Senin, 23 September 2024

Kenapa Saya Menulis?

 



Ketika hendak menulis sesuatu; baik itu fiksi maupun non-fiksi, saya kembali bertanya ke dalam hati saya sendiri: "Apa tujuannya? Kenapa mesti menulis?"

Pertanyaan semacam itu perlu sering dilontarkan, agar tujuan menulis jelas dan terarah. Sebab kalau boleh jujur, saya sendiri pernah, bahkan mungkin masih sampai saat ini, berupaya terus menulis agar dicap 'pemuda hebat', 'intelektual', 'pemikir', dan sejenisnya. Popularitas menjadi incaran utama.

Saya mengakui hal itu sejak awal-awal menulis di buletin kampus. Benar-benar gila eksistensi. Hal itu seperti bawaan saya dari zaman SMA, sempat ikut ekskul band agar terkenal di sekolah. Padahal, saya saat itu pemalu. Mungkin sampai saat ini juga masih 'pemalu'. Atau malu-maluin? Entahlah.

Niat menulis untuk mengasah kemampuan diri jauh lebih baik dibandingkan hanya sekadar untuk tampil keren di hadapan orang lain. Bisa-bisa hati menjadi keruh. Sebab, selalu ingin dilihat dan dipuji. Merasa kecewa saat tak ada yang melihat dan memuji. Akhirnya kendor dan hilang semangat untuk berkarya. Apa sebab? Ya karena menggantungkan aktivitas menulis pada penilaian orang lain. Senantiasa berpikir bagaimana cara terlihat pintar di hadapan publik. Sungguh, hal itu melelahkan. Kita mengejar penilaian manusia. Mendambakan pujian. Murung ketika dikritik. Sakit hati ketika tulisan dicela. Itu pertanda, mental belum kuat.

Membangun mental agar tangguh menghadapi cercaan perlu dibiasakan. Sebab, tidak ada ceritanya penulis hebat dilahirkan dari proses instan. Pasti mereka telah melewati banyak rintangan dalam menulis. Mulai dari kehabisan ide, kekurangan data, gaya bahasa yang kaku, dihujat, dan semacamnya. Namun, mereka tetap bersemangat untuk berkarya. Terbukti, dari konsistensinya tersebut, banyak karya-karya luar biasa yang dihasilkan. Keseriusan dan ketekunannya berbuah manis.

Baiklah, kembali lagi terkait tujuan menulis, perlahan saya mulai menemukannya. Di antaranya agar menjadi pribadi yang haus ilmu dan pengetahuan. Dengan menulis, saya akan tergerak untuk belajar. Saya akan terdorong untuk melahap bacaan apa pun yang berkaitan dengan tema yang hendak saya angkat dalam tulisan. Membaca sendiri tidak cukup membaca teks berupa buku, koran, majalah, buletin, website, dan sejenisnya. Membaca mengandung makna luas. Sepeti membaca alam, masyarakat, dan bahkan membaca diri kita sendiri. Dari situlah terbesit ide yang bisa ditulis.

Bagi saya, menulis itu menyenangkan, mencerahkan, dan memberdayakan. Saya percaya, menulis akan menguatkan daya ingat. Tujuan saya menulis adalah untuk menjadi pembelajar seumur hidup dan menebar manfaat kepada banyak orang. Sebab, cepat atau lambat, saya akan menua dan meninggal dunia. Setidaknya, ada hal yang saya wariskan. Ini tidak hanya menyangkut 'passion'. Lebih dari itu, ada misi di dalamnya.


Oleh: Aufal F.

Kampung Batik Klampar, Pamekasan
Rabu, 2 Februari 2022
05.43 WIB

Sumber ilustrasi: depositphotos.com



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Featured Post

Pelestarian Batik Madura Butuh Regulasi Terarah

  Sejak beberapa tahun terakhir, saya  bergelut di bidang usaha batik tulis Madura. Selain karena dukungan keluarga, faktor lingkungan juga ...