Selasa, 16 Juni 2015

Krisis Kejujuran di Lingkungan Mahasiswa FEB Unair



Oleh : Muhammad Aufal Fresky
Sudah hampir delapan semester telah saya jalani perkuliahan di Universitas Airlangga. Banyak hal yang saya amati dan perhatikan di dunia kampus. Salah satu diantaranya beberapa yang terjadi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Yaitu maraknya perilaku TA (Titip Absen) yang ada di FEB. Entahlah kenapa tiba-tiba ada niatan dalam diri saya untuk membahas kebiasaan TA yang ada di FEB. Memang TA tidak bisa dikatakan sebuah budaya, namun lebih tepatnya adalah kebiasaan yang mengakar dalam dunia kampus saya. Mungkin diantara  teman-teman yang sedang membaca tulisan ini akan beranggapan, bahwa saya adalah mahasiwa munafik yang sok mengritisi perilaku kalangan mahasiswa padahal saya sendiri pernah melakukan hal tersebut. Sebelum melangkah lebih jauh lagi, perlu saya tegaskan melalui tulisan ini, bahwa sampai sekarang hingga saya menjadi mahasiwa senior semester delapan, alhamdulilah saya tidak pernah melakukan yang namanya TA atau menandatangani teman saya sendiripun saya tidak pernah. Teman-teman boleh percaya, boleh tidak, yang jelas apa yang saya ungkapkan adalah hal yang sebenarnya.
Banyak alasan mengapa saya enggan  untuk berbuat TA dan berkomitmen untuk tidak melakukan TA dalam proses perkuliahan. Pertama saya ingin menuntut ilmu dengan penuh rasa kejujuran dan tanggung jawab. Adalah sebuah hal yang tidak benar jika kita membohongi dosen/ pengajar dengan perilaku tersebut. Kejujuran adalah hal utama dalam proses pendidikan. Jika mahasiswa sudah memandang sebelah mata bahkan meremehkan arti dari sebuah kejujuran, maka dia sudah medegradasi nilai dari mahasiwa itu sendiri. Yaitu nilai dari calon pemimpin masa depan bangsa. Bisa dibayangkan jika untuk hal kecil itu saja mahasiwa sudah mengannggap suatu hal yang biasa, maka bisa dilihat nanti ketika lulus, akan ada kebohongan-kebohongan lainnya yang akan dilakukan. Karena untuk sekedar jujur kepada dosennya saja dia tidak mampu melakukan, bagaimana berperilaku jujur dengan hal yang lainnya kelak ketika sudah menjadi sarjana. Saya tidak bisa membayangkan nantinya Indoensia hanya bisa menghasilkan sarjana intelektual namun moralitasnya kosong. Sepertinya saya kurang pantas untuk berbicara mengenai moralitas, karena sejauh ini kapasitas saya hanyalah sama seperti teman-teman lainnya sebagai mahasiwa yang tak jauh dari kekurangan. Namun karena adanya dorongan dari dalam hati ini saya paksakan untuk menulis hal ini. Sekali lagi saya tidak bermaksud  menggurui apalagi bersikap seakan saya adalah pribadi tanpa celah. Ini hanya sebatas evaluasi dan koreksi bagi kita semua, termasuk diri saya pribadi agar mengerti dan memahami bahwa TA adalah sebuah kebohongan dan perbuatan yang tidak sesuai dengan prinsip kejujuran.’
Seringkali saya mendapat titipan absen dari teman, namun dengan segala upaya saya menolak hal tersebut. Meskipun ada rasa tidak nyaman karena mereka adalah kawan dekat saya, namun tetap saya upayakan agar kejujuran tetap ditegakkan. Meskipun dalam kehidupan sehari hari terkadang saya seringkali berbuat cela, namun entah kenapa untuk perilaku TA saya benar-benar tidak bisa mentolerir. Bukan berarti saya adalah manusia setengah malaikat, ini hanyalah bentuk upaya saya agar nilai kejujuran benar-benar bisa saya aplikasan dalam kehidupan rill saya. Bukan hanya dalam bentuk slogan ataupun retorika namun dalam perbuatan dan aksi nyata. Mungkin sebagaian mahsiswa Unair  lupa terhadap slogan “excellence with morality” (unggul dengan moralitas). Atau apa mungkin susunan kata-kata yang ada pada slogan tersebut yang salah, yaitu menempatkan keunggulan di urutan awal dan moralitas di urutan terakhir. Sehingga dampaknya intelektualitas dikedepankan daripada moralitas. Ah, saya rasa ini bukan masalah susunan slogan. Lebih dari itu kemampuan mahasiswa unair, utamanya FEB dalam mengerti, mengahayati slogan tersebut dalam kehidupan nyata, utamanya dalam dunia kampus. Kejujuran adalah suatu nilai yang luhur dan ideal untuk diterapkan dalam kehidupan manusia. Kejujuran akan menuntutn mahasiswa ke jalan kebenaran dan kebajikan. Kejujuran juga akan memimbing manusia ke jalan keselamatan. Bahkan dalam agama saya (Islam), perilaku jujur menempati posisi yang penting dalam segala aspek kehidupan.
Semsial ada anggapan saya terlalu ideal untuk menjadi mahasiwa, sampai kapanpun tidak akan saya hiraukan anggapan tersebut. Karena dalam kehidupan saya ada beberapa nilai dan prinsip yang mesti saya tegakkan dan perjuangkan, semisal terkait nilai kejujuran tadi. Bahkan sampai maut menjemput, saya ingin tetap menjadi manusia yang mempunyai idealisme luhur dan agung untuk selalu daya pertahankan dan perjuangakan. Mengikuti seruan Tan Malaka yang mengatakan bahwa idealisme adalah kemewahan terkahir yang dimiliki mahasiswa. Artinya mahasiswa tanpa nilai idealisme, ibarat manusia yang tidak mempunya apapun untuk diperjuangan, ibarat manusia yang tak memilliki acuan nilai dan prinsip.
Mungkin perlu teman-teman kembali mengingat bahwa kesuksesan seseorang tidak hanya tergantung pada tingkat intelektualitas yang dia miliki, namun hal yang paling menentukan adalah sikap, karaktet dan kepribadian orang itu.
Dengan semakin maraknya TA di lingkungan FEB, maka bisa saya katakan bahwas FEB sedang mengalami krisis kejujuran. Sekarang adalah waktunya untuk memperbaiki bahkan menghilangkan kebiasaan TA di lingkungan mahasiswa. Karena kejujuran mahasiwa adalah hal yang penting untuk kita soroti dan perhatikan. Bagaimanapun juga mereka adalah calon pemimpin bangsa kelas. Maka sudah sewajaranya mahasiwa kembali mengkoreksi dirinya sendiri, apakah sudah mencerminkan seorang yang beradab atau masih belum. Untuk mengakhiri tulisan ini, saya berharap kepada mahasiwa FEB Unair agar kembali mengindahkan yang namanya nilai kejujuran. Karena dengan jujur, kita bisa menjadi pribadi yang bisa memberi tauladan kepada yang lainnya. Semoga tulisan ini membawa manfaat bagi kita semua, dan untuk penulis pribadi, agar selalu berkomitmen dalam berperilaku jujur dalam segala aspek kehidupan.
Surabaya, 10 Juni 2015 
Penulis : Aufal (Mahasiswa FEB Unair)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Featured Post

Pelestarian Batik Madura Butuh Regulasi Terarah

  Sejak beberapa tahun terakhir, saya  bergelut di bidang usaha batik tulis Madura. Selain karena dukungan keluarga, faktor lingkungan juga ...