Betapa banyak sebagian dari kita kehilangan kesempatan untuk melakukan hal-hal yang produktif. Menghasilkan sesuatu yang bernilai, berharga. Semisal, seorang penulis lepas yang saban harinya disibukkan bagiamana menjaring ide dan menghasilkan karya-karya bermutu, nyatanya masih bergelut dengan dirinya sendiri. Bergelut dalam artian melawan rasa malas yang kadang datang tanpa mengenal waktu. Pantas saja, jika kebiasaan menunda menjadi benalu yang menghambat proses kreativitas seorang penulis. Sekali lagi, tulisan ini berangkat dari pengalaman pribadi saya selaku penulis lepas. Ya, selama ini, sebagian orang mengenal saya sebagai penulis lepas yang keranjingan mengirimkan tulisan-tulisan di media massa. Baik cetak maupun online. Menulis dan mengirimkan karya ke media massa memang menjadi kesenangan tersendiri bagi saya. Hal itu sudah berlangsung lama, sejak saya menempuh studi di Surabaya, beberapa tahun silam.
Padahal, di Indonesia sendiri, penulis lepas, hemat saya belum begitu dihargai. Banyak media cetak maupun online yang tidak memberikan apresiasi baik berupa honor atau sebagainya kepada penulis yang tulisannya terbit di media tersebut. Padahal, menghasilkan sebuah karya tidak secara bimsalabim atau begitu saja jadi. Lebih-lebih tulisan yang ditulis melalui riset mendalam. Tentu saja penulisnya harus merelakan sebagian waktu dan tenaganya untuk memproduksi tulisan semacam itu. Dan ironinya, ketika terbit, pihak media sama sekali tidak memberikan reward apapun. Bahkan, tidak jarang sang penulis tidak diberikan kabar terkait nasib tulisannya tersebut. Memang, honorarium tidak bukan menjadi penggerak utama bagi penulis. Tapi, setidaknya, dengan memberikan honorarium yang pantas, bisa membuat penulis-penulis di Indonesia semakin termotivasi menghasilkan karya-karya yang bermutu.
Saya sendiri terjun ke dunia tulis menulis karena kebetulan. Ya, semua berawal dari kebetulan. Tiba-tiba saya sangat berhasrat untuk belajar dan menekuni dunia tersebut. Mungkin, karena faktor untuk aktualisasi diri menjadi salah satu alasan kenapa saya begitu menggemari dunia jurnalistik atau tulis menulis. Semacam ada perasaan senang dan lega ketika saya berhasil menuliskan sebuah karya, baik itu berupa opini ataupun puisi. Sama sekali tidak ada pikiran bagaimana tulisan saya itu berdampak secara ekonomi. Artinya, dibayar atau tidak, tidak mengurangi kegemaran dan kecintaan saya terhadap dunia tulis menulis. Bahkan, sampai sekarang, saya masih berupaya untuk tetap istikamah dalam berkarya. Meskipun itu sulitnya bukan main. Ya, saya melawan rasa malas dan kebiasaan menunda yang kemungkinan sudah mengakar kuat dalam diri ini. Tapi, saya percaya dan yakin betul, selama ada kemauan pasti ada jalan. Selama ada itikad kuat untuk memerangi rasa malas dan kebiasaan menunda itu, maka suatu saat nanti saya bisa konsisten menulis.
Berkarya secara konsisten memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ini tidak hanya dialami penulis awam seperti saya. Bahkan sekelas penulis yang karya-karyanya sudah bestseller pun, pasti membenarkan pernyataan saya tersebut. Sebab, konsistensi membutuhkan hasrat yang berkobar-kobar dalam jiwa. Agar konsisten harus memiliki tujuan yang jelas dalam menulis. Tidak cukup itu, harus berani keluar dari zona nyaman dengan tetap berkarya dalam kondisi apa pun. Sebab, di zaman sekarang, fokus kita mudah dialihkan, gampang buyar. Lebih-lebih, bagi kita yang setiap harinya sukar lepas dari yang Namanya gadget. Tanpa disadari, waktu terkuras begitu saja hanya dengan scrolling TikTok, Instragram, Facebook, dan sejenisnya. Padahal, sebelumnya semangatnya sudah menyala-nyala untuk menuliskan sebuah karya, baik fiksi maupun nonfiksi. Ternyata semangat itu gampang luntur ketika perhatian teralihkan kepada media sosial. Tidak terasa berjam-jam terlewati hanya dengan main medsos. Lalu ketika giliran hendak menulis, merasa lelah, letih, loyo, dan lemes. Alih-alih hendak berkarya, nyatanya lebih memilih bersahabat dengan kasur. Alias tidur pulas. Rencana menghasilkan tulisan pun menjadi bualan belaka. Semua menjadi omong kosong jika hanya terucap dalam perencanaan harian. Percuma memiliki jadwal harian, mingguan, bulanan, jika tidak terealisasi dengan baik. Lagi-lagi kebiasaan menunda menghampiri kita.
Tidak ada ceritanya penulis hebat lahir dari zona nyaman. Semua melewati proses yang berdarah-darah. Dan untuk keluar dari zona nyaman, salah satunya berani untuk puasa medsos. Artinya, jangan sampai pikiran dan waktu kita tersita untuk hal-hal yang tidak berfaedah. Jangan biarkan planning kita amburadul sebab tidak mampu mengendalikan diri mengutak-atik gadget. Sekali lagi, saya juga sedang belajar untuk mewujudkan hal itu. Tulisan ini hanya sekadar untuk berbagi pengalaman. Barangkali bermanfaat. Sama sekali tidak ada niatan untuk menggurui Anda semua. Ini murni tulisan seorang penulis awam yang juda sedang berupaya mati-matian melawan rasa malas dan kebiasaannya menunda-nunda. Harapan saya, melalui tulisan ini, kita semua, terutama bagi yang memiliki ketertarikan ke dunia jurnalistik, agar tetap bersemangat dalam berkarya. Jangan biarkan waktu berlalu tanpa berkarya. Kita hidup di dunia hanya sekali. Jadikanlah lebih berarti dengan berbagi karya.
Sumber gambar: epaper.mediandonesia.com
Oleh: Muhammad Aufal Fresky
Universitas Brawijaya, Kota Malang
Kamis, 2 Mei 2024
11.42 WIB

Tidak ada komentar:
Posting Komentar