Minggu, 12 April 2015

Narasi Perjuangan Seorang Penulis




“Aku adalah penulis”. Ini adalah sebuah pernyataan bagiamana aku memantapkan diri untuk menjadi penulis. Memang jalan ini bukanlah jalan yang mudah. Karena setiap jalan hidup pasti memiliki halangan dan rintangan yang akan selalu menyertainya. Hati ini telah yakin, jiwa telah mantap bahwa aku adalah seorang penulis. Menjadi penulis tidak hanya sekedar berbicara mengenai materi dan eksistensi diri. Karena materi yang didapat seorang penulis jauh dari yang didapatkan oleh seorang pengusaha. Begitu juga eksistensi seorang penulis, biasanya kalah pamor dengan artis yang sering tayang di televisi.
Menjadi penulis bagiku bukanlah sekedar menjalani hidup untuk mendapatkan uang dan ketenaran. Lebih dari itu niatku menjadi penulis adalah sebagai suatu bentuk pengabdian kepada agama, nusa dan bangsa. Menjadi penulis bagiku adalah suatu jalan perjuangan melalui untaiain pena yang tergores. Artinya apapun profesi yang akan aku lakoni suatu saat nanti, menulis akan tetap menjadi aktivitas keseahariaku. Melalui tulisan, aku ingin beramal. Melalui catatan aku ingin berjuang. Semoga Allah Meridhai jalan yang aku tempuh.
Dengan tulisan aku ingin memberikan kontribusi bagi kemajuan bangsa. Semisal untuk mencerdaskan anak bangsa. Melalui tulisan aku ingin melawan segala bentuk penindasan yang terjadi di tengah masyarakat. Sistem dan tatanan sosial yang tidak mencerminkan rasa keadilan harus dirubah dan diganti. Tidak cukup dengan demontrasi kita mengubah itu, maka dengan tulisan akan saya lawan segala bentuk kesewanang weangan pihak tertentu kepada rakyat Indonesia.
“Aku menulis maka aku ada”. Artinya tanpa menulis aku kosong, tanpa karya aku bukanlah apa-apa. Jadi ini adalah salah satu bentuk ekspresi dan ungkapan diri sebagai bentuk narasi perjuangan seorang penulis. Setelah meninggal, aku ingin tetap tulisanku membawa banyak manfaat bagi semua orang. Sehingga di alam kubur aku mendapatkan pahala dari amal yang aku lakukan tersebut. Karena aku percaya malaikat pencatat tidak pernah tidur.
Aku berjuang dengan menulis, aku melawan dengan mencatat, dan aku beramal dengan menggoreskan tinta. Semua untuk mengharapkan Ridha Allah SWT.
By : Aufal




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Featured Post

Pelestarian Batik Madura Butuh Regulasi Terarah

  Sejak beberapa tahun terakhir, saya  bergelut di bidang usaha batik tulis Madura. Selain karena dukungan keluarga, faktor lingkungan juga ...