Alhamdulilah saya mendapatkan sedikit gagasan dari diskusi kultural
dengan kawan-kawan di warkop (ramones), salah satu gagasannya adalah
mengenai pembentukan struktur ideal dari badan eksekutif kampus dan
bagaimana seharusnya BEM universitas bekerja. Saya bukanlah mahasiswa
perfect dengan segala gagasan ideal yang patut untuk ditiru, saya juga
bukan mahasiswa perfect dengan IPK 4,1 yang patut untuk ditauladani.
Saya hanyalah bagian dari mahasiswa yang ingin ikut menyumbangkan
sedikit gagasan untuk Badan Eksekutif Mahasiswa Airlangga.
Dari
tahun ke tahun UA tidak pernah sepi dari acara-acara besar entah itu
dalam skala Internasional ataupun nasional. Pengadaan acara tersebut
tidak pernah terlepas dengan siapa yang mempunyai wewenang untuk
menyelenggarakannya, dan kebetulan dalam ranah universitas yang
mempunyai wewenang adalam bagian eksekutif mahasiswa. Banyak program
kerja yang menjadi rencana dari kepengurusan BEM, sebelum disepekati
program kerja tersebut harus melalui tahapan yang namanya rapat kerja
selama satu kepengurusan. Rapat kerja merupakan agenda dari BEM yang
harus diselenggarakan sebelum mereka mengeksekusi segalam jenis kegiatan
selama satu kepengurusan. Masing-masing bidang akan mempresentasikan
programnya dalam satu tahun ke depan. Setiap bidang mempunyai patokan
anggaran dana yang akan digunakan untuk menyelenggarakan programnya
tersebut. Sejauh yang saya tahu sumber pendanaan BEM berasal dari
rektorat, sponsor maupun pendanaan melalui usaha internal BEM seperti
berjualan pernak-pernik maupun komoditas lainnya.
Acara yang
biasa diadakan oleh anak BEM biasaya menyangkut banyak hal seperti
pelatihan, seminar, pengabdian masyarakat, turnamen olahraga, festival
band, lomba karya ilmiah dan masih banyak lagi. Perlu diketahui
bahwasanya acara-acara tersebut memerlukan biaya yang tidak sedikit
apalagi seminar skala nasional dengan pemateri tokoh nasional. Dana yang
dikeluarkan BEM tidak tanggung-tanggung biasanya selama satu
kepengurusan ratusan juta bisa dikeluarkan untuk memenuhi hajat program
yang mereka rencanakan.
Di sini yang saya bicarakan bukanlah
masalah anggaran dana ataupun cara memperoleh dana dari anak2 BEM,
melainkan bagaimana idealnya para pengurus BEM menjadi sosok mahasiswa
yang mempunyai krakater semacam Prabu Airlangga dari Jawa ataupun Raja
Iskandar Muda dari Aceh, yaitu karakter kepemimpinan yang kuat. Sejauh
yang saya tau kebanyakan sepak terjang dari mereka sebatas bagaimana
suatu program kerja terlaksana dengan baik, padahal lebih dari itu ada
hal urgent yang patut untuk diketahui. Hal tersebut adalah landasan
serta urgensi dari program tersebut terhadap peningkatan jiwa kepekaan
sosial dan intelektualitas mahasiswa itu sendiri. Saya rasa jika BEM
hanya mengadakan acara Seminar selama satu kepengurusan itu tidak jauh
beda dengan OSIS SMA yang bisa juga mengadain acara tersebut. Lantas
yang membedakan kedua organisasi tersebut adalah cara berfikir dan cara
memandang esensi serta urgensi dari program yang mereka rencanakan.
Sudahkah program tersebut benar-benar diteliti dengan baik ??? Hanya
anak-anak BEM dan Tuhan yang tahu.
Pengurus BEM bukanlah
sekumpulan anak-anak kurang kerjaan dengan orientasi mencari jaringan
semata, lebih dari itu adalah orang-orang terpilih yang mempunyai amanah
besar untuk meningkatkan intelektualitas dan jiwa kepemimpinan
mahasiswa Airlanga. Mereka terpilih melalui mekanisme tertentu, jadi
sangat tidak patut jika ada pengurus yang semena mena akan jabatannya.
BEM bukan hanya wadah bagi mahasiswa untuk menjadi penyelenggara
kegiatan semata, lebih dari itu merupakan tempat penggemblengan karakter
serta jiwa kepemimpinan mahasiswa. Pemimpin tidak pernah terlahir hanya
dengan bisa mengadakan acara seminar ataupun pelatihan semata, pemimpin
terlahir dari suatu pembenahan intelektualitas secara kontinu serta
pengemblengan karakter secara terus menerus oleh pemangku jabatan
tertinggi di BEM yatu Ketua BEM dan Wakil Ketua BEM UA. Pada dasarnya
semua pengurus BEM mempunyai tanggung jawab sendiri-sendiri namun porsi
paling besar tertuju pada pucuk pimpinannya. Konsekuensi dari pernyataan
saya tadi adalah bahwasanya BEM Universitas harus mempunyai gagsan
ideologis yang akan disusung selama satu kepengurusan. Gagasan Ideologis
berbeda dengan visi, karena saya yakin masalah visi mereka pasti paham.
Gagasan Ideologis di sini mempunyai arti bahwa BEM setidaknya mempunyai
arah dan konsep organisasi yang dilandasi oleh kultur mahasiswa UA saat
ini, jadi mereka tidak hanya bisa menjalankan program kerja dari
kepengurusan sebelumnya ataupun program kerja mereka yang baru, lebih
dari itu mereka mengerti sedalam-dalamnya tentang seluk beluk keadaan
mahasiswa UA sehingga dengan begitu bisa mengkonsep atau merancang
pembentukan watak ideologis serta kultur akademis yang mumpuni. Berbeda
dengan visi yang bersifat Top Down, gagasan ideologis lebih
mencerminkan realitas yang sedang terjadi di UA, jadi lebih bersifat
Bottom Up.
Dari realitas mahasiswa UA bisa ditarik sebuah
wacana mengenai budaya yang sedang terjadi di UA, oleh karena itu di
sini diharapakan peran BEM lebih menggelora lagi untuk menciptakan
tatanan serta kultur yang lebih baik lagi bagi mahaiswa.
Masalah struktur kepengurusan BEM saya yakin sudah ditata dengan baik,
namun yang saya sayangkan adalah mengenai informasi siapa saja yang
menjadi menteri ataupun pengurus di dalamnya, apaka saya harus
berkunjung ke websitenya BEM UA terlebih dahulu untuk sekedar tau ? saya
kira hal itu setiap mahasiswa bisa melakukannya, namun kenapa yang
terpampang hanya foto dari ketua BEM dan wakilnya, kabinetnya SBY saja
ada fotonya masa mentri-mentri UA kalah eksis , apakah pencetakan foto
begitu mahal hingga para mentri tidak bisa ikut nampang seperti Ketua
BEMnya tadi. Saya kira alangkah lebih baiknya jika struktur kepengurusan
BEM UA di informasikan kepada kawan-kawan mahasiswa lainnya beserta
fotonya, mungkin dengan cara dicetak lalu disebar di setiap fakultas di
UA. Dengan begitu setiap mahasiswa tahu siapa yang menjadi mentri
beserta pengurus lainnya. Dengan begitu ketika ada saran dan kritik
untuk BEM UA mereka tahu kepada siapa mereka akan menghadap.
Saya mempunyai pandangan bahwasanya pengurus BEM UA juga mempunyai
tanggung jawab untuk menyebarluaskan ide-ide progresif revolusioner
kepada para mahasiswa, karena kenyataannya untuk saat ini kampus
seakan-akan menjadi industri pencetak tenaga kerja, padahal lebih dari
itu kampus mempunyai tanggung jawab untuk membangun peradaban bangsa
melalui penataan karakter dan moral mahasiwa. Jika berbicara masalah
moral saya geli mendengarnya, karena kampus dengan Slogan “Unggul dengan
moralitas” tidak terwadahi dalam kurikulumnya dimana pelajaran agama
dan Pkn hanya mempunyai porsi yang begitu sedikit, padahal
penggemblengan moral atau pengukuhan karakter orang tidak cukup hanya
dengan penataan kurikulum yang baik apalagi hanya dengan program ESQ
yang hanya menjadi ajang perebutan sertifikat ber SKP.
Hari
telah bergati, zaman telah berubah namun aroma kampus masih seperti
sediakala, termasuk BEM UA yang geloranya mulai surut. Saya harap para
pengurus tidak tersinggung, bukankah saya bagian dari rakyat UA, jadi
saya berhak menyampaikan keluh kesah untuk UA yang begitu saya cintai
ini. Ini bukanlah kritikan destruktif melainkan suatu wacana konstruktif
yang diharapkan akan menimbulkan benih-benih spirit para pengurus BEM
untuk bekerja.
Kampus dan BEM mempunyai kaitan yang sangat
erat dimana kepentingan mahaiswa menjadi tujuannya. Jadi Kampus semacam
negara kecil dimana kedaulatan tertinggi tetap ada di tangan mahasiswa,
bahkan para pengurus BEM saat ini bisa dilengserkan jika seluruh
mahasiswa airlangga menuntut untuk diganti pengurus karena tidak sesuai
dengan konstitusi mahasiswa misalnya (AD/ART), namun saya harap tidak
seperti itu, karena saya yakin kita bukanlah sekumpulan orang-orang
barbar yang haus kekuasaan, lebih dari itu kita adalah kumpulan
orang-orang beradab yang akan menyelesaikan masalah dengan musyawarah
dan mufakat.
Para pengurus BEM diharapkan mempunyai karakter
kepemimpinan yang kuat serta kemampuan dalam mengatur waktu denga baik,
artinya setiap pengurus dituntut benar-benar menjadi organisatoris
handal, karena bagaimanapun juga mereka mewakili puluhan ribu mahasiswa
Airlangga.
Pernah saya dengar keluhan dari seoranga kawan bahwa
pengurus BEM hanya bisa mengadakan acara tanpa memiliki pandangan
komperhensif akan kondisi serta realitas kampusnya, atau dengan kata
lain pengurus hanya bisa menjadi EO (Event Organizer). Jika dihubungkan
dengan masalah idealisme, maka sudah sepatutnya kita sebagai mahasiswa
terutama para pengurus BEM tersadar bahwa idealisme merupakan hal yang
wajib untuk dimiliki karena Tan Malaka berujar bahwa “ idealisme adalah
kemewahan terkahir yang dimiliki oleh mahasiswa”. Saya tidak pernah
menyalahkan pengurus BEM yang mengadakan program kerjanya seperti
seminar, namun saya hanya ingin memberikan gambaran bahwa setiap acara
harus ada gol yang dituju, percuma jika setiap acara tidak memiliki
kobaran idealisme yang menyala-nyala dalam setiap pergerakan para
pengurus. Maksud dari kobaran idelisme yaitu mereka tidak hanya
menargetkan acara seminar dengan jumlah peserta tertentu namun ada gol
jangka panjang yang harus menjdi tolak ukurnya. Saya yakin mereka pasti
tau masalah gol jangka panjang tadi, namun sekedar tau itu tidak cukup.
Gol jangka panjang tadi bisa berupa pembentukan manusia indonesia yang
lebih berbudaya, pembentukan manusia nusantara bermoral, penataan jiwa
nasionalisme, penyadaran akan rasa persatuan dan lain sebagainya. Jadi
dengan adanya gol jangka panjang tersebut saya yakin setiap pengurus
lebih bersemangat lagi untuk melaksanakan acara tersebut karena mereka
mempunya landasan filosofis yang kuat dalam pengadaan acaranya.
Selanjutnya masalah pemimpin ideologis, banyak orang yang mengaggap
ketika dirinya telah menjabat dan berhasil mendapatkan posisi struktural
di kampus, mereka merasa telah menjadi pemimpin. Perlu kita ingat bahwa
setiap manusia adalah pemimpin bagi dirinya sendiri, namun ketika kita
diberi amanat untuk duduk di posisi struktural kampus maka tanggung
jawanya tidak hanya kepada tuhan namun kepada seluruh mahasiswa di
kampus. Setiap pengurus alangkah lebih sempurnya ketika dia menjadi
pemimpin ideologis, artinya dia tidak hanya sebatas pelaksana dari
seluruh program kerja namun juga menjadi seorang konseptor ulung dalam
menagatur oraganisasinya terutama dalam hal menata kampusnya. Pemimpin
ideologis adalah orang yang mempunyai idealisme dalam sepak terjangnya
serta memiliki keluhuran budi pekerti dan yang terakhir adalah kepekaan
sosial yang tinggi beserta intelektualitas yang mumpuni. Jadi dengan
begiru mereka tidak hanya sebatas menjadi EO namun menjadi tauladan bagi
seluruh mahaiswa Airlangga, hal tersebut senada dengan pernyataan
Aristoteles dalam bukunya politik yang mengungkapkan, untuk
membuat para individu menjadi baik dan bijak adalah dengan membentuk
sifat dasar, kebiasaan dan akal. Otomatis pernyataan Aristoteles
tersebut seirama dengan hal-hal yang wajib dimiliki oleh para calon
pemimpin ideologis tadi.
Jadi harapan saya adalah para
pengurus BEM tidak hanya sebatas menjadi EO dalam kepengurusannya selama
satu tahun kedepan, lebih dari itu menjadi pemimpin ideologis yang
berjiwa Ksatria. Saya yakin para pengurus BEM bukan orang yang cengeng
serta mudah tersinggung atas segala kritikan yang diterimanya, sehingga
pada akhirnya akan tercipta pemimpin yang bermental baja serta
mempunyai kobaran semangat yang terus menyala. Harapan saya yang
terakhir adalah pengurus BEM tidak hanya bisa menjadikan dirinya sendiri
sebagai pemimpin namun mampu mencetak mahaiswa lainnya sebagai leader of change.
Surabaya 22 Mei 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar