Oleh : Muhammad
Aufal Fresky
Sudah
hampir delapan semester telah saya jalani perkuliahan di Universitas Airlangga.
Banyak hal yang saya amati dan perhatikan di dunia kampus. Salah satu
diantaranya beberapa yang terjadi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Yaitu
maraknya perilaku TA (Titip Absen) yang ada di FEB. Entahlah kenapa tiba-tiba
ada niatan dalam diri saya untuk membahas kebiasaan TA yang ada di FEB. Memang
TA tidak bisa dikatakan sebuah budaya, namun lebih tepatnya adalah kebiasaan
yang mengakar dalam dunia kampus saya. Mungkin diantara teman-teman yang sedang membaca tulisan ini
akan beranggapan, bahwa saya adalah mahasiwa munafik yang sok mengritisi
perilaku kalangan mahasiswa padahal saya sendiri pernah melakukan hal tersebut.
Sebelum melangkah lebih jauh lagi, perlu saya tegaskan melalui tulisan ini,
bahwa sampai sekarang hingga saya menjadi mahasiwa senior semester delapan,
alhamdulilah saya tidak pernah melakukan yang namanya TA atau menandatangani
teman saya sendiripun saya tidak pernah. Teman-teman boleh percaya, boleh
tidak, yang jelas apa yang saya ungkapkan adalah hal yang sebenarnya.
Banyak
alasan mengapa saya enggan untuk berbuat TA dan berkomitmen untuk tidak melakukan TA dalam
proses perkuliahan. Pertama saya ingin menuntut ilmu dengan penuh rasa
kejujuran dan tanggung jawab. Adalah sebuah hal yang tidak benar jika kita
membohongi dosen/ pengajar dengan perilaku tersebut. Kejujuran adalah hal utama
dalam proses pendidikan. Jika mahasiswa sudah memandang sebelah mata bahkan
meremehkan arti dari sebuah kejujuran, maka dia sudah medegradasi nilai dari
mahasiwa itu sendiri. Yaitu nilai dari calon pemimpin masa depan bangsa. Bisa
dibayangkan jika untuk hal kecil itu saja mahasiwa sudah mengannggap suatu hal
yang biasa, maka bisa dilihat nanti ketika lulus, akan ada
kebohongan-kebohongan lainnya yang akan dilakukan. Karena untuk sekedar jujur
kepada dosennya saja dia tidak mampu melakukan, bagaimana berperilaku jujur
dengan hal yang lainnya kelak ketika sudah menjadi sarjana. Saya tidak bisa
membayangkan nantinya Indoensia hanya bisa menghasilkan sarjana intelektual
namun moralitasnya kosong. Sepertinya saya kurang pantas untuk berbicara
mengenai moralitas, karena sejauh ini kapasitas saya hanyalah sama seperti
teman-teman lainnya sebagai mahasiwa yang tak jauh dari kekurangan. Namun
karena adanya dorongan dari dalam hati ini saya paksakan untuk menulis hal ini.
Sekali lagi saya tidak bermaksud
menggurui apalagi bersikap seakan saya adalah pribadi tanpa celah. Ini
hanya sebatas evaluasi dan koreksi bagi kita semua, termasuk diri saya pribadi
agar mengerti dan memahami bahwa TA adalah sebuah kebohongan dan perbuatan yang
tidak sesuai dengan prinsip kejujuran.’
Seringkali
saya mendapat titipan absen dari teman, namun dengan segala upaya saya menolak
hal tersebut. Meskipun ada rasa tidak nyaman karena mereka adalah kawan dekat
saya, namun tetap saya upayakan agar kejujuran tetap ditegakkan. Meskipun dalam
kehidupan sehari hari terkadang saya seringkali berbuat cela, namun entah
kenapa untuk perilaku TA saya benar-benar tidak bisa mentolerir. Bukan berarti
saya adalah manusia setengah malaikat, ini hanyalah bentuk upaya saya agar
nilai kejujuran benar-benar bisa saya aplikasan dalam kehidupan rill saya.
Bukan hanya dalam bentuk slogan ataupun retorika namun dalam perbuatan dan aksi
nyata. Mungkin sebagaian mahsiswa Unair
lupa terhadap slogan “excellence
with morality” (unggul dengan moralitas). Atau apa mungkin susunan
kata-kata yang ada pada slogan tersebut yang salah, yaitu menempatkan
keunggulan di urutan awal dan moralitas di urutan terakhir. Sehingga dampaknya
intelektualitas dikedepankan daripada moralitas. Ah, saya rasa ini bukan
masalah susunan slogan. Lebih dari itu kemampuan mahasiswa unair, utamanya FEB dalam
mengerti, mengahayati slogan tersebut dalam kehidupan nyata, utamanya dalam
dunia kampus. Kejujuran adalah suatu nilai yang luhur dan ideal untuk
diterapkan dalam kehidupan manusia. Kejujuran akan menuntutn mahasiswa ke jalan
kebenaran dan kebajikan. Kejujuran juga akan memimbing manusia ke jalan
keselamatan. Bahkan dalam agama saya (Islam), perilaku jujur menempati posisi
yang penting dalam segala aspek kehidupan.
Semsial
ada anggapan saya terlalu ideal untuk menjadi mahasiwa, sampai kapanpun tidak
akan saya hiraukan anggapan tersebut. Karena dalam kehidupan saya ada beberapa
nilai dan prinsip yang mesti saya tegakkan dan perjuangkan, semisal terkait
nilai kejujuran tadi. Bahkan sampai maut menjemput, saya ingin tetap menjadi
manusia yang mempunyai idealisme luhur dan agung untuk selalu daya pertahankan
dan perjuangakan. Mengikuti seruan Tan Malaka yang mengatakan bahwa idealisme
adalah kemewahan terkahir yang dimiliki mahasiswa. Artinya mahasiswa tanpa
nilai idealisme, ibarat manusia yang tidak mempunya apapun untuk diperjuangan,
ibarat manusia yang tak memilliki acuan nilai dan prinsip.
Mungkin
perlu teman-teman kembali mengingat bahwa kesuksesan seseorang tidak hanya
tergantung pada tingkat intelektualitas yang dia miliki, namun hal yang paling
menentukan adalah sikap, karaktet dan kepribadian orang itu.
Dengan
semakin maraknya TA di lingkungan FEB, maka bisa saya katakan bahwas FEB sedang
mengalami krisis kejujuran. Sekarang adalah waktunya untuk memperbaiki bahkan
menghilangkan kebiasaan TA di lingkungan mahasiswa. Karena kejujuran mahasiwa
adalah hal yang penting untuk kita soroti dan perhatikan. Bagaimanapun juga
mereka adalah calon pemimpin bangsa kelas. Maka sudah sewajaranya mahasiwa
kembali mengkoreksi dirinya sendiri, apakah sudah mencerminkan seorang yang
beradab atau masih belum. Untuk mengakhiri tulisan ini, saya berharap kepada
mahasiwa FEB Unair agar kembali mengindahkan yang namanya nilai kejujuran.
Karena dengan jujur, kita bisa menjadi pribadi yang bisa memberi tauladan
kepada yang lainnya. Semoga tulisan ini membawa manfaat bagi kita semua, dan
untuk penulis pribadi, agar selalu berkomitmen dalam berperilaku jujur dalam
segala aspek kehidupan.
Surabaya, 10 Juni
2015
Penulis : Aufal
(Mahasiswa FEB Unair)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar