Oleh : Muhammad Aufal Fresky
Organisasi
kemahasiswaan selalu menjadi bahan yang menarik untuk dicatat. Baik itu
organisasi kemahasiswaan internal kampus seperti BEM (Badan Eksekutif
Mahasiswa), BLM (Badan Legeslatif Mahasiswa), HIMA (Himpunan Mahasiswa)
jurusan, LPM (Lembaga Pers Mahasiswa) dan sebagainya, ataupun organisasi yang
eksternal kampus seperti HmI (Himpunan mahasiswa Islam), GMNI (Gerakan
Mahasiswa Nasional Indonesia), PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) dan
lain sebagainya. Semua memberikan warna dan dinamika tersendiri dalam dunia
kemahasiswaan. Fokus penulisan saya kali ini yaitu terkait organisasi mahasiswa
eksternal kampus bernama HmI, khususnya HmI Komisariat Ekonomi (Komek)
Airlangga tepat saya berproses.
Sejak
semester tiga, saya mulai masuk resmi menjadi anggota HmI melalui proses yang
bernama LK 1 (Latihan Kaderisasi 1). Waktu terus berjalan, dan saya
berkesempatan untuk mencicipi dinamika yang ada di dalamya. Banyak hal yang
telah diberikan HmI, utamanya Komisariat Ekonomi Airlangga. Seiring berjalannya
waktu, saya tidak lagi menjadi pengamat dan pemerhati organisasi tersebut,
namun terjun langsung untuk berproses. Saya juga berkesempatan untuk menjadi
pengurus. Dari pengalaman yang telah lalu, HmI telah menjadi warna tersendiri
dalam kehidupan saya. Organisasi ini membuka cakrawala berfikir serta
memperluas pandangan saya. Organisasi ini juga mengajarkan kepada saya untuk
bertanggung jawab serta mengelola waktu dengan baik. Selain itu, HmI
benar-benar merombak cara fikir yang selama ini saya anggap masih
kekanak-kanakan. Secara perlahan, kedewasaan berfikit, berkata dan bersikap
mulai saya dapatkan di organisasi ini. HmI telah menjadi pemicu yang
menumbuhkan spirit membaca, menulis dan berdiskusi dalam diri saya. Organisasi
tersebut memberikan kesempatan kepada saya untuk berlatih menjadi pribadi yang
matang. Oleh karenanya setiap dinamika yang ada di dalamnya, saya anggap
sebagai sebuah proses. Saya rasa HmI telah berhasil membentuk jiwa dan
kepribadian seseorang, termasuk saya. Walaupun tidak sepenuhnya berasal dari
HmI, namun anggapan saya, HmI mengambil bagian dalam hal tersebut. Sungguh,
saya belajar banyak dari organisasi tersebut. Itu adalah sedikit potret
pengalaman selama ada di HmI.
Lantas
bagaimana dengan HmI Komisariat Ekonomi Airlangga sekarang. Apakah semua
anggota maupun pengurus yang ada telah merasakan hal yang sama seperti apa yang
saya dapatkan. Saya rasa tidak semua berfikiran begitu. Karena dalam
realitasnya, setiap kepengurusan memiliki dinamikanya sendiri. Oleh karenanya
untuk memunculkan benih-benih semangat dan gairah baru, saya beri judul tulisan
ini Hmi Komek Airlangga , Revolusimu Belum Selesai. Mungkin
kawan-kawan bertanya, mengapa saya mencantumkan kata “Revolusi” bukan
“Reformasi” ataupun kata lainnya. Ini hanya penamaan judul, dan memang faktanya
keadaan di organisasi tersebut perlu untuk direvolusi. Revolusi di sini tidak
mengandung maksud mengganti Susunan dan skema presidium yang ada. Kata-kata
revolusi yang saya maksudkan lebih pada sikap, watak, kebiasaan serta karakter
setiap kader. Sebenaranya tulisan ini tidak bermaksud menggurui dengan
kata-kata manis nan halus. Namun lebih pada bagaiamana catatan ini menjadi
media untuk menyadarkan dan membangunkan setiap kader agar benar-benar menjadi
aktivis muslim yang progresif revolusioner.
Sedari
kepemimpinan Aim hingga Mukaffi, saya mengamati kinerja dan sepak terjang
organisasi ini. Hasilnya, belum ada perubahan yang cukup signifikan dalam
memberikan warna dan arah baru. Artinya budaya yang ditinggalkan oleh
senior-senior mulai ditinggalkan bahkan terkikits. Dengan dalih ada UAS, kajian
dan diskusi seakan menjadi barang antik yang harus ditaruk di museum untuk
sementara. Seakan-akan keunggulan akademis adalah segalanya. Oleh sebab itulah
saya mulai menulis catatan ini, karena mungkin kita belum sadar bahwa yang
namanya ilmu dan pengetahuan itu bisa didapatkan dimana saja, kapan saja, dan
dari siapa saja. Bukankah diskusi dan kajian adalah sebuah proses untuk
membentuk perangai dan mengasah soft
skill para kader. Seorang aktivis adalah orang yang mampu mengatur dan
mengelola waktu dengan baik. Termasuk waktu untuk belajar dan berorganisasi.
Buat apa masuk HmI, jika hanya duduk diam dan tidak mendapatkan apapun. Buat
apa berkader jika enggan untuk berproses. Kita harus berbenah dan bergerak,
karena waktu tidak akan pernah berhenti berputar. Sekali lagi. HmI Komek
Airlangga, inilah tiba saatnya untuk membuang mindset keliru yang selama ini
kita anut.
Mengamati
kepengurusan sekarang, geli rasanya untuk diungkap. Karena bagaimanapun juga
mereka terbentuk atas pola pengkaderan yang ada. Termasuk semua yang telah
ditinggalkan oleh senior di atas mereka. Di balik itu semua, ada tanggung jawab dan beban moral yang menjadi
tanggungan kepengurusan sebelumnya. Para senior tidak boleh begitu saja melepas
dan mengabaikan kepengurusan sekarang. Para senior, termasuk saya, harus
membimbing adik-adik yang ada di HmI. Untuk yang adik-adik angkatan, mereka
juga harus menikmati proses sebaik mungkin, jangan selalu berkaca dan meniru
kepada angkatan atas. Lebih-lebih saling menyalahkan setiap angkatan
kepengurusan, sungguh hal itu sangat tidak saya harapkan. Inilah momentum yang
tepat untuk merombak mentalitas kita dari seorang aktivis yang apatis menjadi
aktivis yang progresif.
Mukaffi
selaku leader, sepertinya perlu untuk menampakkan
ketegasannya kepada semua presidium serta para anggota Komisariat. Semua
pengurus dan anggota juga perlu untuk memberikan dukungan kepada Mukaffi untuk
mengarungi bahtera kepengurusan tahun ini. Jadi semua yang terjadi menjadi
tanggungan bersama, biarlah kita melebur dalam duka lara bersama. Karena ini
adalah proses yang pastinya akan kita kenang. Perbaiki pola komunikasi antar
presidium, karena itu akan menentukan jalannya pengkaderan dan aktivitas yang
ada di komisariat. Selain itu perlu koordinasi antar kepada bidang dengan para
anggotanya. Harus ada hubungan yang erat antar pengurus dan anggota. Karena
sejatinya hubungan tersebut akan membentuk ikatan persaudaraan yang erat.
Dengan begitu diharapakan secara perlahan, semua akan mengerti terkait keadaan
dan kondisi yang ada di Komisariat. Semua akan merasa memilki komisariat.
Sungguh kondisi yang ideal, jika jiwa para kader sudah mulai terikat dengan
HmI, saya rasa kepekaaan untuk berproses tidak perlu selalu diingatkan, para
kader akan memilki inisiatif sendiri untuk berbenah dan berproses.
Sekali
lagi, dibutukan kerjasama dan solidaritas yang kuat antar presidium sekarang.
Selaku pengurus, mereka mempunyai tanggung jawab yang besar untuk menentukan
arah dan pola pengkaderan. Hal tersebut bisa dilihat dengan berbagai program
dan agenda yang selama ini telah berjalan. Melakukan koreksi dan evaluasi
menjadi sebuah keharusan bagi setiap kader. Sayang sekali jika wadah yang telah
tersedia diabaikan begitu saja. Padahal di luar sana masyarakat menantikan
kehadiran sosok Pemimpin Muda.
Selain
itu catatan lainnya adalah, kebanyakan kader yang ada dan hadir selama ini
hanya itu-itu saja. Saya tidak tahu, yang lainnya sibuk apa dan pergi kemana.
Tidak sempatkah bagi mereka untuk menyempatkan
diri kurang lebih dua jam hadir dan
berproses di komisariat. Sesibuk-sibuknya orang, pastinya ada waktu jika hanya
kurang lebih dua jam untuk berproses. Hal yang menjadi titik permasalahan bukan
pada ada tidaknya waktu, namun lebih pada ada tidaknya niat dan keinginan untuk
berkader, belajar dan berproses.
Mari
kita bangun jiwa kepemimpinan melalui segala proses yang telah komisariat
sediakan. Sikap dan pandangan kita terkait segala sesuatu bisa diperbaiki dan
diperluas melalui jalannya kajian dan diskusi. Ubahlah segala kebiasaan untuk
tidak peduli terhadap organisasi kita. Karena saya rasa orang yang tidak
mempunyai sedikit kepedulian kepada organiasinya, maka bisa saya sebut “Aktivis
Tak Tau Diri”, bahkan kata “Aktivis” tidak cocok bagi mereka, lebih tepatnya
mereka menyandang kata “Pecundang”.
Sepertinya
revolusi mental Jokowi cocok sekali jika diterapkan di Komisariat. Karena
selamana ini banyak berkeliaran makhluk-makhluk yang pragmatis dan datang jika
hanya ada maunya. Sugguh picik aktivis yang mempunyai watak seperti itu.
Mengubah kebiasaan dan watak seseorang bukan hal yang mudah seperti segampang
membalikkan telapak tangan. Semua juga butuh proses. Mungkin saran yang bisa
saya berikan kepada para Presidium dan anggotanya, agar melakukan komunikasi
yang intensif. Lakukanlah pendekatan dari hati ke hati, karena tutur kata yang
berasal dari hati akan mudah diterima oleh pendengarnya. Untuk sementara,
seluruh presidium perlu untuk intropeksi serta menghilangkan egoisme pribadi.
Jangan sampai mengutamakan kepentingan diri sendiri, sementara kader yang
lainnya menjadi korban dari sifat egois tersebut. Untuk mengakhiri tulisan saya
katakan, “Berjalanlah terus kawan-kawan,
revolusi kita belumlah usai, setiap perjuangan memerlukan pengorbanan. Sabar
dan tabahlah dalam menghadapi setiap badai yang menghadang. InsyaAllah semua
yang kita lakukan, akan kembali kepada kita. Yakinlah tidak ada hasil yang
menghianati proses.”
Surabaya,
24 Juni 2015
Penulis
: Muhammad Aufal Fresky (Kader HmI Komis Ekonomi Airlangga)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar