Mendengar istilah 'glowing', bayangan saya tertuju pada perempuan dengan wajah yang putih mulus tanpa noda. Istilah tersebut kerap kali dipakai sebagai standarisasi kecantikan wajah kaum Hawa. Seolah-olah wajah bening itu menjadi patokan utama kecantikan. Lantas bagaimana nasib perempuan yang kulitnya tidak putih. Apakah mereka dikategorikan perempuan kurang menarik? Saya tegas menjawab: Tidak.
Penilaian terkait kecantikan wajah itu relatif dan subjektif. Standar kecantikan setiap orang berbeda-beda. Belum tentu perempuan dengan warna kulit berkilau itu otomatis menarik. Saya rasa pengaruh iklan produk kosmetik dan tontonan drama Korea yang semakin digandrungi milenial juga berpengaruh terhadap konsep kecantikan. Ini ada hubungannya dengan perang kebudayaan antarnegara. Siapa yang lebih kuat dan berpengaruh, akan mendominasi percaturan budaya skala global. Kepentingan ekonomi suatu negara ada di baliknya. Ada aktor yang dengan sengaja merebut pasar milenial dengan mengendalikan pikirannya, semisal melalui tontonan.
Konsep perempuan cantik itu wajahnya harus putih dan mulus sengaja diciptakan untuk kepentingan ekonomi. Artis-artis bermuka 'glowing' ditampilkan untuk merebut pasar kaum muda. Lagi-lagi ini ada sangkut-pautnya dengan strategi bisnis untuk memikat kaum muda agar membeli produk kecantikan seperti yang dipakai publik figur tersebut.
Bahkan, tidak jarang ada juga yang sengaja operasi plastik untuk memiliki wajah yang mulus dan seksi. Tidak peduli berapa biaya yang dikeluarkan, yang penting wajahnya bisa putih, halus, dan berkilau. Baginya, rupa menawan seperti artis Korea adalah segalanya.
Lantas, apakah saya sengaja menulis catatan ini untuk memojokkan atau menyalahkan perempuan yang rajin perawatan? Tentu saja tidak. Merawat tubuh seperti halnya wajah, adalah salah satu bentuk syukur kita kepada Tuhan dalam rangka menjaga pemberiannya. Perlu diperjelas lagi, bahwa yang saya tekankan dalam tulisan ini warna kulit putih itu bukan patokan kecantikan. Tidak perlu terlalu memaksakan apabila memang dari sananya kulit kita berwarna hitam atau cokelat misalnya. Semua itu adalah anugerah Tuhan. Lain halnya jika kita menjaga agar kulit wajah tidak kusam atau kusut, itu beda bahasan.
Menjaga wajah agar tetap 'ayu' (cantik) itu hal wajar bagi perempuan. Namun, 'inner beauty' (kecantikan dari dalam) itu jangan sampai dilupakan. Bahkan, itu menjadi hal utama untuk menjadi pribadi menarik. Tidak sekadar 'meng-glowing-kan' wajah dengan aneka 'skincare'. Hati juga perlu dibersihkan dan dirawat intens dengan mengaji, berzikir, bersalawat, salat, hadir majelis taklim, tahajjud, dan amalan-amalan sunnah lainnya.
Silahkan berdandan sebaik mungkin, asal jangan lupakan kecantikan hati. Merawat hati agar tetap bersinar tentu saja memerlukan kesadaran. Kita harus tahu dan paham bahwa merawat hati akan berdampak pada keanggunan akhlak kita. Percayalah, wajah jelita itu terbatas waktu. Ada kalanya akan semua kulit akan menua dan keriput. Lantas kenapa sebagian perempuan mati-matian mengejar kecantikan wajah yang tak abadi?
Sebab itu, membersihkan dan merawat hati akan menjadikan seorang perempuan memiliki kepribadian mulia. Ini juga berlaku bagi kaum Adam. Artinya, kecantikan dari dalam itu jauh lebih besar dampaknya dalam kehidupan. Tidak hanya di dunia, tapi kelak di akhirat. Sebab, orang yang memiliki hati bersih, biasanya cenderung memiliki tutur kata dan sikap yang penuh dengan kelembutan dan kasih sayang.
Apa yang nampak pada dhohir seseorang adalah biasanya cerminan batinnya. Maka penting untuk selalu mengasah batin kita agar terkoneksi dengan Allah dan Rasulullah SAW agar akhlak kita menjadi mulia. Silahkan, rawat fisik seoptimal mungkin, tapi jangan sampai ketinggalan batin perlu dirawat juga, bahkan harus lebih diprioritaskan.
Kesimpulan dari uraian di atas adalah kaum perempuan perlu lebih memperhatikan kecantikan hati dengan memperbanyak ibadah. Selain itu, perlu berupaya agar tidak memiliki sifat iri, riya', takabbur, ujub, dan segala penyakit hati lainnya, agar hati semakin bercahaya. Percayalah, kecantikan fisik akan sirna, kelembutan hati akan terkenang selamanya.
Oleh: Aufal Fresky
Desa Klampar, Pamekasan
Senin, 19 Oktober 2021
12.14 WIB
Sumber ilustrasi: pinterest.com
.jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar