Senin, 30 November 2015

Senja di Langit Bali





Sore itu kita bergandengan menuju deburan ombak di Pantai Kuta Bali. Semua kegundahan hilang. Kerisauan itu sirna seiring senyum manismu yang merekah. Kita bersama menyusuri tepian pantai. Gemercik suara ombak seakan mengalunkan nada cinta. Nada-nada itu kini berubah menjadi alunan kerinduan dalam jiwa. Semua terlewati begitu cepat. Serasa kemaren kita berdua menikmati senja di tepian pantai. Teringat tawamu yang begitu alami dan mendamaikan hati. Kita pandagi lukisan matahari yang begitu mempesona. Hilang sudah kemesraan itu. Semua berlalu seiring kepergianmu. Pantai Kuta menjadi saksi kisah kita. Suatu kisah yang bercerita tentang kebersamaan di waktu senja.
Entahlah, rasa rindu begitu menyesakkan jiwa. Andaikan ada lorong waktu, ingin rasanya aku pergi bersamamu lagi. Mengulang kembali cerita kala senja. Bali adalah kota terindah bagi kita. Berbagai kenangan indah terukir nyata. Senja di langit Bali menyimpan romantika kisah kita. Kau begitu indah. Kau begitu manis. Seindah dan semanis alam Bali. Dekapanmu memberikan ku ketenangan. Dunia pekat tanpa dirimu. Kini hanya kau yang ada dalam ingatan. Ingin rasanya ku bernyanyi untukmu. Menintipkan salam rindu.

Surabaya, 27 November 2015
22.50 WIB

1 komentar:

Featured Post

Pelestarian Batik Madura Butuh Regulasi Terarah

  Sejak beberapa tahun terakhir, saya  bergelut di bidang usaha batik tulis Madura. Selain karena dukungan keluarga, faktor lingkungan juga ...