Jumat, 19 Juni 2015

Marhaban Ya Ramadhan


Oleh : Muhammad Aufal Fresky

Dengan ucapan Alhamdulilah, saya awali catatan ini. Bersyukur atas kesempatan yang telah Allah anugerahkan kepada saya untuk kembali berjumpa dengan bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah dan ampunan. Nikmat waktu dan kesehatan yang telah Allah berikan menyebabkan saya dan teman-teman muslim lainnya bisa menjalankan ibadah puasa di tahun 2015 ini. Semoga kita sebagai umat Islam benar-benar menjalkan ibadah puasa dengan niat ikhlas mengharap Ridha Allah.
Bulan Ramadhan adalah waktu yang tepat bukan hanya untuk menahan nafsu makan dan minum, lebih dari itu adalah sebuah momentum untuk memperbaiki kuallitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah. Selain itu, di bulan ini pula kita bisa berlomba-lomba untuk mengerjakan amal sholeh dan perbuatan kebajikan lainnya, hal tersebut sebagai sebuah bekal nanti ketika kita meninggal dunia. Alasan lainnya adalah karena di bulan ini pula, amal yang kta ketjakan mendapat ganjaran yang berlipat dari Gusti Allah.
Di hari pertama awal puasa ini, gegap gempita Ramadhan mulai dirasakan di berbagai penjuru di tanah air. Mulai dari mereka yang tinggal di perkotaan besar, hingga mereka yang mendiami pelosok-pelosok pedesaan juga merasakan kehadiran bulan suci Ramadhan. Semoga sambutan kita terhadap bulan Ramadhan sebanding dengan konsistensi kita dalam beribadah dan beramal selama bulan Ramadhan, dan bulan-bulan setelah Ramadhan.
Tadi malam, saya kebetulan saya mmengawali ibadah tarawih di salah satu masjid daerah Rungkut. Setelah sholat tarawih berjamaah, sang imam sempat memberikan kultum atau semacam kajian. Saya mendengarkan dengan seksama, karena saya ingin menuliskan ilmu dan pengetahuan yang di sampaikan sang penceramah tersebut menjadi sebuah catataan dakwah. Hal yang pertama disampaikan oleh beliau (penceramah) adalah terkait rukun puasa. Beliau mempertegas bahwa rukun puasa ada dua, yaitu antara lain niat dan tidak melakukan hal-hal yang menyebabkan batalnya puasa. Niat di sini letaknya dalam hati, bisa juga diperlengkap dengan ucapan dalam lisan. Niat wajib dilaksanakan sebelum kita menjalankan ibadah, karena itu merupakan salah satu rukun puasa.
Selanjutnya rukun puasa yang kedua adalah tidak melakukan hal/ perbuatan yang bisa menyebaban batalnya puasa. Beliau menjelaskan bahwa ada sembilan hal yang menyebaban batalnya puasa. Yaitu antara lain; a) Makan dengan sengaja, b) minum dengan sengaja c) muntah dengan sengaja, d) haid, e) nifas, f) mengeluarkan sperma dengan sengaja, semisal melihat foto/ video porno yang menyebabkan keluarnya sperma, g) niat hendak membatalkan puasa, maka pada saat itu pula puasanya batal, h) Melakukan hubungan intim suami istri di waktu siang hari, i) murtad.
Untuk penjelasan lebih lengkapnya, teman-teman bisa bertanya kepada mereka yang  berilmu (Ulama), atau bisa membaca dari lieratur tentang puasa. Karena keterbatasan ilmu yang saya miliki, saya tidak bisa menjelaskan semua lebih mendetail. Jadi mohon maaf sebelumnya, itu hanya poin-poin penting yang disampaikan oleh penceramah tersebut.
Selain itu ada lagi beberapa pesan lagi yang disampaikan oleh beliau. Yaitu terkait lima hal yang menyebabkan seorang yang berpuasa tidak mendapatkan pahala/ ganjaran dari ibadah puasanya. Artiya orang tersebut hanya sebatas menahan lapar dan dahaga, namun secara esensial tidak dikatakan sedang berpuasa. Lima hal tersebut yaitu; a) dusta berkata bohong, b) gibah, c) adu domba, d) melihat lawan jenis sehingga menimbulkan syahwat, d) melakukan sumpah palsu. Jadi beliau menghimbau kepada para jamaah agat menghindar untuk melakukan salah satu di antara lima hal tesebut. Karena jika kita melakukannya, maka akan menyebabkan hangus pahala puasa kita, hanya haus dan lapar yang diperoleh. Untuk sekedar menambahkan, bahwa intinya berpuasa tidak hanya menahan nafsu biologis untuk makan dan minum, lebih dari itu adalah menjaga perkataan dan tindakan. Sehingga bisa dikatakan adalah bulan Ramadahan adalah bulan yang tepat untuk kembali menata akhlak dan kepribadian seseorang agar sesuai dengan tuntunan Islam.
Itulah hal-hal yang disampaikan oleh penceramah tersebut. Selanjutnya saya akan menambahkan dengan beberapa uraian terkait bulan Ramadhan ini. Bagaimana seharusnya Umat Islam menjadikan bulan ini sebagai bulan untuk membangun kedekatan dengan Sang Pencipta. Mungkin selama ini kita terlalu sibuk dengan berbagai rutinitas aktivitas keseharian, sehingga melakukan ibadah hanya sekedarnya. Bahkan menjadikan ibadah sholaat lima waktu hanya pelengkap dan pengisi waktu senggang, padahal tujuan penciptaan manusia sendiri adalah untuk beribadah kepada Allah. Maka dari itulah bulan Ramadhan ini adalah saat yang tepat untuk mengevaluasi diri, apakah selama ini kita hanya mementingkan urusan dunia saja, hingga abai terhadap urusan yang jauh lebih abadi lagi yaiu akhirat.
Dalam rubrik “Tajuk Rencana” koran Kompas edisi (Kamis, 18 Juni 2015) dijelaskan pula terkait bulan puasa. Yaitu bahwa di bulan ampunan kita mendapat kesempatan luas untuk berdzikir, mengingat Allah, serta merenungkan makna dan tujuan hidup. Selanjutnya mereka yang berpuasa dengan khusyu`  dan tidak banyak meladani hiruk pikuk dunia akan berkembang mata batinnya. Jadi dapat saya katakan berpuasa adalah salah satu cara untuk membersihan hati dan menjernihkan jiwa.
Seterusnya marilah kita bersama-sama menjalankan ibadah puasa dengan penuh khidmat.  Ayo tingkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita di bulan yang mulia ini. Ambil kesempatan dan momentum ini, karena kesempatan yang berlalu tidak akan pernah bisa terulang lagi. Akhitnya di awal bulan puasa ini, sesuai dengan judul di atas sekaigus untuk mengakhiri tulisan ini, saya ucapkan, “Marhaban Ya Ramadhan”, semoga kita semua menjadi pribadi yang lebih baik lagi daripada sebelumnya.
Surabaya, 18 juni 2015
Penulis : Muhammad Aufal Fresky (Mahasiswa Unair)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Featured Post

Pelestarian Batik Madura Butuh Regulasi Terarah

  Sejak beberapa tahun terakhir, saya  bergelut di bidang usaha batik tulis Madura. Selain karena dukungan keluarga, faktor lingkungan juga ...