Senin, 23 September 2024

Melawan dengan Pena




Saya percaya kekuatan tulisan itu nyata adanya. Bahkan lebih dahsyat dari peluru yang hanya bisa menembus satu kepala manusia. Sedangkan tulisan bisa menembus jutaan kepala manusia. Intinya, kekuatan pena tidak bisa diragukan lagi.

Tidak heran jika para jurnalis menjadi salah satu momok menakutkan bagi pemerintahan yang otoriter. Tengok saja di zaman orde baru, berapa banyak majalah yang dibredel oleh pemerintah karena begitu vokal dan vulgar mengkritik jalannya pemerintahan. Ternyata dengan pena kita bisa melawan. 

Bahkan dulu di zaman penjajahan, para pendiri bangsa menggunakan media massa untuk menyebarluaskan propaganda nasionalisme dan persatuan. Ketajaman berpikir dan kekuatan intelektualitas tokoh bangsa tersebut terlihat dari tulisan-tulisan bernas yang mereka hasilkan. Para penjajah pun menjadi kalang kabut. 

Pena menjadi sarana terbaik untuk melawan keangkuhan penguasa. Artinya, dengan pena kita bisa mengkritik kebijakan pemerintah yang tidak memihak rakyat. Dengan pena juga kita memberikan alternatif solusi atas beragam permasalahan bangsa. 

Saya berpandangan bahwa dengan menulis, seseorang bisa menjadi pejuang kemanusiaan. Bisa juga menjadi pejuang keadilan. Maka dari itu, jika ada penguasa yang menyalahi nilai kemanusiaan dan nilai keadilan, maka kita bisa bergerak tidak hanya dengan demonstrasi. Namun juga melalui tulisan yang kritis, tajam, dan konstruktif tentunya.

Lawanlah segala bentuk penyelewengan anggaran negara dengan cara menulis. Lawanlah segala bentuk penyalahgunaan kekuasaan dengan menulis. Percayalah, bahwa kekuatan pena bisa mengubah pikiran jutaan orang. Yakinlah bahwa kekuatan tulisan bisa menggerakkan jutaan manusia untuk beraksi sekaligus meruntuhkan dominasi penguasa yang dzalim dan semena-mena. 

Terakhir, untuk milenial Indonesia, saya berharap mampu menjadi insan-insan yang cerdas dan kritis melihat keadaan. Tidak hanya menjadi generasi yang 'manut'. Hanya plonga-plongo terhadap realitas bangsanya. Takut menjadi pendobrak. Takut menjadi generasi yang 'melawan'. Tidak berani mengungkapkan ide dan pikirannya melalui tulisan. Sekali lagi, ayo berani melawan melalui pena dan tulisan. Melawan dalam konteks yang positif tentunya.


Penulis: Muhammad Aufal 

Pamekasan,

Senin, 18 Mei 2020

21.09 WIB




Sumber ilustrasi: meramuda.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Featured Post

Pelestarian Batik Madura Butuh Regulasi Terarah

  Sejak beberapa tahun terakhir, saya  bergelut di bidang usaha batik tulis Madura. Selain karena dukungan keluarga, faktor lingkungan juga ...