Jumat, 10 Mei 2024

Memetik Inspirasi dari Film 'The Architecture of Love'

  

Kemarin, Kamis (9/5), saya mengajak istri untuk nonton film di Mall Dinoyo, Malang. Awalnya, kami ingin nonton film horor. Namun, karena waktunya sudah lewat, akhirnya saya memutuskan menonton film berjudul "The Architecture of Love". Ya, sebuah film bergenre romance atau kata lainnya film cinta-cintaan gitu.

Film berdurasi 110 menit tersebut cukup menarik. Bercerita tentang seorang penulis novel bestseller yang kembali menemukan semangat dan gairah dalam berkarya ketika memutuskan pergi ke New York, Amerika Serikat. Sebelumnya, sang penulis yang bernama Raia Risjad (diperankan Putri Marino) bercerai dengan suaminya yang bernama Alam. Hal itu dikarenakan sang suami berselingkuh dengan perempuan lain. Padahal, suaminya tersebut menjadi salah satu inspirasi dari karya-karya hebat Raia.

Hati Raia remuk. Rumah tangga yang dibinanya hancur sudah. Rasa kecewa dan sedih berkecamuk dalam jiwanya. Spiritnya dalam menulis perlahan mulai menurun. Bahkan, ketika hendak memulai berkarya, dia merasa buntu. Ingatannya dihantui oleh luka di masa lalunya tersebut. Maka tak heran, Raia memutuskan untuk pergi merantau ke New York. Hal itu tiada lain tiada bukan untuk mengobati rasa sakitnya. Selain itu, tentu saja untuk mengatasi writer's block yang sedang dialaminya.

Meski sudah menetap cukup lama di New York, Raia tak kunjung memperoleh inspirasi untuk menulis. Waktu demi waktu terlewati begitu saja. Seolah tak ada ide yang melintas di benaknya. Dalam beberapa waktu, dia cukup sukar untuk menangkap inspirasi dan menuliskannya. Hingga pada suatu ketika, Raia bertemu dengan seorang laki-laki bernama River Yusuf (diperankan Nicholas Saputra), seorang arsitek yang bekerja dan tinggal di New York.

Perjumpaan Raia dan River tidak hanya sekali. Mereka berulang kali bertemu. Bahkan, perlahan keduanya mulai saling mengenal karakternya masing-masing. Seperti halnya, River yang mana orangnya sangat misterius, pendiam, sukar ditebak, dan kadang suka ngilang. Sebaliknya, Raia cukup terbuka. Namun, hanya kepada orang-orang tertentu saja. Khususnya kepada orang-orang di lingkaran terdekatnya. Apalagi orang yang disukainya.

Ya, perlahan-lahan semangat berkarya Raia kembali tumbuh. Apalagi saat River sering mengajaknya ke tempat-tempat ikonik dan bersejarah yang ada di New York. Tidak cukup sampai di situ, River juga memberikan penjelasan yang cukup detail mengenai jejak historis pembangunan gedung tersebut. Bahkan sampai filosofinya. River membuka cakrawala berpikir Raia. Mengajaknya untuk melihat New York dengan cara yang berbeda. Dari intensitas perjumpaan tersebut timbullah benih-benih asmara di antara keduanya. Khususnya Raia yang sepertinya sangat tertarik pada kepribadian River.

Namun, tak disangka-sangka, River juga mengalami kejadian cukup traumatis di masa silam. Diam-diam dia menyimpan penyesalan yang berlarut-larut di masa silam. River merasa bersalah karena atas kejadian kecelakaan yang telah menewaskan Andara (diperankan Agla Artalidia), istri tercintanya. Dengan kata lain, River masih belum begitu ikhlas merelakan kepergian sang istri. Dia masih sering kali dibayangi peristiwa kecelakaan maut yang merenggut nyawa kekasihnya.

Film ini semakin ciamik sebab visual Kota New York yang ditampilkan dengan cukup estetik. Bangunan-bangunan bersejarah dan monumental tak lepas dari sorotan. Mata penonton dimanjakan oleh visual beberapa sudut Kota New York yang sangat modern. Film ini juga membawa kita seakan-akan juga menikmati suasana New York.

Baiklah, terkait relasi romansa Raia dan River ternyata tidak berjalan mulus. River tidak menampakkan kalau dirinya juga sebenarnya menaruh hati pada Raia. Menunggu sebuah kepastian dalam sebuah hubungan asmara. Begitulah kira-kira yang dialami Raia. Perasaanya bergejolak. Di sisi lain, sikap River semakin dingin. Sulit ditebak apa sebenarnya yang dia mau. Hubungan keduanya semakin kompleks ketika Aga Yusuf, adik River (diperankan Jerome Kurnia), yang juga tinggal di New York, juga menaruh hati pada Raia. Beruntungnya, selama di New York, Raia memiliki sahabat bernama Erin (diperankan Jihane Almira). Erin selalu mendengarkan keluh kesah Raia. Bahkan, kerap kali memberikan saran dan masukan kepadanya terkait karir dan kehidupan asmaranya.

Di lain sisi, Erin juga sedang menaruh hati kepada seseorang bernama Diaz Umbara (diperankan oleh Omar Daniel). Bahkan dia berani mengungkapkan perasaanya secara terang-terangan kepada Diaz. Sayangnya, cintanya bertepuk sebelah tangan. Diaz merasa Erin kurang cocok untuk dijadikan kekasih. Erin menerima kenyataan itu dengan lapang dada. Tidak begitu kecewa. Apalagi sampai sakit hati berkepanjangan. Dia cukup tegar dalam mengendalikan perasaannya. Apalagi jam terbangnya dalam masalah asmara bisa dikatakan di atasnya Raia, sahabat dekatnya itu. Jadi masalah penolakan itu urusan kecil bagi Erin. Dan selanjutnya, hal yang tak terduga lagi yaitu Diaz ternyata diam-diam mengagumi dan menyukai Raia.

Baiklah, saya pribadi tidak bisa menceritakan secara detail semua cerita dalam film besutan Teddy Soeriaatmadja tersebut. Singkat cerita, setelah melalui jalan yang berliku-liku, River memulai berani terbuka mengungkapkan perasaannya kepada Raia ketika keduanya berada di Jakarta. Riang gembira hati Raia. Cintanya bersambut seiring dengan diluncurkannya karya terbarunya. 

Saya pribadi belajar dari film tersebut mengenai keteguhan hati dalam menjalani profesi yang kita tekuni. Dari film tersebut, saya juga belajar mengenai cara berdamai dengan masa silam dan bagaimana memandang segala sesuatu dari banyak sudut. Tidak hanya dari satu sisi. Dari film itu juga, saya belajar bagaimana agar konsisten berkarya meskipun sedang dilanda writer's block. Selain itu, film tersebut juga mengajari saya bagaimana agar menjadikan kepahitan di masa lalu sebagai pelajaran, serta memandangnya dengan penuh kebijaksanaan. Terakhir, dari film tersebut saya belajar agar senantiasa menjadi pembelajar seumur hidup. Artinya, selalu haus akan ilmu dan pengetahuan. Selalu berupaya kreatif dan inovatif dalam berkarya. Sekian dari saya, semoga catatan ini membawa pencerahan. Setidaknya untuk saya pribadi selaku penulis.


Oleh: Muhammad Aufal Fresky 

*Catatan ini ditulis saat perjalanan Malang-Pamekasan.


Kampung Batik Klampar, Pamekasan

Jumat, 10 Mei 2024

21.00 WIB







Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Featured Post

Pelestarian Batik Madura Butuh Regulasi Terarah

  Sejak beberapa tahun terakhir, saya  bergelut di bidang usaha batik tulis Madura. Selain karena dukungan keluarga, faktor lingkungan juga ...