Tadi malam, saya berjumpa dengan kawan lama di Kopi Jokotole. Nama panggilannya Afif. Ya, dia adalah kawan seperjuangan ketika menuntut ilmu di Universitas Airlangga (Surabaya). Tidak hanya itu, Afif juga tetangga kos. Kami berdua juga sama-sama pernah berproses di HmI Komisariat Ekonomi Airlangga. Kami juga berasal dari tempat yang sama yaitu Pulau Madura. Hanya beda kabupaten. Saya dari Pamekasan, Afif dari Bangkalan. Intinya Tretan Dhibi’ (saudara sendiri).
Cukup lama kami tidak bertemu. Memang. Rencana untuk ketemu sudah ada. Apalagi kami sama-sama domisili di Malang. Hanya saja saya kadang sering bolak-balik Pamekasan. Akhir-akhir ini saja yang cukup lama menetap di Malang. Meskipun hanya sementara waktu. Tak heran jika, rencana demi rencana gagal terlaksana sebab saya dan Afif cukup kesulitan mengatur jadwal. Atau terkadang ada halangan yang tidak terduga yang menjadi penyebab tidak terselenggaranya sebuah perjumpaan.
Banyak hal yang kami perbincangkan dengan Afif. Mulai dari nostalgia saat sama-sama berkader di HmI hingga cerita-cerita tentang kesibukan kita masing-masing. Obrolan mengalir dan terasa asik. Waktu berlalu begitu cepat. Apalagi, kawan saya yang satu ini orangnya cukup humoris. Ada saja hal-hal lucu yang membuat saya tertawa terpingkal-pingkal. Meskipun sudah memiliki posisi di salah satu instansi publik, Afif yang saya kenal sama sekali tidak ada perubahan. Masih seperti yang saya kenal beberapa tahun silam. Dia apa adanya. Tidak bertopeng. Apalagi bersikap jumawa dengan segala pencapaian yang diraihnya. Karirnya di salah satu instansi publik cukup mentereng. Secara ekonomi, saya rasa Afif sudah tidak ada persoalan. Alias cukup mapan.
Kami berbincang-bincang tentang orang-orang hebat di lingkungan HmI Ekonomi Unair. Lebih tepatnya, para alumninya. Dia baru sadar, ternyata alumni-alumni HmI Ekonomi Unair adalah orang-orang berkualitas. Mereka ada di beragam instansi pemerintahan maupun swasta. Posisinya pun cukup strategis. Dalam hal ini, Afif sedikit menyinggung masalah terkait HmI Connection. Ya, katanya, jaringan di HmI itu sangat berpengaruh terhadap bagaimana seseorang meniti karir di berbagai bidang. Modal jaringan atau networking adalah modal yang luar biasa yang bisa membawa seseorang memiliki peluang besar untuk diterima di sebuah institusi. Hanya saja, saya menanggapi bahwa tidak cukup mengandalkan jaringan jika tidak diimbangi dengan kemampuan. Hanya menjadi omong kosong ketika ada seseorang yang membawa nama sebagai alumni HmI Ekonomi Unair tetapi tidak dibarengi dengan kapasitas dan integritas dirinya.
Mana ada institusi yang mau merekrut pekerja atau pegawai yang kemampuannya tidak sesuai dengan kualifikasi yang ditentukan, alias tidak memenuhi syarat. Jika ada institusi semacam itu, maka cepat atau lambat akan mengalami kemunduran kemunduran. Kecuali segera melakukan evaluasi secara menyeluruh. Alias menerapkan secara total sistem meritokrasi. Apalagi di era sekarang adalah era di mana perusahaan atau institusi meng-hire orang-orang yang kompeten di bidangnya. Tidak begitu peduli asal kampusnya. Tidak peduli dari suku mana. Apalagi dari organisasi apa. Memang di sebuah institusi itu bukan menjadi rahasia umum ada gerbong-gerbong tertentu. Tetapi, bukankah mereka yang direkrut sudah memenuhi kapasitas? Percuma membawa nama bendera HmI jika tak memiliki skill dan miskin integritas.
Selanjutnya, Afif menambahkan bahwa ternyata banyak adek tingkatnya dan kakak tingkatnya yang memang mengandalkan jaringan HmI untuk kepentingan pribadinya. Seolah memiliki tiket emas untuk leluasa berkarir di beragam bidang jika punya jaringan tersebut. Seolah ada karpet merah yang disediakan. Padahal, belum tentu senior-seniornya senang dengan perilaku semacam itu. Lebih-lebih jika tidak ada adab ketika berhubungan dengan para alumni yang kebetulan sedang ada di posisi strategis di institusi tertentu. Asal ceplas ceplos. Mentang-mentang anak HmI lalu menagih posisi tertentu. Memangnya perusahaan tersebut punyanya Lafran Pane? Memangnya perusahaan tersebut didirikan oleh embah-embahnya? Tak elok kiranya jika kita sebagai alumni HmI tidak bisa mengukur diri. Tak etis rasanya jika kita tiba-tiba menghubungi alumni HmI dan tanpa basa-basi minta pekerjaan yang gajinya fantastis. Edan betul. Tapi diakui atau tidak, disadari atau tidak, orang-orang semacam itu ada di sekeliling kita.
Memang, kita tidak bisa menyeragamkan pemikiran, sifat, dan sikap seseorang. Pastinya memiliki karakteristik dan keunikan tersendiri. Hal itu saya jumpai ketika kami berdua sama-sama berkader di HmI. Afif pun mengakui, selama berorganisasi di HmI, kawan-kawan kami memiliki watak yang beragam. Dari situlah pembelajaran terjadi. Bagaimana belajar mengelola emosi, bagaimana menyikapi pandangan orang lain yang berbeda dengan kita. Sehingga, secara perlahan kita yang berorganisasi di HmI belajar betul bagaimana agar memiliki sikap toleran terhadap orang lain. Belajar menerima pendapat orang lain yang mungkin lebih baik dari pendapat kita. Belajar mendengarkan dengan seksama ketika orang lain berbicara. Belajar menghargai dan menghormati pendirian dan prinsip orang lain. Belajar untuk tidak egois atau mau menang sendiri ketika dalam rapat, musyawarah, dan sebagainya. Begitulah kira-kira. Ringkasnya, banyak hal yang didapatkan selama menjadi kader HmI Ekonomi Unair. Bahkan, dampak positifnya bisa dirasakan hingga sekarang, saat kita semua sudah menjadi alumni.
Tidak cukup sampai di situ, kami berdua juga sedikit membahas masalah dunia usaha. Dari situlah saya baru mengerti, ternyata Afif pernah bergelut di dunia usaha selama dua tahun. Lebih tepatnya berjualan rak. besi Bahkan dia memiliki sempat memiliki karyawan sendiri. Tapi entah kenapa alasannya, dia tiba-tiba menyatakan berhenti dari dunia usaha. Mungkin arena kesibukannya di instansi tempatnya bekerja saat ini. Atau alasan lainnya, entahlah. Saya pun berbagi sedikit pengalaman ketika bergelut di dunia usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Afif sendiri sudah tahu, saya sejak lama memang jualan batik tulis Madura. Hanya saja, ketika kuliah di Surabaya dulu, belum begitu maksimal memasarkannya.
Mendengar cerita saya, Afif memberikan sedikit masukan dan saran yaitu agar memanfaatkan marketplace seperti Shopee, Bukalapak, Tokopedia, dan sebagainya. Dia mengatakan bahwa sebagian teman di kantornya banyak yang jualan di marketplace. Padahal, sebagian dari mereka tidak produksi barang sendiri. Saya mengakui bahwa memang lemah dalam digital marketing. Selama ini, hanya memanfaatkan medsos Instagram dan WhatsApp. Tak heran jika pemasaran batik tulis Madura yang saya produksi belum berjalan optimal. Padahal, brand saya yaitu: ANEKA BATIK, sudah cukup lama malang melintang di dunia batik. Lebih tepatnya batik tulis Madura. Banyak pula wisatawan dan pengunjung yang sudah pernah membeli, memesan, dan memborong produk saya. Ini sebenarnya kesempatan emas untuk melebarkan sayap ANEKA BATIK. Saya dengarkan betul saran dan masukan dari Afif. Dia juga mempunyai pemikiran bahwa setiap wirausahawan, di bidang apapun, harus sering-sering membangun silaturahmi dengan orang-orang baru. Artinya memperluas pergaulan dan rajin silaturahmi bisa menjadi jalan dibukanya pintu rezeki. Melalui jaringan pertemanan kita bisa menemukan peluang dan kesempatan yang mungkin sebelumnya tidak terpikirkan. Membangun relasi sangat dibutuhkan bagi setiap orang yang menekuni dunia bisnis. Harus berani untuk berjejaring. Sebab, networking menjadi salah satu jalan dalam mengembangkan bisnis kita. Begitulah kira-kira, kurang lebihnya yang disampaikan Kanda Afif. Jika diperas lagi, inti dari obrolan kami yaitu tentang dunia organisasi dan dunia usaha. Ditambah sedikit perbincangan mengenai perkembangan usia anak kita masing-masing. Dalam hal produksi anak, Afif selangkah lebih maju dari saya. Anak saya baru satu, afif sudah punya dua anak. Tapi tidak menutup kemungkinan skor nanti bisa menjadi 2-2. Sekian dari saya, semoga catatan ringkas ini sedikit mencerahkan. Setidaknya untuk saya pribadi. Amin.
Oleh: Muhammad Aufal Fresky (Penulis buku ‘Empat Titik Lima Dimensi’)
Kota Malang,
Minggu, 5 Mei 2024
12.19 WIB

Tidak ada komentar:
Posting Komentar