Rabu, 11 Maret 2015

Indonesia di Pusaran MEA




Awal tahun merupakan pintu terbukanya perkonomian di ASEAN. Indonesia adalah salah satu negara yang termasuk di dalamnya. Geliat perekonomian ASEAN belum  begitu nampak,  hal itu adalah suatu kewajaran mengingat  semua negara-negara di Asia Tenggara perlu penyesuaian terkait integrasi ekonomi tersebut. Ke depannya, Indonesia akan mempunyai tantangan terkait beberapa regulasi nasional yang perlu penyesuaian terhadap integrasi ekonomi kawasan ASEAN. Selain penyesuaian regulasi nasional, salah satu pekerjaan rumah yang harus dibenahi bersama yaitu terkait koordinasi antar sektor perekonomian. Sebagai pemangku kebijakan,  pemerintah perlu cermat dalam menjalankan kontrol terhadap perekonomian nasional. Hal tersebut menjadi penting, karena ekonomi tidak hanya berbicara mengenai kepentingan nasional, melainkan hak-hak masing-masing Individu yang dilindungi secara konstitusi. Salah satunya telah disebutkan dalam salah satu pasal UUD 1945 yang berbunyi “potensi, inisiatif dan daya kreasi setiap warganegara dikembangkan sepenuhnya dalam batas-batas yang tidak merugikan masyarakat umum”. Artinya meskipun arus barang dan jasa dari berbagai negara ASEAN bebas keluar masuk Indonesia, pemerintah tetap harus menjadikan semangat ekonomi yang telah diamanahkan UUD 1945 sebaga patokan dalam membuat regulasi alternatif.
Salah satu tantangan ekonomi nasional ke depannya yaitu terkait kualitas sumber daya manusia, struktur kelembagaan yang belum tertata, tumpang tindihnya peraturan daerah dan pusat, dan masalah infrastruktur yang belum memadai. Terkait kualitas SDM, yaitu seperti masih banyaknya manusia Indonesia yang belum mengenyam pendidikan tingggi, rendahnya kecakapan dalam menguasi teknologi informasi dan sebagainya. Selanjutnya terkait struktur kelembagaan yaitu banyak badan ekonomi nasional maupun swasta yang masih belum tertata dengan baik dalam mengawal integrasi ekonomi tersebut. Di sisi lain peraturan terkait bidang ekonomi antara pusat dan daerah masih sering tumpang tindih, sehingga hal tersebut menyebabkan miskomunikasi dan miskordinasi antara lembaga, terakhir adalah terkait kualitas infrastrukur yang masih memadai dan memenuhi standart, misalnya masih banyak pelabuhan yang belum memenuhi unsur kelayakan.
Selain hal di atas, tantangan lainnya yaitu terkait pengembangan ekonomi lokal berbasis budaya sepertinya masih stagnan dan jalan di tempat. Padahal Indonesia berada di pusaran perekonomian ASEAN. Cepat atau lambat semua harus melakukan kreasi dan inovasi untuk tetap berdiri tegak menghadapi persaingan dengan negara lain. Tantangan yang ada bukan untuk dihindari, melainkan dijadikan sebagai kesempatan untuk mengembangkn seluruh potensi perekonomian nasional. Proses pengembangan inilah yang perlu dikawal oleh sema pihak terutam pemerintah sebagai pemegang kedaulatan rakyat.
Pengembangan ekonomi nasional terkadang juga dihambat oleh berbelit belitnya masalah administrasi dan perijinan untuk mendirikan suatu usaha. Hal tersebut mengindikasikan bahwa masih belum ada kesatuan pandangan antara birokrat terkait masalah administrasi dan perizinan tadi. Secara logika, bagiamana mau berkembang  di kawasan ASEAN, jika pelaku ekonomi sendiri dihambat oleh internal bangsanya sendiri.
Terakhir adalah tantangan yang cukup berat dalam memasuki MEA tersebut yaitu, masih banyaknya mafia-mafia dalam negri yang menghambat proses tercapainya goal suatu kebijakan terkait ekonomi, Misalnya mafia migas. Oleh karenanya marilah kita semua berbenah.

Penulis : Muhammad Aufal Fresky ( Mahasiswa S1 Program Studi Ekonomi Pembangunan Universitas Airlangga)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Featured Post

Pelestarian Batik Madura Butuh Regulasi Terarah

  Sejak beberapa tahun terakhir, saya  bergelut di bidang usaha batik tulis Madura. Selain karena dukungan keluarga, faktor lingkungan juga ...