Sejak
menjadi mahasiswa baru banyak hal yang saya pertanyakan. Semisal tentang esensi
terdalam dari proses perkuliahan itu sendiri. Kini usia semakin bertambah,
sementara kedewasan befikir dan bersikap belum bisa dipahami dengan
sungguh-sungguh. Jika kuliah hanya sebatas proses menambahkan gelar, lantas
hendak kita apakan gelar tersebut.
Seusai
sholat di masjid Nurza, terkadang saya amati tingginya gedung FEB, melihat
gerak-gerik mahasiswa yang berbondong-bondong memasuki kelas. Lantas, muncul
pikiran dalam benak saya, apakah kampus ini hanya menjadi pabrik penghasil
akademisi. Iya itulah yang mestinya menjadi bahan koreksi dan evaluasi bagi
kita semua. Kemana akhir dari semua proses ini akan bermuara. Jangan bertingkah
layaknya binatang yang tak ada pikiran, hanya mengikuti arus namun lupa tujuan
dari semua yang kita lakukan. Mungkin jika boleh menebak, ada beberapa hal yang
dituju oleh mahasiwa semasa perkuliahan. Semisal ada yang berharap ketika lulus
mendapatkan kerja yang mapan, bisa melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih
tinggi lagi sehigga ekspektasi gaji yang diperoleh bisa meningkat searah dengan
pendidikan yang diperolehnya, atau ada yang bercita-cita pasca lulus nanti
ingin menjadi pebisnis, menjadi pegawai pemerintah dan semacamnya. Saya rasa
itu adalah tujuan pasca lulus yang dimiliki oleh mahasiwa di kampus.
Berbicara
tentang kuliah, maka pastinya berhubugan dengan proses dan waktu. Lantas apakah
proses yang selama ini dijalani, dan waktu yang dikorbankan untuk mengikuti
kuliah hanya bertujuan untuk pencapaian materi belaka. Saya rasa jika tujuannya
hanya pencapaia materi dan jabatan, maka
akan menyempitkan bahkan menghilangkan esensi dari pendidikan tinggi itu
sendiri. Karena pada dasarnya manusia sekolah/ menuntut ilmu tiada lain tiada bukan
untuk memperbaiki ucapan dan tindakan manusia itu sendiri. Artinya bangku
kuliha pada hakikatnya adalah tempat untuk menempa dan membentuk sikap dan
karakter manusia. Karena kepribadian manusia adalah hasil dari proses yang
dijalani manusia itu sendiri. Perangai dan akhlak adalah bagian terpenting yang
mestinya dikedepankan dari proses pendidikan itu sendiri. Bukan sebaliknya
mendorong mahasiwa agar segera lulus dengan waktu yang sesingkat-singkatnya dan
bisa menadapatkan kerja layak, namun di sisi lain jiwa dan kepribadiannya belum
matang. Sehingga yang terjadi adalah generasi muda di Indonesia mengalami apa
yang dinamakan krisis jati diri bahkan degradasi moral.
Harusnya
dunia kampus menjadi tempat untu mencetak manusia Indonesia yang mempunyai budi
pekerti yang agung. Karena saya berpandangan bahwa akhlak manusia akan
mencerminkan kepribadian manusia itu sendiri. Bahka akhlak manusia adalah
cerminan dari nilai manusia. Jadi penting kiranya dunia kampus tidak hanya
memberikan pendidikan akademis, jauh daripada itu mengedepankan tatanan moral
mahasiwa yang ada di dalamnya. Percuma dan sia-sia jika dunia kampus hanya
menjadi tempat untuk ajang memperoleh
nilai IPK tinggi namun di sisi lain tidak dijadikan tempat untuk membentuk
kepribadian luhur mahasiwa. Membina perilaku mahasiswa bukan hal yang mudah.
Atau hanya bisa dengan sebuah slogan saja. Membina karakter lebih sulit
daripada membentuk mahasiwa pintar secara akademik. Karena karakter berhubungan
dengan jiwa dan kebiasaan mahasiswa di dalamnya.
Sudah
sewajarnya dunia kampus kembali berbenah. Utamanya bagi mereka yang diberi
amanah sebagai dosen yang berhubugan langsung dengan mahasiwa.
Kita sebagai mahasiswa perlu dibina mental dan perangainya. Bukan hanya diberi
asupan pengetahuan. Karena sejatinya dosen bukan hanya bertindak sebagai
pengajar, lebih dari itu mereka adalah pendidik.
Kiranya
dosen merasa malu ketika gagal membimbing mahasiswa ke jalan yang benar.
Percuma dosen menghasilkan ribuan sarjana pintar namun kosong secara adab dan
moral. Adab mahasiwa terhadap dosennya sudah menjadi hal yang aneh di dunia
kampus. Padahal itu adalah suatu cara untuk mengharagai dan menghormati seorang
yang memberikan ilmu kepada kita. Ini bukan sepenuhnya bukan salah mahasisawa,
karena juga maerupakan tanggung jawab dosen untuk memperingati dan mendidik
adab mahasiwa. Biarlah dunia kampus berjalan dengan sistemnya, mengacuhkan
tatana perilaku luhur bahkan dianggap tidak begitu penting dalam proses
perkuliahan. Mahasiswa keluar masuk tanpa izin adalah hal yang biasa. Mungkin
teman-teman beranggapan ini tidak terlalu penting untuk dibahas. Tapi lain
halnya dengan saya, ini adalah penting, karena menyangkut tata cara bagaimana
seorang murid mengharagai dan menghormati gurunya. Mungkin setiap dosesn
mempunyai peraturan tersendiri selama proses perkuliahan. Tetapi alangkah lebih
baiknya dosen juga memberitahu kepada mahasiwa agar meminta izin sebelum keluar
masuk kelas.
Inti
dari penulisan artikel ini adalah menghimbau kepada seluruh mahasiswa agar
selama kuliah tidak hanya memperhatikan bagaimana memperoleh IPK tinggi , lebih
dari itu bagaimana karakter dan kepribadian mereka bisa terbentuk selama kuliah
di kampus. Artinya selama kuliah, mahasiwa harus menjadi manusia yang senantias
menunjung tinggi nilai-nilai luhur, semisal kejujuran. Selain itu diharapkan
setelah lulus nanti, mahasiswa tidak hanya bisa mendapatkan apa yang mereka
cita-citakan, lebih dari itu bisa membawa manfaat dan kegunaan bagi masyarakat
luas. Sehingga kehidupan mereka akan bermakna bagi diri dan sesamanya.
Penulis : M. Aufal
Fresky (Mahasiswa S1 Ekonomi Pembanangunan Unair)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar