Alhamdulilah, aku bersyukur kepada Allah SWT yang telah memberikanku
kesempatan untuk menjalani aktivitasku lagi. Hari ini aku seharusnya
kuliah ekonomi Internasional 2 dimana Pak Darto menjadi pengajar mata
kuliah tersebut. Namun pagi tadi kuliah ditiadakan dan diganti hari
lain. Berhubung pagi itu aku tidak ada jadwal, aku memutuskan untuk
pergi ke perpustakaan bersama temenku Feri. Namun, sebelum aku pergi ke
perpustakaan, aku bareng Feri Sholat Dhuha di Masjid Nuruzzaman. Setelah sholat, kami makan di kantin FIB, kemudian lanjut ke perpustakaan. Di
perpustakaan, aku membaca dua buah buku yang menurutku menarik. Buku
yang pertama yaitu mengenai profil Tan Malaka dan perjalanan politiknya
selama hidup. Di dalam buku tersebut diceritakan mengenai kisah hidup
dan perjuangan Tan Malaka dari segi asal-usul dia dilahirkan sampai
akhir hayat dan perjuangan dia. Tan Malaka lahir di Sumatera Barat
tepatnya pada tahun 1897. Dia merupakan salah satu tokoh Indonesia yang
berketurunan Minangkabau. Di dalam buku tersebut diceritakan mengenai
perjalanan perjuangan Tan Malaka ketika memperjuangkan kemerdekaan Tanah Air-nya. Dia merupakan salah satu tokoh yang revolusioner. Tan Malaka
juga pernah mengenyam pendidikan di Belanda dan dia juga menguasai 8
bahasa. Tan juga salah satu tokoh politik yang selalu berada dalam
pengembaraan. Tak heran jika ada pendapat yang mengatakan bahwasanya Tan
Malaka adalah pejuang yang kesepian. Alasannya dia adalah salah satu
tokoh pejuang kemerdekaan Indonesia yang selalu berpindah-pindah tempat
bahkan pergi dari suatu negara ke negara lain. Dan hal itu dia lakukan
tiada lain untuk pengabdiannya dia terhadap bangsa dan negaranya karena
pada waktu itu dia lagi diburu oleh pihak-pihak yang tidak menginginkan
keberadaanya. Jadi tidak heran jika Tan Malaka selama pengembaraannya di
berbagai negara menggunakan banyak nama samaran. Tan Malaka merupakan
sosok anak bangsa yang mempunyai intelektualitas di atas rata-rata orang
pada umumnya. Jadi tidak heran jika pada waktu itu dia menulis dan
menerbitkan berbagai macam karya salah satu karyanya yang terkenal yaitu
berjudul MADILOG (Materialisme, Dialektika, Logika). Di dalam buku
Madilog terdapat 2 unsur pokok yang masuk dalam analisnya yang pertama
mengenai Kontradiksi pemikiran Hegel dan Marx-Engels dan yang kedua
mengenai dialektika berfikir tesis, antitesis, dan sintesis dari
Hegel. Tesis sendiri mempunyai arti persoalan yang ada, antitesis
merupakan tanggapan kritis dari persoalan tersebut, dan sintesis merupakan
kondisi baru yang tercapai setelah sintesis mengkoreksi antitesis. Jadi
menurut Hegel sejarah manusia untuk mencapai kebenaran harus terlebih
dahulu melewati kesalahan dan masa-masa buruk.
Tan
Malaka juga salah satu tokoh yang mengkordinir massa pada saat rapat
raksasa di lapangan ikada di Jakarta pada tanggal 19 September 1945,
rapat tersebut dihadiri oleh ribuan mass pada waktu itu dan pada saat
itu Presiden Soekarno memberikan pidato singkat memperingati 1 bulan
proklamasi kemerdekaan Indonesia. Saat itu Bung Karno hanya menyampaikan
beberapa kalimat yang intinya mengenai Proklamasi Indonesia yang harus
dipertahankan, Presiden juga menyuruh rakyat mempercayai pemerintah yang
akan tetap dan terus mempertahankan proklamasi Indonesia. Setelah itu
beliau menyuruh massa membubarkan diri, dan semua massa pada waktu itu
sangat patuh terhadap perintah Bung Karno. Hal itu disebabkan Bung Karno
sangat dicintai rakyat Indonesia pada waktu itu ditambah beliau
mempunyai kharisma yang kuat.
Kembali lagi ke peran Tan
Malaka,di sini Tan Malaka mempunyai kontribusi yang sangat besar dalam
memobilisasi massa meskipun beliau agak sedikit kecewa dengan pidato
yang disampaikan oleh Bung Karno pada waktu itu, mungkin disebabkan
pandangan politik keduanya memanglah berbeda pada waktu itu meskipun
kedua-duanya mempunyai tujuan sama dan mulia yaitu membebaskan bangsa
ini dari segala macam bentuk penjajahan yang pada waktu itu berupa
kolonialisme dan imperialisme. Tan Malaka adalah sesosok tokoh yang
teguh dan konsisten dengan pendiriannya dan beliau merupakan
satu-satunya tokoh Indonesia yang berjuang untuk bangsanya yang telah
melintasi berbagi macam tempat dan negara lebih spesifiknya Tan Malaka
selama hidupnya melakukan pengembaraan di luar negri selama kurang
lebih 20 tahun dan jika diukur panjang perjalananya setara dengan dua
kali keliling dunia.Tan Malaka juga mempelopori berdirinya sebuah
organisasi yang bernama PERSATUAN PERJUANGAN, organisasi tersebut berdiri
tepatnya pada awal tahun 1946 di Purwokerto dan diikuti oleh 141 orpol,
laskar dan parpol, tujuan organisasi tersebut yaitu menciptakan
persatuan diantara organisasi-organisasi yang ada untuk mencapai
kemerdekaan penuh untu Indonesia. Ada beberapa pertimbangan Tan Malaka
mendirikan organisasi tersebut diantaranya yaitu :
- Mengingat pertentangan antara kemauan dan tindakan kepala negara dengan kemauan dan tindakan rakyat/pemuda dimana-mana
- Mengingat pertentangan dan permusuhan partai-partai (Islam kontra sosialis di Pekalongan dan lain sebagainya)
- Mengingat sikap dan tindakan Inggris yang mengakui Kedaulatan Belanda atas Bangsa Indonesia yang telah memproklamirkan kemerdekaannya, dsb.
Persatuan Perjuangan juga melakukan kongres pertamanya di Solo pada
15-16 Januari 1945 dan mengeluarkan pernyataan Politik yang disebut Minimum Program yang berisi antara lain :
1. Pemerintah rakyat ( kemauan pemerintah harus sesuai dengan kemauan rakyat)
2. Berunding dengan tujuan pengakuan kemerdekaan 100 %
3. Tentara rakyat (kemauan tentara harus sesuai dengan kemauan rakyat)
4. Menyelenggarakan tawanan Eropa
5. Melucuti senjata Jepang
6.Menyita hak dan milik musuh
7.Menyita perusahaan, pertanian dan perkebunan dari musuh
Organisasi tersebut juga kontradiktif dengan kabinet Sjahrir pada waktu
itu yang arah politiknya cenderung berdiplomasi dengan pihak musuh yang
sangat berlawanan dengan gerak organisasi tersebut yang cenderung tidak
kenal kompromi dengan pihak penjajah pada waktu itu. Selain pencetus
berdirinya persatuan perjuangan Tan Malaka juga salah satu tokoh yang
mendirikan Partai MURBA (Musyawarah Rakyat Banyak) pada tanggal 7
November 1948. Murba juga melakukan GERPOLEK (Gerakan Politik Ekonomi)
Menurut sejarah Tan Malaka sendiri wafat di tangan bangsa yang selama
ini dia perjuangkan kemerdekaan dalam keadaan yang kesepian dan
terasingkan tepatnya pada tanggal 21 februari 1949. Meskipun beliau
wafat dalam keadaan kesepian, bangsa ini tidak akan pernah bisa
menghiraukan apalagi melupakan jasa-jasa beliau, beliau merupakan salah
satu pahlawan Indonesia yang tulus mengabdi untuk bangsanya sendiri
meskipun pandangan politiknya sering ditentang bahkan oleh
kawan-kawannya sendiri, namun beliau tetap konsisten untuk berjuang demi
tanah airnya. ”Tan Malaka, Aku Aufal Fresky medoakanmu agar
jasa-jasamu selama kau hidup diberi ganjaran setimpal oleh Allah SWT,
dan semoga dosa-dosamu diampuni oleh Allah SWT, amin.”
Sekian dulu cerita megenai Tan Malaka, kapan-kapan aku akan mengupasnya
lebih lengkap lagi. Setelah aku baca buku di perpustakaan aku sholat di
Nurza, lalu melanjutkan kuliah Teori Ekonomi Mikro 1 dengan Pak Herman
sebagai pengajarnya. Tadi Pak Suherman menjelaskan tentang faktor
produksi,faktor produksi ada 4 macam yaitu: 1. SDA 2. SDM 3. Modal
4. Skill
Pak Herman juga menjelaskan tentang fungsi Coub Douglas
dan aku lumayan bisa menangkap dan memahami penjelasan beliau. Beliau
tadi juga menjelaskan mengenai hukum bunga dalam Islam, yaitu haram. Pak
Herman merupakan salah satu dosen favoritku, alasannya adalah karena
pemaparan dan penjelasan materi yang beliau terangkan bisa mudah
dipahami, maklum jika aku lumayan tertarik akan pelajaran mikro ketika
pak Herman yang memberikan materi meskipun pada hakikatnya semua dosen
sama menurutku hanya metode penyampaian materinya saja berbeda serta
karakter masing-masing dosen yang juga mempunyai perbedaan.
Tadi, pak Herman juga bercerita mengenai sesosok pemuda yang bernama
Hasan al Bashri, pemuda tersebut berasal dari Bashra. Konon pemuda
tersebut berpamitan kepada gurunya untuk mencari pekerjaan di Baghdad
dan sang guru pun mengijinkannya, di tengah perjalanan tepatnya di
sebuah hutan turunlah hujan lebat, sontak Hasan al Bashri mencari tempat
berteduh agar tidak terkena guyuran hujan tersebut dan tak jauh dari
keberadaan Hasan al Basri terdapat rumah kosong tanpa penghuni, lalu ia
menghampiri rumah tersebut untuk berteduh dan di dalam rumah tersebut
dia mendapati seekor burung gelatik kecil yang kedinginan dan
keliatannya butuh makan, sayap burung tersebut cacat sehingga dia tidak
bisa terbang. Namun ketika itu pula datanglah seekor burung besar yang
memberi burung gelatik tersebut gandum untuk di makan, melihat kejadian
tersebut hasan merenung dan berfikir, dan diapun mendapatkan sebuah
pengertian dari peristiwa tersebut bahwasanya Allah SWT akan menjamin
rezeki setiap makhluknya termasuk burung tersebut. Melihat kejadian
tersebut Hasan mulai introspeksi diri dan akhirnya dia memutuskan untuk
kembali lagi menemui gurunya. Setelah dia kembali, dia berjumpa dengan
gurunya dan sang guru pun bertanya mengapa dia kembali lagi. Mendengar
pertanyaan yang dilontarkan sang guru,Hasan menceritakan kejadian yang
dia alami di hutan tersebut dan dia berkata bahwasanya dia sebagai
manusia malu terhadap dirinya sendiri yang tengah melakukan perjalanan
ke Baghdad untuk mencari pekerjaan dan menurut Hasan hal itu
membuktikan sekan-akan ia tidak mempercayai rezeki yang Tuhan bagikan
kepada setiap makhluknya,dia juga mengatakan dia malu dengan burung
gelatik tersebut. Sang Guru pun menjawab dengan bijak, ”mengapa engkau
tidak menjadi burung yang besar tadi yang memberi burung gelatik
tersebut makan, mengapa engkau hanya berfikir untuk menjadi seperti
burung gelatik yang kecil tersebut."
Menurut Pak
Herman hikmah yang dapat kita ambil dari kisah tersebut yaitu sebagai
manusia hendaknya kita menjadi manusia yang mempunyai karakter seperti
burung besar tadi, artinya Pak Herman menyarankan kita semua agar
menjadi pengusaha, karena menurut Pak Herman dengan menjadi pengusaha,
selain kita bisa menghidupi diri kita sendiri kita juga bisa menghidupi
orang lain dikarenakan orang-orang tersebut kita beri kesempatan untuk
bekerja kepada kita sehingga secara tidak langsung hidup kita membawa
manfaat terhadap orang lain. Jadi intinya cerita Pak Herman, mencari
pekerjaan yang tidak hanya bisa memenuhi kebutuhan perut kita sendiri
namun bekerja dan memperkerjakan orang lain, jadi hidup kita berguna
bagi orang lain.
Rabu, 20 Maret 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar