Alhamdulillah, pagi ini saya menghirup udara segar di Kampung Batik Klampar. Saya pulang, selain karena cukup kangen dengan sanak famili, ada hal yang perlu dikerjakan. Termasuk urusan batik tulis. Ya, hidup memang tak pernah lepas dari yang namanya urusan. Urusan ini, urusan itu. Semua manusia di bumi ini, memiliki urusan masing-masing. Urusan yang hubungannya dengan Tuhan, manusia, hewan, tumbuhan, bahkan jin dan setan sekalipun. Selama nafas masih di kandung badan, sekali lagi, jangan harap lepas dari yang namanya urusan. Kemudian timbul pertanyaan dalam benak saya: Di antara semua urusan, mana yang harus diprioritaskan?
Dengan tegas saya jawab bahwa urusan dengan Tuhan lah yang harus dinomorsatukan. Bahkan tujuan kita diciptakan ke alam dunia sebenarnya adalah untuk menghamba kepada-Nya secara totalitas. Mengabdi sepenuh jiwa dan raga. Sebab, Dialah yang menciptakan kita. Dialah yang telah menganugerahkan akal, hati, dan segenap perangkat fisik tanpa kita memintanya. Tuhan telah melengkapi-Nya sejak kita berada di kandungan. Tanpa kita memesannya terlebih dahulu. Tanpa harus membayarnya. Lagian juga tak bisa dinilai dengan uang apa yang telah Allah berikan.
Dia Maha Tahu apa yang kita butuhkan. Ilmunya sangat luas dan tak terbatas. Kasih sayang-Nya sungguh teramat nyata. Hanya saja, sering berjalannya waktu, sebagian dari Kita seolah melupakan. Dan tak sedikit pula yang dengan mudahnya melabrak aturan-aturan dan panduan hidup yang telah ditetapkan-Nya melalui utusan-Nya: Nabi Muhammad SAW. Gemerlap dunia, bisa membutakan mata hati kita. Kecintaan kepada dunia bisa menjadi penghalang hubungan kita dengan Sang Pencipta.
Tipu daya dunia menyihir sebagian dari manusia. Seakan-akan kekal hidupnya. Seolah-olah tidak terbatas waktu. Padahal, malaikat maut selalu mengintai kita. Padahal, setiap dari kita hanya menunggu giliran untuk mati. Maka menjadi bijak, manusia-manusia yang menjadikan kematian sebagai pengingat dirinya. Manusia-manusia semacam itu biasanya cerdas dalam menjalani hidup. Tidak terlalu tergiur glamor dunia. Sebab, dalam pikiran dan hatinya, dunia ini sementara, akhirat selamanya. Dia sadar betul dunia ini hanyalah persinggahan. Ibarat seorang musafir yang mampir di sebuah kampung untuk kembali melanjutkan perjalanan panjangnya.
Seperti yang sudah ditegaskan dalam Al-Qur'an Surah al-Hadid ayat 20:
وَّتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى الْاَمْوَالِ وَالْاَوْلَادِۗ كَمَثَلِ غَيْثٍ اَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهٗ ثُمَّ يَهِيْجُ فَتَرٰىهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُوْنُ حُطَامًاۗ وَفِى الْاٰخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيْدٌۙ وَّمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللّٰهِ وَرِضْوَانٌۗ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ
Artinya: "Ketahuilah bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan, kelengahan, perhiasan, dan saling bermegah-megahan di antara kamu serta berlomba-lomba dalam banyaknya harta dan anak keturunan. (Perumpamaannya adalah) seperti hujan yang tanamannya mengagumkan para petani, lalu mengering dan kamu lihat menguning, kemudian hancur. Di akhirat ada azab yang keras serta ampunan dari Allah dan keridaan-Nya. Kehidupan dunia (bagi orang-orang yang lengah) hanyalah kesenangan yang memperdaya."
Selanjutnya, ada hadis Nabi yang diriwayatkan dari Ibnu Umar radiallahu ‘anhu berbunyi:
اعْمَلْ لِدُنْيَاكَ كَأنَّك تَعِيشُ أبَدًا، وَاعْمَلْ لِآخِرَتِكَ كَأَنَّكَ تَمُوْتُ غَدًا
Artinya: “Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau akan hidup selamanya. Dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok pagi.”
Menurut Muhammad Mutawalli asy-Sy’rawi, pemaknaan hadis di atas yaitu agar kita bekerja mendapatkan hal-hal yang sifatnya duniawi itu cukup seperlunya saja. Hal ini karena kita diimbau untuk berpikir bahwa kita akan hidup di dunia selamanya. Sehingga masih ada hari esok untuk melakukannya. Beda halnya dengan urusan akhirat, harus disegerakan. Sebab, esok kematian menjemput.
Akhirnya, catatan ini juga menjadi pengingat untuk kita, terutama untuk penulis pribadi. Bahwa dunia adalah ladang menabur kebaikan. Dunia adalah kampung sementara. Sebab, yang abadi adalah kampung akhirat. Maka dari itu, sudah saatnya kita kembali bersiap-siap dan berkemas-kemas untuk melanjutkan perjalanan panjang ini. Sehingga menjadi wajib kiranya untuk selalu memprioritaskan Allah dan Rasulnya dalam segenap aktivitas kita. Mencintai Allah dan Rasulnya lebih daripada kecintaan kita pada semua hal yang kita miliki, termasuk keluarga dan bahkan diri kita sendiri. Percayalah, itu jalan menuju kemuliaan hidup.
Oleh: Muhammad Aufal Fresky
PP. Al-Ikhlas, Desa Klampar, Kec. Proppo, Pamekasan
Jumat, 6/9/2024
07.24 WIB
Sumber gambar: bumiqu.org
.jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar