Minggu, 05 April 2015

Wanita dan Perubahan Sosial




Mungkin sudah tidak asing lagi nama R. A Kartini dalam setiap benak masyarakat Indonesia. Melalui sebuah buku “ Habis Gelap Terbitlah Terang”, Kartini menuangkan gagasannya terkait pembelaan terhadap kaum wanita. Kartini bukan hanya sebuah nama, lebih dari itu sebagai sebagai sebuah simbol perlawanan terhadap berbagai penindasan yang terjadi pada waktu itu. Sejarah membuktikan bahwa kaum wanita semasa penjajahan ibarat sebuah makhluk yang kemerdekaannya terikat. Pada waktu itu wanita dijajah secara fisik dan mental. Hak asasinya direbut tidak hanya oleh penjajah, bahkan oleh keluarga terdekatnya yang masih menganut paham ningratisme.
Selain Kartini, masih banyak tokoh wanita yang membela hak wanita pada waktu itu salah satu diantaranya yaitu Kartika dan Cut Nya Dien. Ratusan tahun bangsa Indonesia dijajah, dan selama itu pula kaum wanita dieksplotasi oleh para imprealis. Pengorbanan dan perjuangan telah menjadi jejak sejarah yang membuktikan bahwa kaum wanita mempunyai andil dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini.
Sekarang keadaan telah berubah, zaman sudah berganti. Sudah puluhan tahun kita menikmati kemerdekaan. Lantas yang menjadi pertanyaan adalah bagaiamana sekarang posisi wanita dalam kehidupan saat ini. Apakah negara telah menjamin dan memenuhi haknya sebagai warga negara Indonesia. Itu adalah sebuah pertanyaan esensial yang patut dijawab oleh para pemangku kebijakan. Perlu diingat bahwa perubahan sosial juga tidak selamanya diinisiasi oleh kaum pria, karena kaum wanita juga bisa menjadi insiator dan penggerak terjadinya berbagai macam perubahan sosial.
Wanita menjadi elemen penting dalam menciptakan kondisi bangsa yang lebih baik. Karena banyak pemimpin bangsa lahir dari didikan seorang wanita. Salah besar jika kita memandang sebelah mata sepak terjang wanita selama ini. Banyak gerakan sosial, semisal gerakan anti pornografi, gerakan anti korupsi, gerakan anti narkoba dan berbagai macam gerakan lainnya, yang mana wanita mengambil peran utama di dalamnya. Bahkan tidak jarang wanita menjadi pemimpin sebuah gerakan. Saya yakin gerakan sosial yang terjadi mempunyai tujuan yang mulia. Oleh karenya wanita yang  turut andi di dalamnya pasti mempunyai suatu maksud mulia di dalam mendedikasikan hidupnya untuk bangsa dan negara.
Wanita bisa menjadi aktor terjadinya perubahan soaial.  Hal tersebut bisa diwujudkan melalaui bidang-bidang yang mereka geluti. Wanita bisa memberian kontribusi nyata bagi perkembangan bangsa ke depan. Semisal bagi wanita yang bertindak sebagai guru, dia bisa menanamkan jiwa nasionalisme dan patriotisme ke dalam sanubari peserta didik. Lain halnya wanita yang sedang menjabat sebagai politisi/ birokrat, dia bisa memperjuangkan hak-hak kaum wanita melalui amandemen undang-undang. Masih banyak lagi profesi wanita yang bisa dikatakan mempunyai peran besar dalam proses perjalanan sebuah bangsa.
Perkembangan zaman telah berbicara bahwa wanita Indonesia sekarang semakin cerdas. Cerdas dalam artian sadar akan hak-haknya sebagai warga negara Indonesia. Tak heran jika ada suatu kebijakan pemerintah yang dirasa mendsikriminasi kaum wanita, maka yang tejadi adalah demonstrasi yang akan dimobilisasi oleh kaum wanita. Adanya peran besar wanita dalam demosntrasi membuktikan bahwa wanita sadar terhadap hak sebagai warga Indonesia untuk menyampaikan aspirasi. Wanita Indonesia juga semakin memahami pentingnya berorganisasi. Maka banyak sekali kaum wanita yang terdaftar sebagai anggota serikat suatu oraganisasi, semisal wanita yang berprofesi sebagai buruh, dia akan mendaftarkan diri sebagai anggota serikat buruh. Hal tersebut membuktika bahwa wanita Indonesia semakin lantang untuk menuntut hak-haknya yang dilindungi secara konstitusional. Maka tak heran jika berbagai macam perubahan sosial yang terjadi, wanita turut andil di dalamnya.
Wanita bisa menjadi pencetus ide dalam menyelesaikan masalah sosial. Hal tersebut mengingat bahwa wanita Indonesia sekarang telah banyak yang peka terhadap informasi dan keadaan. Wanita bisa saja menggerakkan massa dalam proses perlawanan terhadap hegemoni kekkusaan yang dirasa otoriter. Kita hanya perlu memberikan mereka kepercayaan. Bahwa kaum wanita perannya bukan lagi di dapur, sumur apalagi kasur. Wanita bisa berkiprah di kancah perpolitikan nasional, hal tersebut untuk menciptakan suatu kondisi keseimbangan antara dominasi pria dan wanita. Walaupun saat ini pria masih mendominasi, namun setidaknya kaum wanita mulai ikut berperan dalam dunia politik. Sensivitas kepekaan rasa seorang wanita diharapakan mampu mengimbangi egoisme kalangan pria yang ambisi pribadinya tidak bisa tergbendung.
Wanita yang mempunyai kelembutan jiwa diharapakan mampu merangkul berbagai macam kalangan, sehingga bisa menciptakan solidaritas sosial di megri ini untuk membangun perubahan sosial bangsa ini lebih baik ke depannya. Wanita juga diharapkan mampu menyadarkan rasa perastuan dan kesatuan masyarakat Indonesia sebagai sebuah bangsa, hal tersebut tiada lain tiada bukan hanya untuk membawa arus dan angin perubahan lebih sempurna lagi. Akhirnya saya hanya bisa berkata “Wanita Indonesia Luar biasa”.
Penulis : Muhammad Aufal Fresky ( Mahasiswa S1 Program Studi Ekonomi Pembangunan/ DPO (Dewan Pertimbangan Organisasi) LPM Mercusuar UNAIR/ Aktivis HmI Komisariat Ekonomi Airlangga)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Featured Post

Pelestarian Batik Madura Butuh Regulasi Terarah

  Sejak beberapa tahun terakhir, saya  bergelut di bidang usaha batik tulis Madura. Selain karena dukungan keluarga, faktor lingkungan juga ...