Setelah menikmati 79 tahun kemerdekaan, muncul beberapa pertanyaan dalam benak saya. Di antaranya adalah apa sumbangsih yang sudah kita berikan untuk bangsa dan negeri tercinta? Bagaimana mengungkapkan rasa cinta Tanah Air dengan beragam kegiatan positif dan produktif? Tentu saja pertanyaan-pertanyaan tersebut membayangi akal pikiran saya. Terus-terusan saya mencoba mencari dan berupaya menggali apa yang bisa saya persembahkan untuk Ibu Pertiwi ini. Dan pada akhirnya, saya perlahan menemukan cara sederhana dan langkah kecil yang mungkin bisa saya berikan. Salah satunya yaitu lewat jalur jurnalistik. Ya, saya pribadi ingin turut ambil peran dalam proses pencerdasan bangsa. Menulis menjadi salah satu cara menawarkan gagasan dan ide-ide progresif terkait banyak hal.
Belenggu penjajahan sudah lama hilang. Jepang dan Belanda sudah tidak lagi menjajah bangsa dan negara ini. Kita tidak lagi berperang dengan bangsa asing secara fisik. Namun, apakah kemerdekaan yang telah kita raih sudah menjadi akhir dari segalanya? Bukankah kemerdekaan yang kita raih adalah hanyalah jembatan emas untuk meraih cita-cita bangsa ini? Setelah dipikir-pikir lagi, memang kita sudah terlepas dari jeratan imperialisme dan kolonialisme. Secara de jure dan de facto bangsa ini merdeka dan berdaulat. Tapi, sekali lagi, pekerjaan rumah yang menanti masih menumpuk. Perjalanan masih panjang. Perjuangan bangsa ini masih belum selesai. Setiap elemen masyarakat, khususnya anak-anak muda sebagai generasi penerus, perlu berkaca pada masa silam bangsa. Tentu saja agar spririt perjuangan tokoh di masa lampau bisa kita warisi. Melalui segenap potensi yang kita miliki, saya yakin masing-masing dari kita bisa berperan. Saya sendiri memilih berjuang melalui pena. Sebab inilah salah satu passion saya. Saya mencintai dunia tulis menulis dengan segenap jiwa.
Jika dipelajari dari sejarah perjalanan bangsa ini, kemerdekaan yang kita raih bukanlah hadiah atau pemberian secara cuma dari pihak penjajah. Bukan karena belas kasihan mereka. Tapi, ada tetesan keringat dan darah para pahlawan bangsa yang telah gugur mendahului kita. Artinya, kemerdekaan ini tidak secara instan kita dapatkan. Sudah pantas jika generasi saat ini mengisi kemerdekaan ini dengan hal-hal yang berdampak positif bagi kemajuan bangsa dan negara. Hal ini juga sebagai ungkapan rasa syukur ke hadirat Allah, yang telah membebaskan bangs aini dari belenggu penjajahan, Lewat tulisan ini juga, saya ingin mengajak pembaca sekalian untuk merenung dan meninjau kembali apa-apa yang telah terlewati. Belajar dari sejarah akan membuat pemikiran dan kepribadian semakin dewasa dan matang. Semakin mengenal bangsa dan negara ini, rasa cinta itu akan tertanam secara perlahan.
Kembali lagi, terkait peran kita untuk mengisi kemerdekaan, kita bisa memilih banyak jalur. Seperti halnya lewat dunia jurnalistik, pendidikan, usaha, budaya, politik, dakwah, dan semacamnya, Intinya, gerak langkah kita sebisa mungkin bisa menjadikan Indonesia semakin maju. Segala tindakan kita, sebisa mungkin dikerahkan untuk mengangkat harkat dan martabat bangsa. Lebih-lebih di dunia internasional. Indonesia harus menjadi mercusuar peradaban dunia. Percayalah, kita adalah bangsa yang besar yang memiliki ragam kebudayaan yang unik, luhur, dan estetik. Terdapat banyak local wisdom yang bisa digali dan diambil untuk diterapkan dalam kehidupan sehari -hari kita. Indonesia menyimpan ribuan bahkan jutaan mutiara terpendam. Semua kembali ke diri kita sendiri. Bagaimana memanfaatkan mutiara-mutiara tersebut agar bisa terasa manfaatnya untuk seluruh rakyat Indonesia.
Indonesia adalah negeri elok dan mempesona yang sangat disayangkan jika dibiarkan tanpa dirawat dan dikelola dengan baik. Betapa banyak rakyat Indonesia yang masih kesulitan untuk mencari penghidupan di Tanah Air-nya sendiri. Padahal, kekayaan alamnya melimpah. Mulai dari lautnya hingga potensi pertaniannya. Ternyata kita belum sepenuhnya merdeka dari kemiskinan. Belum lagi berbicara pendidikan yang masih belum mampu mencerdaskan kehidupan bangsa. Tidak meratanya akses dan kesempatan untuk mengenyam pendidikan layak masih menjadi persoalan. Kesejahteraan guru juga timpang. Ada yang per bulan hanya mendapatkan ratusan ribu rupiah. Sungguh, tidak cukup memenuhi kebutuhan minimal. Apalagi harga-harga bahan pokok juga melambung. Fasilitas pendidikan di pelosok dan kota juga belum sepenuhnya merata. Hal itu mempengaruhi kualitas sumber daya manusia (SDM) kita yang juga tidak merata. Ternyata, kita belum terbebas dari kebodohan. Kebodohan yang terkadang secara sengaja didesain secara sistemik. Kebodohan yang kadang dipengaruhi oleh para pengambil kebijakan yang tidak berpikir secara matang dan komprehensif.
Pada akhirnya, saya sendiri, seperti yang telah disampaikan di paragraf pertama tadi, akan mencoba berjuang dengan tulisan. Tentu saja untuk ikut menjadi pelita di tengah mayarakat. Sebab, perjuangan melawan kebodohan dan kemiskinan ini bukan hanya menjadi tanggung jawab dan tugas pemerintah. Kita semua perlu memainkan peran di bidang kita masing-masing. Seorang pengusaha misalnya, bisa berjuang memberantas kemiskinan dengan memberdayakan masyarakat lokal dalam pekerjaannya. Guru/dosen juga bisa berkontribusi membagikan di luar ruang kelas untuk masyarakat yang memerlukan. Terutama sebagai bekal untuk bekerja. Jika semua dari kita peka dan peduli, saya yakin perlahan kebodohan dan kemiskinan ini akan teratasi. Tentu saja dengan dukungan kebijakan dan program yang terencana, terarah, dan berkesinambungan dari pemerintah. Melalui tulisan ini, saya mengajak Anda semua untuk melihat dengan lebih jernih lagi situasi dan kondisi bangsa ini. Persoalan-persoalan apa yang sedang dihadapi. Lalu mulai beraksi dan berkontribusi. Sebab, masalahnya bukan hanya kebodohan dan kemiskinan. Masih banyak. Ada ancaman radikalisme, narkoba, miras, dan judi online dan sebagainya. Mari bersatu padu mengisi kemerdekaan ini dengan hal-hal yang produktif. Indonesia memerlukan aksi nyata kita. Kalau tidak sekarang kapan lagi? Kalau bukan dari diri kita, siapa lagi? Kita harus bersama-sama melunasi janji kemerdekaan.
Oleh: Aufal Fresky

Tidak ada komentar:
Posting Komentar