Sudah dua hari saya di Jember. Kemaren juga sempat silaturahmi dengan keluarga besar istri di Bondowoso. Rasanya cukup menyenangkan tentunya. Perjalanan dari Malang menuju Jember pada hari Jumat (13/9). Kemudian perjalanan silaturahmi dilanjutkan dengan rute Jember-Bondowoso-Jember pada hari Sabtu (14/9). Saya benar-benar menikmati setiap momennya.
Sebisa mungkin, saya mencoba memetik ragam pelajaran dalam setiap kesempatan. Terutama dari setiap orang-orang yang saya jumpai. Saya percaya betul bahwa ilmu dan pengetahuan tidak hanya bisa diperoleh di ruang-ruang kelas. Di alam bebas pun kita bisa mendapatkannya. Dari setiap obrolan ringan dan diskusi singkat, kita bisa mengambil pelajaran. Di mana pun dan kapan pun tentunya.
Contohnya, tadi saya memperoleh sedikit pelajaran dari Mas Safik terkait bagaimana perencanaan hidup jangka panjang. Termasuk bagaimana mengatur keuangan rumah tangga. Saya pikir-pikir, apa yang disampaikannya sangat relevan dan realistis. Bahwa hidup ini memang perlu direncanakan betul. Hendak ke mana nantinya, apa yang ingin dicapai, dan sebagainya. Sebab, tanpa begitu, kita bisa terombang-ambing keadaan. Berjalan tanpa arah dan tujuan. Bisa-bisa kita menggadaikan idealisme yang selama ini kita pegang erat-erat .
Tidak cukup rencana, hidup juga wajib dibarengi aksi nyata untuk menggapai cita-cita. Mimpi tanpa aksi akan menjadi ilusi. Hanya akan menjadi angan-angan kosong. Berani bermimpi, maka harus berani menanggung segenap konsekuensi dalam meraihnya. Termasuk bersedia bepayah-payahan, berkorban, konsisten, dan pantang menyerah tentunya. Sebagian dari kita kadang mudah putus asa ketika menghadapi cobaan.
Seakan-akan cobaan itu sangat memberatkan kita. Seolah-olah menjadi beban yang sulit dipikul. Padahal, Tuhan memberikan ujian sebenarnya untuk menaikkan level kita. Ujian adalah sarana untuk menempa diri. Sebab itu, mentalitas kita tidak boleh menciut. Tekad kita harus membara. Jangan sampai melempem. Semangat tak boleh kerdil. Mimpi besar harus dibarengi dengan semangat besar.
Jika sudah berupaya mati-matian, apapun hasilnya, kita serahkan kepada Yang Maha Kuasa. Sebab, manusia sejatinya hanya bisa berkehendak. Yang memutuskan adalah Allah SWT. Dan percayalah bahwa setiap yang terjadi dalam hidup kita adalah pasti yang terbaik untuk kita. Prasangka baik atau huznuzan kepada Sang Pencipta harus kita jaga. Jangan sampai berpikir buruk dan negatif. Sehingga hemat saya, jalan menuju impian atau kesuksesan hidup adalah usaha, doa, istikamah, dan tawakal.
Akhir kata, untuk menutup catatan ini, saya mengajak kepada diri saya sendiri dan pembaca sekalian untuk memiliki spirit yang bergelora dalam mewujudkan mimpi. Spirit tersebut biasanya akan semakin bergelora ketika tujuan yang hendak dicapai sudah jelas. Tidak lagi samar-samar. Satu lagi, jadikan setiap problem sebagai batu loncatan untuk naik level. Mari bersama-sama gapai impian dengan kekuatan mimpi, doa, dan ikhtiar.
Oleh: M. Aufal Fresky
Jl. Manggar, Kel. Gebang, Kec. Patrang, Kabupaten Jember
Minggu, 15/9/2024
07.34 WIB
Sumber ilustrasi: pixabay.com
.jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar