaku penulis.


Oleh: Muhammad Aufal Fresky 

*Catatan ini ditulis saat perjalanan Malang-Pamekasan.


Kampung Batik Klampar, Pamekasan

Jumat, 10 Mei 2024

21.00 WIB







Teruslah Menulis, Lawan Kemalasan!

 

Betapa banyak sebagian dari kita kehilangan kesempatan untuk melakukan hal-hal yang produktif. Menghasilkan sesuatu yang bernilai, berharga. Semisal, seorang penulis lepas yang saban harinya disibukkan bagiamana menjaring ide dan menghasilkan karya-karya bermutu, nyatanya masih bergelut dengan dirinya sendiri. Bergelut dalam artian melawan rasa malas yang kadang datang tanpa mengenal waktu. Pantas saja, jika kebiasaan menunda menjadi benalu yang menghambat proses kreativitas seorang penulis. Sekali lagi, tulisan ini berangkat dari pengalaman pribadi saya selaku penulis lepas. Ya, selama ini, sebagian orang mengenal saya sebagai penulis lepas yang keranjingan mengirimkan tulisan-tulisan di media massa. Baik cetak maupun online. Menulis dan mengirimkan karya ke media massa memang menjadi kesenangan tersendiri bagi saya. Hal itu sudah berlangsung lama, sejak saya menempuh studi di Surabaya, beberapa tahun silam. 

Padahal, di Indonesia sendiri, penulis lepas, hemat saya belum begitu dihargai. Banyak media cetak maupun online yang tidak memberikan apresiasi baik berupa honor atau sebagainya kepada penulis yang tulisannya terbit di media tersebut. Padahal, menghasilkan sebuah karya tidak secara bimsalabim atau begitu saja jadi. Lebih-lebih tulisan yang ditulis melalui riset mendalam. Tentu saja penulisnya harus merelakan sebagian waktu dan tenaganya untuk memproduksi tulisan semacam itu. Dan ironinya, ketika terbit, pihak media sama sekali tidak memberikan reward apapun. Bahkan, tidak jarang sang penulis tidak diberikan kabar terkait nasib tulisannya tersebut. Memang, honorarium tidak bukan menjadi penggerak utama bagi penulis. Tapi, setidaknya, dengan memberikan honorarium yang pantas, bisa membuat penulis-penulis di Indonesia semakin termotivasi menghasilkan karya-karya yang bermutu. 

Saya sendiri terjun ke dunia tulis menulis karena kebetulan. Ya, semua berawal dari kebetulan. Tiba-tiba saya sangat berhasrat untuk belajar dan menekuni dunia tersebut. Mungkin, karena faktor untuk aktualisasi diri menjadi salah satu alasan kenapa saya begitu menggemari dunia jurnalistik atau tulis menulis. Semacam ada perasaan senang dan lega ketika saya berhasil menuliskan sebuah karya, baik itu berupa opini ataupun puisi. Sama sekali tidak ada pikiran bagaimana tulisan saya itu berdampak secara ekonomi. Artinya, dibayar atau tidak, tidak mengurangi kegemaran dan kecintaan saya terhadap dunia tulis menulis. Bahkan, sampai sekarang, saya masih berupaya untuk tetap istikamah dalam berkarya. Meskipun itu sulitnya bukan main. Ya, saya melawan rasa malas dan kebiasaan menunda yang kemungkinan sudah mengakar kuat dalam diri ini. Tapi, saya percaya dan yakin betul, selama ada kemauan pasti ada jalan. Selama ada itikad kuat untuk memerangi rasa malas dan kebiasaan menunda itu, maka suatu saat nanti saya bisa konsisten menulis. 

Berkarya secara konsisten memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ini tidak hanya dialami penulis awam seperti saya. Bahkan sekelas penulis yang karya-karyanya sudah bestseller pun, pasti membenarkan pernyataan saya tersebut. Sebab, konsistensi membutuhkan hasrat yang berkobar-kobar dalam jiwa. Agar konsisten harus memiliki tujuan yang jelas dalam menulis. Tidak cukup itu, harus berani keluar dari zona nyaman dengan tetap berkarya dalam kondisi apa pun. Sebab, di zaman sekarang, fokus kita mudah dialihkan, gampang buyar. Lebih-lebih, bagi kita yang setiap harinya sukar lepas dari yang Namanya gadget. Tanpa disadari, waktu terkuras begitu saja hanya dengan scrolling TikTok, Instragram, Facebook, dan sejenisnya. Padahal, sebelumnya semangatnya sudah menyala-nyala untuk menuliskan sebuah karya, baik fiksi maupun nonfiksi. Ternyata semangat itu gampang luntur ketika perhatian teralihkan kepada media sosial. Tidak terasa berjam-jam terlewati hanya dengan main medsos. Lalu ketika giliran hendak menulis, merasa lelah, letih, loyo, dan lemes. Alih-alih hendak berkarya, nyatanya lebih memilih bersahabat dengan kasur. Alias tidur pulas. Rencana menghasilkan tulisan pun menjadi bualan belaka. Semua menjadi omong kosong jika hanya terucap dalam perencanaan harian. Percuma memiliki jadwal harian, mingguan, bulanan, jika tidak terealisasi dengan baik. Lagi-lagi kebiasaan menunda menghampiri kita. 

Tidak ada ceritanya penulis hebat lahir dari zona nyaman. Semua melewati proses yang berdarah-darah. Dan untuk keluar dari zona nyaman, salah satunya berani untuk puasa medsos. Artinya, jangan sampai pikiran dan waktu kita tersita untuk hal-hal yang tidak berfaedah. Jangan biarkan planning kita amburadul sebab tidak mampu mengendalikan diri mengutak-atik gadget. Sekali lagi, saya juga sedang belajar untuk mewujudkan hal itu. Tulisan ini hanya sekadar untuk berbagi pengalaman. Barangkali bermanfaat. Sama sekali tidak ada niatan untuk menggurui Anda semua. Ini murni tulisan seorang penulis awam yang juda sedang berupaya mati-matian melawan rasa malas dan kebiasaannya menunda-nunda. Harapan saya, melalui tulisan ini, kita semua, terutama bagi yang memiliki ketertarikan ke dunia jurnalistik, agar tetap bersemangat dalam berkarya. Jangan biarkan waktu berlalu tanpa berkarya. Kita hidup di dunia hanya sekali. Jadikanlah lebih berarti dengan berbagi karya.

Sumber gambar: epaper.mediandonesia.com


Oleh: Muhammad Aufal Fresky

Universitas Brawijaya, Kota Malang

Kamis, 2 Mei 2024

11.42 WIB




Minggu, 05 Mei 2024

Ngobrol Santai Seputar HmI Connection dan Dunia Usaha

 



Tadi malam, saya berjumpa dengan kawan lama di Kopi Jokotole. Nama panggilannya Afif. Ya, dia adalah kawan seperjuangan ketika menuntut ilmu di Universitas Airlangga (Surabaya). Tidak hanya itu, Afif juga tetangga kos. Kami berdua juga sama-sama pernah berproses di HmI Komisariat Ekonomi Airlangga. Kami juga berasal dari tempat yang sama yaitu Pulau Madura. Hanya beda kabupaten. Saya dari Pamekasan, Afif dari Bangkalan. Intinya Tretan Dhibi’ (saudara sendiri).

Cukup lama kami tidak bertemu. Memang. Rencana untuk ketemu sudah ada. Apalagi kami sama-sama domisili di Malang. Hanya saja saya kadang sering bolak-balik Pamekasan. Akhir-akhir ini saja yang cukup lama menetap di Malang. Meskipun hanya sementara waktu. Tak heran jika, rencana demi rencana gagal terlaksana sebab saya dan Afif cukup kesulitan mengatur jadwal. Atau terkadang ada halangan yang tidak terduga yang menjadi penyebab tidak terselenggaranya sebuah perjumpaan. 

Banyak hal yang kami perbincangkan dengan Afif. Mulai dari nostalgia saat sama-sama berkader di HmI hingga cerita-cerita tentang kesibukan kita masing-masing. Obrolan mengalir dan terasa asik. Waktu berlalu begitu cepat. Apalagi, kawan saya yang satu ini orangnya cukup humoris. Ada saja hal-hal lucu yang membuat saya tertawa terpingkal-pingkal. Meskipun sudah memiliki posisi di salah satu instansi publik, Afif yang saya kenal sama sekali tidak ada perubahan. Masih seperti yang saya kenal beberapa tahun silam. Dia apa adanya. Tidak bertopeng. Apalagi bersikap jumawa dengan segala pencapaian yang diraihnya. Karirnya di salah satu instansi publik cukup mentereng. Secara ekonomi, saya rasa Afif sudah tidak ada persoalan. Alias cukup mapan.

Kami berbincang-bincang tentang orang-orang hebat di lingkungan HmI Ekonomi Unair. Lebih tepatnya, para alumninya. Dia baru sadar, ternyata alumni-alumni HmI Ekonomi Unair adalah orang-orang berkualitas. Mereka ada di beragam instansi pemerintahan maupun swasta. Posisinya pun cukup strategis. Dalam hal ini, Afif sedikit menyinggung masalah terkait HmI Connection. Ya, katanya, jaringan di HmI itu sangat berpengaruh terhadap bagaimana seseorang meniti karir di berbagai bidang. Modal jaringan atau networking adalah modal yang luar biasa yang bisa membawa seseorang memiliki peluang besar untuk diterima di sebuah institusi. Hanya saja, saya menanggapi bahwa tidak cukup mengandalkan jaringan jika tidak diimbangi dengan kemampuan. Hanya menjadi omong kosong ketika ada seseorang yang membawa nama sebagai alumni HmI Ekonomi Unair tetapi tidak dibarengi dengan kapasitas dan integritas dirinya. 

Mana ada institusi yang mau merekrut pekerja atau pegawai yang kemampuannya tidak sesuai dengan kualifikasi yang ditentukan, alias tidak memenuhi syarat. Jika ada institusi semacam itu, maka cepat atau lambat akan mengalami kemunduran kemunduran. Kecuali segera melakukan evaluasi secara menyeluruh. Alias menerapkan secara total sistem meritokrasi. Apalagi di era sekarang adalah era di mana perusahaan atau institusi meng-hire orang-orang yang kompeten di bidangnya. Tidak begitu peduli asal kampusnya. Tidak peduli dari suku mana. Apalagi dari organisasi apa. Memang di sebuah institusi itu bukan menjadi rahasia umum ada gerbong-gerbong tertentu. Tetapi, bukankah mereka yang direkrut sudah memenuhi kapasitas? Percuma membawa nama bendera HmI jika tak memiliki skill dan miskin integritas. 

Selanjutnya, Afif menambahkan bahwa ternyata banyak adek tingkatnya dan kakak tingkatnya yang memang mengandalkan jaringan HmI untuk kepentingan pribadinya. Seolah memiliki tiket emas untuk leluasa berkarir di beragam bidang jika punya jaringan tersebut. Seolah ada karpet merah yang disediakan. Padahal, belum tentu senior-seniornya senang dengan perilaku semacam itu. Lebih-lebih jika tidak ada adab ketika berhubungan dengan para alumni yang kebetulan sedang ada di posisi strategis di institusi tertentu. Asal ceplas ceplos. Mentang-mentang anak HmI lalu menagih posisi tertentu. Memangnya perusahaan tersebut punyanya Lafran Pane? Memangnya perusahaan tersebut didirikan oleh embah-embahnya? Tak elok kiranya jika kita sebagai alumni HmI tidak bisa mengukur diri. Tak etis rasanya jika kita tiba-tiba menghubungi alumni HmI dan tanpa basa-basi minta pekerjaan yang gajinya fantastis. Edan betul. Tapi diakui atau tidak, disadari atau tidak, orang-orang semacam itu ada di sekeliling kita.

Memang, kita tidak bisa menyeragamkan pemikiran, sifat, dan sikap seseorang. Pastinya memiliki karakteristik dan keunikan tersendiri. Hal itu saya jumpai ketika kami berdua sama-sama berkader di HmI. Afif pun mengakui, selama berorganisasi di HmI, kawan-kawan kami memiliki watak yang beragam. Dari situlah pembelajaran terjadi. Bagaimana belajar mengelola emosi, bagaimana menyikapi pandangan orang lain yang berbeda dengan kita. Sehingga, secara perlahan kita yang berorganisasi di HmI belajar betul bagaimana agar memiliki sikap toleran terhadap orang lain. Belajar menerima pendapat orang lain yang mungkin lebih baik dari pendapat kita. Belajar mendengarkan dengan seksama ketika orang lain berbicara. Belajar menghargai dan menghormati pendirian dan prinsip orang lain. Belajar untuk tidak egois atau mau menang sendiri ketika dalam rapat, musyawarah, dan sebagainya. Begitulah kira-kira. Ringkasnya, banyak hal yang didapatkan selama menjadi kader HmI Ekonomi Unair. Bahkan, dampak positifnya bisa dirasakan hingga sekarang, saat kita semua sudah menjadi alumni. 

Tidak cukup sampai di situ, kami berdua juga sedikit membahas masalah dunia usaha. Dari situlah saya baru mengerti, ternyata Afif pernah bergelut di dunia usaha selama dua tahun. Lebih tepatnya berjualan rak. besi Bahkan dia memiliki sempat memiliki karyawan sendiri. Tapi entah kenapa alasannya, dia tiba-tiba menyatakan berhenti dari dunia usaha. Mungkin arena kesibukannya di instansi tempatnya bekerja saat ini. Atau alasan lainnya, entahlah. Saya pun berbagi sedikit pengalaman ketika bergelut di dunia usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Afif sendiri sudah tahu, saya sejak lama memang jualan batik tulis Madura. Hanya saja, ketika kuliah di Surabaya dulu, belum begitu maksimal memasarkannya. 

Mendengar cerita saya, Afif memberikan sedikit masukan dan saran yaitu agar memanfaatkan marketplace seperti Shopee, Bukalapak, Tokopedia, dan sebagainya. Dia mengatakan bahwa sebagian teman di kantornya banyak yang jualan di marketplace. Padahal, sebagian dari mereka tidak produksi barang sendiri. Saya mengakui bahwa memang lemah dalam digital marketing. Selama ini, hanya memanfaatkan medsos Instagram dan WhatsApp. Tak heran jika pemasaran batik tulis Madura yang saya produksi belum berjalan optimal. Padahal, brand saya yaitu: ANEKA BATIK, sudah cukup lama malang melintang di dunia batik. Lebih tepatnya batik tulis Madura. Banyak pula wisatawan dan pengunjung yang sudah pernah membeli, memesan, dan memborong produk saya. Ini sebenarnya kesempatan emas untuk melebarkan sayap ANEKA BATIK. Saya dengarkan betul saran dan masukan dari Afif. Dia juga mempunyai pemikiran bahwa setiap wirausahawan, di bidang apapun, harus sering-sering membangun silaturahmi dengan orang-orang baru. Artinya memperluas pergaulan dan rajin silaturahmi bisa menjadi jalan dibukanya pintu rezeki. Melalui jaringan pertemanan kita bisa menemukan peluang dan kesempatan yang mungkin sebelumnya tidak terpikirkan. Membangun relasi sangat dibutuhkan bagi setiap orang yang menekuni dunia bisnis. Harus berani untuk berjejaring. Sebab, networking menjadi salah satu jalan dalam mengembangkan bisnis kita. Begitulah kira-kira, kurang lebihnya yang disampaikan Kanda Afif. Jika diperas lagi, inti dari obrolan kami yaitu tentang dunia organisasi dan dunia usaha. Ditambah sedikit perbincangan mengenai perkembangan usia anak kita masing-masing. Dalam hal produksi anak, Afif selangkah lebih maju dari saya. Anak saya baru satu, afif sudah punya dua anak. Tapi tidak menutup kemungkinan skor nanti bisa menjadi 2-2. Sekian dari saya, semoga catatan ringkas ini sedikit mencerahkan. Setidaknya untuk saya pribadi. Amin. 

Oleh: Muhammad Aufal Fresky (Penulis buku ‘Empat Titik Lima Dimensi’)


Kota Malang, 

Minggu, 5 Mei 2024

12.19 WIB



 

Featured Post

Pelestarian Batik Madura Butuh Regulasi Terarah

  Sejak beberapa tahun terakhir, saya  bergelut di bidang usaha batik tulis Madura. Selain karena dukungan keluarga, faktor lingkungan juga ...