Sabtu, 02 Agustus 2014

Mahasiswi Hijabers, Sosialita dan Jeans Ketat ( gagasan dan refleksi Untuk mahasiswi Islam di Indonesia)


    Mengutip perkataan voltaire, seorang tokoh Perancis yang mengatakan bahwa dalam hal uang semua manusia mempunyai agama yang sama. Arti dari pernyataan voltaire adalah bahwa dalam dalam  hal materi semua manusia mempunyai pandangan yang sama. Saya sebagai mahasiswa airlanga kurang sepakat dengan pernyataan tersebut karena voltaire menganggap adalah makhluk yang tidak mempunyai pandangan etis terhadap suatu hal. Jika voltaire berkata demikian maka ijinkan saya untuk berkata dalam hal fashion hampir semua mahasiswi mempunyai mindset yang sama. Kawan-kawan boleh membantah pernytaan saya, karena memang saya belum melakukan penelitian terhadap mindset para mahasiswi, saya hanya berasumsi berdasarakan fakta empiris dan logika rasional selama saya kuliah di Airlangga. Saya sendiri yakin bahwa pendapat saya tidak 100 % benar karena relalita yang ada banyak sekali karakteristik dan ciri khas yang dimiliki oleh masing-masing mahasiswi.
   Setiap mahasiswi mempnyai keunikannnya sendiri-sendiri, entah itu dari segi prinsip, karakter, sudut pandang, cara berbicara dan yang terkahir adalah cara berpakaian. Saya tidak akan membahas itu semua apalagi membicarakan tentang asmaranya para mahasiswi kampus, bagi saya itu hal yang kurang perlu, karena tidak akan membawa dampak yang signifikan bagi pengembangan karakter dari mahasiswi itu sendiri. Sorotan saya kali  ini mengenai fenemena mahasiswi muslim dengan hijab dan jeans ketatnya disertai lingkungan sosila yang mengelilinginya.
    Pernah saya lakukan suatu test kepada salah satu mahasiswi dengan pertanyaan kenapa dia enggan memakai jilbab, jawabannya adalah karena dia merasa hatinya dulu harus dihijabi lalu baru dia akan berpenampilan sebagai seorang muslimah yang taat. Saya bukan orang picik yang selalu menyalahkan setiap orang yang tidak memakai jilbab sebab bagaimanapun juga itu adalah wilayah privasi mereka yang mana telah melekat suatu prisnip terentu yang mereka ikuti.  Di sisi lain saya mempunyai kesadaran bahwa Islam adalah agama yang sempurna yang tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya lebih dari itu mengajarkan tentang banyak hal salah satu diantaranya adalah meenganai tata cara seorang muslimah dalam berperilaku dan berpenampilan. Mahasiswi muslim Indonsia bukan hanya reprensentasi segolongan manusia indonesia dengan intelektual yang mumpuni lebih dari itu mereka harus membuktikan kepada masyarakat banyak bahwa mereka adalah sekumpulan orang-orang yang mempunyai ahlak yang baik.
    Sebagai seorang mahasiswa semester tua, saya sedikit tau tentang mahasiswi di kampus.  maksud sedikit tau adalah tentang dinamika kehidupan kampus yang saya rasa stagnasinya begitu akut. Saya tidak peduli dengan sistem yang menjadikan kita sebagai produk indsutrial pendidikan, namun bagaimanapun juga menyalahkan sistem itu bukan solusi terbaik.  Kewajiban kita hanya menjadi yang tebaik dengan begitu ada kalanya suatu saat kita bisa merubah itu semua.
  Mahasiswi bukanlah objek pasif dari peradaban, mereka adalah subyek aktif dari lahirnya suatu peradaban. Perlu diketahui segala tingkah laku mahasiswi itu disebabkan oleh dua faktor yang pertama adalah faktor internal yaitu faktor-faktor yang berasal dari dalam dirinya sendiri seperti nilai-nilai yang dia anut, motivasi, pengetahuan, ideologi dan semcamnya dan yang kedua adalah faktor eksternal yaitu hal-hal yang berasal dari luar diri sang mahasiswi itu tadi.
  Saya memilih mahasiswi hijabers, sosialita dan jeans ketat sebagai judul dari tulisan ini karena realitas sosial yang ada mengindikasikan bahwa mahasiswi kita saat ini telah mengalami  candu  terhadap sosialita yang terpampang di media saat ini. Memang kita sekarang telah memasuki era postmodern yaitu era dimana dunia ibarat sebuah desa, jarak dan waktu bukan menjadi masalah bagi manusia untuk melakukan suatu komunikasi, namun perubahan era bukan menjadi suatu pembenaran atas prinsip yang tergadaikan.
   Gencarnya arus informasi, telekomunikasi dan transportasi menjadi variabel penting derasnya perubahan sosial yang terjadi saat ini, termasuk kehidupn mahasiswi kita saat ini. Saya bukan orang munafik yang menyalahkan para hijabers dengan celana jeans ketat tadi, karena pada dasarnya meciptakan mahasiswi yang homogen adalah suatu hal yang teramat sulit karena heterogenitas manusia adalah suatu niscata yang patut untuk dimaklumi. Seorang lelaki normal saya meyukai akan suatu keindahan, namun keindahan seperti apa yang patut untuk saya sukai, itu adalah pertanyaan mengenai batasan seorang pria dalam memandang lawan jenismya. Untuk saat ini saya bukanlah seorang malaikat yang bisa menolak segala godaan, namun saya masih dalam proses untuk membentuk suatu watak yang luhur dibalik gemerlap kehidupan para hijabers jeans ketat tadi.
   Sebagai perwakilan kaum adam saya mengatakan bahwa hijab bukan sekedar tools atau media untuk menutupi aurat, dibalik itu adalah suatu pembeda antara umat Islam dengan umat yang lainnya. Islam adalah cara untuk hidup, Islam adalah agama pembebasan namun di balik itu semua Islam mempunyai patokan tertentu yang wajib untuk dilakukan oleh pemeluknya. Saya bukanlah orang konservatif yang memandang kaum yang tidak berjilbab adalah golongan tak beradab, saya bukan juga seorang liberalis yang menganjurkan kebebasan dalam beragama termasuk dalam berhijab, bagaimanapun juga saya yakin bahwa anjuran Islam dalam berhijab adalah suatu ajaran terbaik bagi pemeuknya.
    Di media massa, entah itu di TV, Tabloid, majalah ataupun semacamnya hijab sudah menjadi suatu komoditas yang perkembangannya cukup pesat ditambah mahasiswi kita saat ini adalah orang-orang yang selalu update akan informasi terkini. Media tidak hanya berhasil membujuk kawula muda terutama mahasiswi menjadikan hijab bukan sebagai kebutuhan namun telah bergeser menjadi sebuah keinginan.
   Saya mengamati  hijab bukan hanya sekedar penutup aurat, melainkan suatu simbol atau lambang dari status sosial seseorang dan saya benar-benar merasakan hal tersebut, ini bukan hanya suatu fenomena sosial melainkan suatu pergeseran budaya, memang Tuhan suka terhadap suatu keindahan namun apakah keindahan dijadikan alasan menjadikan hijab sebagai suatu komoditas sosial yang membedakan mahasiswi satu dengan mahasiswi lainnya. Itu hak masing-masiing individu saya tidak berhak ikut campur, namun s hanya ingin memberikan suatu pandangan bahwa sesunggunhanya hijab saat ini telah mengalami reduksi dari  fungsi awalnya sebagai penutup aurat.
   Berbagai macam corak, bentuk serta merek dari hijab banyak beredar di pasaran, saya pribadi suka terhadap mahasiswi stylish dengan celana jeans ketat, namun di sisi lain terkadang saya berfikir apakah cara berpakaian mereka sudah sesuai dengan tuntutan agama, bukankah agama melarang perempuan untuk menampakkan auratnya, jeans adalah celana ketat yang terkadang bisa menampakkan lekuk tubuh sang mahasiswi tersebut. Pemikiran saya terpecah, di sisi lain saya menikmati akan realitas kehidupan mahasiswi kampus namun di sisi lain saya merenungkan suatu patokan nilai yang mereka anut apakah mereka benar-benar menagmbil esesnsi dari ajaran islam itu sendiri. Memang Islam tidak melarang umatnya untuk mengenakan celana jeans, Islam hanya memberikan arahan serta batasan tertentu bagaimana seharusnya seorang muslim berpenampilan, jangan sampai penampilan seorang mahasiswi melebihi batas. Saya tidak bisa menjelaskan lebih lanjut mengenai batasannya karena jujur mengenai agama saya masih kurang.
   Mahasisiwi hijabers adalah sekelompok mahasiswi yang mempunyai minat yang sama dalam hal berhijab dan selalu melek akan informasi mengenai produk hijab yang terbaru. Mereka tidak hanya menjadikan berhijab sebagai tuntutan agama lebih dari itu terkadang sebagai suatu simbol pembeda status sosial. Secara tidak langsung mereka menjadi korban dari kapitalisme global yang menjadikan budaya konsumtif sebagai kebiasaan sehari harinya. Lingkungan sosial mereka biasaya berbeda dengan mahasiswi lainnya, tempat tongkrongan serta hangoutnya juga terspesifikasi menjadi sebuah kelas.
   Kritik saya sebenarnya bukan terletak pada gemerlap hijab yang mereka kenakan atau kelas sosial yang mereka bentuk, melainkan lebih pada budaya konsumtif yang tidak mencerminkan watak sebagai seorang intelektual yang menjadi panutan orang. Hak untuk mengkonsumsi sebuah komoditas adalah adalah hak setiap orang namun ketika konsumsi dilakukan bukan karena kebutuhan, implikasinya adalah akan membentuk suatu kebiasaan yang lama kelamaan akan membentuk suatu budaya konsumtif di kalangan intelektual tadi.
   Sangat disanyangkan jika setiap hari mereka mengeluarkan duit hanya untuk update hijab terbaru, alangakah baiknya jika digunakan untuk membeli buku. Suatu realitas  sosial mahasiswi hijabers yang saya rasakan lagi adalah masalah kepekaan sosial dan rendahnya minat berorganisasi dikalangan mereka. Saya tidak mengatkan mereka adalah sekumpulan mahkluk hedon seperti yang dikatakan filsuf Yunani benama Aristippus tentang hedonisme yang berarti suatu paham yang mengaggap kenikmatan adalah suatu tujuan utama dari kehidupan manusia. Mungkin lebih halusnya saya katakan mereka adalah kumpulan mahasiswi yang masih berproses membentuk jati dirinya yang independen yang berwatak humanis sosialis.
   Hijab bermerek dan jeans ketat sudah menjadi lifestyle mahasiswi kita saat ini, terlepas dari mana latar belakang mahasiswi tersebut berasal. Saya rasa tidak ada salahnya mereka mengeksplorasi dan beraktualisasi melalui penampilan mereka selama ada suatu pengahayatan mendalam serta pengamalan secara konsisten tehadap agamanya.
    Salah satu konsep Islam yang mungkin bisa dijadikan solusi serta patokan dalam berpenampilan yaitu mengenai larangan Islam terhadap perilaku Israf (berlebih lebihan) dalam segala perilakunya di dunia, artinya Islam melarang umatnya dalam berperilaku baik dalam makan, minum, maupun berpenampilan termasuk berhijab secara berlebih lebihan atau melebihi batas tertentu karena pada dasarnya suatu peilaku yang berlebihan adalah tidak baik bisa juga menimbulkan  kecemburuan sosial di tengah masyarakat. Selanjutnya adalah setiap generasi muslimah saat ini termasuk mahasiswi hijabers tadi alangkah baiknya mengamalkan ajaran Islam lainnya yaitu sifat Qanaah yaitu merasa cukup atas segala pemberian Allah dan mensyukuri segala nikmat yang ada.
  Tulisan ini adalah suatu refleksi bagi mahasiswi muslimah se Indonesia semoga dengan ini, bisa meenjadi pribadi yang lebih sholehah serta menjadi umat yang mengamalkan ajaran Islam secara Esensial atau secara substansial bukan mengamlakan ajaran Islam secara simbolis. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu mau mengubahnya sendiri, sesungguhnya mahasiswi tidak akan pernah bisa memahami agama Islam secara substansial dan komperhensif kecuali dia mau benar-benar belajar dari sekarang. Semoga mahasiswi muslimah tanah air menjadi tauladan bagi generasi-genarasi di bawahnya.
   Kesimpulannya setiap generasi pasti mempunyai realitas sosial tersendiri yang membedakan generasi sekarang dan sebelumnya, yan membuat kita unggul adalah ketika generasi perempuan saat ini mampu membaca konteks sosial yang ada dan tetap nerpegang teguh pada nilai-nilai luhur serta kearifan budaya yang ada. Teruslah berkarya para mahasiswi hijabers, revolusimu belumlah usai, bagaimanapun juga kalian adalah bagian dari bangsa, kobarkan dan nyalakan semangat juang kalian.

 (Note : tetap pakek jeans ketat ya..karena bagaimanapun juga kalian pernak pernik kampus yang harus dijaga kelestariannya..hahahaha)
aku memeluk pena dalam gemerlap dunia tanpa kepuasan (AF)

Surabaya, 26 Mei 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Featured Post

Pelestarian Batik Madura Butuh Regulasi Terarah

  Sejak beberapa tahun terakhir, saya  bergelut di bidang usaha batik tulis Madura. Selain karena dukungan keluarga, faktor lingkungan juga ...