Sembari menikmati secangkir kopi dan sebatang rokok, pikiran saya mulai berpetualang. Jari jemari mulai 'gatal' untuk mengetikkan sesuatu. Lintasan pikiran ini mesti mewujud menjadi karya. Apalagi udara segar Kota Batu seolah menjadi pendukung untuk memahat kata demi kata. Lantas, apa yang hendak saya tuliskan pagi ini? Mengapa tak berkonsep? Mengapa seolah tak direncanakan? Memang begitulah kadang saya dalam menulis. Yaitu spontan dan mengalir. Baiklah, kali ini saya putuskan untuk sedikit membahas tentang 'topeng politisi'.
Mengingat pemberitaan yang kian santer di pelbagai media. Entah itu televisi, koran, majalah, portal online, dan sebagainya. Siang malang seolah tak ada habisnya membahas Pilkada. Gegap gempita Pilkada di seluruh penjuru Tanah Air terasa betul. Antusiasme calon pemimpin daerah dan juga parpol pengusung juga semakin riuh. Ada juga calon yang independen. Tak membawa bendera parpol. Semua hendak berkompetisi untuk menduduki kursi kekuasaan. Baik sebagai bupati, walikota, atau gubernur. Dari zaman ke zaman, tahta memang menarik untuk diperebutkan.
Bahkan tidak jarang yang saling sikut untuk merebut hati rakyat. Politik uang atau 'serangan fajar' juga kerap kali menjadi strategi alternatif untuk mendulang suara sebanyak-banyaknya. Ironinya lagi, sebagian dari kita juga tak mengenal betul siapa sebenarnya yang hendak kita pilih. Tak mengerti latar belakang dan rekam jejaknya. Apakah calon pemimpin tersebut pernah tersandung kasus, apakah moralitasnya teruji, itu tak jadi persoalan bagi kita. Sebagian dari kita memilih tanpa pertimbangan yang matang. Ada yang memilih karena ketenaran, ketampanan, uang, sikap, kesamaan ideologi, dan sebagainya. Semua pemilih memiliki logikanya sendiri dalam mencoblos.
Bahkan, banyak di antara kita yang mudah dikelabui retorika politisi. Lebih-lebih saat kampanye. Semua calon pemimpin seolah berhati mulia. Seakan-akan menjadi malaikat penyelamat kehidupan masyarakat yang dihadapkan beragam persoalan. Rangkaian solusi ditawarkan. Janji selangit dilontarkan. Bertindak seolah juru selamat.
Penampilan dan perkataannya meyakinkan. Kata mereka, kepentingan rakyat adalah segalanya. Urusan rakyat adalah harga mati. Kesejahteraan rakyat tak bisa ditawar lagi. Benarkah demikian? Kita semua sama sekali tidak begitu tahu. Hampir tidak bisa dibedakan antara calon satu dengan lainnya. Sama-sama bertekad memberantas korupsi, kolusi, dan nepotisme. Semuanya bertekad mewujudkan pemerintahan daerah yang bersih dan demokratis. Semuanya bertekad hendak menegakkan keadilan. Setiap momentum politik, begitulah yang diucapkan setiap calon.
Padahal, hemat saya, rakyat kita sudah mulai melek politik. Tidak lagi gampang terbuai janji-janji palsu. Kita mulai belajar dari kejadian sebelum-sebelumnya. Yaitu di mana janji hanyalah tinggal janji. Banyak kepala daerah, yang sampai akhir kepemimpinannya, belum memenuhi janji politiknya. Ternyata selain lain di bibir, lain di hati, lain juga di tindakan kesehariannya. Pemimpin daerah semacam itu sebenarnya hanya mengikuti nafsu dan ambisi politiknya. Ketika sudah menerima mandat dari rakyat, mereka seolah punya jurus menghilang. Penyakitnya sama semua yaitu hilang ingatan.
Oleh sebab itu, dalam Pilkada kali ini, kita tak boleh gampang terkecoh. Jangan sampai terhipnotis calon-calon pemimpin yang memakai 'topeng' berlapis-lapis. Sebab, mereka sebenarnya tidak menjadi dirinya sendiri. Sama sekali tidak otentik. Di sisi lain, kita mendambakan sosok pemimpin yang otentik dengan kepribadian luhurnya. Kita semua mengharapkan kehadiran pemimpin yang visioner, cerdas, jujur, berintegritas, dan bersedia melayani rakyat dengan sepenuh hati. Kita semua tidak ingin pemimpin yang penuh dengan kebohongan dan kepalsuan. Jika sejak awal sudah memanipulasi rakyat, lalu bagaimana ketika sudah jadi pemimpin? Bukankah bisa tambah parah?
Akhirnya, saya selaku penulis, berharap betul Pilkada kali ini menghasilkan pemimpin-pemimpin daerah yang amanah dan bertanggung jawab. Pemimpin yang dalam hati dan pikirannya bersih. Pemimpin yang bersedia bersusah payah, bahkan lebih mementingkan rakyat dibandingkan diri, keluarga, dan golongannya. Jadi, pilihlah pemimpin sesuai hati nurani kita. Sebab, pemimpin yang terpilih kelak, tidak hanya menentukan nasib kita. Tapi anak cucu kita beberapa tahun mendatang. Sekali lagi, jangan mudah terpengaruh raut wajah dan perangai lembut politisi menjelang Pilkada!
Oleh: Muhammad Aufal Fresky
Hotel Pohon Inn, Kota Batu
Sabtu, 31 Agustus 2024
06.01 WIB
Sumber ilustrasi: tribunnews.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar