Pernahkah Anda mengalami suatu kondisi di mana hati merasa gelisah tak menentu? Merasa hidup kok begini-begini saja. Merasa tidak tenang dan khawatir dengan masa depan. Dari hari ke hari, tahun ke tahun, berpikir seolah tidak ada pencapaian yang berarti. Belum lagi, dunia yang semakin cepat berubah menuntut kita lebih adaptif menghadapinya.
Perubahan dalam hidup adalah keniscayaan. Tidak ada manusia yang mampu membendung perubahan. Disadari atau tidak, diri kita juga senantiasa berubah. Kita yang sekarang, berbeda dengan kita di waktu remaja dulu. Semisal dari segi fisik, pola pikir, wawasan, mental, finansial, dan semacamnya. Itu semua dipengaruhi oleh pengalaman, pendidikan, keluarga, lingkungan, dan buku-buku yang kita dibaca.
Manusia cerdas adalah manusia yang mampu membaca perubahan zaman dan mengambil beragam peluang untuk mengembangkan diri seoptimal mungkin. Sebab, hari ini akses pengetahuan dibuka seluas-luasnya. Ada e-book, website, blog, Youtube, dan semacamnya. Itu semua memungkinkan kita untuk melesat jauh memajukan pikiran dan memperhalus perangai. Tapi, apakah kita maksimal menggunakannya? Jangan-jangan sebatas menjadi 'objek' bukan 'subjek' perubahan. Sebatas menjadi 'follower' bukan 'leader'.
Ada manusia yang usianya masih relatif muda, tapi perangai dan tutur katanya begitu dewasa. Ada manusia yang umurnya dikategorikan tua, tapi perilakunya kekanak-kanakan. Ternyata, 'dewasa' itu tidak ada kaitannya dengan umur. Ini soal pilihan hidup. Salah besar, jika ada yang beranggapan bahwa orang yang umurnya tua pasti matang pemikirannya dan pasti bijak perilakunya. Sebab, kemauan untuk berubah menjadi lebih baik itu adalah soal kesadaran, niat, dan kesungguhan.
Hari kemarin telah berlalu, hari esok masih misteri, dan hari ini adalah milik kita. Kita tidak bisa mengubah catatan sejarah di masa silam, juga tidak bisa membaca masa depan. Yang bisa kita lakukan adalah memanfaatkan hari ini sebaik mungkin. Semisal, dari segi ibadah, produktivitas dalam berkarya, hubungan dengan sesama, dan semacamnya. Intinya, bagaimana caranya agar hari demi hari selalu ada perubahan ke arah yang lebih baik lagi. Sebab, kita tidak tahu, berapa lama jatah hidup kita di dunia. Kematian bisa datang ke kapan pun, di mana pun, dan kepada siapa pun.
Lalu, terkait arus perubahan yang kian massif, terkadang membuat hati dan pikiran dipenuhi kekhawatiran yang berlebihan. Salah satunya bisa jadi karena koneksi kita dengan Allah lemah. Solusinya adalah dengan memperbanyak dzikir. Sebab, dengan berdzikir mencegah kita dari kemaksiatan dan kelalaian. Dengan berdzikir hati menjadi lebih tenang.
KH Muhammad Arifin Ilham dalam bukunya berjudul 'Makna Dzikir' menuliskan, bahwa Rasulullah SAW bersabda , segala sesuatu ada sikatnya, ada pembersihnya, ada pengkilatnya. Sikat hati yang kotor, pembersih hati yang bernoda, pengkilat hati yang berdebu adalah dzikrullah. Selain itu, dengan semakin banyak berdzikir maka hati akan menjadi bersih dan pikiran akan jernih. Dan hati yang bersih akan menghasilkan ketenangan, kedamaian, dan kebahagiaan.
Salah satu solusi bagi pikiran yang berkabut dan hati yang gelisah yaitu memperbanyak dzikir. Yakinlah bahwa dengan mendekatkan diri kepada Allah, masalah dalam hidup ini bisa diatasi. Tidak perlu bersedih atau risau memikirkan problem hidup, sebab kita memiliki Allah yang Maha Kuasa.
Yakinlah bahwa Allah yang mengatur hidup kita dengan sebaik-baiknya. Tetaplah berprasangka positif kepada Allah apa pun yang terjadi dalam hidup. Sekali lagi, hadapi setiap perubahan zaman dengan pikiran dan langkah yang positif.
Dari uraian di atas, dalam menghadapi perubahan zaman, agar hati dan pikiran kita tenang, maka perbanyaklah berdzikir. Selain itu, jangan pernah kendor untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat. Sebab dengan ilmu, hati dan pikiran juga bisa menjadi lebih terang. Intinya, teruslah berdzikir dan belajar, mumpung masih sehat dan selagi masih ada kesempatan.
Oleh: Aufal Fresky
Desa Klampar, Pamekasan
Rabu, 27 Oktober 2021
06.11 WIB
Sumber ilustrasi: quizizz.com
.jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar