Sabtu, 02 Agustus 2014

Mencetak Generasi EO atau Pemimpin Ideologis ? ( Suatu Gagasan untuk BEM UA)


  Alhamdulilah saya mendapatkan sedikit gagasan dari diskusi kultural dengan kawan-kawan di warkop (ramones), salah satu gagasannya adalah mengenai pembentukan struktur ideal dari badan eksekutif kampus dan bagaimana seharusnya BEM universitas bekerja. Saya bukanlah mahasiswa perfect dengan segala gagasan ideal yang patut untuk ditiru, saya juga bukan mahasiswa perfect dengan IPK 4,1  yang patut untuk ditauladani. Saya hanyalah bagian dari mahasiswa yang ingin ikut menyumbangkan sedikit gagasan untuk Badan Eksekutif Mahasiswa Airlangga.
   Dari tahun ke tahun UA tidak pernah sepi dari acara-acara besar entah itu dalam skala Internasional ataupun nasional. Pengadaan acara tersebut tidak pernah terlepas dengan siapa yang mempunyai wewenang untuk menyelenggarakannya, dan kebetulan dalam ranah universitas yang mempunyai wewenang adalam bagian eksekutif mahasiswa. Banyak program kerja yang menjadi rencana dari kepengurusan BEM, sebelum disepekati program kerja tersebut harus melalui tahapan yang namanya rapat kerja selama satu kepengurusan. Rapat kerja merupakan agenda dari BEM yang harus diselenggarakan sebelum mereka mengeksekusi segalam jenis kegiatan selama satu kepengurusan. Masing-masing bidang akan mempresentasikan programnya dalam satu tahun ke depan. Setiap bidang mempunyai patokan anggaran dana yang akan digunakan untuk menyelenggarakan programnya tersebut. Sejauh yang saya tahu sumber pendanaan BEM berasal dari rektorat, sponsor maupun pendanaan melalui usaha internal BEM seperti berjualan pernak-pernik maupun komoditas lainnya.
    Acara yang biasa diadakan oleh anak BEM biasaya menyangkut banyak hal seperti pelatihan, seminar, pengabdian masyarakat, turnamen olahraga, festival band, lomba karya ilmiah dan masih banyak lagi. Perlu diketahui bahwasanya acara-acara tersebut memerlukan biaya yang tidak sedikit apalagi seminar skala nasional dengan pemateri tokoh nasional. Dana yang dikeluarkan BEM tidak tanggung-tanggung biasanya selama satu kepengurusan ratusan juta bisa dikeluarkan untuk memenuhi hajat program yang mereka rencanakan.
   Di sini yang saya bicarakan bukanlah masalah anggaran dana ataupun cara memperoleh dana dari anak2 BEM, melainkan bagaimana idealnya para pengurus BEM menjadi sosok mahasiswa yang mempunyai krakater semacam Prabu Airlangga dari Jawa ataupun Raja Iskandar Muda dari Aceh, yaitu karakter kepemimpinan yang kuat. Sejauh yang saya tau kebanyakan sepak terjang dari mereka sebatas bagaimana suatu program kerja terlaksana dengan baik, padahal lebih dari itu ada hal urgent yang patut untuk diketahui. Hal tersebut adalah landasan serta urgensi dari program tersebut terhadap peningkatan jiwa kepekaan sosial dan intelektualitas mahasiswa itu sendiri. Saya rasa jika BEM hanya mengadakan acara Seminar selama satu kepengurusan itu tidak jauh beda dengan OSIS SMA yang bisa juga mengadain acara tersebut. Lantas  yang membedakan kedua organisasi tersebut adalah cara berfikir dan cara memandang esensi serta urgensi dari program yang mereka rencanakan. Sudahkah program tersebut benar-benar diteliti dengan baik ??? Hanya anak-anak BEM dan Tuhan yang tahu.
    Pengurus BEM bukanlah sekumpulan anak-anak kurang kerjaan dengan orientasi mencari jaringan semata, lebih dari itu adalah orang-orang terpilih yang mempunyai amanah besar untuk meningkatkan intelektualitas dan jiwa kepemimpinan mahasiswa Airlanga. Mereka terpilih melalui mekanisme tertentu, jadi sangat tidak patut jika ada pengurus yang semena mena akan jabatannya.
    BEM bukan hanya wadah bagi mahasiswa untuk menjadi penyelenggara kegiatan semata, lebih dari itu merupakan tempat penggemblengan karakter serta jiwa kepemimpinan mahasiswa. Pemimpin tidak pernah terlahir hanya dengan bisa mengadakan acara seminar ataupun pelatihan semata, pemimpin terlahir dari suatu pembenahan intelektualitas secara kontinu serta pengemblengan karakter secara terus menerus oleh pemangku jabatan tertinggi di BEM yatu Ketua BEM dan Wakil Ketua BEM UA. Pada dasarnya semua pengurus BEM mempunyai tanggung jawab sendiri-sendiri namun porsi paling besar tertuju pada pucuk pimpinannya. Konsekuensi dari pernyataan saya tadi adalah bahwasanya BEM Universitas harus mempunyai   gagsan ideologis yang akan disusung selama satu kepengurusan. Gagasan Ideologis berbeda dengan visi, karena saya yakin masalah visi mereka pasti paham.
    Gagasan Ideologis di sini mempunyai arti bahwa BEM setidaknya mempunyai arah dan konsep organisasi yang dilandasi oleh kultur mahasiswa UA saat ini, jadi mereka tidak hanya bisa menjalankan program kerja dari kepengurusan sebelumnya ataupun program kerja mereka yang baru, lebih dari itu mereka mengerti sedalam-dalamnya tentang seluk beluk keadaan mahasiswa UA sehingga dengan begitu bisa mengkonsep atau merancang pembentukan watak ideologis serta kultur akademis yang mumpuni. Berbeda dengan visi yang bersifat Top Down,  gagasan ideologis lebih mencerminkan realitas yang sedang terjadi di UA, jadi lebih bersifat Bottom Up.
    Dari realitas mahasiswa UA bisa ditarik sebuah wacana mengenai budaya yang sedang terjadi di UA, oleh karena itu di sini diharapakan peran BEM lebih menggelora lagi untuk menciptakan tatanan serta kultur yang lebih baik lagi bagi mahaiswa.
   Masalah struktur kepengurusan BEM saya yakin sudah ditata dengan baik, namun yang saya sayangkan adalah mengenai informasi siapa saja yang menjadi menteri ataupun pengurus di dalamnya, apaka saya harus berkunjung ke websitenya BEM UA terlebih dahulu untuk sekedar tau ? saya kira hal itu setiap mahasiswa bisa melakukannya, namun kenapa yang terpampang hanya foto dari ketua BEM dan wakilnya, kabinetnya SBY saja ada fotonya masa mentri-mentri  UA kalah eksis , apakah pencetakan foto begitu mahal hingga para mentri tidak bisa ikut nampang seperti Ketua BEMnya tadi. Saya kira alangkah lebih baiknya jika struktur kepengurusan BEM UA di informasikan kepada kawan-kawan mahasiswa lainnya beserta fotonya, mungkin dengan cara dicetak lalu disebar di setiap fakultas di UA. Dengan begitu setiap mahasiswa tahu siapa yang menjadi mentri beserta pengurus lainnya. Dengan begitu ketika ada saran dan kritik untuk BEM UA mereka tahu kepada siapa mereka akan menghadap.
    Saya mempunyai pandangan bahwasanya pengurus BEM UA juga mempunyai tanggung jawab untuk menyebarluaskan ide-ide progresif revolusioner kepada para mahasiswa, karena kenyataannya untuk saat ini kampus seakan-akan menjadi industri pencetak tenaga kerja, padahal lebih dari itu kampus mempunyai tanggung jawab untuk membangun peradaban bangsa melalui penataan karakter dan moral mahasiwa. Jika berbicara masalah moral saya geli mendengarnya, karena kampus dengan Slogan “Unggul dengan moralitas” tidak terwadahi dalam kurikulumnya dimana pelajaran agama dan Pkn hanya mempunyai porsi yang begitu sedikit, padahal penggemblengan moral atau pengukuhan karakter orang tidak cukup hanya dengan penataan kurikulum yang baik apalagi hanya dengan program ESQ yang hanya menjadi ajang perebutan sertifikat  ber SKP.
    Hari telah bergati, zaman telah berubah namun aroma kampus masih seperti sediakala, termasuk BEM UA yang geloranya mulai surut. Saya harap para pengurus tidak tersinggung, bukankah saya bagian dari rakyat UA, jadi saya berhak menyampaikan keluh kesah untuk UA yang begitu saya cintai ini. Ini bukanlah kritikan destruktif melainkan suatu wacana konstruktif yang diharapkan akan menimbulkan benih-benih spirit para pengurus BEM untuk bekerja.
   Kampus dan BEM  mempunyai kaitan yang sangat erat dimana kepentingan mahaiswa menjadi  tujuannya. Jadi Kampus semacam negara kecil dimana kedaulatan tertinggi tetap ada di tangan mahasiswa, bahkan para pengurus BEM saat ini bisa dilengserkan jika seluruh mahasiswa airlangga menuntut untuk diganti pengurus karena tidak sesuai dengan konstitusi mahasiswa misalnya (AD/ART), namun saya harap tidak seperti itu, karena saya yakin kita bukanlah sekumpulan orang-orang barbar yang haus kekuasaan,  lebih dari itu kita adalah kumpulan orang-orang beradab yang akan menyelesaikan masalah dengan musyawarah dan mufakat.
Para pengurus BEM diharapkan mempunyai karakter kepemimpinan yang kuat serta kemampuan dalam mengatur waktu denga baik, artinya setiap pengurus dituntut benar-benar menjadi organisatoris handal, karena bagaimanapun juga mereka mewakili puluhan ribu mahasiswa Airlangga.
   Pernah saya dengar keluhan dari seoranga kawan bahwa pengurus BEM hanya bisa mengadakan acara tanpa memiliki pandangan komperhensif akan kondisi serta realitas kampusnya, atau dengan kata lain pengurus hanya bisa menjadi EO (Event Organizer). Jika dihubungkan dengan masalah idealisme, maka sudah sepatutnya kita sebagai mahasiswa terutama para pengurus BEM tersadar bahwa idealisme merupakan hal yang wajib untuk dimiliki karena Tan Malaka berujar bahwa “ idealisme adalah kemewahan terkahir yang dimiliki oleh mahasiswa”. Saya tidak pernah menyalahkan pengurus BEM yang mengadakan program kerjanya seperti seminar, namun saya hanya ingin memberikan gambaran bahwa setiap acara harus ada gol yang dituju, percuma jika setiap acara tidak memiliki kobaran idealisme yang menyala-nyala dalam setiap pergerakan para pengurus. Maksud dari kobaran idelisme yaitu mereka tidak hanya menargetkan acara  seminar dengan jumlah peserta tertentu namun ada gol jangka panjang yang harus menjdi tolak ukurnya. Saya yakin mereka pasti tau masalah gol jangka panjang tadi, namun sekedar tau itu tidak cukup. Gol jangka panjang tadi bisa berupa pembentukan manusia indonesia yang lebih berbudaya, pembentukan manusia nusantara bermoral, penataan jiwa nasionalisme, penyadaran akan rasa persatuan dan lain sebagainya. Jadi dengan adanya gol jangka panjang tersebut saya yakin setiap pengurus lebih bersemangat lagi untuk melaksanakan acara tersebut karena mereka mempunya landasan filosofis yang kuat dalam pengadaan acaranya.
     Selanjutnya masalah pemimpin ideologis, banyak orang yang mengaggap ketika dirinya telah menjabat dan berhasil mendapatkan posisi struktural di kampus, mereka merasa telah menjadi pemimpin. Perlu kita ingat bahwa setiap manusia adalah pemimpin bagi dirinya sendiri, namun ketika kita diberi amanat untuk duduk di posisi struktural kampus maka tanggung jawanya tidak hanya kepada tuhan namun kepada seluruh mahasiswa di kampus. Setiap pengurus alangkah lebih sempurnya ketika dia menjadi pemimpin ideologis, artinya dia tidak hanya sebatas pelaksana dari seluruh program kerja namun juga menjadi seorang konseptor ulung dalam menagatur oraganisasinya terutama dalam hal menata kampusnya. Pemimpin ideologis adalah orang yang mempunyai idealisme dalam sepak terjangnya serta memiliki keluhuran budi pekerti dan yang terakhir adalah kepekaan sosial yang tinggi beserta intelektualitas yang mumpuni. Jadi dengan begiru mereka tidak hanya sebatas menjadi EO namun menjadi tauladan bagi seluruh mahaiswa Airlangga, hal tersebut senada dengan pernyataan Aristoteles dalam bukunya politik yang mengungkapkan, untuk membuat para individu menjadi baik dan bijak adalah dengan membentuk sifat dasar, kebiasaan dan akal. Otomatis pernyataan Aristoteles tersebut seirama dengan hal-hal yang wajib dimiliki oleh para calon pemimpin ideologis tadi.
    Jadi harapan saya adalah para pengurus BEM tidak hanya sebatas menjadi EO dalam kepengurusannya selama satu tahun kedepan, lebih dari itu menjadi pemimpin ideologis yang berjiwa Ksatria.   Saya yakin para pengurus BEM bukan orang yang cengeng serta mudah tersinggung atas segala kritikan yang diterimanya, sehingga pada akhirnya akan tercipta pemimpin yang bermental baja serta mempunyai kobaran semangat yang terus menyala.  Harapan saya yang terakhir adalah pengurus BEM tidak hanya bisa menjadikan dirinya sendiri sebagai pemimpin namun mampu mencetak mahaiswa lainnya sebagai leader of change. 

Surabaya 22 Mei 2014
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Featured Post

Pelestarian Batik Madura Butuh Regulasi Terarah

  Sejak beberapa tahun terakhir, saya  bergelut di bidang usaha batik tulis Madura. Selain karena dukungan keluarga, faktor lingkungan juga ...