Beberapa hari yang lalu, Kampung Batik Klampar, tepatnya Sentra Batik Tulis Madura “ANEKA” kedatangan dua rombongan tamu dua hari berturut-turut. Pertama, pada hari Jumat, (12/7/2024), tamunya berasal dari Belanda. Empat turis dari Negeri Kincir Angin tersebut dibawa oleh salah satu agen travel asal Malang. Sekitar sore menjelang maghrib mereka tiba di Aneka Batik. Kunjungan bule-bule tersebut membuat keyakinan saya semakin mantap bahwa batik memiliki pesona atau daya tarik yang luar biasa di mata internasional. Bukan sekadar produk yang bernilai ekonomi. Lebih dari itu, batik merupakan warisan leluhur bangsa yang mengandung nilai estetik, historis, dan filosofis. Maka tak heran, wisatawan domestik dan mancanegara berbondong-bondong untuk membeli dan memborong batik-batik khas daerah tertentu.
Di Aneka Batik, mereka tidak hanya mengamati keindahan batik-batik yang terpajang di etalase butik. Mereka juga penasaran bagaimana proses pembuatannya sehingga bisa menjadi sebuah produk jadi. Kami sendiri, dari Aneka Batik, sudah dihubungi pihak agen bahwa bule-bule tersebut ingin merasakan sensasi membuat batik. Akhirnya disepakati, akan ada praktek membatik kilat khusus bule tersebut. Ya, kira-kira kain seukuran sapu tangan. Sembari dipandu tiga pengrajin profesional, bule-bule tersebut nampak kegirangan dan antusias untuk belajar membatik. Pertama, kain-kain yang sudah dibagikan didesain menggunakan pensil. Mereka dibebaskan untuk menggambar apa saja yang ada di benaknya. Menuangkannya dalam kain. Setelah proses mendesain melalui pensil selesai, langkah selanjutnya yaitu menuangkan malam/lilin ke kain tersebut sesuai dengan desainnya.
Dengan penuh keceriaan, bule-bule tersebut mencoba memegang canting. Satu per satu mulai bisa menuangkannya sampai selesai. Tentu saja sambil diarahkan dan dibantu oleh perajin dari Aneka Batik. Dalam proses belajar tersebut, saya, ayah, dan kedua saudara saya juga turut membantu. Dan yang paling aktif berkomunikasi dengan bule tersebut yaitu Mila, adek saya nomor 4. Kebetulan kemampuannya dalam bercakap menggunakan bahasa Inggris cukup mumpuni. Ringkas cerita, setelah selesai dibatik, mereka mewarnai pola yang masih kosong dengan beragam macam ornament seperti garis-garis arsiran maupun titik-titik sesuai kebutuhan. Kemudian melalui proses nembok atau melakukan blok bagian kain yang tidak ingin terkena warna. Setelah itu kain dicelup menggunakan bahan pewarna yang sudah disiapkan. Selanjutnya, melalui proses pelorodan atau proses menghilangkan atau melepaskan malam pada kain, Dalam proses ini, kain direbus menggunakan air mendidih sampai malam lepas, sehingga dapat memunculkan motif yang telah Digambar. Terakhir, kain-kain tersebut dicuci untuk menghilangkan sisa-sisa malam yang masih menempel. Begitulah kira-kira prosesnya dari awal hingga akhir. Namun, dalam prakteknya, bule-bule tersebut hanya nyobain mendesain, mencanting (membatik), dan mencolet (mewarnai). Untuk proses mewarnai kain, melorod, dan mencuci, dilakukan oleh perajin profesional. Sebab, dalam proses ini cukup membutuhkan keahlian dan pengalaman. Sementara kemaren waktunya juga mepet karena menjelang sholat maghrib. Jadi harus segera dirampungkan.
Sembari menunggu batik hasil karyanya kering, bule-bule tersebut kami ajak ke dalam butik untuk melihat ragam corak dan motif batik tulis Madura. Dari gestur atau gerak-geriknya, bule-bule tersebut seolah kagum dan menyimpan ketakjuban terhadap mahakarya perajin batik tulis asal Klampar. Apalagi, di butik Aneka banyak batik tulis klasik Madura yang motif-motifnya cukup rumit dan detail. Setelah melihat-lihat, sebagian dari mereka membeli batik tulis khas Aneka Batik. Pastinya buat oleh-oleh ketika pulang ke Belanda. Sebab, Kampung Batik Klampar bukan tujuan akhir perjalanan wisata mereka selama di Indonesia. Ada beberapa destinasi wisata yang akan dikunjungi lagi. Sebelum ke Klampar, bule-bule tersebut sudah mengunjungi Wisata Bukit Jeddih di Bangkalan. Saya pribadi cukup senang dan antusias menyambut turis-turis tersebut. Saya rasa ini adalah saat yang tepat untuk kembali menggencarkan promosi batik tulis Madura, khususnya batik khas Klampar, ke dunia internasional. Saya percaya betul, mereka berempat akan menceritakan tentang batik ke kawan-kawannya di Belanda atau belahan dunia lainnya. Tentu hal tersebut secara tidak langsung bisa mengangkat citra Indonesia, atau Madura secara khusus, di mata internasional. Terlebih di bidang kebudayaan yang memang kita dikenal sebagai bangsa yang memiliki kekayaan budaya yang bernilai seni tinggi.
Baiklah, kita cukupkan dulu cerita tentang bule-bule Belanda. Kunjungan selanjutnya yaitu dari Duta Wisata Kacong Cebbing se-Madura, pada hari Sabtu (13 Juli 2024). Ini bukan kali pertama saya menerima kunjungan Duta Wisata, Seingat saya, sudah beberapa kali Kacong Cebbing mengunjungi Sentra Batik Aneka. Beda dengan kunjungan turis Belanda, kunjungan Kacong Cebbing ini saya rasa hanya untuk melakukan pengamatan dan pembelajaran (edukasi) selama di Aneka Batik. Kebetulan yang jadi pematerinya adalah saya sendiri. Di hadapan sekitar 40 puluh anak muda yang berasal dari empat kabupaten di Madura itu, saya mulai menjelaskan secara singkat tentang sejarah batik, sejarah masuknya batik ke Pamekasan dan Madura. Termasuk juga bagaimana peran dan kontribusi anak-anak muda dalam melestarikan budaya lokal, khususnya batik Madura. Ini menjadi sharing yang cukup menarik. Tentu saja ada sesi tanya jawab. Setelah cukup panjang lebar saya bercerita tentang batik Madura, saya mempersilakan audien untuk merespon atau bertanya. Ada satu dua yang bertanya. Alhamdulillah, sesi pemberian materi dan tanya jawab berjalan lancar,
Selain itu, saya perhatikan, beberapa di antara mereka juga melontarkan pertanyaan kepada beberapa pengrajin yang sedang membatik. Singkat cerita, acara kunjungan selesai. Saatnya mendokumentasikan kunjungan, Ya, kami semua foto bersama di dalam butik dan juga di luar butik.
Selaku salah satu satu pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) batik, saya berharap betul, puluhan anak-anak muda ini bisa mengangkat kembali citra Kampung Batik Klampar. Mempromosikan seluas-luas menggunakan beragam platform digital terkait keelokan dan keunikan batik khas Klampar. Mempromosikan juga tentang Kampung Batik Klampar. Setidaknya hal tersebut sebagai wujud kongkret dari pemuda Madura untuk berpartipasi dalam melestarikan budaya lokal. Dan memperkenalkan ke pihak luar terkait ragam motif batik tulis Madura yang penuh dengan nilai sejarah dan filosofi, Setidaknya bisa diposting di akun media sosial (medsos)-nya masing-masing. Atau bisa juga dengan menceritakan kunjungannya ke lingkungan terdekatnya. Sekali lagi, Duta Wisata Kacong Cebbing se-Madura ini adalah aset Madura yang juga memikul tanggung jawab untuk melestarikan budaya dan kesenian lokal. Khususnya batik Madura. Dengan lebih mengenal dan memahami budaya Madura, kita akan lebih bangga dan rasa memilikinya semakin tinggi. Sehingga akan tergerak untuk lebih proaktif mempromosikan ragam budaya Madura, khususnya batik Madura. Potensi Kampung Batik Klampar tidak boleh dibiarkan begitu saja. Tak begitu diurus, tidak begitu diperhatikan. Dan anak-anak muda ini, sudah saatnya bergandengan tangan, bersatu, dan mengambil peran untuk membuat Kampung Batik Klampar semakin dikenal luas. Bahkan memberikan ide-ide baru terkait bagaimana cara atau strategi untuk membuat Kampung Batik Klampar semakin bergeliat dan maju seperti halnya kampung-kampung batik lainnya yang selalu ramai wisatawan. Menunggu pemerintah mengambil sikap dan membuat gebrakan bukan menjadi solusi. Kita sebagai anak muda harus berani untuk menawarkan solusi dan mengambil langkah untuk masa depan Kampung Batik Klampar yang lebih cerah. Gebrakan anak muda dinanti oleh segenap masyarakat. Sebab, di tangan anak muda, masa depan bangsa ini dipertaruhkan.
Universitas Brawijaya, Kota Malang
Selasa, 16 Juli 2024
11.40 WIB
Oleh: Muhammad Aufal Fresky

Tidak ada komentar:
Posting Komentar