Oleh : Muhammad Aufal Fresky
Dengan
ucapan Alhamdulilah, saya awali catatan ini. Bersyukur atas kesempatan yang
telah Allah anugerahkan kepada saya untuk kembali berjumpa dengan bulan
Ramadhan, bulan yang penuh berkah dan ampunan. Nikmat waktu dan kesehatan yang
telah Allah berikan menyebabkan saya dan teman-teman muslim lainnya bisa
menjalankan ibadah puasa di tahun 2015 ini. Semoga kita sebagai umat Islam
benar-benar menjalkan ibadah puasa dengan niat ikhlas mengharap Ridha Allah.
Bulan
Ramadhan adalah waktu yang tepat bukan hanya untuk menahan nafsu makan dan
minum, lebih dari itu adalah sebuah momentum untuk memperbaiki kuallitas
keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah. Selain itu, di bulan ini pula kita
bisa berlomba-lomba untuk mengerjakan amal sholeh dan perbuatan kebajikan lainnya,
hal tersebut sebagai sebuah bekal nanti ketika kita meninggal dunia. Alasan
lainnya adalah karena di bulan ini pula, amal yang kta ketjakan mendapat ganjaran
yang berlipat dari Gusti Allah.
Di
hari pertama awal puasa ini, gegap gempita Ramadhan mulai dirasakan di berbagai
penjuru di tanah air. Mulai dari mereka yang tinggal di perkotaan besar, hingga
mereka yang mendiami pelosok-pelosok pedesaan juga merasakan kehadiran bulan
suci Ramadhan. Semoga sambutan kita terhadap bulan Ramadhan sebanding dengan
konsistensi kita dalam beribadah dan beramal selama bulan Ramadhan, dan
bulan-bulan setelah Ramadhan.
Tadi
malam, saya kebetulan saya mmengawali ibadah tarawih di salah satu masjid
daerah Rungkut. Setelah sholat tarawih berjamaah, sang imam sempat memberikan
kultum atau semacam kajian. Saya mendengarkan dengan seksama, karena saya ingin
menuliskan ilmu dan pengetahuan yang di sampaikan sang penceramah tersebut
menjadi sebuah catataan dakwah. Hal yang pertama disampaikan oleh beliau
(penceramah) adalah terkait rukun puasa. Beliau mempertegas bahwa rukun puasa
ada dua, yaitu antara lain niat dan tidak melakukan hal-hal yang menyebabkan
batalnya puasa. Niat di sini letaknya dalam hati, bisa juga diperlengkap dengan
ucapan dalam lisan. Niat wajib dilaksanakan sebelum kita menjalankan ibadah,
karena itu merupakan salah satu rukun puasa.
Selanjutnya
rukun puasa yang kedua adalah tidak melakukan hal/ perbuatan yang bisa
menyebaban batalnya puasa. Beliau menjelaskan bahwa ada sembilan hal yang
menyebaban batalnya puasa. Yaitu antara lain; a) Makan dengan sengaja, b) minum
dengan sengaja c) muntah dengan sengaja, d) haid, e) nifas, f) mengeluarkan
sperma dengan sengaja, semisal melihat foto/ video porno yang menyebabkan
keluarnya sperma, g) niat hendak membatalkan puasa, maka pada saat itu pula
puasanya batal, h) Melakukan hubungan intim suami istri di waktu siang hari, i)
murtad.
Untuk
penjelasan lebih lengkapnya, teman-teman bisa bertanya kepada mereka yang berilmu (Ulama), atau bisa membaca dari
lieratur tentang puasa. Karena keterbatasan ilmu yang saya miliki, saya tidak
bisa menjelaskan semua lebih mendetail. Jadi mohon maaf sebelumnya, itu hanya
poin-poin penting yang disampaikan oleh penceramah tersebut.
Selain
itu ada lagi beberapa pesan lagi yang disampaikan oleh beliau. Yaitu terkait
lima hal yang menyebabkan seorang yang berpuasa tidak mendapatkan pahala/
ganjaran dari ibadah puasanya. Artiya orang tersebut hanya sebatas menahan
lapar dan dahaga, namun secara esensial tidak dikatakan sedang berpuasa. Lima
hal tersebut yaitu; a) dusta berkata bohong, b) gibah, c) adu domba, d) melihat
lawan jenis sehingga menimbulkan syahwat, d) melakukan sumpah palsu. Jadi beliau
menghimbau kepada para jamaah agat menghindar untuk melakukan salah satu di
antara lima hal tesebut. Karena jika kita melakukannya, maka akan menyebabkan
hangus pahala puasa kita, hanya haus dan lapar yang diperoleh. Untuk sekedar
menambahkan, bahwa intinya berpuasa tidak hanya menahan nafsu biologis untuk
makan dan minum, lebih dari itu adalah menjaga perkataan dan tindakan. Sehingga
bisa dikatakan adalah bulan Ramadahan adalah bulan yang tepat untuk kembali
menata akhlak dan kepribadian seseorang agar sesuai dengan tuntunan Islam.
Itulah
hal-hal yang disampaikan oleh penceramah tersebut. Selanjutnya saya akan
menambahkan dengan beberapa uraian terkait bulan Ramadhan ini. Bagaimana
seharusnya Umat Islam menjadikan bulan ini sebagai bulan untuk membangun kedekatan
dengan Sang Pencipta. Mungkin selama ini kita terlalu sibuk dengan berbagai
rutinitas aktivitas keseharian, sehingga melakukan ibadah hanya sekedarnya.
Bahkan menjadikan ibadah sholaat lima waktu hanya pelengkap dan pengisi waktu
senggang, padahal tujuan penciptaan manusia sendiri adalah untuk beribadah
kepada Allah. Maka dari itulah bulan Ramadhan ini adalah saat yang tepat untuk
mengevaluasi diri, apakah selama ini kita hanya mementingkan urusan dunia saja,
hingga abai terhadap urusan yang jauh lebih abadi lagi yaiu akhirat.
Dalam
rubrik “Tajuk Rencana” koran Kompas edisi (Kamis, 18 Juni 2015) dijelaskan pula
terkait bulan puasa. Yaitu bahwa di bulan ampunan kita mendapat kesempatan luas
untuk berdzikir, mengingat Allah, serta merenungkan makna dan tujuan hidup.
Selanjutnya mereka yang berpuasa dengan khusyu` dan tidak banyak meladani hiruk pikuk dunia akan
berkembang mata batinnya. Jadi dapat saya katakan berpuasa adalah salah satu
cara untuk membersihan hati dan menjernihkan jiwa.
Seterusnya
marilah kita bersama-sama menjalankan ibadah puasa dengan penuh khidmat. Ayo tingkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan
kita di bulan yang mulia ini. Ambil kesempatan dan momentum ini, karena
kesempatan yang berlalu tidak akan pernah bisa terulang lagi. Akhitnya di awal
bulan puasa ini, sesuai dengan judul di atas sekaigus untuk mengakhiri tulisan
ini, saya ucapkan, “Marhaban Ya Ramadhan”, semoga kita semua menjadi pribadi
yang lebih baik lagi daripada sebelumnya.
Surabaya, 18 juni 2015
Penulis
: Muhammad Aufal Fresky (Mahasiswa Unair)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar