Sabtu, 02 Agustus 2014
Menggelorakan Aktivisme Kampus (Gagasan Untuk BEM Fakultas dan UKF )
Waktu telah berganti, zaman telah berubah. Era kita bukan lagi
reformasi apalagi era revolusi. Namun sebagai generasi bangsa, banyak
hikmah yang bisa dipetik dari kejadian bersejerah tersebut. Penurunan
Sukarno dan Suharto adalah hasil sebuah dialektika politik pemuda tanah
air waktu itu. Kekuatan pemuda sangat besar, karena pada masa mudalah
gelora semangat mencapai titik tertinggi, pada masa mudalah idealisme
suci terbentuk. Di balik itu semua ada beberapa kejanggalan ketika masa
pasaca reformasi membentuk watak dan karakter pemuda tanah air terutama
Mahasiswa. Memang sekarang Suharto telah tiada, namun beliau menigalkan
beberapa jejak yang begitu nyata, terutama dalam aktivisme kampus.
Sejarah telah membuktikan bahwa hegemoni kekeuasaan waktu orba telah
mempersempit ruang-ruang mahasiswa untuk beraktualisasi bahkan dalam
melakukan diskusi intelektual juga mengalami penjagaan oleh oknum pada
masa itu. Berbagai macam regulasi di keluakan untuk menghambat serta
mempersempit ruang gerak mahasiswa pada waktu itu, tujuannya adalah agar
mahasiswa tidak ikut campur serta tidak banyak bicara mengenai politik
nasional, sehingga dengan begitu mereka hanya disibukkan oleh kegiatan
akademis belaka. Kenyataannya mahasiswa pada waktu itu memberonta,
mereka mempunyai kesadaran akan fungsi dan peranannya sebagai penyambung
lidah rakyat Indonsia, hingga meledaklah peristiwa Reformasi 98 yang
megakibatkan Suharto mundur. Kejadian tersebut merupakan rentetaan
sejarah yang terjadi sebelumnya dan merupakan hasi dunia aktivisme
kampus yang begitu menggelora
Seiring berjalannya waktu,
dunia kampus telah mengalami banyak perubahan, hal tersebut adalah suatu
kewajaran tersendiri karena pada dasarnya segala sesuatu pasti berubah,
namun yang menjadi pertanyaan adalah apakah dunia kampus berubah ke
arah lebih baik atau malah sebaliknya, hanya kita yang bisa
menyadarinya Selama saya kuliah banyak hal yang saya rasakan
kejanggalannya, entah itu karena sifat saya yang sok kritis atau jiwa
saya yang memberontak, yang jelas niat saya hanya satu yaitu menjadikan
kampus sebagai ajang pergulatan intelektual sekaligus wahana aktivisme
bagi mahasiswa. Di kampus, terutama di fakultas ekonomi ada beberapa
organisasi internal seperti BEM fakutas dan UKF ( Unit Kegiatan
Fakultas). Salah satu kejanggalan yang saya rasakan adalah
mulai surutnya dunia aktivisme kampus, maksudnya adalah kurang adanya
tempat yang disediakan oleh organisasi internal kampus entah itu BEM
Fakultas maupun UKF yang bisa mengasah ketajaman intelektual dan daya
kritis mahasiswa. Salah seorang teman dengan nama samaran Rika,
mengatakan BEM Fakultas sudah mengadakan kegiatan diskusi rutin, lantas
kawan-kawan pasti bertanya bukankah itu sudah aktivisme kampus yang
mulai tertata. Saya tegaskan sekali lagi aktivisme mahasiswa yang ideal
itu ada tiga hal yaitu membaca, menulis dan diskusi. Memang jikalau BEM
fakultas mengklaim bahwa telah menyemarkaan dunia aktivisme kampus, saya
acungi dua jempol, namun pertanyaan saya adalah mengapa mahasiswa FEB
banyak yang kurang mendapatkan informasi akan adanya kegiatan tersebut
dan apakah kegiata tersebut sudah disosialisasikan secara massif, hanya
pengurus BEM fakultas yang tau.
Bagaimanapun juga realitas
sejarah era orba mempunyai dampak terhadap kehidupan mahasiwa sekarang.
Pernyataan mahasiswa “back to campus” mempunyai dampak kegiatan
mahasiswa hanya difokuskan pada kegaiatan akademik semata, padahal
kegiatan organisasi juga merupakan wahana pertarungan pemikiran bagi
para mahasiswa serta alat untuk menempa mental dan kepribadian
mahasiswa. Saya bukanlah mahasiswa yang sok kritis dengan suara lantang
serta merta mengkritik BEM Fakultas, hal ini merupakan sebuah
keniscayaan serta wacana yang memang haruslah diangkat ke permukaan.
Beberapa hari yang lalu saya mengritisi BEM Universitas, sekarang
sebagai warga FEB sudah selayaknya saya mempunyai kesempatan untuk
memberikan wacana yang membangun fakultas yang begitu saya cintai ini.
Sebagai waga FEB, salah satu harapan saya adalah mulai tumbuhnya iklim
diskusi yang bisa menimbulkan semnagat membaca dan menulis di kalangan
mahasiswa Fakultas ekonomi. Satu hal yang perlu saya sampaikan,
terkadang mahasiswa menulis hanya untuk event tertentu bahkan hanya
dengan tujuan untuk memenangkan suatu kompetisi, memang hal itu baik,
namun ada satu tujuan yang mungkin terlewatkan oleh kawan-kawan yaitu
aktivitas kita dalam menulis sudah selayakanya ditujukan untuk
memberikan pencerdasan bagi generasi bangsa dalam rangka pengabadian
kita sebagai golongan intelektual dengan tidak perlu memperhatikan
adanya suatu kompetisi atau tidak. Kita patu mencontoh Sukarno dkk yang
menulis bukan hanya untuk dipuji ataupun menerima penghargaan
Internasioanal, mereka menulis sebagai wujud pengabdia kepada bangsa dan
untuk melawan imprialisme, sungguh luhur niat mereka.Saya
pribadi sudah bosen mengkritik BEM Fakultas sebagai EO, karana pada
dasarnya itulah pekerjaan mereka. Sekarang saya ingin mengangkat sisi
lain dari Bem Fakultas dan UKF dalam menghidupkan kembali ruh dan jiwa
aktivis-aktivis kampus. Perlu ditekankan yang namanya aktivis tidak
serta merta erat dengan demonstrasi, lebih dari itu yang namanya aktivis
adalah kumpulan orang-orang yang mempunyai idealisme dan visi yang
luhur serta aktif dalam melakukan pergulatan intelektual serta
pergerakan sosial. Fakultas ekonomi dengan jumlah mahasiswa terbanyak
di Airlangga sudah semestinya tidak hanya melahirkan para manusia
akademis saja, lebih dari itu melahirkan manusia aktivis dengan
kemampuan akademis yang mumpuni, karena pada dasarnya kampus bukan
pencetak pencari kerja, melainkan pencetak pemimpin bangsa dan untuk
mencetak pemimpin bangsa tidak cukup hanya bergulat dengan dunia
akademis saja melainkan harus aktif di berbagai organisasi kampus.
Melemahnya aktivisme kampus, saya rasa berkaitan dengan kurang
berminatnya mahasiswa untuk mengikuti organiasi eksternal kampus seperti
HmI, GMNI, PMII dan lain semacamnya. Saya rasa ada semacam penyebaran
isu yang menyatakan ormek (organisasi mahasiwa eksterna) itu tidak baik.
Padahal ruh dan jiwa aktivis di bentuk dan ditata ketika kita ikut
organisasi tersebut, ini bukan berarti himbauan atau usaha mempengaruhi
kawan-kawan untuk ikut, namun sekedar wacana bahwa dengan mengikuti
organisasi eksternal wawasan serta pandangann kita mengenai dunia lebih
terbuka lebar, disitulah kita diajarkan arti tentang kepedulian,
kepemimpinan, nasionalisme, religiusme, dan semacamnya yang mana jarang
kita dapatkan itu semua di fakutas. Mungkin sebagian kawan-kawan
beranggapan ormek itu pasti berbau kepentingan dan politik, saya
jelasakan sekali lagi yang namanya kepentingan dan politik pasti melekat
dalam kehidupan manusia, seharusnya yang perlu dipertanyakan adalah
apakah kepentingan itu baik atau tidak, apakah proses politik tadi baik
atau tidak, semuanya kawan-kawan yang menentukan, yang jelas mengikuti
organisasi eksternal bukaknlah hal yang tabu di kalanga mahasiswa,
bahkan Sukarno dan Hatta juga seorang aktivis yang bergelut dengan dunia
organisasi. Jadi selain seorang intelektual mereka juga seorang aktivis
dan organisatoris, kita harus mencontoh beliau-beliau. Sekali
lagi wacana ini diharapkan membangkitakan semangat mahasiwa untuk
berorganisasi dan kembali aktif dalam melakukan kegiatan membaca,
menulis dan berdiskusi. Gencarnya mahasiswa yang gemar membaca dan suka
bergulat dengan dunia pemikiran akan membentuk pribadi yang cerdas, dan
dengan kecintaan mahasiswa dalam menuliskan suatu gagasan bisa mengasah
akal dan memperhalus budi para mahasiswa dan yang terakhir dengan
seringnya berdiskusi maka ruh aktivisme kampus kembali terbangun dan
pada akhirnya akan membentuk aktivis intelektual. Pertanyaan
besarnya adalah bagaimana BEM fakultas dan UKF bekerjasama dalam
menghidupkan aktivisme kampus yang mulai meredup. Salah satu kuncinya
adalah mereka bekerjasama dengan ormek dalam meningkatkan aktivisme
kampus, kerjasama di sini bukanlah transasksi politik atau saling tukar
jabatan, melainkan kerjasama dalam mengadakan suatu agenda yang bersifat
rutin dengan sasaran seluruh mahasiswa Fakultas ekonomi.
Agenda-agendanya adalah bisa berupa refleksi sejarah bangsa, pelatihan
membaca cepat, diskusi kebangsaan, Penanaman ideologi bangsa,
Pembangunan jiwa nasionalisme dan semacamnya. Saya kira ini cukup sulit
direalisasikan, namun mungkin untuk dilakukan, jika masing-masing pihak
mempunyai kesadaran yang sama dalami menggelorakan kembali aktivisme
kampus. Ingat aktivis bukanlah kumpulan para pecundang, mereka adalah
kumpulan mahasiswa yang berani melawan arus, atau dengan kata lain
mahasiswa anti mainstream. Semoga dengan adanya kegiatan membaca,
menulis dan berdiskusi oleh BEM Fakultas dan UKF bisa menimbulkan gairah
baru bagi kalangan mahasiswa fakultas ekonomi, sehingga diharapkan
aktivisme kampus kembali menyala.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Featured Post
Pelestarian Batik Madura Butuh Regulasi Terarah
Sejak beberapa tahun terakhir, saya bergelut di bidang usaha batik tulis Madura. Selain karena dukungan keluarga, faktor lingkungan juga ...
-
Masih terbayang dengan nyata di ingatan ketika bus rombongan peserta LK 1 beberapa tahun silam membawa saya ke Lawang. Dalam perjalan...
-
Suasananya asri nan meneduhkan. Gemercik suara kolam renang dan kolam ikan menjadi irama alami yang menentramkan pikiran. Pohon-pohon rindan...
-
Oleh : Valiant Mahdi Syihaby Nur Hasyim Keputusan orang-orang untuk ikut Latihan Kader 1 HMI dapat dikategorikan menjad...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar