Selasa, 10 September 2024

Kampus sebagai Kawah Candradimuka

 

Akhir-akhir ini gegap gempita penerimaan mahasiswa baru di beragam perguruan tinggi mulai terasa. Keriuhan orientasi pengenalan kehidupan kampus juga tersiar di beragam media online. Senyum lebar dan tawa lepas mahasiswa baru menghiasai hari-hari awal mereka memasuki kehidupan baru. Sebuah fase peralihan status siswa menjadi mahasiswa. Pun demikian dengan harapan setiap orangtua terhadap anak-anaknya tersebut agar kelak setelah lulus menjadi manusia orang-orang hebat dan bermartabat tentunya. Apapun bidang yang nantinya akan ditekuni, setiap orang tua mendambakan kesuksesan untuk anak-anaknya. Menimba ilmu di kampus menjadi salah satu cara untuk meningkatkan kualitas diri untuk menyongsong kehidupan yang lebih berarti. Tidak hanya bagaimana caranya berdampak untuk pribadi dan keluarganya. Lebih dari itu membawa banyak manfaat untuk agama, bangsa, dan negaranya. Dalam hal ini, kampus menjadi kawah candradimuka untuk mahasiswa agar giat giat menggali dan mengasah segenap kemampuan dan potensi diri. 

Dulu, zaman saya kuliah di salah satu kampus di Surabaya, saya sering mendengar dari senior-senior kampus saat itu bahwa tipikal mahasiswa ada tiga. Di antaranya yaitu mahasiswa kupu-kupu, mahasiswa kunang-kunang, dan mahasiswa kura-kura. Mahasiswa kupu-kupu yaitu maksudnya mahasiswa yang menghabiskan waktunya hanya fokus mengejar nilai indeks prestasi kumulatif (IPK). Menjadi mahasiswa yang berprestasi secara akademik menjadi satu-satunya tujuan utamanya. Kuliah pulang, kuliah pulang. Ada yang sekadar kuliah saja tapi tak memiliki tujuan. Dia juga termasuk mahasiswa kupu-kupu. Tapi kupu-kupu yang tak produktif. Tak tahu arah. Kemudian, yang kedua, mahasiswa kurang-kura. Yaitu mahasiswa yang selalu sibuk dengan kehidupan organisasi kampus. Kuliah rapat, kuliah rapat. Mahasiswa satu ini tipikal organisatoris. Kadang ada yang mengorbankan kewajibannya masuk kelas demi hadir acara organisasi. Tidak sedikit juga yang tak pandai mengatur waktu fokus belajar dan organisasi, sehingga kuliahnya terbengkalai. Menjadi mahasiswa ‘abadi’ di kampus. Tapi, banyak juga yang mampu menyeimbangkan antara tugas dan tanggung jawabnya sebagai insan akademis dan insan organisatoris. 

Lalu, terakhir yaitu mahasiswa kunang-kunang. Bagaimana tipikal mahasiswa satu ini? Mahasiswa kunang-kunang yaitu hanya menghabiskan waktunya di warung kopi (warkop) atau kafe. Kerjanya hanya bersenang-senang. Bersantai-santai ria. Kuliah sekadarnya. Tak tertarik dan tak ada minat ikut organisasi, Kuliah nangkring, kuliah nangkring. Begitulah kerjaannya. Berpindah-pindah tempat dari kafe satu ke kafe lainnya. Bahkan, ada juga yang memiliki basecamp atau markas di sebuah kafe tertentu yang menjadi tempat ngumpulnya. Tapi, tak selamanya mahasiswa kunang-kunang ini lalai terhadap tugas dan tanggung jawabnya. Ada juga yang mampu mengatur waktu dalam hal belajar. Ada juga yang giat berorganisasi. Artinya, tidak semua mahasiswa kunang-kunang ini hidupnya hanya bersenang-senang. Artinya menjadi mahasiswa kunang-kunang sekaligus kura-kura. Begitulah gambaran singkat terkait tipikal mahasiswa. Kembali pada diri mahasiswa itu sendiri selama kuliah, apa yang sebenarnya hendak dicari? Apa yang hendak dituju? Apa cita-cita besarnya lima tahun, sepuluh tahun, atau dua puluh tahun lagi? Apa visi dan misi hidupnya? Pertanyaan-pertanyaan tersebut mest dimiliki oleh setiap mahasiswa. Khususnya yang baru menapakkan kakinya di kampus. Sebab, banyak sekali mahasiswa yang tidak tahu arah. Bingung mau ke mana. Kuliah hanya sekadar mengikuti saran dan instruksi dari orang tua, kerabat, atau teman terdekat. Sehingga, ketika sudah menjalaninya, tidak menjadikan kampus sebagai kawah candradimuka. Sama sekali tidak tertarik untuk menempat diri menjadi lebih bermutu lagi. 

Padahal, kampus semestinya dijadikan wadah untuk mengasah segenap kemampuan setiap mahasiswa. Percayalah, dalam kehidupan kampus, banyak hal yang bisa diraih. Banyak hal yang bisa dipelajari. Bukan sekadar ilmu dan pengetahuan yang disampaikan dosen dalam ruang kelas. Ilmu di kampus tidak hanya berada di buku-buku teks kuliah. Tidak hanya berada pada materi yang disampaikan pengajar atau pendidik dalam kelas. Lebih dari itu, mahasiswa bisa mencari dan menemukan banyak hal-hal baru terkait pengembangan dirinya. Di luar kelas tentunya, Semisal, mulai terlibat aktif di organisasi intra ataupun ekstra kampus. Atau yang senang nulis, bisa mencoba mendaftarkan diri sebagai anggota lembaga pers mahasiswa (LPM). Yang senang teater, bisa mencoba ikutan unit kegiatan mahasiswa (UKM) di bidang teater. Dan masih banyak lagi tentunya. Tinggal sesuaikan dengan minat dan bakat kita sendiri. Sebab, dalam kehidupan kampus, banyak wadah yang bisa digunakan untuk menemukan dan mengembangkan passion kita. 

Sebagai penulis, saya meyakini betul bahwa setiap mahasiswa sebenarnya bisa menjadi insan akademis sekaligus insan organisatoris. Artinya, bisa aktif sebagai aktivis mahasiswa sekaligus juga sebagai akademisi. Semua kembali kepada diri mahasiswa itu sendiri. Yaitu bagaimana mengatur waktu dengan sebaik-baiknya. Sebab dari kesibukan-kesibukannya tersebut, dia bisa belajar mengelola waktu. Tidak hanya hanya, dalam dunia organisasi, mahasiswa akan ditempa dan dibentuk sedemikian rupa. Sehingga, perlahan, dia bisa meningkatkan kemampuan berkomunikasi, menulis, kepemimpinan, manajerial organisasi, mengatur waktu, menjalin networking, dan lain sebagainya. Kemampuan-kemampuan itu sama sekali tidak dipelajari di ruang kelas. Adanya di ruang kelas. 

Kemampuan-kemampuan semacam itu juga sangat berguna kelak ketika sudah purna dari kehidupan kampus. Sekali lagi, kampus adalah tempat terbaik untuk menempa diri menjadi pribadi yang lebih matang. Baik dari secara intelektual, sosial, emosional, dan spiritual. Kampus menjadi ladang terbaik untuk berlatih menjadi pemimpin. Sebab, sejatinya mahasiswa hari ini adalah calon pemimpin masa depan. Di bawah pundak mereka, masa depan bangsa ini dipertaruhkan. Kelak, mereka akan menjadi pemimpin-pemimpin di tengah masyarakat. Mahasiswa hari ini adalah harapan seluruh masyarakat Indonesia. Maka dari itu, kepada seluruh mahasiswa, khususnya yang baru masuk kampus, sudah saatnya memantapkan tujuan dan milikilah cita-cita besar. Jadikan kampus sebagai sarana untuk membangun mentalitas dan karakter diri. Bangunlah jiwa muda. Gelora muda harus berapi-api. Spirit muda tak boleh padam. Silakan, gali sedalam dalamnya kemampuan diri selama di kampus. Kembangkan seluas-luasnya jaringan pertemanannya. Cari seluas-luasnya ilmu dan pengetahuan. 


Oleh: Muhammad Aufal Fresky

Sumber ilustrasi: istockphoto.com


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Featured Post

Pelestarian Batik Madura Butuh Regulasi Terarah

  Sejak beberapa tahun terakhir, saya  bergelut di bidang usaha batik tulis Madura. Selain karena dukungan keluarga, faktor lingkungan juga ...