Jumat, 26 Juni 2015

HmI Komek Airlangga, Revolusimu Belum Selesai


Oleh : Muhammad Aufal Fresky

Organisasi kemahasiswaan selalu menjadi bahan yang menarik untuk dicatat. Baik itu organisasi kemahasiswaan internal kampus seperti BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa), BLM (Badan Legeslatif Mahasiswa), HIMA (Himpunan Mahasiswa) jurusan, LPM (Lembaga Pers Mahasiswa) dan sebagainya, ataupun organisasi yang eksternal kampus seperti HmI (Himpunan mahasiswa Islam), GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia), PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) dan lain sebagainya. Semua memberikan warna dan dinamika tersendiri dalam dunia kemahasiswaan. Fokus penulisan saya kali ini yaitu terkait organisasi mahasiswa eksternal kampus bernama HmI, khususnya HmI Komisariat Ekonomi (Komek) Airlangga tepat saya berproses.
Sejak semester tiga, saya mulai masuk resmi menjadi anggota HmI melalui proses yang bernama LK 1 (Latihan Kaderisasi 1). Waktu terus berjalan, dan saya berkesempatan untuk mencicipi dinamika yang ada di dalamya. Banyak hal yang telah diberikan HmI, utamanya Komisariat Ekonomi Airlangga. Seiring berjalannya waktu, saya tidak lagi menjadi pengamat dan pemerhati organisasi tersebut, namun terjun langsung untuk berproses. Saya juga berkesempatan untuk menjadi pengurus. Dari pengalaman yang telah lalu, HmI telah menjadi warna tersendiri dalam kehidupan saya. Organisasi ini membuka cakrawala berfikir serta memperluas pandangan saya. Organisasi ini juga mengajarkan kepada saya untuk bertanggung jawab serta mengelola waktu dengan baik. Selain itu, HmI benar-benar merombak cara fikir yang selama ini saya anggap masih kekanak-kanakan. Secara perlahan, kedewasaan berfikit, berkata dan bersikap mulai saya dapatkan di organisasi ini. HmI telah menjadi pemicu yang menumbuhkan spirit membaca, menulis dan berdiskusi dalam diri saya. Organisasi tersebut memberikan kesempatan kepada saya untuk berlatih menjadi pribadi yang matang. Oleh karenanya setiap dinamika yang ada di dalamnya, saya anggap sebagai sebuah proses. Saya rasa HmI telah berhasil membentuk jiwa dan kepribadian seseorang, termasuk saya. Walaupun tidak sepenuhnya berasal dari HmI, namun anggapan saya, HmI mengambil bagian dalam hal tersebut. Sungguh, saya belajar banyak dari organisasi tersebut. Itu adalah sedikit potret pengalaman selama ada di HmI.
Lantas bagaimana dengan HmI Komisariat Ekonomi Airlangga sekarang. Apakah semua anggota maupun pengurus yang ada telah merasakan hal yang sama seperti apa yang saya dapatkan. Saya rasa tidak semua berfikiran begitu. Karena dalam realitasnya, setiap kepengurusan memiliki dinamikanya sendiri. Oleh karenanya untuk memunculkan benih-benih semangat dan gairah baru, saya beri judul tulisan ini Hmi Komek Airlangga , Revolusimu Belum Selesai. Mungkin kawan-kawan bertanya, mengapa saya mencantumkan kata “Revolusi” bukan “Reformasi” ataupun kata lainnya. Ini hanya penamaan judul, dan memang faktanya keadaan di organisasi tersebut perlu untuk direvolusi. Revolusi di sini tidak mengandung maksud mengganti Susunan dan skema presidium yang ada. Kata-kata revolusi yang saya maksudkan lebih pada sikap, watak, kebiasaan serta karakter setiap kader. Sebenaranya tulisan ini tidak bermaksud menggurui dengan kata-kata manis nan halus. Namun lebih pada bagaiamana catatan ini menjadi media untuk menyadarkan dan membangunkan setiap kader agar benar-benar menjadi aktivis muslim yang progresif revolusioner.
Sedari kepemimpinan Aim hingga Mukaffi, saya mengamati kinerja dan sepak terjang organisasi ini. Hasilnya, belum ada perubahan yang cukup signifikan dalam memberikan warna dan arah baru. Artinya budaya yang ditinggalkan oleh senior-senior mulai ditinggalkan bahkan terkikits. Dengan dalih ada UAS, kajian dan diskusi seakan menjadi barang antik yang harus ditaruk di museum untuk sementara. Seakan-akan keunggulan akademis adalah segalanya. Oleh sebab itulah saya mulai menulis catatan ini, karena mungkin kita belum sadar bahwa yang namanya ilmu dan pengetahuan itu bisa didapatkan dimana saja, kapan saja, dan dari siapa saja. Bukankah diskusi dan kajian adalah sebuah proses untuk membentuk perangai dan mengasah soft skill para kader. Seorang aktivis adalah orang yang mampu mengatur dan mengelola waktu dengan baik. Termasuk waktu untuk belajar dan berorganisasi. Buat apa masuk HmI, jika hanya duduk diam dan tidak mendapatkan apapun. Buat apa berkader jika enggan untuk berproses. Kita harus berbenah dan bergerak, karena waktu tidak akan pernah berhenti berputar. Sekali lagi. HmI Komek Airlangga, inilah tiba saatnya untuk membuang mindset keliru yang selama ini kita anut.
Mengamati kepengurusan sekarang, geli rasanya untuk diungkap. Karena bagaimanapun juga mereka terbentuk atas pola pengkaderan yang ada. Termasuk semua yang telah ditinggalkan oleh senior di atas mereka. Di balik itu semua, ada  tanggung jawab dan beban moral yang menjadi tanggungan kepengurusan sebelumnya. Para senior tidak boleh begitu saja melepas dan mengabaikan kepengurusan sekarang. Para senior, termasuk saya, harus membimbing adik-adik yang ada di HmI. Untuk yang adik-adik angkatan, mereka juga harus menikmati proses sebaik mungkin, jangan selalu berkaca dan meniru kepada angkatan atas. Lebih-lebih saling menyalahkan setiap angkatan kepengurusan, sungguh hal itu sangat tidak saya harapkan. Inilah momentum yang tepat untuk merombak mentalitas kita dari seorang aktivis yang apatis menjadi aktivis yang progresif.
Mukaffi selaku leader,  sepertinya perlu untuk menampakkan ketegasannya kepada semua presidium serta para anggota Komisariat. Semua pengurus dan anggota juga perlu untuk memberikan dukungan kepada Mukaffi untuk mengarungi bahtera kepengurusan tahun ini. Jadi semua yang terjadi menjadi tanggungan bersama, biarlah kita melebur dalam duka lara bersama. Karena ini adalah proses yang pastinya akan kita kenang. Perbaiki pola komunikasi antar presidium, karena itu akan menentukan jalannya pengkaderan dan aktivitas yang ada di komisariat. Selain itu perlu koordinasi antar kepada bidang dengan para anggotanya. Harus ada hubungan yang erat antar pengurus dan anggota. Karena sejatinya hubungan tersebut akan membentuk ikatan persaudaraan yang erat. Dengan begitu diharapakan secara perlahan, semua akan mengerti terkait keadaan dan kondisi yang ada di Komisariat. Semua akan merasa memilki komisariat. Sungguh kondisi yang ideal, jika jiwa para kader sudah mulai terikat dengan HmI, saya rasa kepekaaan untuk berproses tidak perlu selalu diingatkan, para kader akan memilki inisiatif sendiri untuk berbenah dan berproses.
Sekali lagi, dibutukan kerjasama dan solidaritas yang kuat antar presidium sekarang. Selaku pengurus, mereka mempunyai tanggung jawab yang besar untuk menentukan arah dan pola pengkaderan. Hal tersebut bisa dilihat dengan berbagai program dan agenda yang selama ini telah berjalan. Melakukan koreksi dan evaluasi menjadi sebuah keharusan bagi setiap kader. Sayang sekali jika wadah yang telah tersedia diabaikan begitu saja. Padahal di luar sana masyarakat menantikan kehadiran sosok Pemimpin Muda.
Selain itu catatan lainnya adalah, kebanyakan kader yang ada dan hadir selama ini hanya itu-itu saja. Saya tidak tahu, yang lainnya sibuk apa dan pergi kemana. Tidak sempatkah bagi mereka  untuk menyempatkan diri kurang lebih dua jam  hadir dan berproses di komisariat. Sesibuk-sibuknya orang, pastinya ada waktu jika hanya kurang lebih dua jam untuk berproses. Hal yang menjadi titik permasalahan bukan pada ada tidaknya waktu, namun lebih pada ada tidaknya niat dan keinginan untuk berkader, belajar dan berproses.
Mari kita bangun jiwa kepemimpinan melalui segala proses yang telah komisariat sediakan. Sikap dan pandangan kita terkait segala sesuatu bisa diperbaiki dan diperluas melalui jalannya kajian dan diskusi. Ubahlah segala kebiasaan untuk tidak peduli terhadap organisasi kita. Karena saya rasa orang yang tidak mempunyai sedikit kepedulian kepada organiasinya, maka bisa saya sebut “Aktivis Tak Tau Diri”, bahkan kata “Aktivis” tidak cocok bagi mereka, lebih tepatnya mereka menyandang kata “Pecundang”.
Sepertinya revolusi mental Jokowi cocok sekali jika diterapkan di Komisariat. Karena selamana ini banyak berkeliaran makhluk-makhluk yang pragmatis dan datang jika hanya ada maunya. Sugguh picik aktivis yang mempunyai watak seperti itu. Mengubah kebiasaan dan watak seseorang bukan hal yang mudah seperti segampang membalikkan telapak tangan. Semua juga butuh proses. Mungkin saran yang bisa saya berikan kepada para Presidium dan anggotanya, agar melakukan komunikasi yang intensif. Lakukanlah pendekatan dari hati ke hati, karena tutur kata yang berasal dari hati akan mudah diterima oleh pendengarnya. Untuk sementara, seluruh presidium perlu untuk intropeksi serta menghilangkan egoisme pribadi. Jangan sampai mengutamakan kepentingan diri sendiri, sementara kader yang lainnya menjadi korban dari sifat egois tersebut. Untuk mengakhiri tulisan saya katakan, “Berjalanlah terus kawan-kawan, revolusi kita belumlah usai, setiap perjuangan memerlukan pengorbanan. Sabar dan tabahlah dalam menghadapi setiap badai yang menghadang. InsyaAllah semua yang kita lakukan, akan kembali kepada kita. Yakinlah tidak ada hasil yang menghianati proses.”

Surabaya, 24 Juni 2015

Penulis : Muhammad Aufal Fresky (Kader HmI Komis Ekonomi Airlangga)






Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Featured Post

Pelestarian Batik Madura Butuh Regulasi Terarah

  Sejak beberapa tahun terakhir, saya  bergelut di bidang usaha batik tulis Madura. Selain karena dukungan keluarga, faktor lingkungan juga ...