Kamis, 15 Agustus 2024

Seuntai Catatan untuk Anakku: Muhammad Arsyad Askara

 


Nak Arsyad, catatan ini dituliskan saat usiamu masih 6 bulan. Jika suatu saat engkau membaca tulisan ini, percayalah ini adalah bentuk kasih sayang ayah kepadamu. Jujur saja, hingga kini, ayah masih beradaptasi mengurus semua keperluanmu. Mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi. Beruntungnya, ayah didampingi ibumu yang luar biasa cekatan. Cukup detail memperhatikan kebutuhanmu. 

Bahkan, ibumu lumayan mampu menafsirkan arti tangisanmu. Entah itu tangisan minta makan bubur, pengen mimik susu, mau digendong, tanda mengantuk, bahkan segala jenis tangisanmu sepertinya mampu dimaknai oleh ibumu. Itu tiada lain tiada bukan saking dekatnya hubungan emosional ibumu dengan dirimu, Nak.

Ikatan batin yang begitu kuat antara ibu dan anak tak perlu dibuktikan dengan ucapan verbal. Dengan melihat reaksi ibumu yang begitu 'gupuh' saat engkau merengek, itu sudah cukup. Tidak selamanya cinta harus diungkapkan dengan kata-kata. Bahasa tubuh kadang lebih kuat dan mantap. Frekuensi dan getaran kasih sayang seorang ibu begitu nyata, Nak. Tanpa engkau minta, dia sudah memberikan segalanya untukmu. Bahkan bertaruh nyawa, ibumu rela betul. Hal itu terbukti saat proses kelahiranmu, Nak. 

Sebelum itu, sembilan bulan lamanya, ibumu tertatih-tatih mengandung. Selama itu pula, pola makan, pola tidur, dan pola aktivitas ibumu, disesuaikan untuk menjaga kesehatan dan keselamatanmu selama di kandungan. Engkau menjadi prioritas utama baginya. Bahkan, dengan tulus hati mengorbankan banyak hal untuk menjagamu di kandungan. 

Nak, ibumu adalah pahlawan bagimu. Jangan sekali-kali engkau menyakiti hatinya. Senyum dan tawamu adalah kebahagiaan tersendiri bagi ibu dan ayahmu. Tak terukur nilainya. Tak bisa diukur dengan rupiah. 

Nak Arsyad, kelahiranmu ke alam dunia adalah takdir Allah SWT. Atas kehendak-Nya, engkau bisa bernafas dan bergerak. Hingga detik ini pula, engkau dengan lincah melakukan aksi telentang, tengkurap, dan berguling. Sampai-sampai jatuh dari atas kasur. Engkau merengek. Ibumu kaget setengah mati. Pikirannya ke mana-mana. Khawatir betul. Perasaannya campur aduk. Over thinking. Memang, kasih sayang seorang ibu kepada anaknya ibarat lautan tak bertepi. Tak ada batasnya. Ingat-ingat akan hal itu, Nak. 

Selanjutnya, izinkan ayah mengutip Al-Qur'an Surah Luqman ayat 14 :  

وَوَصَّيْنَا ٱلْإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُۥ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَٰلُهُۥ فِى عَامَيْنِ أَنِ ٱشْكُرْ لِى وَلِوَٰلِدَيْكَ إِلَىَّ ٱلْمَصِيرُ

Artinya: "Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku lah kembalimu." 

Baiklah, sebelum memungkasi tulisan ini, ayah juga kutipkan hadis nabi yang diambil dari kitab 'At-Tarhib wat Tarhib' karya Al-Mundziri terkait berbakti kepada kedua orangtua:

“Dari sahabat Abdullah bin Mas’ud ra, ia bertanya kepada Rasulullah, ‘Wahai Rasulullah, apakah amal paling utama?’ ‘Shalat pada waktunya,’ jawab Rasul. Ia bertanya lagi, ‘Lalu apa?’ ‘Lalu berbakti kepada kedua orang tua,’ jawabnya. Ia lalu bertanya lagi, ‘Kemudian apa?’ ‘Jihad di jalan Allah,’ jawabnya.” (HR Bukhari dan Muslim).


Oleh: Muhammad Aufal Fresky 


Villa Bukit Tidar, Kota Malang

Kamis, 15 Agustus 2024

20.58 WIB











1 komentar:

Featured Post

Pelestarian Batik Madura Butuh Regulasi Terarah

  Sejak beberapa tahun terakhir, saya  bergelut di bidang usaha batik tulis Madura. Selain karena dukungan keluarga, faktor lingkungan juga ...