Beberapa tahun silam, saat saya menempuh studi S1 di Universitas Airlangga, menulis seolah menjadi aktivitas yang tidak terpisahkan dalam keseharian saya. Entah itu menulis artikel populer atau hanya sekadar untuk mengisi catatan harian. Entah kenapa, menulis semacam menjadi aktivitas yang begitu menyita perhatian saya. Ada kepuasan tersendiri manakala tulisan sudah rampung.
Memang saat itu sedang gencar-gencarnya berupaya menggali passion dalam diri saya. Sekaligus meneguhkan identitas saya sebagai penulis. Ya, saat itu, saya sedang mencari ketenaran dan jati diri lewat menulis. Popularitas dan pengakuan sosial seakan-akan menjadi acuan dalam berkarya.
Tak ayal, ketika karya saya tidak dimuat di media massa, seolah ada kekecewaan. Sebab, tak ada sesuatu yang bisa saya pamerkan ke teman-teman. Padahal, untuk mempublikasikan tulisan di zaman sekarang tidak harus lewat media mainstream. Hal itu menjadi beban pikiran saya bagaimana menembus media massa. Berkali-kali saya menulis artikel dan dikirimkan ke alamat email redaksi media, dan berkali-kali pula penolakan itu saya terima. Apakah saya kecewa? Tentu saja. Apa saya menyerah? Ya saya sempat menyerah, tapi tak berlangsung lama. Sebab, saat itu saya bertekad untuk menembus media massa.
Ternyata upaya demi upaya berbuah manis. Tulisan saya berhasil menembus meja redaksi harian Radar Surabaya. Saat itu, tulisan saya dimuat di rubrik 'Horizon' dengan judul 'Mahasiswa, Politik, dan Peradaban'. Sungguh lega dan senang hati saya saat itu. Saya mendapatkan apresiasi dari orang-orang di sekitar saya. Namun, pujian itu tidak berlangsung lama. Sementara saya merasa ketagihan untuk terus menulis dan menembus media.
Saya sadar betul, saat itu yang saya cari adalah popularitas dan validasi dari orang lain. Padahal pujian dari orang lain bisa membuat terlena dan menjadikan diri seolah-olah paling cerdas dan hebat dibandingkan yang lainnya. Padahal baru satu tulisan yang tembus. Itupun masih di media lokal. Artinya, saya selalu mengingatkan diri saya sendiri agar tidak jumawa dan merasa puas atas pencapaian itu. Sebab, proses dan perjalanan untuk menjadi penulis hebat masih panjang.
Memang, setiap penulis memiliki motif yang beragam dalam berkarya. Ada yang ingin terkenal, mendapatkan honor, dan naik jabatan Motif semacam itu sah-sah saja. Namun, saya rasa motif tersebut sebenarnya bersifat temporal. Tidak selamanya tulisan kita terus-terusan dimuat di media massa. Bagaimana mengatasi hal itu jika tujuannya tidak tercapai? Itu kembali ke kita. Apakah masih menulis atau berhenti?
Selain itu, ada juga yang menulis murni untuk mengedukasi dan mencerahkan masyarakat. Dia tidak peduli diakui atau tidak, mendapatkan honor atau tidak, naik jabatan atau tidak. Baginya yang terpenting adalah menyebarluaskan tulisannya untuk membangun bangsa dan negara. Tidak harus lewat media massa. Bagi orang semacam itu, biasanya tidak dipengaruhi faktor-faktor eksternal dalam menulis. Dia akan selalu berkarya dalam segala kondisi. Meskipun kadang harus menerima hujatan yang bertubi-tubi. Dia akan bangkit dan terus menulis.
Sebab, menulis baginya adalah panggilan jiwa. Dia menulis untuk berbagi. Semoga saya dan Anda semua bisa menjadi penulis yang memiliki karakter semacam itu. Artinya selalu fokus menghasilkan tulisan-tulisan yang bermanfaat bagi orang lain. Akhir kata, saya berharap melalui tulisan ini, ada sesuatu yang bisa diambil. Setidaknya bisa lebih mengerti bahwa menulis untuk memotivasi dan menginspirasi orang lain akan menjadikan kita lebih lega dan bahagia. Sebab, kebahagiaan hati itu tidak berkaitan dengan popularitas dan materi. Membahagiakan orang lain lewat tulisan juga bisa membuat kita bahagia. Teruslah menulis untuk mencerahkan publik!
Universitas Islam Malang (Unisma),
Kamis, 29 Desember 2022
11.06 WIB
Oleh: Muhammad Aufal Fresky
Tidak ada komentar:
Posting Komentar