Sabtu, 21 September 2024

Urgensi Regenerasi Pengrajin Batik Klampar

 


Baru-baru saja viral di jagad media sosial (medsos) aksi seorang pria yang mengklaim batik berasal dari Malaysia. Hal itu terjadi saat pria tersebut bertemu Youtuber asal Amerika Serikat, IShowSpeed. Tak butuh waktu lama, kolom komentar channel Youtube yang menayangkan kejadian tersebut dibanjiri komentar warganet Indonesia. Berbondong-bondong netizen menanggapi aksi klaim tersebut. Tentu saja kita tidak terima, menolak dengan keras kekayaan asli Nusantara tiba-tiba dianggap punya negara tetangga. Entah apa tujuan pria tersebut, yang jelas batik adalah milik kita. Merupakan warisan nenek moyang Nusantara yang sudah diakui oleh dunia internasional. Tiba-tiba rasa nasionalisme warganet membara. Bersatu padu menangkal aksi klaim sepihak tersebut. Salut betul dengan solidaritas nasional netizen kita. Hanya saja apakah cukup sampai di sini? Apakah nunggu ada yang mengklaim budaya kita baru kita tersadar dan tergerak untuk melindungi aset budaya kita?

Sekali lagi, dengan tegas saya katakan: Tidak. Semua elemen bangsa, bukan hanya pemerintah, bertanggung jawab untuk ikut serta melestarikan seluruh budaya nasional. Baik yang fisik maupun non-fisik. Khususnya dalam catatan ini yaitu batik. Terkait batik sendiri, saya sudah cukup lama bersentuhan dengan yang namanya batik. Khususnya batik tulis Madura. Sebab, saya lahir, besar, dan tumbuh di Kampung Batik Klampar di Kecamatan Proppo, Pamekasan. Ya, dari kecil saya sudah terbiasa mengamati bagaimana pengrajin batik berkreasi. Mengamati bagaimana pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) batik di Desa Klampar berjualan batik. Jujur saja, desa saya menyimpan kekayaan lokal yang begitu luar biasa. Di dalamnya terdapat puluhan bahkan ratusan pekerja seni yang kemampuannya sebagian diwarisi secara genetik dari generasi ke generasi. Hanya saja, kali ini yang menjadi perhatian saya yaitu terkait masa depan Kampung Batik Klampar dan masa depan pengrajin batik di dalamnya. 

Sebab, jika ditelusuri lebih dalam lagi, ternyata pengrajin batik di Desa Klampar mulai berkurang dari waktu ke waktu. Jumlahnya semakin tergerus. Ini tentu menjadi alarm bagi pemerintah pusat dan daerah untuk lebih memperhatikan jumlah pengrajin di Desa Klampar. Sebab, pengrajin merupakan ujung tombak produksi batik yang ada di Klampar bahkan di Pamekasan pada umumnya. Apalagi selama ini Klampar dikenal luas sebagai kampung batik yang di dalamnya terdapat banyak pengrajin dan pedagang batik. Namun ironinya, tidak ada upaya dari pihak-pihak terkait untuk melakukan regenerasi pembatik yang ada di Klampar. Jika jumlah pembatik ini terus menurun, maka bukan tidak mungkin, cepat atau lembat, Klampar akan mengalami krisis pembatik. Dan hal itu akan sangat berpengaruh terhadap kelestarian batik, khususnya batik khas Klampar. 

Hemat saya, regenerasi pembatik di Klampar bukanlah persoalan sepele. Kita tidak boleh memandang problem ini dengan sebelah mata. Menganggap hal tersebut sebagai sebuah keniscayaan zaman. Sungguh, pikiran dan anggapan semacam itu perlu dibuang jauh-jauh. Sebab, perkara ini menyangkut dengan warisan agung leluhur yang perlu terus dijaga oleh generasi sekarang dan seterusnya. Kita semua tidak mau Kampung Batik Klampar sirna begitu saja. Lenyap tanpa bekas. Kita tidak ingin nama Klampar sebagai kampung batik yang tersohor kelak hanya menjadi cerita-cerita dari lisan ke lisan. Hanya menjadi catatan sejarah yang hilang jejak-jejaknya. Saya percaya betul, masih ada waktu dan kesempatan untuk melakukan perbaikan dan pembenahan di segala sektor yang berkaitan dengan pelestarian batik Klampar. Termasuk bagaimana cara melahirkan kader-kader pembatik yang siap menjadi ujung tombak pelestarian budaya lokal.

Apalagi saat ini sedang marak-maraknya, Pilkada serentak. Khususnya di Pamekasan yang mana kandidatnya juga bersaing ketat untuk menduduki kursi kekuasaan di Bumi Gerbang Salam. Visi, misi, dan program-program yang ditawarkan, saya rasa harus juga menyentuh sektor kebudayaan lokal. Hendak di bawa ke mana Kampung Batik Klampar? Bagaimana upaya yang akan dilakukan untuk menggenjot jumlah pengrajin batik? Kebijakan dan program apa yang akan ditawarkan untuk meningkatkan kesejahteraan pembatik? Memang, cukup carang calon pemimpin daerah yang menyinggung pelestarian budaya lokal. Biasanya yang dijanjikan adalah terkait pembukaan lapangan kerja secara umum, pendidikan murah dan merata, pemberantasan korupsi, dan semacamnya. Terkait batik dan pengrajin batik biasanya menyusul. Itu pun kalau ingat. 

Diperlukan perencanaan yang jelas dan terarah, strategi jitu, dan program yang berkelanjutan untuk melakukan regenerasi pembatik di Klampar. Hal itu sebagai upaya nyata untuk mencegah terjadinya krisis pembatik yang berkepanjangan. Sebab, jika tidak segara ditangani, bukan tidak mungkin nantinya Klampar tidak memiliki nilai jual. Tidak ada yang istimewa di dalamnya sebab kehabisan stok pengrajin. Dibutuhkan sinergi dan kolaborasi antara pemerintah, swasta, komunitas seni, dan pemuda lokal untuk segera mendorong regenerasi pembatik. Baik itu melalui bantuan pelatihan, kemitraan, pendanaan, dan semacamnya. Intinya bagaimana membuat pembatik di Klampar semakin bergairah untuk produksi. Intinya bagaimana Kampung Batik Klampar semakin hidup dan lestari. Sekali lagi, yang namanya regenerasi pembatik tidak bisa ditawar dan ditunda lagi. Karena hal itu menyangkut nasib batik Klampar, Kampung Batik Klampar, dan kelestarian budaya lokal tentunya. Hal itu juga menyangkut kepedulian kita terhadap warisan leluhur bangsa.


Oleh: Aufal Fresky

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Featured Post

Pelestarian Batik Madura Butuh Regulasi Terarah

  Sejak beberapa tahun terakhir, saya  bergelut di bidang usaha batik tulis Madura. Selain karena dukungan keluarga, faktor lingkungan juga ...