Sabtu, 02 Agustus 2014

Tentang Tan Malaka dan Hasan al-Bashri

Alhamdulilah, aku bersyukur kepada Allah SWT yang telah memberikanku kesempatan untuk menjalani aktivitasku lagi. Hari ini aku seharusnya kuliah ekonomi Internasional 2 dimana Pak Darto menjadi pengajar mata kuliah tersebut. Namun pagi tadi kuliah ditiadakan dan diganti hari lain. Berhubung pagi itu aku  tidak ada jadwal, aku memutuskan untuk pergi ke perpustakaan bersama temenku Feri. Namun, sebelum aku pergi ke perpustakaan, aku bareng Feri Sholat Dhuha di Masjid Nuruzzaman. Setelah sholat, kami makan di kantin FIB, kemudian lanjut ke perpustakaan. Di perpustakaan, aku membaca dua buah buku yang menurutku menarik. Buku yang pertama yaitu mengenai profil Tan Malaka dan perjalanan politiknya selama hidup. Di dalam buku tersebut diceritakan mengenai kisah hidup dan perjuangan Tan Malaka dari segi asal-usul dia dilahirkan sampai akhir hayat dan perjuangan dia. Tan Malaka lahir di Sumatera Barat tepatnya pada tahun 1897. Dia merupakan salah satu tokoh Indonesia yang berketurunan Minangkabau. Di dalam buku tersebut diceritakan mengenai perjalanan perjuangan Tan Malaka ketika memperjuangkan kemerdekaan Tanah Air-nya. Dia merupakan salah satu tokoh yang revolusioner. Tan Malaka juga pernah mengenyam pendidikan di Belanda dan dia  juga menguasai 8 bahasa. Tan juga salah satu tokoh politik yang selalu berada dalam pengembaraan. Tak heran jika ada pendapat yang mengatakan bahwasanya Tan Malaka adalah pejuang yang kesepian. Alasannya dia adalah salah satu tokoh pejuang kemerdekaan Indonesia yang selalu berpindah-pindah tempat bahkan pergi dari suatu negara ke negara lain. Dan hal itu dia lakukan tiada lain untuk pengabdiannya dia terhadap bangsa dan negaranya karena pada waktu itu dia lagi diburu oleh pihak-pihak yang tidak menginginkan keberadaanya. Jadi tidak heran jika Tan Malaka selama pengembaraannya di berbagai negara menggunakan banyak nama samaran. Tan Malaka merupakan sosok anak bangsa yang mempunyai intelektualitas di atas rata-rata orang pada umumnya. Jadi tidak heran jika pada waktu itu dia menulis dan menerbitkan berbagai macam karya salah satu karyanya yang terkenal yaitu berjudul MADILOG (Materialisme, Dialektika, Logika). Di dalam buku Madilog terdapat 2 unsur pokok yang masuk dalam analisnya yang pertama mengenai Kontradiksi pemikiran Hegel dan Marx-Engels dan yang kedua mengenai dialektika berfikir tesis, antitesis, dan sintesis dari Hegel. Tesis sendiri mempunyai arti persoalan yang ada, antitesis merupakan tanggapan kritis dari persoalan tersebut, dan sintesis merupakan kondisi baru yang tercapai setelah sintesis mengkoreksi antitesis. Jadi menurut Hegel sejarah manusia untuk mencapai kebenaran harus terlebih dahulu melewati kesalahan dan masa-masa buruk.

Tan Malaka juga salah satu tokoh yang mengkordinir massa pada saat rapat raksasa di lapangan ikada di Jakarta pada tanggal 19 September 1945, rapat tersebut dihadiri oleh ribuan mass pada waktu itu dan pada saat itu Presiden Soekarno memberikan pidato singkat memperingati 1 bulan proklamasi kemerdekaan Indonesia. Saat itu Bung Karno hanya menyampaikan beberapa kalimat yang intinya mengenai Proklamasi Indonesia yang harus dipertahankan, Presiden juga menyuruh rakyat mempercayai pemerintah yang akan tetap dan terus mempertahankan proklamasi Indonesia. Setelah itu beliau menyuruh massa membubarkan diri, dan semua massa pada waktu itu sangat patuh terhadap perintah Bung Karno. Hal itu disebabkan Bung Karno sangat dicintai rakyat Indonesia pada waktu itu ditambah beliau mempunyai kharisma yang kuat.

Kembali lagi ke peran Tan Malaka,di sini Tan Malaka mempunyai kontribusi yang sangat besar dalam memobilisasi massa meskipun beliau agak sedikit kecewa dengan pidato yang disampaikan oleh Bung Karno pada waktu itu, mungkin disebabkan pandangan politik keduanya memanglah berbeda pada waktu itu meskipun kedua-duanya mempunyai tujuan sama dan mulia yaitu membebaskan bangsa ini dari segala macam bentuk penjajahan yang pada waktu itu berupa kolonialisme dan imperialisme. Tan Malaka adalah sesosok tokoh yang teguh dan konsisten dengan pendiriannya dan beliau merupakan satu-satunya tokoh Indonesia yang berjuang untuk bangsanya yang telah melintasi berbagi macam tempat dan negara lebih spesifiknya Tan Malaka selama hidupnya  melakukan pengembaraan di luar negri selama kurang lebih 20 tahun dan jika diukur  panjang perjalananya setara dengan dua kali keliling dunia.Tan Malaka juga mempelopori berdirinya  sebuah organisasi yang bernama PERSATUAN PERJUANGAN, organisasi tersebut berdiri tepatnya pada awal tahun 1946 di Purwokerto dan diikuti oleh 141 orpol, laskar dan parpol, tujuan organisasi tersebut yaitu menciptakan persatuan diantara organisasi-organisasi yang ada untuk mencapai kemerdekaan penuh untu Indonesia. Ada beberapa pertimbangan Tan Malaka mendirikan organisasi tersebut diantaranya yaitu :
  1. Mengingat pertentangan antara kemauan dan tindakan kepala negara dengan kemauan dan tindakan rakyat/pemuda dimana-mana
  2. Mengingat pertentangan dan permusuhan partai-partai (Islam kontra sosialis di Pekalongan dan lain sebagainya)
  3. Mengingat sikap dan tindakan Inggris yang mengakui Kedaulatan Belanda atas Bangsa Indonesia yang telah memproklamirkan kemerdekaannya, dsb.
Persatuan Perjuangan juga melakukan kongres pertamanya di Solo pada 15-16 Januari 1945 dan mengeluarkan pernyataan Politik yang disebut Minimum Program yang berisi antara lain :
1. Pemerintah rakyat ( kemauan pemerintah harus sesuai dengan kemauan rakyat)
2. Berunding dengan tujuan pengakuan kemerdekaan 100 %
3. Tentara rakyat (kemauan tentara harus sesuai dengan kemauan rakyat)
4. Menyelenggarakan tawanan Eropa
5. Melucuti senjata Jepang
6.Menyita hak dan milik musuh
7.Menyita perusahaan, pertanian dan perkebunan dari musuh

Organisasi tersebut juga kontradiktif dengan kabinet Sjahrir pada waktu itu yang arah politiknya cenderung berdiplomasi dengan pihak musuh yang sangat berlawanan dengan gerak organisasi tersebut yang cenderung tidak kenal kompromi dengan pihak penjajah pada waktu itu. Selain pencetus berdirinya persatuan perjuangan Tan Malaka juga salah satu tokoh yang mendirikan Partai MURBA (Musyawarah Rakyat Banyak) pada tanggal 7 November 1948. Murba juga melakukan GERPOLEK (Gerakan Politik Ekonomi)

Menurut sejarah Tan Malaka sendiri wafat di tangan bangsa yang selama ini dia perjuangkan kemerdekaan dalam keadaan yang kesepian dan terasingkan tepatnya pada tanggal 21 februari 1949. Meskipun beliau wafat dalam keadaan kesepian, bangsa ini tidak akan pernah bisa menghiraukan apalagi melupakan jasa-jasa beliau, beliau merupakan salah satu pahlawan Indonesia yang tulus mengabdi untuk bangsanya sendiri meskipun pandangan politiknya sering ditentang bahkan oleh kawan-kawannya sendiri, namun beliau tetap konsisten untuk berjuang demi tanah airnya. ”Tan Malaka, Aku Aufal Fresky medoakanmu agar jasa-jasamu selama kau hidup diberi ganjaran setimpal oleh Allah SWT, dan semoga dosa-dosamu diampuni oleh Allah SWT, amin.”

Sekian dulu cerita megenai Tan Malaka, kapan-kapan aku akan mengupasnya lebih lengkap lagi. Setelah aku baca buku di perpustakaan aku sholat di Nurza, lalu melanjutkan kuliah Teori Ekonomi Mikro 1 dengan Pak Herman sebagai pengajarnya. Tadi Pak Suherman menjelaskan tentang faktor produksi,faktor produksi ada 4 macam yaitu: 1. SDA  2. SDM 3. Modal 4. Skill

Pak Herman juga menjelaskan tentang fungsi Coub Douglas dan aku lumayan bisa menangkap dan memahami penjelasan beliau. Beliau tadi juga menjelaskan mengenai hukum bunga dalam Islam, yaitu haram. Pak Herman merupakan salah satu dosen favoritku, alasannya adalah karena pemaparan dan penjelasan materi yang beliau terangkan bisa mudah dipahami, maklum jika aku lumayan tertarik akan pelajaran mikro ketika pak Herman yang memberikan materi meskipun pada hakikatnya semua dosen sama menurutku hanya metode penyampaian materinya saja berbeda serta karakter masing-masing dosen yang juga mempunyai perbedaan.

Tadi, pak Herman juga bercerita mengenai sesosok pemuda yang bernama Hasan al Bashri, pemuda tersebut berasal dari Bashra. Konon pemuda tersebut berpamitan kepada gurunya untuk mencari pekerjaan di Baghdad dan sang guru pun mengijinkannya, di tengah perjalanan tepatnya di sebuah hutan turunlah hujan lebat, sontak Hasan al Bashri mencari tempat berteduh agar tidak terkena guyuran hujan tersebut dan tak jauh dari keberadaan Hasan al Basri terdapat rumah kosong tanpa penghuni, lalu ia menghampiri rumah tersebut untuk berteduh dan di dalam rumah tersebut dia mendapati seekor burung gelatik kecil yang kedinginan dan keliatannya butuh makan, sayap burung tersebut cacat sehingga dia tidak bisa terbang. Namun ketika itu pula datanglah seekor burung besar yang memberi burung gelatik tersebut gandum untuk di makan, melihat kejadian tersebut hasan merenung dan berfikir, dan diapun mendapatkan sebuah pengertian dari peristiwa tersebut bahwasanya Allah SWT akan menjamin rezeki setiap makhluknya termasuk burung tersebut. Melihat kejadian tersebut Hasan mulai introspeksi diri dan akhirnya dia memutuskan untuk kembali lagi menemui gurunya. Setelah dia kembali, dia berjumpa dengan gurunya dan sang guru pun bertanya mengapa dia kembali lagi. Mendengar pertanyaan yang dilontarkan sang guru,Hasan menceritakan kejadian yang dia alami di hutan tersebut dan dia berkata bahwasanya dia sebagai manusia malu terhadap dirinya sendiri  yang  tengah melakukan perjalanan ke Baghdad untuk mencari pekerjaan dan menurut Hasan hal itu membuktikan sekan-akan ia tidak mempercayai rezeki yang Tuhan bagikan kepada setiap makhluknya,dia juga mengatakan dia malu dengan burung gelatik tersebut. Sang Guru pun menjawab dengan bijak,  ”mengapa engkau tidak menjadi burung yang besar tadi yang memberi burung gelatik tersebut makan, mengapa engkau hanya berfikir untuk menjadi seperti burung gelatik yang kecil tersebut."

Menurut Pak Herman hikmah yang dapat kita ambil dari kisah tersebut yaitu sebagai manusia hendaknya kita menjadi manusia yang mempunyai karakter seperti burung besar tadi, artinya Pak Herman menyarankan kita semua agar menjadi pengusaha, karena menurut Pak Herman dengan menjadi pengusaha, selain kita bisa menghidupi diri kita sendiri kita juga bisa menghidupi orang lain dikarenakan orang-orang tersebut kita beri kesempatan untuk bekerja kepada kita sehingga secara tidak langsung hidup kita membawa manfaat terhadap orang lain. Jadi intinya cerita Pak Herman, mencari pekerjaan yang tidak  hanya bisa memenuhi kebutuhan perut kita sendiri namun bekerja dan memperkerjakan orang lain, jadi hidup kita berguna bagi orang lain.

Rabu, 20 Maret 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Featured Post

Pelestarian Batik Madura Butuh Regulasi Terarah

  Sejak beberapa tahun terakhir, saya  bergelut di bidang usaha batik tulis Madura. Selain karena dukungan keluarga, faktor lingkungan juga ...